Sendirian menanti sekelebat bayangan. Walaupun hanya sekejap, namun mampu mengobati kerinduan yang semakin dalam. Diantara lembah kekakuan dan tingginya gunung es beku. Aku dan kamu terpisahkan oleh batasan yang tidak akan bisa diterobos oleh rasa mau mu dan mau ku. Aku dan kamu terpisah oleh luasnya samudra yang membentang. Dinding- dinding kokoh dan tebal tak akan hancur oleh inginku dan ingin mu. Walaupun begitu kuat rasa ini semakin menggilai mu.
Aku menunggu seperti sang waktu yang terus bergulir akan perubahan iklim. Aku sendiri berdiri tanpamu. Hanya menunggu uluran tanganmu yang pernah memberikan harapan itu. Aku pikir ini akan terjadi. Seperti mimpi- mimpi kita dikala itu. Dan disinilah aku masih menunggu. Aku atau kamu yang akan pergi dari berdiri ditempat tinggal masing-masing. Mengejar mimpi kita yang tertunda. Membawa harapan cerah untuk bersama. Walaupun hanya sebentar saja.
Aku masih selalu menunggu. Menunggu akan pembuktian kata- kata kamu. Dan kamu hanya bisa membisu. Tanpa mempedulikan rasaku. Aku masih selalu menunggu. Seperti menunggu sang fajar dengan mentari mengintip malu.
*******
" Kamu menunggu siapa, jasmine?" tanya Gita dengan memandang Jasmine tak berkedip.
" Aku menantikan dia! Aku masih selalu ingat kata- katanya. Dia akan menjumpai aku di sini. Dengan harapan dia sehat bisa mengejar ku di pulau ini." kata Jasmine dengan bahasa yang pasrah.
Hatinya terasa penuh sesak akan rindu itu. Namun Jasmine berusaha melawan getirnya rasa kerinduan yang menggebu itu.
" Apakah Yoyo akan menempati janjinya?" tanya Gita kepada Jasmine.
" Entahlah!" sahut Jasmine seperti pasrah akan penantian nya.
" Kenapa tidak kamu hubungi dia? Dan tanyakan apakah dia benar-benar akan datang kemari menjumpai kamu?" tanya Gita.
" Hubungan kami tidak semudah itu. Hubungan kami sangat rumit. Yoyo selama ini sudah dijodohkan dengan wanita pilihan kedua orang tuanya. Dan wanita itu lebih segala-galanya dari pada aku dari sudut manapun." kata Jasmine penuh keputusasaan.
" Apakah dengan ini kamu akan menyerah?"tanya Gita.
" Rasanya ingin menyerah, namun hati ini belum sanggup menghapus namanya. Sebenarnya tidak ingin memikirkan dia namun ini terpikir dalam sini." jawab Jasmine sambil tersenyum getir.
" Apakah ini begitu menyakitkan?" tanya Gita.
" Rasanya aku sulit bernafas ketika kerinduan mulai membuncah. Rasanya ingin berteriak dan meledakkan segala rasa kerinduan ini. Menunggu nya seperti malam yang menantikan mentari yang bersinar." ucap Jasmine sambil memandang jauh dibalik pulau itu.
Gita meraih tangan Jasmine. Digenggamnya tangan sahabat nya itu penuh perhatian. Seperti halnya memberikan kekuatan kepada Jasmine supaya bisa memperjuangkan cintanya.
" Dia mungkin sudah mulai dekat dengan wanita pilihan orang tuanya. Dia mungkin mulai belajar menyayangi dan akhirnya menimbulkan rasa cinta dihatinya ke wanita itu. Setelah itu, aku benar-benar tersingkir dan terhempas kan dalam pikirannya dan hatinya. Dan pada akhirnya aku pun harus sama halnya. Melupakan dia dan memulai membuka hatiku dengan yang lain. Walaupun ini tidak mudah aku jalani." kata Jasmine mulai bersemangat.
" Tapi aku masih menunggu nya disini." kata Jasmine akhirnya.
Apakah segila ini jika cinta sudah benar-benar tertanam di hati? Antara akal sehat tidak pernah sama akur dengan perasaan sendiri.
(Jambi, 14 Januari 2022)