Dor Dor Dor.
Suara tembakan terdengar berkali kali, hampir menggema ke seisi hutan.
Dua orang pria saling melesat kesegala arah. Mereka berlari, lalu beberapa detik berhenti untuk menembakkan peluru dari senjata mereka. Menghindar dan menembak adalah yang mereka lakukan saat ini.
“Kembalikan kotak berkas itu kepadaku! Kau jangan main-main dengan utusan Negara ya.” Teriak salah satu pria yang bernama Andrew. Dia masih berlari, tapi tetap memusatkan target tembakannya kearah pria berjubah hitam yang hampir menutupi semua tubuhnya.
Satu tembakan, dua tembakan, sampai lima bahkan enam tembakan tidak mengenai pria berjubah hitam itu, dia bisa terus menghindari tembakan Andrew. Segera Andrew menghela nafas, lalu menembakkan peluru lagi kearahnya. Sekali, tembakan itu mengenai lengan kanan pria berjubah hitam.
Pria berjubah hitam itu tak menunjukkan rasa kesakitan dia malah berdecak kesal, lalu menoleh kebelakang, kearah Andrew. Gilirannya untuk memusatkan target tembakan kearah Andrew.
Dor!
“Akh, sialan.” Langkah cepat Andrew terhenti, dia jadi lebih fokus ke rasa sakit dilengan kirinya akibat tembakan. Tapi setelah melihat pria berjubah hitam itu lari, dan membuat jarak mereka jadi tambah jauh, Andrew segera menyusul pria itu kembali, dia memilih tak memperdulikan rasa sakit dilengan kirinya.
Mereka kembali dalam situasi mengejar dan dikejar.
Akibat suara tembakan yang disebabkan pistol mereka, membuat para hewan yang tinggal diwilayah itu merasa terancam dan meyelamatkan diri mereka dari kemungkinan bahaya. Seperti para burung yang berterbangan menjauh.
“Pasti banyak juga yang kehilangan nyawa disana. Aku harap mereka bisa menang melawan kelompok gelap itu.” Andrew bergumam.
Yang Andrew maksud mereka adalah orang orang yang juga bertugas menjaga berkas penting, tapi saat ini ada ditangan pria sedang Andrew kejar. Berkas itu sangat penting bagi Negara, tidak boleh sampai berada ditangan yang salah. Berkas itu ada dalam kotak yang seukuran buku, sangat tertutup rapat, bahkan sudah ditambahkan suatu sandi agar benar-benar bisa membukanya.
“Siapa kau. Dari kelompok mana. Berani sekali mencuri berkas penting milik Negara.” Andrew masih megejar pria berjubah hitam itu. Sekali lagi menembak. Tapi pria itu dengan cepat bersembunyi dibalik pohon, otomatis pelurunya tak sampai mengenainya, dan malah mengenai pohon.
Giliran pria berjubah hitam itu menembakkan pelurunya kearah Andrew. Andrew pun sama, bersembunyi dibalik pohon. Kini keduanya jadi bersembunyi. Lenggang beberapa detik menembak dan kembali bersembunyi lagi.
Beberapa menit terus berlangsung, diantara mereka masih saling menembak. Hingga lenggang sejenak terjadi lagi diantara mereka. hening, tidak ada tembakan yang dilancarkan oleh pri itu membuat Andrew bingung.
Pria berjubah hitam ternyata menembakkan suatu bola kecil yang saat sudah melayang dilangit langsung berubah menjadi kepulan asap berwarna merah. Asap belum sepenuhnya hilang, tiba-tiba datang kawanan para beruang. Para beruang berlari menuju arah Andrew sembari menderam, suaranya menggema keseisi hutan. Para beruang mengejar Andrew. Andrew dalam situasi pelarian sekarang.
“Gawat. Kenapa tiba-tiba ada kawanan beruang disini.” Andrew segera berlari menghindari kejaran kawanan beruang. Sebenarnya bisa saja dia menembak para beruang tapi itu tidak boleh, karena beruang termasuk hewan yang harus dilindungi, walau dialam liar sekalipun. Karena itu Andrew lebih memilih melarikan diri.
“Lho kemana si gelap tadi,” Andrew menoleh mencari-cari keberadaan pria tadi keseisi hutan. Ternyata pria tadi lebih dulu bisa keluar dari situasi kejaran beruang, jaraknya sudah sangat jauh dari Andrew. Keberadaanya yang sudah jauh menyisakan penampakan kecil darinya hingga pria itu benar-benar hilang ditelan jarak. Sebelum pria itu menghilang sekilas Andrew melihat senyuman dari balik tudung hitamnya. Senyuman licik. Mungkin pria itu sudah merencanakan kemunculan para
kawanan beruang.
Menoleh sebentar, jarak Andrew dan beruang jadi hanya tiga meter. “Ehh, wah ada ikan terbang dilangit!” sembarai masih berlari Andrew menunjuk kelangit. Para beruang menderam. Seolah mengerti, mereka tambah marah karean Andrew mencoba membohongi mereka. Andrew menjadi kikuk dalam pelariannya, Sambil berfikir sejenak. Andrew menenbakkan pistolnya kelangit, tidak berniat menargetkan siapapun, dia hanya ingin membuat para beruang takut dan segera menjauh darinya.
Serangan beberapa beruang mulai menghujani Andrew, tapi hanya salah satu serangan beruang yang mengenainya, membuat bekas cakaran dipunggungnya. Berkat pelatihan khusus anggotan elite membuat Andrew menjadi cukup cekatan dalam menghindari serangan para beruang, tapi bukan berarti dia bisa menghindari semuanya dengan ajaib. Walau memang kekuatan lari Andrew sedikit melebihi manusia biasa karena dia tidak tertangkap oleh para kawanan beruang.
“Ck, sialan. Lengan kiriku tertembak, punggungku juga terluka karena cakaran beruang. Aku harus kembali.”
Tubuh Andrew terluka, tapi dia tetap memaksakan dirinya untuk tetap berlari. Andrew memutuskan untuk putar arah, kembali markasnya. Karena masih ada para kawanan beruang, wandrew tidak bisa berbalik begitu saja. Yang Andrew lakukan adalah tetap berlari lurus kedepan dan saat ada bebrapa pepohonan dia akan mengcoh beruang diantara pepohan itu kemudian berputar arah.
* * *
“Ketua, maaf aku kembali tanpa membawa berkas pentingnya.”
Baru beberapa detik Andrew sampai, dia sudah langsung melapor ke katuanya. Napasnya menderu, kalimat yang diucapkanya jadi patah-patah, tidak sempurna.
Ketua berdecak kesal, kemudian memukul kepala Andrew lumayan keras. Andrew mengaduh kesakitan dan mulai menggerutu.
“Aw! Sakit kak. Apa kau tidak lihat aku terluka seperti ini heh. Aku tahu aku salah. Aku mundur karena aku sedang terluka, dan lagi pria itu ternyata membawa kelompoknya, aku tidak menyadirinya karena mereka pandai bersembunyi.”
Kalimat Andrew belum selesai. Sebeleum melanjutkan kalimatnya, Andrew lebih dulu mengatur napasnya agar tidak terus-terusan kehabisan napas karena terus mengucapkan kalimat, padahal barusan dia selesai lari marathon.
“Saat aku sedang berseteru dengan pria itu, tiba-tiba dia memberikan sinyal ke kelompoknya dengan melemparkan bola kecil berisi asap merah, lalu beruang pun muncul dan mengejarku. Dia memanfaatkan keadaan saat itu dengan kabur dari jangkauanku. Maafkan aku kak, aku gagal..” Andrew mendadak lemas. Tubuhnya hampir jatuh, ketua dengan sigap langsung menagkap Andrew.
“Ugh.. punggungku sedikit luka karena cakaran salah satu beruang, dan pistol pria berjubah hitam itu juga mengenai lengan kiriku, tapi aku juga mengenai lengan kanannya. Itu setimp-“
“Sshhh.. diamlah, jangan banyak bicara! Kedua lukamu cukup serius, kau harus cepat diobati agar darahmu tidak banyak lagi yang keluar.” Ketua memapah Andrew menuju tempat pengobatan yang tak jauh darinya, disana sudah ada beberapa anggota yang juga terluka, entah terkena tembakan dari musuh, ataupun terluka karena hal lain.
Setelah mereka sampai, luka Andrew langsung ditangani oleh beberapa dokter disitu. Dan hanya butuh beberapa menit saja luka Andrew sudah selesai ditangani. Salah satu dokter bilang, Andrew beruntung, karena lukanya tidak terlaru parah. Butuh sekitar satu bulan agar luka Andrew cukup sembuh. Lalu mereka pergi, dengan raut wajah heran. Mungkin mereka berfikir, bagaimana bisa tiba-tiba ada beruang yang menyerang Andrew.
“kak Alec, jadi.. kita harus bagaimana. Berkas penting itu sudah ada ditangan mereka.” Andrew duduk diranjang kecil, kini menundukkan wajahnya.
“Sudahlah adikku. Hal yang sudah terjadi tak perlu kau sesali.” Alec mengelus lembut pangkal kepala Andrew.
“Sebenarnya.. berkas yang ada dalam kotak itu bukanlah yang asli.” Ucap Alec dengan suara yang tenang.
“Hah!? Apa maksudmu kak?” Mata andrew terbelalak, terkejut dengan perkataan kakaknya. Jika itu bukan berkas yang asli jadi itu apa, pikir Andrew.
“Aku sudah menembak, pencurian seperti ini akan terjadi. Jadi aku membuat duplikat palsu. Menyembunyikan yang asli, dan memperlihatkan yang palsu dengan sedikit drama seolah-olah itu disembunyikan.” Alec menjelaskan.
“Syukurlah. Tapi, berarti aku sia-sia karena ingin merebut kembali berkas itu dan malah kembali dengan beberapa luka. Mereka yang terluka juga, sia-sia kah perjuangan mereka? Kenapa kakak tidak bicara dahulu padaku tadi!” Suara Andrew meninggi, kesal dengan Alec.
Alec menggeleng. Dia masih tetap tenang.
“Perjuangan kita tidak sia-sia. Kotak palsu yang mereka bawa bukan sepenuhnya tidak berguna. Sebelumnya aku merakit sebuah bom dan memasukan bom itu ke kotak yang saat ini mereka bawa. Ah, aku juga menambahkan chip gps di situ.” Jawaban Alec membuat Andrew terkejut sekaligus tak menyangka, ternyata ini yang direncanakan Alec untuk mengelabui musuh. Sangat cerdas. Bahkan dia yang adiknya saja tidak tahu rencana kakaknya.
“Bom apa?” Tanya Andrew. Dia semakin penasaran.
“Yang pasti bukan bom waktu. Lihatlah! Jika aku memencet tombol ini, bom itu akan meledak.” Alec menunjukkan sebuah kotak seukuran telapak tangannya, tepat ditengah kotak itu terdapat tombol berwarna merah.
“Kapan bomnya akan kau ledakkan kak?” Tanya Andrew sekali lagi.
Alec jadi mengambil satu lagi benda kotak dari saku bajunya. Itu smartphone milik alec. Alec segera menyentuh beberapa ikon di smartphonenya, dia berhenti setelah muncul tampilan denah lokasi. Terdapat satu titik merah kecil didalamnya, beregerak lumayan lambat menuju wilayah tertentu.
“Ini adalah keberadaannya. Dia belum sampai dimarkasnya, kita tunggu saja.” Alec menjelaskan dengan singkat.
Mereka benar-benar menunggu. Hingga hampir sekitar lima belas menit, titik kecil berwarna merah itu masih belum berhenti bergerak. Membuat alec dan Andrew heran.
“Dia kuat juga, setelah terkena satu tembakanku masih bisa bertahan selama lebih dari lima belas menit dengan berlari marathon seperti itu.” Andrew menggeleng, tak percaya. Sedangkan alec mengangguk setuju dengan ucapan adiknya.
“Oh dia akhirnya berhenti,” Alec berseru.
“Mari tunggu selama satu menit.” Raut wajah keduanya mendadak tampah serius. Terus menatap layar smartphone milik Alec, tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.
Setelah menunggu Selama satu menit sesuai ucapan Alec sang ketua sekaligus kakak Andrew. Tiba saatnya untuk memencet tombol merah yang saat ini ada ditangan Andrew.
Alec dan Andrew saling memandang, lalu mengangguk bersama. Mengisyaratkan bahwa mereka sudah yakin dengan keputusan mereka untuk meledakkan bom.
Klik.
Andrew sudah benar-benar memencet tombolnya. Tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Tapi tidak dengan markas musuh.
Alec dan Andrew langsung kembali menatap layar smartphone. Titik kecil tadi hilang.
Benar, bom sudah meledak di markas musuh.
Atas dasar pencurian berkas penting milik Negara. Bom yang telah dirakit oleh Alec, menjadi benda utusan yang akhirnya membuat mereka mati. Bukan hanya satu orang yang berusaha mencuri berkas itu, tapi semuanya. Orang-orang yang bersangkutan dalam rencana pencurianpun ikut mati.
Membunuh semua lebih baik daripada hanya membunuh satu saja yang bahkan hanya sebatas utusan.
“Hahaha inilah yang namanya tipuan. Menipu para sampah dan penghianat Negara,”
“Berencana mencuri berkas itu? Sekarang kalian lah yang berakhir mati kan.”
.
.
.
Tqu for Reading~
(〃∀〃)ゞ