BRRRAAAKK!
“Banyu Cetha, bangun! Aku tahu kamu pasti udah bangun sekarang!”
Aku membuka mataku setengahnya. Kamarku seperti lautan. Dinding biru, tirai biru setingkat lebih tua, dan karpet biru gelap. Raut tanteku yang berdiri di samping tempat tidur jauh lebih gelap.
“Pagi, Tante Ara,” sapaku nyengir. Namun menyadari suaraku terhalang sesuatu, malas-malasan aku duduk. Okay, kini aku paham alasan tanteku itu marah. Aku kacau sekali, tidur dengan masih mengenakan masker, jaket hoodie, dan ... sepatu.
“Dari mana kamu semalaman?”
Aku melepas masker dan memperlihatkan kembali cengiranku. “Rumah temen, Tante. Aku kan udah minta ijin.”
“Sejak kapan rumah kosong Bu Adnan di RW 6 jadi rumah temen kamu?”
Ups. “Kok Tante tahu?”
“Jelas, karena Bu Adnan telpon jam empat tadi dan bilang kalau ada penyusup di properti punya dia!”
“Terus? Dia nuduh aku, gitu?”
Tante Ara menghela napas. “Petugas ronda bilang ada yang manjat pagar keluar dari rumah kosong itu dan kabur. Takut ada maksud jahat, mereka periksa rumah itu dan nemu HP. Mereka kasi ke Bu Adnan. Bu Adnan nelpon pake HP itu ke nomornya, yang muncul malah nomor kamu. Lalu dia telpon aku.”
“Kok Bu Adnan nyimpen nomor aku?”
“Waktu lebaran kita ke rumah Aki dan Enin aku kasi nomorku dan nomor kamu. Karena siapa tahu nomorku dipake rapat.”
“Kok Tante gak minta ijin ngasi nomor aku ke orang lain?”
Tante Ara mulai memegang keningnya. “Ini kan darurat! Cuma ada kita berdua di rumah ini. Jadi kamu ngapain tadi malam?”
“Ng ... yah ... mm ... itu ....”
“Kamu pesta minum sama temen kamu di rumah itu?”
“Enggak!”
“Pesta narkoba?”
“Astaga! Enggak!”
Tanteku mengusap wajah. ”Syukurlah. Sori, kamu tahu betapa berat membesarkan remaja sendirian.”
“Please,” keluhku. “Menikahlah.”
“Stop. Kita bicara tentang kamu, okay? Ngapain kamu di rumah orang?”
“Itu kan rumah kosong, Tante. Salah sendiri gak dipake, jadi bisa dimasuki siapa aja. Gak cuma aku kok. Temen-temen aku banyak yang udah pernah masuk. Kok mereka gak ditegur?”
Tante Ara menjewer telingaku. “Itu karena mereka gak ninggalin barang bukti, Onyon! Ngaku!”
Aku meringis mengusap telinga. “Iya ... iya, aku berburu hantu.”
Tante Ara mendecak kesal. “Berapa kali sih aku bilang, hantu itu gak ada! Itu cuma di pikiran kita.”
“Tapi temen-temen aku punya bukti, Tante. Mereka nantang aku gitu. Aku harus ambil bukti, terus posting di YouTube.”
“Terus kamu berhasil?”
Aku tertunduk sekilas. “Kayaknya, tapi aku keburu takut ....”
“Mana coba?”
Kuraih camcorder yang masih tergeletak di tempat tidur, lalu menyalakannya. Tante Ara menjulurkan kepala penuh rasa ingin tahu.
Awalnya semua gelap. Kemudian ada cahaya remang. Di rekaman itu, aku berjalan dan mengarahkan kamera ke berbagai sudut. Napasku juga mulai terdengar.
“Aku udah masuk, Guys. Inilah tampak dalam Rumah Hantu Bu Adnan, rumah kontrakan milik Bu Adnan yang legend itu. Sejauh ini masih aman. Memang beberapa sudut tampak horor sih. Kotor, dingin, dan lembab.”
Kemudian kamera berpindah ke arah depan lagi lalu diam. Ada sesuatu yang bergerak di sana. Kurasakan Tante Ara menahan napas. Sesuatu yang putih, dan melambai. Kamera bergerak lagi, balik kanan dan menjauh. Gelap.
Tante Ara menarik napas, memegangi dahinya. “Kamu bilang itu bukti?”
“Tante lihat juga kan? Ada kan?”
Ia bangkit, menarik tanganku. “Kita ke sana sekarang!”
“Hah? Ogah! Ih ... amit-amit!”
“Kenapa? Takut? Sekarang udah siang ini. Lagian, takut mana? Hadapin hantu sama hadapin Bu Adnan? Kamu harus minta maaf sekalian ambil ponsel kamu.”
Aku terdiam. Benar juga. “Takut? Bah, enak aja!”
Buru-buru aku bangkit, memakai kembali maskerku dan berjalan gagah di depan Tante Ara. Kami pergi menggunakan mobilnya. Letak rumah Bu Adnan hanya beberapa rumah dari sini. Namun rumah kontrakan yang dimaksud ada di RW 6 yang harus keluar kompleks, masuk jalan raya, memutar arah di perempatan, lalu berkendara selama dua puluh menit dengan macet, lalu masuk jalan kecil.
“Kamu yang ngomong sama Bu Adnan!” kata Tante Ara ketika sampai di rumah bertingkat dua di ujung jalan.
Aku keluar mobil dengan patuh. Urusanku tak makan waktu lama. Minta maaf, dan mengambil ponselku. Bu Adnan sangat baik. Ia tahu selama ini rumah kontrakannya dijadikan ajang uji nyali. Sebenarnya dia bermaksud meruntuhkan rumah itu dan membangun kembali. Namun semua rencana terganjal dana karena suaminya jatuh sakit bertahun-tahun, dilanjutkan pandemi, lalu suaminya meninggal. Rumah itu akhirnya terbengkalai dan kondisinya memang cocok untuk syuting film horor.
Selesai urusan, aku kembali ke mobil dan Tante Ara turun untuk meminta izin mendatangi rumah itu lagi.
“Saya harus ngasi anak ini pelajaran, Bu. Shock Therapy ....” ujar Tante Ara. Ia melanjutkan kalimatnya dengan Bahasa Sunda halus yang tidak aku pahami. Aku lahir di Depok, berbahasa Indonesia logat Betawi. Tante Ara kelahiran Bogor, Bu Adnan Bandung. Tentu mereka tidak lupa bahasa leluhurnya.
Kami pamit dan melanjutkan perjalanan. Sesampainya di sana, aku menelan ludah. Sejak kecil Tante Ara sudah menjadi pelindungku. Aku tak punya ayah dan ibu. Saudara-saudara lain sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Tante Ara sukarela mengasuh dan membesarkanku. Yah, Tante Ara memang benar. Tak mudah membesarkan anak lelaki yang kini 16 tahun.
“Ayo!” Ia sudah membuka pintu gerbang yang kuncinya didapat dari Bu Adnan.
Aku mengikutinya. Semalam aku melompati pagar, mengendap masuk lewat jendela. Kalau diingat, bukannya epic. Kok aku malah tampak bodoh ya? Kalau Tante Ara bisa mendapatkan kunci, mungkin sebenarnya aku juga bisa asal minta dengan sopan. Pakai alasan apa kek. Bantu bersih-bersih, atau apalah.
“Coba kita rekonstruksi,” kata Tante Ara sesampainya kami di dalam. “Kamu ke mana aja semalem?”
Kuacungkan camcorder, lalu mulai berjalan. Tepat seperti yang semalam kulakukan. Tiba di satu titik, aku membeku. Persis seperti semalam. Namun aku tidak langsung kabur. Aku menatap layar dan benda di hadapanku bergantian. Tante Ara berjalan mendahuluiku. Tak lupa sambil menoleh kepadaku dan mengedipkan mata.
“Ya kan?”katanya sambil tertawa renyah. Sial, beribu sial.
Dengan santai ia menghampiri sebuah cermin setinggi tubuh orang dewasa. Cermin kuno yang sebagian tertutup kain kusam. Bagian yang terbuka memantulkan sehelai kain putih. Tante Ara menutup sepenuhnya cermin tersebut.
“Kita memang wajib memercayai mahluk gaib, Banyu,” ujarnya. “Tapi hantu itu tidak ada. Ketakutan itu hanya ada dalam pikiran. Coba sekarang, kamu pikirkan semua hal seram sambil tatap cermin ini.”
Aku teringat kejadian semalam, dan yah, aku gemetar.
“Sekarang ....” Tante Ara membuka selubung. Ia berjalan ke belakangku. “Kamu tetap di situ, pikirkan bahwa ada yang lebih menakutkan daripada sosok dalam pikiranmu.”
“Emang ada?”
Tante Ara mengangguk. “Bayangkan siksaTuhan kalau kamu berani ingkar terhadap-Nya.”
“What?” pekikku. “Tapi itu kan gak ....”
“Apa? Mau bilang gak masuk akal? Kalau kamu takut hantu dan semacamnya, kenapa kamu ragu akan keberadaan Tuhan, surga, dan neraka?”
“Aku gak bilang gitu juga sih ....” sahutku meragu.
“Atau hantu versi pikiran kamu lebih seram dari malaikat penjaga neraka?”
Aku menggaruk kepala, tak menyahut.
“Udah deh, pokoknya sekarang bayangin kamu bakal disiksa tanpa ampun di neraka!”
Aku menarik napas, dan mulai menatap cermin tersebut. Kain putih yang memantul bergerak-gerak. Lebih intens dari semalam. Aku berusaha tidak gemetar. Baiklah, aku percaya Tuhan ada. Juga surga dan neraka. Aku bakal disiksa kalau aku terlalu mengikuti hawa nafsu di dunia.
Terdengar suara gedebuk halus, lalu derit panjang. Aku terpaku. Refleksi cermin itu mendekat di belakangku. Kupejamkan mata kuat-kuat. Bayangan siksa yang memedihkan, setan yang tertawa puas karena aku masuk perangkapnya, dan aku mungkin akan berteriak minta ampunan tetapi tidak digubris. Semua lebih horor dari kisah uji nyali mana pun.
Sesuatu yang halus menyentuh telingaku, dan angin yang mengembus menandakan sesuatu itu melayang melewatiku. Aku membuka mata dan menangkapnya. Sehelai seprai putih yang disobek memanjang berada dalam genggaman. Ujungnya diikat seutas tali dan ada semacam kerekan pada kawat yang membentang. Aku terkesiap, berbalik. Tante Ara memegang tali kerekan dan menyeringai.
“Taraaa ....”ucapnya riang. “Trik yang cukup seram kan?”
“Kok bisa sih?”
Ia menghampiriku, menunjuk jendela besar di sisi ruang. “Kamu lihat di sana? Rumah tingkat dinding hijau itu? Dulu waktu masih dibangun, kuli-kuli bangunannya suka nongrong di atas cor-coran. Aku waktu kuliah ngekos di sini. Setiap mau ke dapur atau kamar mandi, lewatin jendela ini, kelihatan dari sana. Terus mereka pada suit-suit gak jelas gitu. Kesel aku. Jadi, aku ama temen-temen aku bikin ginian. Pas mereka nongkrong, kami matiin semua lampu. Kami mulai deh pertunjukannya. Aku yang ngerek, temen aku bagian pegang senter dan nyorot bagian penting. Sukses, aku gak pernah denger mereka nongkrong lagi. Setahun kemudian aku pindah karena Bu Adnan mau renovasi rumah ini. Saat itulah rumor rumah ini berhantu dimulai.”
Tante Ara menutup kisahnya sambil menggulung seprai dan menaruhnya di atas kursi bobrok. Kami keluar dari rumah itu sambil bertukar canda. Mendadak terdengar debam di tingkat atas. Langkahku terhenti seketika. Tante Ara juga. Sekilas aku melirik ke atas walau percuma karena hanya ada plafon bobrok. Tante Ara memutar bola mata. Ditariknya tanganku.
“Selama kamu gak lihat dengan mata kamu sendiri, ingat! Semua cuma ada di pikiran kamu.”
Langkahku tergopoh mengikuti langkahnya.
Baiklah.
Neraka ....
Neraka ....
Neraka ....
***