"Di tengah dinginnya hujan salju di malam Natal yang mampu meretakkan tulang, gadis sekarat itu tetap berusaha bertahan hidup seraya menjajakan korek apinya. Namun tak satupun korek api yang berhasil terjual. Gadis itu kemudian menyalakan sebatang korek api berharap ada sejumput kehangatan yang menyelimuti tubuhnya. Api perlahan membakar sumbu kayu hingga mendekati ujung jari gadis tersebut. Api mulai mengecil lalu padam, disusul melayangnya nyawa gadis penjual korek api tersebut. Ia meninggal dengan damai di surga. Melepas segala penderitaannya di dunia. Tamat." ujar Ratih terisak usai membacakan cerpen kepada teman temannya. Ratih menutup majalahnya kemudian memeluk teman temannya lalu menangis bersama.
Ratih tampak menghayati ketika membacakan cerita sedih Gadis Penjual Korek Api tersebut. Ia menitihkan air mata usai membacakan cerpen kepada teman temannya dari majalah Bobo edisi terbaru miliknya. Semua teman temannya yang mengelilingi Ratih tampak bersedih usai dibacakan cerita olehnya. Semua berpelukan larut dalam kesedihan. Tapi tidak termasuk Vivi.
Vivi justru berfikir bagaimana cara mendapatkan uang untuk membeli majalah Bobo seperti milik Ratih, teman satu kelasnya itu. Di ruang kelas tiga SDN 7 Dukuh Kupang, suasana sedih tercipta akibat ulah Ratih anak orang kaya itu. Anak anak perempuan bergerombol dan berpelukan, menangis bersama sama. Terkecuali Vivi yang hanya berdiri memperhatikan aneh teman teman perempuannya yang cengeng itu.
Bola sepak tiba tiba masuk ke ruangan kelas tiga dengan kencang, lalu memantul ke segala arah. Bola sepak yang merusak suasana itu mengganggu aktivitas syahdu anak anak perempuan tersebut.
Yasin masuk ruangan kelas mencari bola sepak yang sedang ia mainkan di halaman depan kelas mereka.
"Mana bolaku?" tanya Yasin dengan sangar. Kepada segerombol anak perempuan tersebut.
"Yo embuh... Cari saja sendiri." jawab Ratih menantang Yasin yang usil karena telah mengobrak abrik momen haru mereka. Ratih langsung berdiri maju seraya berkecak pinggang melawan Yasin yang bergaya brandalan.
Yasin tak bereaksi saat ditantang Ratih. Ia fokus menyisir sudut ruangan hingga ke kolong kolong meja mencari bola sepaknya. Namun bola sudah disembunyikan oleh teman teman Ratih.
"Mana bolaku, sini kembalikan!" bentak Yasin kepada Ratih.
"Emoh!" jawab Ratih sambil melotot berkecak pinggang.
"Tak bukak rokmu kapok we engkok!" bentak Yasin seraya menujuk Ratih.
"Bukaken. Aku ora wedi." tantang Ratih.
Dengan gerakan cepat kilat seperti tikus yang berlari di pojokan kelas, tiba tiba Yasin berhasil mengangkat rok Ratih hingga terekspos celana dalamnya.
"Akkkhh...." pekik Ratih menembus ruang guru yang sedang rapat. Ia langsung berjongkok lalu menangis usai dijahili teman sekelasnya, Yasin.
Sementara itu Yasin langsung ngacir seraya cekikikan bangga karena telah mengetahui bahwa celana dalam Ratih hari ini warnanya biru berenda. Yasin kabur tanpa memperdulikan bola yang disembunyikan anak anak perempuan itu. Ia segera memberi kabar gembira kepada teman teman lelakinya, bahwa hari ini Ratih mengenakan celana dalam berwarna biru.
Teman teman Ratih langsung berseru menghujat kenakalan Yasin yang keterlaluan. Mereka membela Ratih yang kini sedang menangis karena merasa terlecehkan. Namun tidak bagi Vivi. Vivi tetap berdiri memandang aneh kelakuan teman teman sekelasnya itu.
***
Sepulang sekolah Vivi menyempatkan mampir ke tempat kerja Ibunya. Sudah lama Vivi tak ke sini, ia sedikit lupa. Vivi menyusuri gang dengan plakat bertuliskan 'Wisma Madona Gang Dolly' tempat Ibunya bekerja di sana.
Tak lama ia telah menemukan plakat itu. Dan terang saja, Vivi melihat Ibunya sedang duduk santai bersama teman temannya sambil merokok di balik kaca tembus pandang seperti akuarium raksasa.
Dengan langkah tegap Vivi berjalan menghampiri Ibunya. Mengetok ngetok kaca besar seperti akuarium itu. Vivi berusaha memanggil Ibu untuk keluar menemuinya sebentar.
Ibu Vivi beranjak dari sofanya usai menyadari anaknya telah berada di depan Wisma Madona. Ia hembuskan asap rokok terakhirnya lalu mengucek putung rokok di asbak bekas tutup kaleng biskuit Khong Guan.
"Ada apa kamu ke sini?" ujarnya judes kepada Vivi.
"Buk, Vivi minta uang mau beli majalah Bobo seperti milik Ratih Buk!" rengek Vivi memohon.
Plaakk...
"Sana pulang, jangan ganggu Ibuk yang sedang kerja!" bentaknya murka memarahi anaknya seraya menempeleng pipi Vivi dengan mantap.
Vivi kesakitan memegangi pipinya. Vivi langsung pergi berlari, takut jika Ibunya tambah kesetanan jika ia tetap merengek berada di sana.
Vivi berjalan menjauh dari Wisma Madona. Gadis kelas tiga SD tersebut tidak menangis usai ditempeleng Ibunya. Bagi Vivi itu adalah hal biasa. Ya, Vivi sudah terbiasa.
Keinginan Vivi untuk bisa membeli majalah Bobo seperti milik Ratih sangatlah menggebu. Namun apadaya, Vivi tak punya uang. Bahkan ia tak pernah diberi uang saku oleh Ibunya.
Neneknya-lah yang selalu memberikan timun muda untuk Vivi sebagai kudapan ringan saat istirahat siang di sekolah, pengganti uang saku. Sekali lagi Vivi tak protes akan itu. Ia rela tak pernah merasakan jajan tahu pentol di warung seperti kebiasaan teman temannya pada saat jam istirahat tiba.
Justru Vivi sangat mengerti kondisi ekonomi yang dialami Ibunya. Karena selama ini Vivi tahu, Ibunya sudah bersusah payah mencari duit untuknya.
Namun Vivi benar benar ingin sekali membeli majalah Bobo edisi terbaru sama seperti milik Ratih. Tak mungkin jika ia harus meminjam kepada Ratih. Karena Vivi tahu, Ratih orangnya sombong.
Saat itulah Vivi berpikir untuk membantu Ibunya bekerja mencari uang. Agar dirinya bisa membeli majalah Bobo sama seperti milik Ratih. Sekaligus untuk jajan tahu pentol sama seperti teman temannya. Jikalau bisa, bahkan Vivi turut membantu perekonomian keluarganya.
Langkah Vivi terhenti. Ia balik arah kembali berlari menuju Wisma Madona. Vivi mengintai Ibunya dari kejauhan.
Vivi melihat om om masuk ke dalam Wisma Madona. Ia menggunakan baju seperti baju olahraga miliknya, namun tulisannya 'Semen Tiga Roda' terpampang besar di punggungnya. Baju om om tersebut juga terlihat dekil, penuh keringat, serta kotoran semen di mana mana.
Vivi melihat Ibunya berdiri menyambut kedatangan om om tersebut. Kemudian mereka berdua masuk ke sebuah bilik kamar. Tak pantang menyerah, Vivi mengendap endap mengikuti Ibunya yang sudah masuk kamar dengan pria lain.
Mumpung sepi, Vivi menyelinap masuk mengintip lubang kunci pintu kamar Ibunya. Vivi sangat penasaran apa yang sedang dilakukan Ibunya di dalam kamar tersebut.
Dengan jelas Vivi melihat Ibunya memplorotkan celana dalamnya, lalu membiarkan kepala om om tersebut masuk ke dalam roknya.
***
Jam istirahat sekolah tiba. Vivi bermain lompat tali di halaman sekolah bersama Ratih serta teman teman perempuannya.
Yasin serta teman laki lakinya mulai datang mengganggu anak anak perempuan. Mereka menyelipkan pecahan cermin pada tali sepatunya.
Yasin memulai aksinya. Ia berdiri di belakang Ratih lalu memajukan kakinya di antara kedua kaki Ratih supaya ia dapat mengintip celana dalam Ratih.
Yasin dan teman teman lelakinya mulai cekikikan karena telah berhasil mengintip celana dalam Ratih dari pantulan kepingan cermin yang disematkan di sepatunya. Sadar akan hal itu, Ratih langsung berjongkok lalu menangis.
Tak terima sahabanya dilecehkan, anak anak perempuan langsung kompak berseru menghujat kelakuan nakal Yasin serta teman temannya, kemudian mereka mengusirnya. Namun tidak dengan Vivi. Vivi tak bereaksi namun tetap melihat huru hara yang menurutnya aneh itu.
Vivi mulai bertanya tanya. Mengapa Ratih harus menangis? Padahal yang dilakukan Yasin tidak lebih menyakitkan dari tempelengan Ibunya.
Ide brilian Vivi langsung muncul seketika. Sepulang sekolah ia mengundang teman laki lakinya termasuk juga Yasin dengan syarat membawa uang saku. Yasin dan kawan kawan setuju.
***
Vivi terinspirasi dari gadis penjual korek api serta Ibunya. Teman teman lelakinya sudah berkumpul di emperan rumahnya. Vivi mulai berjualan korek api seperti pada cerpen di majalah Bobo itu.
Sebatang korek dijual seharga seratus rupiah. Yasin dan kawan kawan tidak protes. Mereka jongkok antre dengan tertib.
Di hadapan teman lelakinya, Vivi mulai memplorotkan celana dalamnya. Kemudian ia membuka pahanya lebar lebar. Vivi menirukan gaya Ibunya saat bekerja mencari uang.
Antrean pertama. Kepala Yasin mulai masuk ke dalam rok Vivi. Yasin menyalakan sebatang korek api yang dibelinya seharga seratus rupiah dari Vivi. Dengan nyala korek api, kini Yasin bebas melihat kuncup mawar Vivi tanpa tertutup celana dalam sedikitpun. Jika api padam, giliran antrian berikutnya.
***
Dari berjualan korek api, kini Vivi dapat mengumpulkan uang sebesar 12 ribu rupiah untuk membeli majalah Bobo edisi terbaru.
Majalah Bobo telah ia dapatkan. Kini Vivi puas puaskan membaca cerpen Gadis Penjual Korek Api. Setelah dibacanya berulang ulang, Vivi tak tersentuh sama sekali dengan cerita sedih tersebut.
Vivi berpikir keras, apa yang membuat teman temannya bersedih dengan membaca cerita Gadis Penjual Korek Api ini?