Aku hidup bersama kakak dan adik laki-lakiku tanpa kedua orang tua. Kakakku bertanggung jawab menafkahi kebutuhan kami bertiga.
Arian. Kakakku yang telah lulus kuliah tahun lalu, saat kedua orang tua kami meninggalkan kami selamanya.
Arzian. Adikku yang duduk di kelas 1 SMA merasa sangat terpukul dengan kepergian mereka.
Sedangkan aku yang yang dua tahun lebih tua darinya, berusaha mencari beasiswa untuk melanjutkan belajar ke jenjang kuliah.
"Zian! udah berapa kali kakak bilang jangan buat masalah! kau mau kak Rian makin pusing gara-gara kita nambah beban buat dia?"
Emosiku meledak. Entah sejak kapan Zian jadi seperti ini. Aku berusaha menyembunyikan masalahnya dari kak Rian karena khawatir, dan semuanya selalu berhasil.
Aku memarahinya setelah ia di panggil guru BK karena berkelahi dengan temannya. Tentu saja aku juga di panggil karena aku tidak mau masalah seperti ini sampai ke telinga Rian. Apalagi aku yang terus mengawasinya di sekolah setiap hari.
"Tapi kak, dia yang duluan ngajak berantem! Dia mengolok-olok kita kak, mana bisa aku ngebiarin dia gitu aja!" Aku bisa melihat matanya yang penuh amarah. Aku tahu bagaimana rasanya, tidak lagi memiliki kasih sayang orang tua.
"Kamu diemin aja orang kayak gitu. Toh, kamu masih punya banyak temen yang lain kan?"
"Maap kak, aku gabisa tahan emosi." Ia menunduk, merasa bersalah dengan perbuatannya kali ini. Sudah kesekian kalinya ia di panggil karena kenakalannya itu.
"Aku mohon kamu jangan kayak gini lagi ya." Aku ingin memarahinya lagi, tapi melihat ekspresi menyesalnya itu, aku menahannya. Ia hanya mengangguk menanggapi perkataanku.
Kami pulang ke rumah setelah sekolah usai. Ia yang biasanya pulang dengan teman-temannya, hari ini pulang bersamaku karena kejadian di sekolah. Dia hanya diam sepanjang perjalanan. Aku yang merasa suasananya tidak mengenakkan ini, berusaha membuka pembicaraan.
"Dek, jangan sampai kakak tau ya."
"Gausah di bilangin juga udah tau kak, dan jangan manggil aku dek! aku udah gede!"
"Tapi kan kecilan kamu daripada aku"
"Kecil umurnya doang sihh badannya tinggian aku haha"
"Haha garing banget" Aku senang akhirnya bisa membuat suasana hatinya membaik. Di bandingkan aku, dia yang harus lebih banyak menerima kasih sayang.
Aku mengambil kunci di dalam tasku untuk membuka pintu rumah. Akhirnya kami sampai ke rumah setelah berjalan beberapa menit. Sekolah kami memang tidak begitu jauh dari rumah, jadi bisa menghemat biaya angkot setiap hari.
CKLEK!
Pintu terbuka.
Aku masuk ke rumah di ikuti Zian di belakangku. Aku pikir kak Rian ada di rumah. Aku baru ingat ia mencoba melamar pekerjaan sebagai guru sejarah di sekolah swasta.
"Bang Rian belum pulang ya ka?"
"Mungkin sebentar lagi. Ganti bajumu, aku akan membersihkan lukamu. Kamu ga mau kak Rian khawatir kan?"
"Oke kak."
"Jangan lama-lama, aku tunggu di dapur."
Aku pergi ke kamarku dan mengambil betadin sambil meletakkan tasku dan mengganti baju, begitupun dengan Zian. Aku berjalan ke dapur dan duduk menunggu Zian.
Ha.. aku jadi kepikiran kuliahku. Apa aku tidak usah kuliah dan membantu kakak saja ya? Tapi aku ingin sekali merasakan kuliah. Tapi aku tidak bisa membiarkan kakak sendiri. Harus bagaimana? Pikiranku berbelit-belit memikirkan masa depan yang aku inginkan.
"Ka. Ka Abel. Ka Abel!" Aku terkejut sampai rasanya jantungku mau copot. Aku reflek memukul tangannya.
"Zian! kaget tau! kalau jantungku copot gimana?!"
"Hehe lagian kakak bengong gitu. Lagi mikirin apa sih ka?"
"Bukan apa-apa. Mana sini lukamu." Aku jongkok di depan Zian yang duduk menggantikanku dan menunjukkan luka cakaran di wajahnya. Wajar saja jika lukanya lebam, biasanya kan laki-laki berkelahi dengan adu tinju. Tapi kenapa lukanya cakaran?
"Dek, kamu berantem sama orang apa sama kucing? ko lukanya cakaran semua?" Aku membuka betadin dan mau meneteskannya ke lukanya. Tapi ia menghindarinya dengan cepat dan memegang tanganku.
"Da dek da dek, bersihin dulu kali kak lukanya, masa langsung pake betadin. Terus kalo berantem sama kucing mana mungkin aku babak belur gini dan ada di ruang BK."
"Iya. Kakak ambilin dulu bentar." Aku menyiapkan sapu tangan dan air di dalam ember kecil untuk membersihkan lukanya. Tanganku memeras sapu tangan yang sudah di bahasi air dan mengelap luka cakaran tubuhnya. Aku kira hanya sedikit, ternyata banyak sekali yang tak terlihat jika tidak
benar-benar di lihat.
"Banyak banget lukanya. Kalo kakak nanya gimana?"
"Tenang aja, Bang Rian ga bakal curiga."
"Bener ya, Awas kalo ketauan." Aku membuka betadin dan meneteskannya di pipinya yang cakarannya paling parah. Ia meringis menahan perih karena efek betadin.
"Ishh.. pelan-pelan kak."
"Ko pelan-pelan? kan kakak cuma netesin doang. Itu efek obatnya dek, berarti obatnya nyerap." Aku mencari luka cakaran lain yang terlihat besar, meneteskan kembali betadin tersebut.
"Sudah. Yang kecil-kecil biarin aja ya, nanti sembuh sendiri." Aku duduk di kursi yang berseberangan dengan Zian. Ya. Kita duduk di meja makan di dapur.
"Thx kak." Ia memeriksa luka-luka yg di terimanya.
Aku mendengar suara pintu terbuka. Aku beranjak dari kursi dan memeriksanya. Sepertinya kak Rian sudah pulang?
"Abel!" Senyumnya merekah saat melihatku. Ia langsung memelukku begitu aku sampai di hadapannya.
Aku merasakan kebahagiaan yang dia rasakan. Seperti ia mengalirkannya ke dalam tubuhku. Ia melepaskan pelukannya setelah merasa puas. Zian langsung datang dari arah dapur karena mendengar suara kak Rian.
"Zian! kamu kenapa?!" Wajah yang bahagia kini menjadi panik setelah melihat luka Zian.
"Tenang aja bang, cuma berantem sama kucing." Ekspresi santainya itu, aku ingin mengejeknya.
"Iya bang, kan dia lemah jadinya kalah sama kucing wkwk."
"Abang ga yakin nih sama.."
"Eh Abang tadi kenapa? kayaknya seneng banget deh."
Zian memotong ucapan kak Rian. Ia memang mudah sekali berganti emosi, jadi sangat mudah untuk mengalihkan pembicaraan.
"Abang di terima jadi guru sejarah di sekolah kalian!"
"Wahh selamat ya kak akhirnya di terima jadi guru di sekolah ki... HAH sekolah kita?!" Aku menoleh kearah Zian. Ternyata dia sedang memelototiku karena kaget.
"Loh ko kalian kaget sih. Kan bagus biar kerja sambil mengawasi." Wajahnya yang senang itu, aku tidak bisa menolaknya dan melamar kerja ke sekolah lain. Aku tahu sangat sulit baginya untuk mencari pekerjaan tetap.
Setelah orang tua kami meninggal, ia berusaha mencari berbagai macam pekerjaan, dan semua yang bisa dilakukannya ia lakukan. Banyak waktu yang terbuang karenanya. Ia merasa aku dan Zian kurang terurus karena pekerjaannya. Maka dari itu, ia sangat senang bila bisa memperhatikan kita dengan baik.
"Emm.. tapi kak, rahasiakan kalo kita berdua adik kakak." Zian mengangguk setuju dengan permintaanku.
"Memangnya kenapa? gada salahnya kan?"
"I..itu bang. Kalo temen-temen kita tau, nanti temen kita pada iri kalo Abang pilih kasih karena kita adik abang, ya kan kak Abel?" Zian menginjak kakiku.
"Awiya...kak hehe." Kenapa kakiku di injek sih?
"Kenapa kamu injek kaki Abel?"
"Tadi ada binatang bang, pas mau di injek eh malah kena kaki kak Abel. Maap ya kak." Kadang aku bersyukur memiliki adik yang seperti ini, mudah sekali mencari alasan.
"Iya, tapi jangan gitu lagi. Sakit tau. Ayo kak, istirahat dulu, kakak pasti cape kan?"
"Makan dulu aja kak Abel, udah lapar nih" Zian mengelus-elus perutnya yang kelaparan. Sebenarnya dia anak SMA atau SD sih?
"Ck! kamu nih bikin aja sendiri! kakak mau anter kak Rian dulu."
"Bel, kayaknya Abang juga lapar." Rian ikut mengelus-elus perutnya seperti Zian. Ada apa dengan orang di rumah ini?!
Aku memasak untuk makan sore(?). Kami pun menikmatinya sambil mengobrol ringan. Tawa yang memenuhi ruangan, membuat kami tidak bisa berhenti tersenyum. Aku harap, senyuman ini tidak menghilang dengan cepat.
*****
Pelajaran yang paling aku benci. Sejarah. Aku telah bersiap-siap untuk tidur sebelum guru datang. Sebelum aku benar-benar tertidur, seseorang menepuk bahuku.
"Bel, bangun" Aku kenal suara ini. Pengganggu yang datang setiap kali aku tidur.
"Hm"
"Abel! kalo ga bangun nyesel" Aku tidak menggubrisnya sama sekali, awalnya.
"Abelira Seira, kamu mau belajar atau mau tidur?"
"Ya mau belajarlah..tapi gasuka mapel ini jadi ma..." Eh?! Sepertinya aku familiar dengan suara ini.
"Ma apa Abel? Silahkan lanjutkan."
"Ma-makasih udah perhatian hehe" Aku mengangkat kepalaku yang berada di atas meja. Aku melihat lawan bicaraku. Benar saja, kak Rian berdiri di samping mejaku dengan tatapan mengancam.
Bagaimana aku bisa lupa kalau dia sekarang menjadi guru sejarah di sekolahku. Bicara apa aku barusan?! Mana ada murid yang berkata begitu kepada gurunya. Aku tersenyum ramah kepadanya, mengisyaratkan agar mengampuniku kali ini.
Tanpa berkata apapun, ia berjalan ke depan kelas dan memperkenalkan dirinya sebagai guru sejarah yang baru. Murid-murid perempuan tidak melepas pandangannya dari wajah kak Rian. Sementara murid-murid laki-laki menatap jengkel kepadanya.
Cih! mentang-mentang ganteng, cantikan juga aku! Aku bergumam tanpa menyadari sorot mata yang tertuju padaku. Aku pura-pura tidak tahu. Dia tidak ambil pusing dan langsung melanjutkan pelajarannya.
*****
Aku menjalani kehidupanku seperti biasa. Tak terasa sudah 3 bulan kak Rian mengajar dan mengawasi kami berdua di sekolah. Nasib baik, selama itu Zian tidak melakukan kenakalan apapun.
"Bel, katanya katanya Gino suka sama kamu tau." Ucap Rena, teman dekatku di sekolah.
"Gino siapa? Ngaco banget." Aku menyuap baso yang kupesan di kantin. Minta beliin Zian sih.
"Dia belum nembak kamu emang?"
"Tidak tuh" Rena mencoba mengambil sendok yang aku pegang. Aku menggenggamnya dengan erat hingga ia tidak bisa merebutnya dan menyerah begitu saja.
"Pelit sekali Abel, padahal yang beliin si Zian"
"Karena yang beliin dia, jadi gada yang boleh makan"
"Huh brother complex"
"Bukan gitu, Ren. Selagi masih ada keluarga, aku harus sayangin dia dong." Aku menyuapi Rena secuil sayur yang ada di baso. Wajahnya menampakkan kekesalan. Aku senang menjahilinya. Itu salah satu yang membuat moodku baik.
"Wah parah si Abel, punya makanan ga bagi-bagi." Cih! si pengganggu datang.
"Ngapain sih ganggu Abel makan aja" Rena memukul tangan Reza yang mau merebut sendok Abel.
Ia kembaran laki-laki Rena yang jahilnya keterlaluan. Jangankan kepadaku, kepada kembarannya sendiri saja begitu. Aku sudah biasa menerima kelakuan kedua orang ini. Ya.. tidak perlu di lanjutkan.
Kami bersenda gurau seperti teman dekat pada umumnya. Waktu istirahat yang cukup lama. Aku pikir akan menghabiskannya dengan tenang kali ini.
Seseorang mencariku dari luar kelas. Aku menghampirinya yang menunggu di depan pintu. Aku seharusnya tahu, karena tak jarang dia pergi ke kalasku untuk meminta sesuatu. Siapa lagi kalau bukan Zian.
"Siapa ya?" Aku salah. bukan Zian yang mencariku, tapi laki-laki yang lebih tinggi darinya.
"Gino, kelas sebelah." Gino? Orang yang di maksud Rena?
"Kenapa nyari?" Tanpa basa-basi aku langsung menanyakan keperluannya.
"Bel, aku suka sama kamu mau kan jadi..."
"Kak Abel!" Suara yang berteriak memanggilku dari ujung lorong, aku menoleh ke sumber suara.
"Zian? Kamu kenapa?" Ia berjalan cepat ke arahku. Tatapannya langsung menusuk ke arah Gino yang berada di depanku.
"Itu kak, di panggil guru sejarah ke kantor" Zian memindahkan pandangannya kepadaku. Untuk apa aku di panggil kak Rian?
"Makasih dek. Maaf Gino, aku ke kantor dulu" Aku pergi meninggalkan mereka berdua. Ternyata benar kata Rena, dia suka aku. Tapi aku mengenalnya saja tidak, bagaimana bisa suka.
Aku sampai di depan pintu kantor, menanyakan apakah ada kak Rian di dalam.
"Kenapa Bel?" tanya kak Rian dengan wajah penasaran.
"Bukannya bapak yang manggil saya?"
"Saya ga manggil tuh" Shit! Zian, awas kamu ya..
TE..TO..TE..TO...
"Yaudah pak, udah bel. Saya masuk kelas dulu"
"Jangan tidur ya Bel"
"Hm" Aku kembali ke kelas untuk pelajaran selanjutnya.
*****
Sekolah telah usai. Murid-murid berhamburan keluar kelas menikmati kebebasan yang di tunggu-tunggu. Aku mengemasi barang-barangku, bersiap untuk pulang ke rumah. Ha.. lagi-lagi aku pulang sendiri. Rena bilang kalau ia bekerja paruh waktu setiap hari Kamis. Seketika ide cemerlang muncul di kepalaku.
Saat aku berjalan di lorong sekolah, seseorang menarik tanganku ke dalam kelas. Aku terkejut dan reflek menendang kakinya. Ia melepas tanganku dan memegangi kakinya yang aku tendang.
"Ah.. sakit!" Ringisnya. Aku menatapnya dengan sinis. Mau apa lagi dia? pikirku. Aku tak mau berurusan dengannya lagi.
"Bel, aku mau lanjutin pembicaraan yang belum selesai.."
"Aku tolak"
"Apa?"
"Aku bilang aku nolak kamu alias ga mau sama kamu" Aku langsung pergi meninggalkannya bersama orang-orang yang masih tersisa di kelasnya.
*****
CKLEK!
Aku sampai ke rumah dan pergi ke kamarku untuk mengganti baju dan meletakkan tas. Aku tidak melihat Zian dan kak Rian di rumah. Padahal aku kira akan telat pulang karena aku baru saja melamar kerja paruh waktu di sebuah kafe pinggir jalan.
Aku memasak untuk makan kami nanti. Masakan sederhana ala rumahan. Sudah 30 menit semenjak aku memasak, belum ada tanda-tanda mereka pulang.
Aku menyiapkan makanannya di atas meja, duduk menunggu mereka datang. Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara langkah kaki yang sedang berlari.
"Bang Rian? Kak Abel?" Samar-samar aku mendengar suara dari arah depan.
"Zian! Kakak ada di dapur! Sini! kakak udah masak!" Aku berteriak girang dengan kedatangannya.
"Iya kak! Zian ke kamar dulu!"
Zian akhirnya menyusulku ke dapur. Ia pun duduk di kursi yang berseberangan denganku. Raut wajahnya tampak lesu, seperti habis lari maraton.
"Zian, kamu darimana?" Tanyaku penasaran.
"Kerja kelompok di rumah temen kak" Jawabnya santai.
"Kak Rian kemana?" Aku mengambil piring dan sendok di rak.
"Abang belum pulang?" Tanyanya balik.
"Lembur kali ya?" Tebakku.
"Mana mungkin lembur. Masa guru baru udah sibuk" Ledek Zian.
"Siapa bilang ga sibuk? Emang kamu pernah jadi guru?" Sangkal kak Rian yang tiba-tiba sudah duduk di kursi sebelahku.
"Loh, kok kakak udah ganti baju aja? Sejak kapan kakak pulang?" Tanyaku dengan alis mengkerut.
"Lumayan daritadi. Wah.. ko ga di makan? Nanti keburu dingin."
"Eh bang, Abang kira kita belum makan gara-gara siapa hah?" Ketus Zian.
"Udahlah ayo makan, jangan ngomong terus." Ucapku menuangkan nasi ke piring masing-masing.
Kami menikmatinya, beserta senda gurau di sela-selanya. Zian makan dengan lahap sekali, membuatku geram ingin menyuapinya. Wajahnya yang tampak lesu pun hilang begitu saja. Kak Rian yang sedang tenang menikmati makanannya itu, melirikku yang sedang mengambil air dingin di kulkas.
"Bel, kamu kan udah kelas tiga, jangan tidur terus kalo pelajaran, kan mau UN. Belum lagi persiapan kuliah."
"Aku tidur di pelajaran kakak doang ko, yang lain ngga. Terus aku lagi mau nyari beasiswa kuliah, jadi kakak ga perlu biayain sekolah aku lagi. Kalaupun ga dapet aku ga perlu.." Ucapku sembari menuangkan air dingin ke dalam gelas.
"Kamu harus kuliah meskipun ga dapet beasiswa." Kak Rian memtotong ucapanku. Aku tertegun beberapa saat. Zian menatap kami berdua bergantian.
"Iya." Jawabku. Aku tidak mau berdebat lagi dengannya. Sifatnya yang keras kepala akan memperburuk suasana.
Rian pergi ke kamarnya setelah menyelesaikan makannya. Zian yang melihatnya tampak kebingungan apa yang harus dilakukan. Aku dengan cepat menyelesaikan makanku dan pergi ke kamar, meninggalkan Zian yang masih duduk di sana.
*****
Tak terasa sudah hampir 1 semester aku duduk di kelas 3 SMA. Liburan kali ini, aku berniat menghabiskan waktuku untuk mencari uang, menabung biaya kuliah. Jika tidak dapat beasiswa haha. Tidak banyak yang terjadi belakangan ini. Zian nampaknya sudah menjadi anak yang baik.
Akhir-akhir ini pun aku giat belajar dan bekerja paruh waktu seperti biasa. Bicara soal kerja paruh waktu, aku mendapatkannya dua nunngu lalu. Aku juga mengikuti bimbel yang di adakan sekolah. Setiap hari aku pulang larut ke rumah. Tak jarang kak Rian menanyakan kepadaku alasannya. Tapi aku tidak memberitahunya soal pekerjaanku. Saking seringnya, aku jatuh sakit dan di marahi habis-habisan oleh kak Rian.
"Abel! kakak memang nyuruh kamu belajar, tapi jangan sampai kamu ga menjaga kesehatan kamu!" Kak Rian duduk di samping kasurku dengan aku yang terbaring di kasur. Sudah tiga hari semenjak aku sakit.
"Aku udah jaga kesehatan kak, imunnya aja yang turun." Jawabku lemas.
"Tapi kamu tuh dari kemarin pulangnya larut.." Mulut bawelnya kak Rian tak henti-hentinya memarahiku. Aku tahu dia khawatir, tapi aku tidak mau mendengarnya lagi.
"Cukup kakak! Mendingan kakak kerja aja mulai besok, udah 3 hari kan kakak ga masuk? Daripada marah-marah ke aku terus" Aku menarik selimutku menutupi setengah tubuhku.
"Terus kamu di rumah sama siapa?"
"Aku bisa sendiri. Kakak keluar aja, aku mau tidur." Aku menarik lagi selimutku sampai menutupi kepala, lalu merubah posisi tidurku membelakangi kak Rian.
Tidak ada suara. Kak Rian masih duduk di tempatnya. Ingin sekali aku menangis. Betapa kekanakannya aku. Padahal kakak hanya khawatir padaku, tapi aku malah menyuruhnya untuk keluar.
Kasurku bergerak, sepertinya kak Rian tidak lagi duduk di kasurku. Langkah kakinya terdengar menjauh dari telingaku. Ia menutup pintu kamarku, tidak mengucapkan kata-kata sedikitpun.
Hatiku sakit sekali. Tanpa sadar air mataku sudah membasahi bantalku. Aku ingin berteriak, tapi tubuhku yang lemah, tak bisa lagi mengeluarkan suara. Mataku lelah setelah banyak mengeluarkan air mata. Aku terlelap.
*****
Ah.. sudah seminggu aku terbaring di atas kasur. Kak Rian mengikuti kemauanku untuk kembali bekerja. Tapi, setiap jam istirahat dia pulang untuk mengecek keadaanku sambil memberiku makan. Aku bosan, baru kali ini aku sakit hingga seminggu, padahal liburan tinggal seminggu lagi, aku harus cepat sembuh.
TOK..TOK..TOK..
"Ka Abel, aku masuk ya" Dia membuka pintu.
"Zian? kamu ngapain? ini kan masih jam sekolah?" Tanyaku padanya yang langsung menutup pintu dan menghampiriku.
"Ssssttt.. kakak gausa nanya. Pasti bosenkan? Mau keluar jalan-jalan?" Zian duduk di sampingku. Aku bangun dan terduduk.
"Ga perlu. Kamu balik lagi sana ke sekolah. Nanti ketauan kak Rian" Usirku sambil mendorongnya pergi dari kasurku. Dalam hatiku, sebenarnya aku ingin menerima tawarannya.
"Ga bakal kak. Ayo kak, kakak pasti bosen kan? Aku liat kakak udah rada mendingan. Deket-deket sini ko, ga jauh-jauh" Bujuknya menjulurkan tangannya kepadaku.
Aku menerima ulurannya, tak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti.
Ia menggandeng tanganku, membawaku ke depan rumah.
"Sebentar Zian. Kakak kan belum ganti baju."
"Ga perlu, kakak gini juga udah cantik."
"Bukan, maksudku baju ini.."
"Tunggu sebentar kak" Zian masuk ke dalam rumah sebelum aku menyelesaikan ucapanku.
Aku jongkok sambil menunggunya. Ia datang tiba-tiba dan memakaikanku jaket. Aku menatapnya, ia tersenyum.
"Biar ga dingin hehe" Ia membantuku berdiri, kamipun berangkat sambil bergandengan.
Ia membawaku ke taman bermain di dekat taman kanak-kanak. Ia mengajakku bermain berbagai permainan anak di sana, rasanya kembali ke masa kecilku dulu. Mulai dari jungkat-jungkit hingga perosotan, semuanya kami telusuri tanpa terkecuali.
Zian sangat mengerti aku. Di banding dengan kak Rian, dia lebih akrab denganku, mungkin karena usia kami yang tak terpaut jauh? Atau ia menganggapku sebagai pengganti sosok ibu?
"Kak mau beli es krim?" Tanyanya ketika melihat tukang es krim yang lewat.
"Kakak kan belum sembuh total, masa kamu nawarin es krim" Tolakku lembut sambil memainkan ayunan yang sedang kami naiki.
"Gapapa kak dikit aja ya" Ia langsung pergi membeli es krim tanpa menunggu jawabanku. Terlihat anak-anak kecil berkerumun mengelilingi gerobak es krim tersebut. Zian yang berada diantara mereka, masih terlihat karena ukuran tubuhnya yang jauh lebih tinggi.
Ia datang membawa sebuah es krim cone di tangannya, lalu memberikannya padaku.
"Lohh kamu ga beli?" Tanyaku yang belum memegang es krim pemberiannya.
"Ada nih" Ia menunjuk es krim di tangannya dengan matanya.
"Ga bisa berdua Zian. Nanti kamu ketularan." Ucapku mengerti dengan maksudnya itu.
"Yaudah ini buat kakak aja"
"Kamu kenapa sih ga beli dua aja?" Aku mengerutkan dahi, merasa kesal dengan sikapnya itu.
"Aku bolehin kakak makan es krim, tapi ga semuanya. Kemarin-kemarin kakak makan bubur sama minum obat terus kan?" Wajah ibanya menatapku. Bukannya ia mau memanjakanku, tapi ia mau aku tersenyum lagi dan sembuh dari sakitku dengan caranya sendiri.
"Kamu duluan deh, nanti baru kakak"
"Ga bakal nular, aku kan kuat" Ia membukanya dan mendekatkannya ke mulutku.
"Cepet kak nanti keburu cair" Aku membuka mulutku dan melahapnya.
"Yorobun! di sini ada kakak ganteng dan cantik lagi pacaran!" Teriak anak kecil yang melihat kami berdua. Dalam sekejap, anak-anak lain berlari dan mengerumuni kami. Zian yang terkejut, menarik es krim itu dari mulutku.
"Dek, kita ga pacaran. Terus apa itu yorobun-yorobun?" Sangkal Zian dan mengalihkannya dengan pertanyaan.
"Masa gatau si ka, kalah sama anak SD" Ledek anak itu, memeletkan lidahnya. Zian memberikanku es krimnya dan mengejar anak itu, geram.
"Yorobun awas jangan sampai ketangkep monster ngamuk! Hahaha" Anak-anak lainnya ikut berlari karena perkataannya, membuat Zian mengejar semua anak-anak yang berlarian itu.
"Awas ya yorobun-yorobun kakak makan kalian semua!" Tawanya meledak ketika berusaha lari mengejar anak-anak itu. Mataku terus bergerak mengikutinya. Ia melirikku, melihatku tersenyum karenanya.
*****
Seminggu kemudian...
Liburan semester ganjil. Aku telah sembuh dari sakitku beberapa hari lalu. Akhirnya, rencana liburanku yang aku tunggu. Selamat menabung Abel!
Hari ini jadwalku untuk bekerja. Hanya libur di akhir pekan saja. Memang tak setiap hari, karena aku takut kak Rian dan Zian curiga padaku.
"Kak Rian! Zian! aku berangkat dulu ya!" Teriakku yang telah siap keluar rumah. Mereka hanya tau aku pergi ke perpustakaan umum yang ada di kota untuk iming-iming belajar UN.
"Hati-hati kak!"
"Hati-hati Bel!"
Tidak memakan waktu lama, aku sudah sampai di tempat tujuan. Menjadi salah satu barista di toko ini, membuatku banyak mengenal berbagai jenis kopi.
Untukku yang masih belum tetap di sini, gajiku lumayan untuk bisa makan sehari-hari. Apalagi di saat liburan seperti ini, aku biasa datang dari pagi, menambah jam kerjaku.
"Pesan satu americano dan satu cappucino" Aku yang sedang merebus kopi, menoleh karena mendengar suara pelanggan yang memesan.
"Silahkan tung.. eh?! Rena?! ko kamu bisa di sini?" Mataku terbelalak melihat Rena. Bukan hanya aku, kukira dia berpikiran sama.
"Loh Abel? Kamu yang ngapain disini?" Rena memukul pelan tanganku. Aku tak menyangka kita bisa bertemu di tempat seperti ini.
"Duduk dulu Ren, nanti aku yang anter ke meja"
"Oke, aku cari tempat dulu ya" Rena pun pergi mencari tempat duduknya.
Aku meracik pesanan yang di minta Rena, setelah itu aku mengantar pesanannya ke meja tempatnya duduk.
"Nih Ren, udah jadi" Aku meletakkan nampannya dia atas meja. Ia langsung menyambarnya.
"Ga panas?" Ia menggeleng dan masih tetap meneguknya. Orang macam apa yang bisa meneguk kopi panas?
"Eh kamu kerja paruh waktu ya?" Tanyanya setelah puas meminum americanonya.
"Plis jangan bilang siapa-siapa" Aku memohon sambil memegangi tangannya.
"Kenapa emang?" Tanyanya dengan raut wajah penasaran.
"Plis dong, Ren ya?" Aku semakin menguatkan genggamanku.
"Abel? ko ada di sini?" Tiba-tiba Reza datang dan duduk di sebelah Rena. Jadi ini alasan dia memesan dua minuman.
"Kebetulan ketemu doang" Jawab Rena santai. Kamu memang teman terbaikku Rena.
"Iya kebetulan hehe. Omong-omong kamu dari mana Za? ko baru dateng?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Oh.. tadi abis.." Reza menceritakannya kepadaku. Kami menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang selayaknya teman.
*****
Tak terasa liburan semester ganjil telah berakhir. Tabunganku semakin bertambah setiap harinya, tapi itu belum cukup untuk biaya kuliahku sampai lulus.
Aku mencoba untuk mencari beasiswa kuliah yang ada di internet. Banyak sekali pilihan yang tersedia. Aku belum memutuskan untuk mengambil jurusan tertentu, tapi sepertinya jurusan apapun yang penting aku bisa mendapat beasiswa penuh.
Aku mendaftarkan diri untuk mengikuti program beasiswa bulan depan. Aku harus belajar giat dan mengurangi waktu kerjaku untuk saat ini.
TOK..TOK..TOK..
"Abel? Masuk ya"
"Iya kak, masuk aja" Aku yang sedang belajar untuk persiapan, berhenti dan berjalan ke kasur yang disana kak Rian telah duduk. Aku ikut duduk di sampingnya, menanyakan kepentingannya.
"Kenapa kak?"
"Kamu udah nentuin jurusan kuliah? Udah dapat lowongan beasiswa?" Tanyanya serius.
"Lowongan beasiswa? haha kayak mau kerja aja bahasanya lowongan." Aku terkekeh.
"Aku serius, sudah dapat atau belum?" Tatapan tajamnya menusukku.
"Udah kak, udah. Bulan depan tesnya." Jawabku meyakinkannya.
"Yaudah, kakak keluar dulu." Ia keluar dari kamarku begitu saja. Ada apa dengannya? Saat itu, aku tak memikirkan apapun tentangnya.
*****
Saat ini aku sedang berada di ruang ujian untuk beasiswa. Jantungku berdegup kencang memikirkan soal yang yang akan diujikan. Lumayan banyak peserta yang mengikuti program ini. Aku harus bisa menjadi peringkat teratas untuk mendapatkannya.
Ujian pun di mulai. Semua fokus mengerjakan soal yang diberikan. Aku melirik sekitarku, rasanya pengawas ruangan yang sedang berbicara dengan seseorang selalu melihat ke arahku. Perasaanku tidak enak.
Akhirnya dia memanggilku dan menyuruhku untuk keluar ruang ujian, karena aku terus meliriknya.
"Apa kamu mau melanjutkan ujian ini?" Tanya pengawas itu padaku.
"Memangnya kenapa bu?"
"Kakakmu di rumah sakit, dia mengalami kecelakaan lalulintas barusan." Ucap Bu Sonya yang ternyata adalah lawan bicara si pengawas.
"Apa?! Tolong kasih tau saya rumah sakitnya Bu" Aku panik. Aku langsung pergi setelah Bu Sonya memberi tahukan rumah sakit tempat kak Rian di rawat. Semua urusan beasiswa aku tinggalkan, prioritasku sekarang adalah Rian.
*****
Aku masuk ke ruangan kak Rian setelah di perbolehkan dokter. Terlihat kak Rian yang sedang tidur terbaring di atas kasur. Bagaimana bisa begini? Air mataku tiba-tiba saja keluar. Zian sedang di sekolah. Aku tahu dia akan kesini karena jam sekolah sebentar lagi selesai.
Aku duduk di kursi sebelah ranjangnya. Aku menangis melihat kondisinya yang seperti ini. Nasib baik ia hanya terluka dan tidak menimbulkan efek berkepanjangan.
"Kak Rian kenapa bisa begini sih ka.."
Aku menangis hingga tertidur sambil memegangi tangannya.
*****
CKLEK!
"Zian?" Aku membuka pintu rumah. Tidak ada seorangpun yang menjawab panggilanku.
Aku memeriksa semua ruangan. Tidak ada. Kemana dia?
Pikiranku kacau. Jangan-jangan dia pergi karena ucapanku? Tidak, aku tidak mau kehilangan keluarga lagi. Aku harus mencarinya.
Malam sudah larut, aku mencarinya kemanapun tapi tetap tidak menemukannya. Aku putus asa. Aku tidak punya seseorang untuk bersandar.
Aku tidak akan marah padamu Zian. Jadi pulanglah.
Tangisanku memenuhi seisi rumah. Kak Rian belum sembuh total, Zian pun kabur dari rumah. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menangis, menyesali perbuatanku, menyesali ketidakmampuanku. Uang tabunganku habis untuk biaya berobat kak Rian. Kesempatan beasiswaku hilang. Sepertinya aku tidak perlu kuliah.
ABEL SIDE -END
Maaf apabila ada kesalahan dalam cerita, ini hanya untuk hiburan. Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membaca cerpen ini.