Suara desingan antar besi terdengar memekakan gendang telinga. Tapi, apa yang bisa dilakukan? Hidup di perkampungan gelandang tak membuatnya berkecil hati. Jalan setapak hanya sejalur yang bisa di pijak untuk sampai ke tempat berteduh kala langit marah dan sedih itu sudah cukup bersyukur. Sandal yang ia pakai harus rela bersentuhan dengan sampah basah di tanah Bumi Pertiwi tak membuatnya meringgis jijik, karna hanya ini jalan menuju rumah teduh-nya. Ketika dipersimpangan jalan, mata lelah dan lesu-nya menatap seorang gadis yang nampak resah dengan kaki jejang tak putihnya itu diatas tanah dengan wajah tertunduk menenggelamkan raut wajah.
Tersenyum, melangkah mantap tak ragu ke arah gadis kurus kering itu yang tak beda jauh dengan dirinya. Menyadari kehadiran seseorang gadis berpakaian lusuh tak layak pakai itu mendongak, sorot tak berperasaan datar miliknya nampak tak bersahabat untuk dipandang.
"Aku ingin Smartphone." Ujarnya datar tak melihat ekspresi terkejut wanita beda usia dihadapannya, gadis kucel adiknya itu bersedekap dada seolah menantang dan tak mau dibantah keinginannya layak Bossy yang harus dituruti.
"Dari mana dapat uangnya?" Balas Sekar sang kakak lemas bak dibawa tinggi kelangit lalu dihempaskan lagi kebumi. Ia tak mengerti dimana letak pemikiran adiknya itu? Hidup makan seadanya saja sudah bersyukur dan daging? Merasa makanan termewah layaknya bintang 5. Alat pintar? Dari mana ia bisa dapatkan itu?
"Aku tak mau tau, kak Sekar harus dapat! Aku malu pada teman-temanku yang sudah punya!" Gertak Rani sorot tajam. "Apa kamu tidak lihat keadaan kita, Rani?"
Rani melonggos kearah lain tak peduli derita yang akan dijalani kakaknya, melangkah pergi masuk kedalam rumah ber-triplek bekas jika ditabrak sedikit agak keras saja mungkin bisa roboh. Sekar mendesah lelah tak tahu mau bagaimana lagi menyikapi sikap keras kepala adiknya itu, kendati demikian ia sayang pada keluarga satu-satunya itu.
Pergantian waktu begitu cepat berlalu baru sejenak Sekar menyerahkan diri pada nikmatnya kasur walau dengan keadaan tak layak pakai karna sudah bolong dimana-mana namun, rasa lelah-nya terbayar hanya dengan memejamkan mata disana.
Kini, ia harus memulai kembali aktifitas sehari-harinya menjadi seorang kuli panggul dipasar atau tukang parkir. Derita tak ada orangtua yang mendampingi semenjak ia berumur 10 tahun membuatnya terbiasa banting tulang tak kenal lelah kesana-kemari dengan penghasilan yang tak seberapa.
"Rani." Panggil Sekar setelah selesai memasak telur yang tersisa hanya satu butir lagi di dapur sederhana milik mereka. Sekar menatap Telur ceplok kesukaan adiknya itu dengan pandangan lapar; sedari kemarin perut ini terisi angin saja. Lama tak kunjung datang Sekar melangkah mendekati kamar Rani yang masih rapat tertutup tirai, karna tak ada pintu dirumah ini hanya satu dan itu didepan.
"Rani, makan dulu. Kakak sudah masak untuk kamu." Sekar menatap adiknya yang sedang sibuk memasukkan buku kedalam tas. Ia tersenyum tulus melihat Rani yang beruntung bisa menginjakkan kaki dibangku pendidikan tingkat menengah atas walau dengan biaya seadanya.
Rani tak menyahut ia melongos begitu saja, bahkan bahunya menyenggol bahu Sekar kasar. "Makanan apaan ini!" Bentak Rani menepak piring plastiknya kelantai kotor tak berperasaan sambil bersedekap dada. Terdengar langkah kaki Sekar menghampiri dan kaget setengah mati melihat Telur satu-satunya mendarat bebas dilantai kotor.
"Rani, itu telur tinggal satu." Desah Sekar tak menyangka melihat aksi brutal Rani.
"Aku tidak peduli, aku mau uang." Ujar Rani datar tak menunjukkan raut apapun. Sekar hanya mampu berdesah lelah, jari kriput hasil kerja keras itu merogoh saku celana jins belel kesayangan yang selalu menemaninya 2tahun belakangan ini mengeluarkan berlembar-lembar uang senilai dua ribu rupiah, sret, ditarik paksa oleh Rani.
"Cuman segini uangnya?" Rani bermonolog. "Dikit banget! Mana lagi yang lain?" Rani menodong pertanyaan pada Sekar seolah menuduh Sekar menyembunyikan yang lainnya.
"Itu uang untuk banyar listrik dan cicilan tv, Rani." Jelas Sekar mencoba mengambil kembali uangnya. Rani langsung memasukkan uang itu dalam saku seragamnya. "Ya, ampun.
Uang segitu saja kamu permasalahin? Lain kali, cari yang lebih banyak! Inget aku ingin hp, kalau bisa yang bagus. Bye." Rani melonggos tak memperdulikan raut kaget diwajah sekar karna melihat tingkah laku adiknya yang sudah kelewat batas. Ia mengerti akan sikap adiknya yang seperti itu.
Semua berawal saat Rani jadi bahan Bullying di kelas 10 dua tahun yang lalu. Sekar lagi-lagi hanya bisa mendesah pasrah, pandangan mata sayunya menatap kasihan pada ceplokan telur yang berakhir tragis dilantai sana, padahal ia berusaha masak itu karna sebenarnya minyak dan gasnya habis. Tapi nasi sudah jadi bubur apa yang bisa ia perbuat? Sekar mengambil telur itu dan dihidangkan kembali diatas piring.
Belum 5menit, ia melihat-lihat masih bersih Sekar mengambil nasi dan menatap senang kearah telurnya. Akhirnya perut kurus ini bertenaga. Ia yakin selalu ada hikmah dibalik kesedihan.
Sang surya pusat rotasi bumi mengeluarkan kemampuanya dengan hebat hingga membuat sebagian orang berkeringat karna efek panasnya yang dasyat begitu pun dengan Sekar yang mengusap peluh-nya sedari tadi tak mau berhenti. Keadaan Pasar begitu ramai sama seperti hari biasa. Namun, kini matanya menangkap seorang wanita paruh baya yang nampak kesusahan dengan barang bawaannya. Sekar mendekat. "Apa ada yang bisa dibantu?" Wanita paruh baya itu terkejud melihat kehadiran Sekar, yang dibalas senyuman tulus tersendiri oleh Sekar.
"Oh, iya. Saya tadi baru belanja tapi kok tumben ga ada tukang angkut barang." Jelas wanita paruh baya itu yang dibalas anggukan kepala Sekar ia mengerti karna teman-temannya saat ini sedang makan siang. "Mari, biar saya angkut." "Oh, tidak apa-apa kah?" Sekar menggeleng dengan senyumnya. "Tidak, karna ini Profesi saya." Wanita paruh baya itu terdiam dan menyerahkan barang bawaanya pada Sekar.
Hujan-Kemarau terang-gelap Sekar menyerahkan waktu tenaga dan keringat-nya demi butir pundi-pundi untuk ia kumpulkan dikemudian hari. Tubuhnya terasa lelah menghilangkan keseimbangan yang ia terus jaga agar tak tumbang ditengah jalan. Ketika sampai rumah pun, ia tak nampak kehadiran adiknya membuat kepala-nya tertimpa batu lebih besar lagi. Akhirnya, ia hanya berpasrah diri berbaring nyaman diatas kasur bolong kesayangannya. Memejamkan mata yang kian berat seperti di-lem rapat. Hingga kesadarannya hilang tak lama kemudian
Cklek, pintu terbuka Rani masuk dan mendengus kesal lagi-lagi tak mendapati Sekar dirumah. Namun, hentakkan kakinya terhenti kala mata tajamnya menatap sang Kakak terbaring lemah dikasur. Apakah ia sudah keterlaluan pada Sekar?
Keringat, tenaga, waktu yang ia korbankan tak pernah menghianati. karena usaha tak pernah mengecewakan hasil. Dan Sekar percaya itu akibat kegigihan dirinya. Sekar kembali menghitung uang yang ia pegang, saat ini ia berancana ketoko Elektronik mengingat permintaan Rani adiknya beberapa bulan yang lalu dan baru kesampaian sekarang ini.
"Permisi, kho' ada hp harga murah tapi canggih ada nggak?" Kho' penjual konter hp ini menoleh. "Oh, ada. Ini hp harga 2juta. Lu orang mau yang mana?" Sekar menggeleng.
"Ehmm, kalo yang harganya 1juta ada?" Cicit Sekar. "Ada, yang secend."
Sekar terdiam dengan cepat ia mengangguk mantap
"nggak papa deh, Kho' yang penting masih bagus." "Oke."
Mata Sekar jelalatan tak bisa diam melirik kesana kemari hingga pandangannya terpaku ditempat, tepat kearah jalan raya dimana terdapat Rani yang sedang menyebrang namun sepertinya sedang mengambil barang yang jatuh.
"Nih, barangnya." Dengan cepat Sekar mengeluarkan Uang dalam sakunya dan kantung kresek tanpa permisi berlari kearah jalan. Bersamaan dengan itu sebuah kendaraan truk besar melaju dengan kecepatan tinggi kearah Rani yang masih menunduk mengambil barang.
"RANI!" Jerit Sekar semakin menggenggam kresek ditangannya erat, dunia nya seakan berhenti berputar melihat sesuatu yang akan terjadian didepan matanya, ototnya seakan lepas namun ia tahan dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Rani kencang.
Bruk.
Dug.
Langit seakan menangisi keadaan yang
terjadi seperkian detik, hening. Berpasang-pasang mata melirik pensaran dan saling berteriak histeris melihat tubuh ringkih Sekar semakin ringkih saja akibat terjangan maut Truk besar itu terhempas bermeter-meter dari tempat semula dirinya berdiri dan terbaring lemah diujung jalan dekat Trotoar.
Rani yang tersungkur mulai bangkit, kepalanya berputar berat.
"shhh."
Desis-nya nyeri sambil memegang kepalanya yang mengeluarkan darah. Mendengar teriakkan histeris dari oranglain membuatnya menoleh cepat. Wajahnya terdiam memandang kedepan dimana seorang wanita tergeletak tak berdaya diujung sana. Deg, bajunya ia kenal. Tidak mungkin!
TIDAK!!!
Dengan cepat Rani bangkit dari posisi duduknya sesekali ia hampir limbung terjatuh karna tak kuat dengan rasa sakit yang mendera tapi rasanya tak sebanding dengan sesosok wanita yang sudah menyelamatkannya itu.
Tidak! TIDAK!
Rani dunia nya seakan runtuh menatap lekat sesosok wanita dihadapan matanya ini. Ini pasti mimpi? Ya, ini pasti mimpi! Rani menjatuhkan lutut-nya disebelah wanita penolongnya yang ternyata adalah Sekar! SEKAR KAKAKNYA! Sekarnya yang selalu ia sakiti. Sekaramg menolong dirinya dari maut?!
"Tidak." Rani meraih kepala Sekar ditidurkannya diatas paha lembut. "Tidak mungkin." Gumam Rani tak sadar air mata penyesalannya meluruh begitu saja melihat Sekar yang terbatuk-batuk mengeluarkan darah dengan keadaan mata tertutup dan sekujur tubuh berlumur darah.
"Kak." Panggil Rani lirih. Entah, kapan terakhir kali ia menyebut Sekar dengan kata itu. Rani semakin tergugu ditempat menunduk tak kuasa menahan buncahan sakit didalam dadanya. "Rani." Sekar perlahan membuka matanya perlahan-perlahan.
"Ini Bulan Oktober." Sekar mengangkat tangan kanannya lemah menyodorkan kantung kresek putih yang berlumur darah itu pada Rani. Rani terdiam, matanya semakin mengalirkan air asin itu kala melihat kresek yang bertuliskan merk hp.
"Selamat ulangtahun." Sekar tersenyum lemah dengan mata yang semakin memberat dengan tubuh remuk yang seakan ingin membuatnya berteriak kencang memberi tahukan pada dunia akan kondisinya saat ini. Tapi, semua itu hanya bisa ia tahan karna tak mau membuat Rani merasa kasihan. Rani tergugu ditempat menatap sedih Sekar dan kantung Kresek. Ahk, ulangtahun? Ia bahkan melupakan hari bersejarah dalam hidupnya dan ternyata Sekar ingat? Betapa jahat dirinya.
"Rani, kakak capek." Lirih Sekar pelan sekali bahkan Rani pun merasa tak mendengarnya. "Kak Sekar ingin istirahat, ya. Jangan nangis kakak selalu ada disini." Sekar menaruh tangan kanannya lemah didepan dada Rani.
Langit semakin marah menumpahkan semuanya pada bumi yang tak bersalah seolah menyaksikan kedua insan beda usia itu saling bertatapan sebelum akhirnya mata Sekar terpejam ia menyempatkan diri untuk tersenyum memberikan kekuatan sedikit pada adiknya bahwa ia baik-baik saja.
Ditengah Hujan deras Bulan Oktober di hari ulangtahunnya Rani. Sekar menghembuskan napas terakhirnya, membuat Rani semakin tergugu memanggil nama Sekar tak rela. bahkan, ia terus memanggil nama Sekar berulang kali meminta maaf atas semua kesalahannya.
Sekarang Rani tak peduli lagi pada hadiah terakhir Sekar yang ia idam-idamkan berbulan-bulan lalu, yang ia inginkan hanyalah kehadiran Sekar dihidupnya seperti hari-hari sebelumnya menjadi lebih baik.