Tondi mulai kebingungan tiba-tiba berada di tempat itu. Di kanan dan kirinya orang-orang sedang disiksa oleh sosok yang tinggi besar. Wajahnya nampak mengerikan, ganas dan penuh kekejaman tanpa ampun menyiksa satu persatu dari penghuni- penghuni yang di sana. Entah apa yang sudah mereka lakukan sehingga orang-orang itu harus menerima hukuman dan penyiksaan se mengerikan itu. Tondi sendiri tidak pernah membayangkan pemandangan yang membuat hatinya semakin menangis histeris ketika mendengar teriakan- teriakan yang begitu memilukan dan menyayat hati itu.
Tondi rasanya ingin menolong mereka, namun dirinya tidak mampu untuk menolong mereka. Hingga Tondi melihat seorang wanita yang telah berteriak meminta tolong kepada dirinya karena penyiksaan yang membuat dirinya kesakitan dan kepedihan.
Wanita itu dahulunya adalah temannya. Semasa dia mengenalinya wanita itu suka bergonta-ganti pasangan dan melakukan kebebasannya selayaknya kehidupan modern yang tidak mengedepankan norma susila. Hanya mengutamakan hawa nafsu dan kebebasan duniawi.
Tondi berjalan seolah ada energi yang menariknya untuk menuju ke ujung jalan itu. Setiap Tondi berjalan, dirinya harus menyaksikan kanan dan kirinya orang-orang mengalami penyiksaan yang membuat dirinya tidak sanggup menatap nya. Teriakan histeris minta tolong terdengar dimana-mana. Hal itu membuat pilu dan sedih Tondi.
Tondi akhirnya kembali berjalan menuju pintu keluar untuk meninggalkan tempat itu. Rasanya Tondi benar-benar ingin secepatnya pergi dan meninggalkan tempat yang mengerikan itu. Tempat yang memilukan, tempat yang menyedihkan, tempat yang siapapun ketika melihat nya ikut merasakan sakit dan panasnya akan perih, pedih akan siksaan yang menyayat hati itu.
Tondi dengan cepat berlari keluar ke arah pintu utama hingga tanpa sadar kakinya terpeleset jatuh ke jurang api yang menyala itu. Tondi jatuh dari jalan yang ia lalui itu yang sejatinya adalah jembatan panjang. Tondi benar-benar jatuh ke jurang yang panas itu. Kobaran api mulai membakar tubuhnya. Panasnya begitu menyiksa tubuhnya. Hingga Tondi tidak tahan dan berteriak-teriak minta tolong.
" Tolong!!!" teriak Tondi sampai keringat dingin ditubuhnya keluar semua.
Namun tiba-tiba matanya terbuka. Dirinya terbangun dari tidurnya. Rupanya Tondi telah bermimpi. Mimpi yang ia rasakan begitu sangat nyata. Tondi sampai merasakan betapa panas, perih, tersayat, terkelupas semua tubuhnya karena terbakar. Keringat dingin Tondi masih keluar seiring detak jantung nya masih menderu hebat. Tondi cepat- cepat meraih air mineral di dekatnya. Hingga air minum itu habis tak bersisa seolah sudah sekian lama tenggorokannya dalam dahaga yang cukup lama.
Dalam hati Tondi sangat bersyukur, semua yang baru saja ia alami hanyalah mimpi. Namun walaupun mimpi ini bagi dia begitu serasa nyata ia alami.
" Ya Tuhanku! Aku manusia yang lemah dan hina. Tiada kekuatan, daya dan pertolongan melainkan dari kekuatan Mu ya Tuhan. Aku berlindung dari segala keburukan mimpi- mimpi buruk ini. Dan jadilah aku manusia yang beruntung." ucap Tondi lalu bangkit dari tempat tidur nya.
Tondi mulai berjalan menuju tempat untuk mensucikan dirinya. Tondi mulai mengambil air untuk membasuh wajah dan semua anggota tubuhnya untuk disucikan. Setelahnya, Tondi mulai mengenakan pakaian dan sarung untuk mengerjakan sholat malamnya.
Tondi berdiri dan menghadap kiblat. Dibentangkan sajadah itu lalu mulai berniat, pasrah, tunduk dihadapan Nya.
" Ya Tuhan! Aku manusia yang lemah dan hina. Ampunilah segala kesalahan, dosa- dosa yang aku lakukan baik aku sengaja maupun tidak aku sengaja dan terlupakan. Aku pasrah, tunduk patuh akan kekuasaan Mu ya Tuhan. Tetapkan aku dalam keimanan dalam keyakinan agama ku. Aamiin." ucap Tondi.
( Jambi, 12 Januari 2022)
Tulisan hanyalah pandangan penulis dan bersifat fiktif. Kebenaran yang hakiki hanya DIA LAH YANG TAHU DAN MAHA MENGETAHUI AKAN HARI AKHIR DAN PEMBALASAN.