"Duniaku begitu indah, sesaat setelah kau hadir di sampingku, hari hariku terasa istimewa berkat kehadiranmu". Aku adalah diriku yang baru saja selesai di masa remajaku, aku mulai memberanikan diri untuk mengenal dunia lebih jauh dari sebelumnya. Berani untuk meninggalkan masa-masa keceriaan di usia remajaku. Yah, aku sangat ingat dengan masa itu, masa yang membuatku bahagia sebelum kau membuatku layu di tanganmu. Aku memang begitu bodoh. yah,,, ini adalah kisah hidupku.
Usiaku baru saja genap 18 tahun, berfikir untuk mencari tahu hal-hal baru yang belum aku ketahui. Kau adalah orang yang mampu mengubah diriku dengan sekejap mata. Rayu, perhatian, hingga kasih sayang yang kau tunjukkan kepadaku telah mengubah hal-hal besar dalam hidupku. Kau berkenalan denganku dengan penuh rasa percaya diri, memperkenalkan dirimu dengan cara yang mungkin sudah sering kau lakukan, tapi itu adalah hal baru dalam hidupku. Yah, aku menganggap bahwa itu adalah hal baru karena caramu begitu berbeda dengan yang lain. Tutur katamu membuatku tersipu malu karena perlakuan ini adalah kali pertama bagiku.
Setelah pertemuan itu kau tidak berhenti sampai disitu untuk membuat diriku terkesima dengan segala bentuk perlakuanmu kepadaku tanpa perduli apa yang sebenarnya kau inginkan dibalik perlakuan itu. Aku berfikir ini adalah hal yang wajar terjadi. Ahh sudahlah,,,. Hanya berselang beberapa waktu setelah pertemuan itu kau dengan penuh rasa percaya diri mengutarakan perasaan suka kepadaku dan mencoba untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Aku sebagai seorang yang baru pertama kali berada di posisi ini tentu saja merasa bingung untuk berkata-kata. Namun sekali lagi kau berusaha untuk meyakinkan diri ini bahwa aku akan merasa nyaman dan penuh kebahagiaan saat bersama denganmu.
Tanpa pertimbangan dan kehati-hatian, sontak aku mengiyakan permintaan itu. Malu bercampur bahagia, hanya itu yang bisa aku rasakan. Aku memanggilnya dengan sebutan "kakak" begitupula sebaliknya ia memanggilku dengan sebutan "adik". Entah mengapa hari-hariku terasa sangat bahagia saat kau memberikan perhatian khusus untukku. Mengajakku berkeliling di ramainya kota, makan, nonton, hingga membantuku untuk melakukan hal yang sulit aku kerjakan. Ouh ia, aku adalah seorang mahasiswi baru saat itu, dan ia adalah seorang mahasiswa semester atas.
Lima hari setelah aku mengiyakan permintaan mu, kau memberikan diri untuk meminta menginap di tempatku dengan berbagai macam alasan yang kau sampaikan, entah mengapa diri ini seakan tidak mampu untuk menolaknya, "Ahh,,,, sudahlah lupakan, hanya semalam kok". Saat itu aku tinggal di sebuah kos-kosan sekitar kampus. Malam itu, tepatnya pukul 20:00 kami menghabiskan waktu untuk bercerita tentang kisah pribadi, hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sekitar pukul 23:00, kemudian ia pamit untuk mandi karena ia merasa gerah, meminjam handuk dan peralatan mandi yang kumiliki.
"Dek, pinjam handuk dan sabunnya dong, mau mandi nihh gerah soalnya"
Aku sama sekali tidak merasa ada yang aneh pada dirinya, sampai suatu ketika ia menyuruhku untuk masuk dan mengunci pintu kamarku. "Masuk dek, diluar dingin, jangan lupa kunci pintunya". Sontak aku langsung melakukan hal itu. Aku tidak terlalu memperdulikan hal-hal kecil semacam ini.
"Sudah kak, pintunya sdh adek kunci" ucapku.
Saat itu juga ia menatap ke wajahku dan berkata
"Kakak mau buka baju dulu", aku sangat kaget mendengar hal itu, dan bertanya dalam hati kenapa harus disampaikan?
Kau dengan mudahnya melepaskan pakaianmu satu persatu dihadapan ku dan hanya menyisakan pakaian dalam, "Kakak mandi dulu yah" ucapnya. Aku yang sangat bodoh dan sama sekali tidak merasa bahwa hal semacam itu bukanlah hal yang aneh. "Ahhh, Sudahlah". Suara air keran mengalir telah terdengar, petanda bahwa ia sedang mandi. Aku yang saat itu sibuk untuk merapikan tempat tidur untuknya di ruang tamu seketika kaget melihatnya keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan busana bahkan handuk yang aku berikan tak dipakai.
Keringat dingin, gemetar, dan tak tau harus berbuat apa, hanya itu yang aku rasakan. Kau mendekatiku dan berkata dengan nada yang begitu halus
"Dekk,,kamu sayang kan sama kakak?"
Sekali lagi aku tak bisa mengucapkan sepatah katapun sambil menutupi wajahku dengan bantal. Terdengar jelas ditelingaku kau kembali berkata "Dekk, tidak apa-apa jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa kok, adek sayang kan sama kakak?" Aku masih tetap menutupi wajahku dengan bantal dan tak mampu berbicara. Kau memelukku dan dengan perlahan melepaskan bantal yang menutupi wajahku, badanku terasa sangat lemas dan tidak tahu mengapa seperti ini.
"Kak jangan!"
Sepertinya ucapan itu tidak berarti baginya dan tetap memelukku dengan erat, dan membuka kancing bajuku
"Kakkk jangan kak, Jangan"
Entah mengapa badanku terasa begitu lemas hingga tak tahu harus berbuat apa, jari tangannya mulai meramba payudaraku sambil mencium bibirku. Memang terdengar bodoh, tapi saat itu entah mengapa badanku terasa kaku dan tak mampu untuk berbuat apa-apa.
Aku mencoba melepaskan ciumannya dan berkata
"Kak cukup, cukup, jangan kak jangan"
mencoba melepaskan tangannya dari badanku, tapi tenagaku tidak mampu melakukan hal itu.
"Tida apa-apa dek, enak kok, jangan takut dek, kalau terjadi sesuatu kakak akan bertanggung jawab dek"
Mencoba menyakinkanku, ini adalah kali pertama bagiku melakukan hal semacam ini. Tak mampu berbicara bahkan untuk melawannyapun aku tak mampu. Sekali lagi aku Bodoh, entah mengapa seakan aku terbawa suasana dan merasakan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan tanpa berpikir panjang dan apa dampaknya terhadap diriku.
"Kakak buka celana kamu yah dek" ujarnya.
Aku pasrah dan tidak bisa membohongi diriku kalau aku juga menikmati perlakuan itu. Kau membuka celana yang kupakai, meraba selangkanganku hingga meraba kemaluanku. Hanya perasaan nikmat yang aku rasakan dan rangsangan yang begitu besar aku terima. Perlahan kau mengajakku untuk berbaring, mencium bibirku dan meremas payudaraku, sekali lagi aku Bodoh dengan kenikmatan itu. Perlahan ia merenggangkan selangkanganku dan menjajaki kemaluanku hingga kami melakukan hubungan badan yang seharusnya tidak dilakukan.
Merintih kesakitan, nafasku tidak beraturan, nafsuku memuncak hingga tak sadar aku telah terbawa suasana dan larut akan kenikmatan itu. Hampir 30 menit hal itu terjadi hingga suatu ketika ia berada dalam puncak klimaks, akupun tidak bisa memungkiri kalau aku begitu menikmati hubungan itu. Setelah kami berdua telah mencapai puncak kenikmatan yang akupun tak tahu untuk menjelaskannya. ia menyuruhku untuk kembali memakai baju dan celana, begitupun dengannya. Hal itu seakan berlalu begitu saja, ia menyuruhku untuk tidur, ia berbaring di sampingku hingga tertidur pulas. Malam itu aku tidak bisa tidur dan hanya memikirkan kejadian yang baru saja kami lakukan, perasaan menyesal dari dalam diriku baru saja hadir hingga diri ini tak mampu menahan air mata, entah mengapa aku seperti merasa begitu sedih dan penuh penyesalan.
Waktu menunjukan pukul 05:30 pagi hari, aku sama sekali tidak bisa tidur setelah kejadian itu. Aku membangunkannya lebih awal karena akan masuk mata kuliah pagi ini.
"Kakkkkk,,bangun kak, sudah pagi" ucapku
dengan nada yang pelan. Ia bangun dan bergegas dan bersiap-siap untuk kembali ketempat tinggalnya.
"Dek, terimakasih ya, kakak pamit pulang dulu" ucapnya,
seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.
"Ahh, sudahlah, mungkin dia juga lagi sibuk" berkata dalam hatiku.
"Yasudah, kakak hati-hati baliknya".
Hari-hari setelah kejadian itu kami lakukan seperti biasa, bertemu untuk berbagi cerita, makan dan lain sebagainya, kami lakukan seperti biasa seolah-olah kejadian itu tak pernah terjadi. Hari demi hari kami lalui bersama hingga suatu saat ia menemuiku untuk memberitahu sesuatu.
"Dek, kakak minta maaf ya, sepertinya hubungan kita tidak bisa diteruskan lagi, kakak sepertinya tidak menemukan kecocokan dengan kamu" ucapnya.
"Maksudnya kak? Adek tidak mengerti"
"Ia dek, kakak mau kita akhiri hubungan ini, kakak tidak merasa cocok"
"Kok kakak bicara seperti itu? Adek tidak mau kak!"
"Maaf yah dek tapi kakak tidak bisa, kakak pamit yah" (mengambil kendaraan lalu pergi).
Tanpa rasa bersalah kau pergi begitu saja, setelah kau menjajaki tubuhku. Begitu bodohnya diri ini yang mudah percaya dengan pria yang baru aku kenal. Hanya karena ingin tau hal-hal baru, diriku layu di tanganmu sebelum mekarku.
Jumat,19 Nov 2021
Kos Ungu, Palu 03:12 WITA