Dini hari aku sudah berangkat ke sekolah. Semua siswa SMA PANCASILA juga sudah berkerumun. Karna hari ini sekolahku mengadakan kegiatan ,yaitu menulis surat untuk para OSIS.
Banyak yang ingin memberikan surat untuk ketua OSIS. Namun kebanyakan para siswi takut ,akan sikap ketua OSIS yang galak. Ketua OSIS ku bernama Arkan ,kak Arkan juga bisa di bilang tipe semua perempuan. Selain ganteng kak Arkan juga berprestasi.
Pukul 06.30 lorong kelas sudah di penuhi para murid yang mondar mandir. Ada yang menyiapkan surat ada juga yang membantu menghias aula.
Oh ya aku lupa memperkenalkan diri hehehe ,namaku Amrita Layli. Orang orang memanggilku Lili. Seperti anak anak lain aku juga bingung ingin menulis surat untuk siapa.
Selain tidak akrab dengan anggota OSIS aku pun juga tidak tertarik dengan acara seperti ini ,tapi kegiatan ini dikatakan wajib untuk para murid. Tiba tiba sahabatku datang menghampiri diriku yang duduk termenung di meja.
"Woi Li ,ngelamun trus." Teriak Gita dengan memukul meja.
"Apa sih Git ,kaget tau." Jawabku dengan nada kesal karna kaget.
"Btw ,lu mau ngasih surat ke siapa?"
"Siapa ya? Kepo lu."
"Ayoo lah kasih tau."
"Gw bingung."
"Gimana kalo kak Arkan?"
"Hah? Gimana gimana? Ogah lah git."
"Ayo lahhh ,siapa tau lu malah menang. Kalo lu menang gw traktir deh." Rayu Gita kepadaku.
Setalah beberapa saat berdiskusi dengan Gita akhirnya aku pun setuju dengan idenya. Aku membuatkan surat untuk Kak Arkan. Walau aslinya aku takut namun apa boleh buat.
Pukul 10.00 semua siswa berkumpul di aula. Banyak surat yang terkumpul di sebuah kardus termasuk suratku. Setelah beberapa lama akhirnya suratku yang akan dibaca. Di samping ku Gita seperti menggodaku.
Tubuhku menjadi keringat dingin entah takut atau malu saat isi surat dibacakan. Karna suratku tertuju untuk Kak Arkan ,jadi ia yang membacanya.
"๐๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐๐๐ค ๐๐ซ๐ค๐๐ง ,๐๐๐ญ๐ฎ๐ ๐๐๐๐.
๐๐๐๐๐ง๐๐ซ๐ง๐ฒ๐ ๐ข๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ฎ๐ซ๐๐ญ ๐ข๐ง๐ข ๐๐ฎ๐ค๐๐ง ๐๐ฉ๐ ๐๐ฉ๐ ,๐ญ๐ข๐๐๐ค ๐ฌ๐๐ฉ๐๐ซ๐ญ๐ข ๐ฉ๐๐ซ๐ ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ฐ๐ข ๐ฅ๐๐ข๐ง ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐ฎ๐๐ญ ๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ฌ๐๐ฉ๐๐ง๐ฎ๐ก ๐ก๐๐ญ๐ข. ๐๐ฎ๐ซ๐๐ญ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฌ๐๐ฒ๐ ๐๐ฎ๐๐ญ ๐ก๐๐ง๐ฒ๐ ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฌ๐๐ค๐๐๐๐ซ ๐ข๐ค๐ฎ๐ญ ๐ฌ๐๐ซ๐ญ๐. ๐๐ก๐ก ๐ฒ๐ ๐๐๐ค ๐๐ซ๐ค๐๐ง ๐ฃ๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ ๐๐ฅ๐๐ค ๐ ๐๐ฅ๐๐ค ๐ค๐๐ฒ๐๐ค ๐ฆ๐๐๐๐ง ๐ฒ๐๐ฐ๐ฐ. ๐๐จ๐ค๐จ๐ง๐ฒ๐ ๐ฌ๐ฎ๐ซ๐๐ญ ๐ข๐ง๐ข ๐ญ๐ข๐๐๐ค ๐ฌ๐๐ฒ๐ ๐๐ฎ๐๐ญ ๐ฌ๐๐ญ๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ ๐ก๐๐ญ๐ข. ๐๐๐ฅ๐จ ๐ ๐ ๐ฌ๐ฎ๐ค๐ ๐๐ข ๐๐ฎ๐๐ง๐ ๐๐ฃ๐ ๐ค๐๐ค.
๐๐๐ซ๐ข : ๐๐ฆ๐ซ๐ข๐ญ๐ ๐๐๐ฒ๐ฅ๐ข."
Tiba tiba sekitar tubuhku menjadi dingin seperti banyak mata mata yang menatapku. Aku juga takut karna raut wajah kak Arkan tidak bisa dibaca. Para siswi seperti membicarakan isi suratku.
"Surat macam apa itu?" Ucap salah satu siswi.
"Ga niat jangan buat lah." Ucap salah satu siswi lainnya.
Banyak lagi ucapan siswi seperti menghujat isi suratku , padahal ya emang aneh sih isi suratku ,,,,hehehe. Kak Arkan tiba tiba mengambil mic dan berkata "Amrita Layli silahkan angkat tangan."
Gita langsung memanggil ku "Li di panggil tuh." Kemudian Gita langsung mengangkat tanganku ke atas. Banyak pandangan mata dari kelas lain seperti menusukku dari kejauhan.
Kak Arkan kemudian tersenyum seraya berkata "Saya suka surat kamu ,makasih." Hatiku tiba tiba berdebar tak karuan ,sorot mata siswi lain juga semakin menusuk. Aku mencoba menghela nafas namun senyum kak Arkan membuat jantungku seperti ingin copot. Senyumannya yang manis yaitu senyuman yang jarang dilihatkan. Dalam hati aku berkata "Masyaallah gantengnya."
Hari demi hari kami juga semakin dekat. Entah karna surat tersebut atau apa tapi aku bersyukur bisa menaklukkan hati sang ketua OSIS yang galak.