dimalam pernikahan, suamiku berkata padaku, "minta maaf aku berbohong padamu, sebenarnya aku juga seorang wanita.. "
itulah yang diucapkan Yanto pada Maya, wanita yang baru saja menjadi istrinya.
"oh, ya.. aku juga sudah tahu.. " Maya terlihat biasa saja, tidak terkejut sedikit pun.
saat ini, keduanya berada di dalam kamar dengan pintu tertutup. Maya duduk di atas tepi ranjang, sementara Yanto berdiri menghadap Maya.
Yanto terkejut, "kau.. tidak terkejut?!"
"baiklah." Maya menghela nafas, "apa? kau seorang wanita?! ya, ampun.. aku terkejut! " ucapnya datar, "apa kau terhibur.? "
Yanto menatap Maya tidak percaya, "hey, kau tidak jijik memiliki suami sesama jenis.. Yanto itu namaku saat siang, kalau malam jadi Yanti.. "
Yanto membuka pakaiannya, didalamnya terdapat Tanktop berwarna putih, dibagian dadanya sangat montok layaknya wanita, namun tetap saja dia terlihat seperti laki-laki.
"lihatlah tubuh ku ini! apa kau masih ragu? aku ini wanita.. " Yanto terus meyakinkan.
Maya menatap datar Yanto, "aku senang kau memberitahu rahasia mu.. tapi aku juga mempunyai rahasia.. " dia menundukkan kepalanya, "aku ini... aku ini.. aku seorang transgender.. "
"apa? transgender?! " sontak Yanto kaget. "jadi kau.. wanita yang bermental laki-laki..?! "
Maya tersenyum, "memangnya kenapa? bukankah kau seorang wanita..? "
"tidak! tadi aku hanya bercanda! " Yanto membuka Tanktopnya, bagian dadanya yang montok itu ternyata adalah sebuah bra berukuran besar, "lihatlah..aku laki-laki..itu tadi hanya prank..! " dia memperlihatkan semua otot-otot kekarnya.
Maya menatap tubuh Yanto, seketika pipinya memerah, kemudian dia memalingkan wajahnya kearah lainnya.
"bagaimana? kau sudah percaya bukan? kalau begitu.. kita harus mengakhiri pernikahan ini..aku tidak mau memliki istri transgender seperti mu.. " ucap Yanto.
Maya terlihat kesal, sepertinya dia sangat marah mendengar ucapan Yanto.
Maya mencoba tersenyum, "aku tadi belum selesai... sebenarnya aku memang wanita yang berjiwa laki-laki.. tapi aku juga seorang homo.. " dia tersenyum nakal.
"memangnya..bisa seperti itu,ya.." Yanto terlihat ketakutan, dia mundur dan mencoba menjangkau pintu.
"eits.." Maya berlari memotongnya, lalu berdiri di pintu menghalangi Yanto, "kau kenapa? bukankah kita sudah sah menjadi suami istri..? " dia tersenyum nakal.
Yanto mundur perlahan kebelakang, "kau homo.. kau transgender.. jangan mendekat! " dia sangat ketakutan.
"aku memang transgender.. tapi tetap saja aku menyukai seorang pria.. tubuh ku juga bukan pria.. ayolah kita nikmati! " Maya terus maju dengan senyuman nakalnya.
"walaupun seperti itu.. karena sudah mengetahui kebenarannya.. tetap saja aku merasa jijik.." Yanto sangat ketakutan.
cukup lama dalam situasi seperti itu, "hahaha.. aku hanya ngeprank.. aku wanita normal.. " tiba-tiba Maya berucap sambil tertawa terbahak-bahak.
Yanto kaget, "benarkah!? kau wanita normal? "
Maya tersenyum, "aku sudah tahu kau berencana mengerjai ku.. jadi aku juga membalas mu.. "
Yanto tersenyum, "kau membuat ku takut.. ternyata kau punya sisi manis juga, ya.. "
Maya melirik Yanto, "memangnya selama ini aku tidak manis? " sepertinya dia marah.
"bukan, bukan seperti itu.. hanya saja kau... " Yanto mulai bingung.
setelah itu, suasana menjadi hening dan canggung. keduanya duduk bersampingan, namun tidak saling memandang. Yanto menoleh kearah Maya yang kebetulan menoleh kearahnya, kemudian keduanya saling membuang wajah, tapi setelah itu mereka saling mencuri pandang.
"kau... masih belum percaya padaku, ya..? kau masih berpikir aku bukan wanita normal..? " setelah cukup lama dalam kecanggungan, Maya membuka pembicaraan.
"bukan.. aku hanya merasa.. " Yanto ragu-ragu.
Maya menatap Yanto, "kenapa? dimana keberanian mu waktu itu? bahkan sekarang kau tidak berani menatap ku.. " dia terlihat kesal.
"Maya.. aku minta maaf.. karena aku kau berada dalam masalah ini.. " Yanto berucap dengan lembut.
Maya menatap Yanto yang juga menatapnya, "baguslah kalau kau sadar ini semua salah mu.. " kemudian menghela nafas, "sekarang.. tidak ada yang perlu kita sesali.. kita harus melewati ini bersama-sama.. "
semua ini berawal dari beberapa hari yang lalu.
waktu itu hujan sangat deras, seorang wanita berlari sambil menghindari tetesan hujan tersebut sambil membawa tas, sepertinya dia baru saja pulang kuliah. dia bersembunyi di depan sebuah rumah yang sepertinya tidak berpenghuni, tepatnya di pinggir jalan raya, dia adalah Maya.
dekat dari tempat Maya berada, Yanto juga berdiri di teras sebuah warung yang tutup, dia bersama seorang temannya yang sepertinya sedang menunggu hujan reda.
Yanto memandang kearah Maya, setelah itu dia berjalan menuju Maya, sepertinya dia tertarik dengan wanita itu, sementara temannya tetap diam ditempat.
Maya menyadari kedatangan Yanto, tapi dia tetap bersikap cuek.
Yanto terus mendekat dengan Maya, tapi dia juga tidak berbicara sepatah kata pun.
"harum sekali.. " gumam Yanto, dia mendekati tubuh Maya dari belakang. Maya berpakaian tertutup, hanya saja itu terlalu ketat. suasana dingin membuat gairah muda Yanto bergejolak, tanpa sadar kedua tangannya sudah melingkar di pinggang Maya.
Maya sudah tahu Yanto dibelakangnya, namun dia tidak mau menoleh kebelakang, begitu melihat tangan Yanto sudah menyentuh tubuhnya, "kurang ajar!" dia berbalik.
Tarr..
kemudian Maya menampar Yanto yang terkejut, dia sadar sudah melakukan tindakan tidak senonoh.
tidak berhenti di situ, Maya mengayunkan kakinya, tendangannya tidak bisa diremehkan, ini sebanding dengan tendangan nuklir Mickey, sepertinya dia hobi nonton Tokyo revengers.
walaupun seperti itu, Yanto yang sudah lama menjadi wibu, sepertinya mewarisi tekad pantang menyerah Naruto, dia menahan tendangan Maya yang mengarah kepalanya dengan satu tangan.
Yanto mencengkram kaki Maya, kemudian melirik sepatu hak hitam yang sangat dekat dengan pipinya.
Maya menarik-narik kakinya agar terlepas dari cengkraman Yanto, namun Yanto malah mengangkat tinggi kak Maya yang mulai kehilangan keseimbangan.
Maya hampir terjatuh, dia menangkap kedua bahu Yanto yang langsung kaget dan kehilangan keseimbangan.
Braak..
keduanya terjatuh, Yanto membentur bumi menatap atas, sementara Maya menindih Yanto dan menatapnya, kedua mata itu bertemu cukup lama, Maya yang awalnya marah kini menatap lembut mata Yanto.
Yanto memang sedikit kurang ajar, terlepas dari semua itu, sebenarnya dia sangat tampan. itulah yang membuatnya mudah menjadikan para wanita sebagai mainannya.
"mesum..! mesum...! hahaha..! " tepat di saat itu, tiba-tiba teman Yanto berteriak sambil tertawa, sepertinya dia berniat bercanda.
kraak..
pintu rumah yang mereka anggap terbuka, sepertinya rumah itu sebenarnya berpenghuni.
"siapa yang mesum?! " tiba-tiba seorang ibu-ibu keluar, begitu melihat Yanto dan Maya yang saling menimpa, "kurang ajar! beraninya kalian berbuat tidak senonoh didepan rumah ku! " dia terlihat sangat marah.
itulah awal permasalahan, Yanto dan Maya sudah mencoba menjelaskan, tapi ibu itu tidak percaya, Yanto dan Maya terdiam, sepertinya mereka sadar kalau menghadapi ibu-ibu tidak akan pernah menang, mungkin itu sudah termasuk aturan di Indonesia walaupun belum tertulis, akhirnya massa pun berkumpul menghakimi Yanto dan Maya.
sebenarnya itu bukan kesalahpahaman, itu salah Yanto seutuhnya, tidak seutuhnya juga, temannya juga salah karena terlalu bodoh.
lebih parahnya, ternyata Maya adalah adik dari senior Yanto. dia memang mengijinkan setelah mendengar penjelasan, tapi sebelum itu dia menjadikan wajah Yanto sebagai samsak tinjunya, sepertinya dia tahu tentang Yanto yang dijuluki buaya darat.
akhir cerita, Yanto terpaksa mengakhiri masa lajangnya di umur dua puluh satu tahun, tapi sebenarnya hanya statusnya saja yang lajang. sementara Maya lebih tua setahun dari Yanto, dia juga hanya bisa pasrah dengan keadaan, beberapa hari dekat dengan Yanto membuatnya merasa nyaman.