“Ayah! Apa yang ayah lakukan! Lepaskan wanita itu! Ayah sungguh memalukan!.”
“Ah kamu mengganggu saja! Pergi kamu dari sini!.”
“Tidak ayah! Apa yang ayah lakukan sudah keterlaluan! Lepaskan dia! Kalau tidak, aku akan katakan pada ibu.”
“Kamu tidak mengerti Ale, betapa tersiksanya aku selama tiga tahun terakhir ini, ibumu sudah tidak bisa melayani aku lagi.”
“Tapi tidak seperti ini caranya ayah! Tinggalkan wanita itu!.”
Teriak sang anak sulung menggema. Ia menemukan ayahnya yang akan melakukan sesuatu pada seorang wanita muda yang menjadi pelayan di istananya.
Dengan rasa kecewa ayahnya pergi memakai pakaiannya kembali dan mendengus kasar.
Alexiano langsung melepaskan mantelnya dan menutupi tubuh polos wanita muda itu. Ia tatap wajah polos gadis belia itu, nampak dari sudut bibirnya sobekan kecil dan mengeluarkan darah, sepertinya sang ayah telah melakukan kekerasan fisik padanya.
“Maafkan atas kelakuan ayahku.” Ucap Alexiano seraya mengangkat tubuh lemah itu, membawanya pergi dari ruang baca menuju kamar gadis itu.
Wanita muda yang bernama Alearora yang berusia 19 tahun itu baru beberapa bulan bekerja pada keluarga itu sebagai pelayan nyonya besar.
Nyonya Yanora berusia 45 tahun adalah istri dari Tuan Jose Alehandro yang berusia 50 tahun. Mereka dikaruniai dua anak laki-laki, yang pertama bernama Alexiano berusia 24 tahun dan yang ke dua alzanzibar 21 tahun.
Namun sejak tiga tahun yang lalu nyonya Yanora mengalami kecelakaan yang membuat seluruh tubuhnya lumpuh sehingga dia tidak mampu melakukan apa pun. Termasuk melayani suaminya dalam melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Bahkan untuk sekedar mandi pun ia membutuhkan pelayan. Dan pelayan yang mengurusinya adalah Alearora.
Alearora memiliki wajah yang cantik dan kulit bersih seputih susu, tidak heran jika tuan besar Jose Alehandro tertarik padanya dari awal gadis itu bekerja pada keluarga mereka.
…………….
Alexiano merebahkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur. Lalu ia memanggil pelayan yang sudah senior bernama Rumaya yang berusia 47 tahun mengambilkan wash lap dan air hangat.
“Biar saya yang melakukannya tuan muda.” Kata Rumaya.
“Tidak usah biar saya saja bibi, bibi pergilah.” Titah Alexiano. Lalu Rumaya pun pergi meninggalkan tuan mudanya di bilik Alearora.
Perlahan Alexiano membersihkan luka yang terdapat pada wajah Alearora dengan wash lap yang di bawakan Rumaya tadi.
Alearora merasa tidak enak karena tuan muda melakukan hal yang tidak semestinya ia lakukan.
“Tuan muda, saya dapat melakukannya sendiri.”Kata Alearora. Tapi Alexiano tidak menanggapinya, ia terus saja membasuh luka yang terdapat pada wajah Alearora.
Alearora merasa tidak nyaman karena tubuhnya hanya berbalut mantel milik Alexiano, sementara pakaiannya telah dilucuti dengan kasar oleh tuan Jose Alehandro tadi, pada saat akan memperkosanya di ruang baca.
“Mh… tuan muda maaf, apakah saya boleh berpakaian dulu? Saya merasa tidak nyaman.” Kata Alearora sembari menutup dadanya dengan mantel milik Alexiano yang ia kenakan.
Lalu Alexiano beranjak ke tempat pakaian Alearora dan mengambilkan pakaiannya. Kemudian mencoba memakaikan pada Alearora.
“Mh… tuan muda, sa-saya bisa melakukannya sendiri.” Kata Alearora gugup.
“Saya tuanmu disini, tolong patuhi.” Kata Alexiano datar, Alearora tidak dapat berbuat apa-apa, dia hanya bisa diam saat Alexiano membuka mantel yang menutupi tubuhnya.
Berdebar hati Alea saat tubuh polosnya terlihat oleh tuan mudanya.
Dengan lembut Alexiano memakaikan pakaian pada gadis itu. Pada saat Alexiano akan menutup resleting yang terletak pada punggung gadis itu, nampak luka lebam disana, kemudian Alexiano menyuruh gadis itu untuk duduk pada kursi rias.
Ia mengobati luka lebam itu dengan obat pereda sakit. Dengan lembut ia mengoleskannya pada punggung mulus itu.
“Apa yang telah dilakukan ayahku hingga punggungmu membiru?.” Tanya Alexiano.
“Mh… ah.. tidak ada tuan muda, ini hanya luka kecil.” Jawab Alearora gugup.
“Katakan! Apa yang ayahku lakukan!.” Kata Alexiano dengan nada tinggi memandang wajah Alearora pada cermin.
Alearora melihat pada cermin wajah serius tuan mudanya itu.
“Mh.. tuan muda, ini tidak sakit kok.” Jawab Alearora kikuk.
“Katakan!.” Ujarnya serius.
“Lu-luka ini akibat benturan ujung meja baca tuan muda, tidak apa-apa kok.”
“Untuk beberapa hari Istirahatlah, jangan dulu mengurusi ibuku, tunggu sampai lukamu pulih, biar bibi Rumaya yang menggantikan mu untuk sementara.” Titah tuan muda sembari menutup resleting Alearora.
“Tuan muda… terima kasih.” Ucap Alearora menundukkan kepalanya.
“Mh..” jawab Alexiano dengan anggukan lantas pergi meninggalkan bilik Alearora.
………………
Ke esokan harinya, pagi-pagi sekali Alearora terjaga. Ia langsung beranjak membersihkan diri meski pada bagian tubuhnya masih merasa pegal dan sakit. Tapi ia tidak bisa hanya berdiam diri saja, karena sudah terbiasa melayani nyonya besar Yanora, akhirnya ia memutuskan kembali beraktivitas melayaninya. Pada saat ia keluar dari biliknya, ia melihat Rumaya bergegas pergi menuju kamar nyonya besar Yanora.
“Bibi Rumaya hendak kemana?.” Tanya Alearora.
“Aku akan memandikan nyonya Yanora.” Jawabnya.
“Tidak usah bibi, biar aku saja.”
“Tapi tuan muda menyuruhku untuk menggantikan kamu Alearora. Bukan kah kau disuruh istirahat dulu?.”
“Aku sudah sehat bi, sudah biar aku saja. Bibi lakukan saja tugas bibi seperti biasa.” Kata Alearora.
“Alea.. kamu harus lebih berhati-hati, aku khawatir tuan besar akan berusaha melakukannya lagi paramu.” Ucap pelan Rumaya dengan kekhawatiran nya.
“Iya bibi, aku akan lebih hati-hati. Ya sudah aku akan ke kamar nyonya besar sekarang.” Kata Alearora bergegas menuju kamar nyonya besar Yanora.
Sampailah Alearora di dalam kamar nyonya besarnya. Ia pandangi wajah nyonya besarnya itu. Meski lumpuh layu dan tak bisa bicara, masih terlihat jelas sisa-sisa wajah cantiknya.
“Selamat pagi nyonya besar. Permisi, seperti biasa saya akan memandikan nyonya. Nyonya sudah siap?.” Kata lembut Alearora dari bibir tipisnya.
Sang nyonya besar hanya bisa memandangi Alearora dengan tatapannya. Sepertinya Yanora sangat cocok dengan Alearora. Jika ia merasa tidak cocok, ia akan melototi pelayannya tanda tak ia suka.
Alearora mengambil air hangat dan wash lap untuk membersihkan tubuh nyonya besarnya. Setelah air hangat itu siap. Perlahan ia buka pakaian nyonya besarnya, lalu membasuh seluruh tubuhnya dengan wash lap.
Selagi Alearora membersihkan tubuh nyonya besarnya, masuklah tuan besar Jose Alehandro. Kemudian tuan besar Jose mendekati istrinya yang tengah di bersihkan oleh Alearora.
“Sayangku Yanora.. aku akan pergi ke perkebunan karena akan ada tamu dari luar negeri.” Kata tuan Jose pada istrinya kemudian mencium keningnya, dan perlahan beranjak dari tempat tidur istrinya tetapi tatapannya tidak lepas pada Alearora.
(Kau sangat menggoda Alearora, mungkin belum saatnya aku mendapatkanmu, dan aku yakin akan ada kesempatan lain untuk bisa mendapatkanmu.) bathin tuan besar Jose.
Yanora sudah menyadari kalau suaminya itu tertarik pada pelayannya namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Jangankan untuk berbuat sesuatu berkata pun ia tak bisa. Hanya bathinnya lah yang bisa berkecamuk di dalam dirinya.
(Jangan pernah sekali pun kau melakukan hal yang menjijikan pada Alearora Jose.. dia masih sangat muda untuk kau perdaya. Dia gadis kecil yang berbeda dari pelayan-pelayan lain yang dengan mudah melayanimu. Dia gadis suci Jose jangan sekali-kali kau mencoba merusaknya) bathin Yanora.
Sementara Alearora tetap fokus mengurusi nyonya besarnya. Setelah ia selesai membersihkan tubuh nyonya besarnya, lalu ia memakaikan pakaian indahnya dan menyisirkan rambutnya.
“Nah sekarang nyonya besar sudah semakin cantik dan wangi.” Ujar Alearora sembari membelai rambut nyonya besarnya.
Yanora dapat mendengar apa yang Alearora katakan. Ia selalu senang mendengarkan apabila Alearora mengajaknya bicara walau ia tak dapat menjawabnya.
“Sekarang aku akan memijat kaki dan tangan nyonya agar nyonya secepatnya dapat kembali menggerakkan seluruh tubuh nyonya. Nyonya harus sabar ya? Dan yakinlah kalau nyonya akan pulih kembali.” Ucap lembut gadis itu dengan pijatan hangat pada tangan nyonya besarnya itu.
“Nyonya tahu tidak? Aku sangat bahagia bisa merawat nyonya, dan kalau nyonya mengijinkan, aku ingin selamanya merawat nyonya sampai nyonya pulih kembali. Aku sangat bersyukur sekali dapat bekerja menjadi pelayan nyonya di istana ini. Tahu tidak kenapa nyonya? Selain keluarga nyonya sangat baik dalam memperlakukan kami, disini juga kami bisa makan enak hehe.. coba kalau aku tidak pernah bekerja melayani nyonya. Sepertinya seumur hidupku, aku tidak akan pernah merasakan masakan lezat hehe.” Celoteh Alearora yang membuat nyonya besarnya merasa terhibur.
Tanpa mereka sadari di balik pintu Alexiano mendengarkan apa yang Alearora katakan. Perlahan Alexiano menyuruh Rumaya untuk membawakan sarapannya ke kamar ibunya. Karena pagi ini ia ingin sarapan bersama ibu nya.
Lalu ia kembali lagi menuju kamar ibunya dan masuk, ia melihat ibunya yang terbaring tengah mendengarkan celotehan Alearora.
“Selamat pagi ibuku tersayang.” Sapa Alexiano pada sang ibu lantas mencium kening dan pipi ibunya itu dan duduk di sebelah ibunya yang terbaring.
Melihat kemesraan ibu dan anaknya Alearora hendak pergi meninggalkan mereka berdua.
“Kau mau kemana?.” Kata Alexiano pada alea.
“Aku akan keluar dulu sebentar tuan muda.” Alea menunduk
“Jangan kemana-mana. Aku ingin sarapan bersama ibuku dikamar ini.”
“Baik tuan muda.” Alea patuh.
Tak lama masuklah Rumaya kedalam kamar itu dengan membawa dua porsi sarapan di atas nampan untuk nyonya besar dan tuan mudanya itu.
Alexiano mengambil satu porsi makan untuk dirinya dan satu porsi lagi ia berikan pada Alearora untuk menyuapi ibunya.
“Ayo ibundaku yang cantik, kita sarapan bersama.” Ajak mesra putra sulungnya itu.
Yanora mendengar apa yang putranya katakan dan ia merasa bahagia memiliki putra yang patuh dan sayang pada ibu nya.
Lalu dengan lembut alea menyuapi nyonya besarnya.
“Nyonya harus menghabiskan sarapannya ya? Biar tubuh nyonya kuat.” Kata alea.
Alexiano memperhatikan alea yang tengah menyuapi ibunya itu.
“Oya sepertinya sarapanku ini rasanya lain, coba alea kau rasakan makanan ku ini.” Kata Alexiano seraya menyodorkan makanan pada mulut alea. Alea merasa gugup karena mana mungkin seorang pelayan makan satu sendok dengan tuannya ditambah tuannya yang menyuapi dirinya.
“Oh begitu ya tuan muda? Nanti akan saya coba di dapur.” Ujarnya, tapi Alexiano memaksanya.
“Ayo buka mulutmu! Aku tuan di rumah ini dan kau harus patuh!.” Tegas Alexiano. Alea tidak bisa berbuat apa-apa jika tuan nya sudah berkata demikian. Perlahan ia buka mulutnya dan menerima suapan dari tuannya. Dengan malu-malu Alea mengunyah makanan yang sudah berada di dalam mulutnya.
“Bagaimana?. Lain kan rasanya dengan yang biasanya aku makan?.” Tanya Alexiano.
“Mh.. maaf tuan.. a-aku tidak dapat membedakannya karena makanan yang sebelumnya aku belum mencobanya.” Jawab Alea.
Yanora hanya bisa mendengarkan celotehan putranya itu. Seandainya dia dapat berkata tentunya dia akan mengatakan pada putranya, tidak baik mengerjai pelayannya seperti itu.
“Mana coba aku rasakan makanan milik ibu!.” Titah Alexiano agar alea menyuapi dirinya. Sedikit kikuk alea menyuapi tuan mudanya.
“Hm.. makan ibu lebih enak, aku ingin makanan yang ibu makan, ibunda sayang, boleh ya aku makan berdua bersamamu?.” Rayu nya seraya menciumi ibunya.
Entah apa yang ada dalam pikiran Alexiano padahal makanan yang ada di dalam piringnya sama dengan yang berada di dalam piring ibunya.
Sepertinya Alexiano menginginkan selain alea menyuapi ibu nya alea juga menyuapi dirinya.
(Tuan muda ini aneh sekali bukan kah ini adalah makanan yang sama?) bathin alea seraya menyuapi nyonya besarnya kemudian menyuapi tuan mudanya.
“Alea! Makanan yang berada di dalam piringku, kau habiskan ya?.” Titah Alexiano.
“Ba-baik tuan.” Jawab alea patuh.
Setelah makanan yang berada di dalam piring nyonya besarnya habis, lalu Alea memberikan minum pada nyonya Besarnya dan berlalu meninggalkan kamar itu, dengan membawa nampan yang berisi dua piring tadi menuju dapur.
Setelah sampai di dapur, ia meletakkan nampan itu di meja makan dan mengambil piring yang masih berisi sarapan milik tuan mudanya yang akan ia makan. Rumaya mendekati Alea.
“Loh kok piring yang satunya utuh? Apa nyonya tidak mau makan alea?.” Tanya Rumaya heran.
“Bukan bi, ini piring milik tuan muda.”
“Loh katanya tadi tuan muda ingin sarapan bersama nyonya besar dikamar sana, kenapa sarapannya tidak dimakan?.”
“Tuan muda makan pada piring yang sama dengan nyonya besar bi, dan tuan menyuruh saya makan sarapannya ini.” Jelas Alea.
“Ah tuan muda itu memang aneh.” Kata Rumaya seraya meninggalkan Alea.
Lalu Alea duduk di kursi makan tempat para pelayan dan mulai menikmati sarapan milik tuan muda nya itu. Tanpa ia sadari sang tuan muda mengintipnya dari balik dinding. Dari wajah tampannya tersungging senyum manis di sudut bibirnya saat ia memandangi Alea yang tengah menikmati sarapan miliknya. Perlahan ia mendekati Alea. Alea terkejut saat menyadari ternyata tuan mudanya sudah ada dihadapannya.
“Hm tuan muda.” Ia langsung berdiri kemudian sedikit membungkuk memberi hormat.
Sang tuan muda mendekat ke arahnya, menarik tangannya, membawanya duduk kembali, lalu sang tuan muda duduk di sampingnya. Perlahan ia meraih sendok dan mendekatkannya pada mulut Alea.
“Ayo buka mulutmu, kau harus patuh padaku.” Titah nya. Perlahan Alea membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang Alexiano suapkan pada mulutnya dengan menundukkan pandangannya.
“Lihat aku, dan tatap aku.” Titahnya kembali. Alea patuh, perlahan ia jatuhkan pandangannya pada mata lentik tuan mudanya. Lalu tuan mudanya menyuapinya kembali dengan saling bertatapan.
“Dengar aku! Jika ayah dan adikku mengganggumu lagi. Katakan padaku!. Ini perintah!.” Kata tuannya dengan tatapan tajam. Alea mengangguk pelan.
“Tak akan ku biarkan mereka mengganggumu lagi sekali pun aku harus melawan mereka.” Kata Alexiano seraya menyuapi kembali Alea.
Tidak ada hati yang terluka cemburu, kala sesuatu yang indah tersimpan dalam hati, direnggut paksa sang penjina. Aku telah menyimpan rapat di dalam hati. Ku harap kau mengerti alea.
……………
Hari pun telah malam. Terlihat Alzanzibar adik dari Alexiano membawa lima temanya kedalam istana mereka.
“Apakah minuman untuk pesta kita telah kau siapkan bar?.” Tanya temannya bertubuh subuh.
“Tentu saja sudah aku siapkan, kalian tenang saja! Aku akan menjamu kalian untuk minum sepuasnya haha.” Kata Alzanzibar.
“Eh tapi bagaimana dengan wanita-wanita yang akan menemani kita minum bar?.” Tanya temannya yang bertubuh kurus.
“Tentu saja wanita-wanita pun telah aku siapkan, aku memiliki puluhan pelayan yang bisa kalian pilih untuk menemani kita minum haha.” Kelakar Alzanzibar.
“Bagus! Haha, oya dimana kamu akan menggelar pesta minuman untuk kita ini bar?.”
“Aku akan menggelar pesta kita di lantai istanaku paling atas agar siapa pun tak bisa mengganggu kita haha.”
Mereka berkelakar bersama menuju lantai paling atas di istana tersebut.
Sampailah di saat mereka menikmati minuman keras yang memabukan mereka itu. Beberapa pelayan yang berusia muda di perintahkan Alzanzibar naik keatas untuk menemani nafsu mereka, termasuk Alearora.
Beberapa pelayan di perintahkan untuk menuangkan minuman ke atas piala perak tempat minum para raja. Di antara mereka ada yang diperintahkan untuk duduk di pangkuan mereka.
Teman-teman Alzanzibar semua tertarik pada Alearora karena memiliki penampilan yang berbeda dari pelayan lain. Alearora terlihat paling cantik diantara pelayan-pelayan yang berada di antara mereka.
………
Sementara itu ditempat lain, tepatnya di salah satu pabrik milik keluarga tuan Jose, nampak Alexiano yang tengah memeriksa keuangan pabrik terlihat nampak gelisah.
Entah apa yang ia rasakan, pikirannya terus dibayangi oleh wajah Alearora. Karena perasaannya di rasa semakin membuatnya gelisah. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke istananya.
Dengan cepat ia bergegas menaiki kuda putihnya dan memacunya dengan cepat agar sampai ke istananya.
Tak butuh waktu lama Alexiano sampai di taman istana, lalu ia bergegas turun dari kuda putihnya dan menyerahkan kepada pelayan.
Dengan cepat ia mengambil langkah seribu memasuki istananya. Lalu Ia masuk ke kamar ibunya untuk mencari Alearora tetapi ia tak menemukannya. Bergegas ia turun menuju bilik Alearora, tak juga ia temukan sosok yang di carinya.
Kemudian ia berlari ke bilik pelayan lain menanyakan keberadaan Alearora, salah satu pelayan mengatakan kalau Alearora bersama beberapa pelayan tengah menemani tuan Alzanzibar dengan beberapa temannya di lantai paling atas.
Betapa geram Alexiano kala mendengar ucapan salah satu pelayan itu. Dengan sekuat tenaga ia berlari menuju lantai paling atas. Setiap pintu ia buka dengan menendangnya tetapi tak ia temukan juga, sampailah ia di salah satu pintu ruangan paling ujung.
Dari kejauhan ia mendengar gelak tawa adik bersama teman-temannya. Tak menunggu waktu lama, ia berlari mendekati ruangan itu dan BRUG… ia tendang pintu itu.
Betapa terkejutnya ia kala melihat sosok Alearora tengah di lentangkan di atas meja besar, tangan dan kakinya di pegangi oleh teman Alzanzibar, sementara Alzanzibar tengah menindih tubuh Alearora dengan sebotol minuman ditangannya, botol minuman itu tengah ia jejalkan pada mulut Alearora dipaksa untuk meminumnya.
Dengan membabi buta Alexiano menghajar teman-teman adiknya itu, termasuk memberikan beberapa pukulan pada adiknya. Mereka tak memberikan perlawanan sedikit pun karena mabuk berat.
Dengan cepat Alexiano memangku tubuh alearora yang lemah keluar dari ruangan itu. Dengan amarah yang membuncah ia membawa lari Alearora meninggalkan istananya menuju kuda putihnya.
Ia dudukkan tubuh Alearora ke atas kuda putihnya kemudian ia naik tepat dibelakang tubuh Alearora dan membiarkan dada kekarnya menjadikan sandaran untuk tubuh lemas Alearora.
Dengan muka yang merah padam ia berteriak, memacu kuda putihnya sekencang-kencangnya meninggalkan istana menuju ke suatu tempat.
“Kau benar-benar tidak aman tinggal di istana terkutuk itu Alea. Aku sudah tidak kuat melihat adikku dan ayahku selalu mencoba melecehkanmu. Akan ku bawa kau ketempat yang aman Alea!.” Bisik Alexiano yang terus memacu kuda putihnya.
Sepanjang Alexiano memacu kuda putihnya, sepertinya minuman yang dipaksa masuk kedalam mulutnya sedikit demi sedikit bereaksi membuat tubuh Alea merasakan kepanasan dan mengeluarkan banyak peluh. Semakin lama efek dari minuman itu pun membuat Alea bicara melantur.
“Hm.. Tuan muda, tubuhku kepanasan dan terasa dingin, aku sudah tidak kuat tuan muda.” Guman Alea.
“Tahan lah Alea, sebentar lagi kita akan sampai.” Kata Alexiano yang terus memacu kuda putihnya sekuat tenaga.
“Tuan.. aku sudah tidak kuat, tolong berikan aku kehangatan tuan.. tubuhku terasa membeku.” Ucap Alea semakin tak terkendali.
“Tuan, aku mohon lepaskan aku dari derita ini, cepat lakukan tuan.. aku sudah tidak kuat.”
Mendengar igauan Alea yang semakin melantur, Alexiano semakin cepat memacu kuda putihnya.
Sampailah ia disebuah gubuk yang berada di dalam hutan.
Di gubuk itu adalah tempat tinggalnya sepasang suami istri paruh baya. Mereka adalah paman ihara dan bibi panira.
Mereka berdua adalah guru ilmu bela diri Alexiano. Dan di tempat itu lah yang selalu di jadikan Alexiano sebagai tempat merenung kala ia merasa gundah.
Dengan cepat Alexiano turun dari kuda putihnya lalu memangku tubuh lemah Alea yang semakin tak terkendali.
“Paman ihara… bibi panira… tolong lah… .” Teriak Alexiano tetapi berkali-kali ia memanggil tak kunjung mendapatkan jawaban akhirnya ia terpaksa masuk kedalam gubuk itu dan meletakan tubuh Alea di atas tempat tidur yang paman dan bibi penghuni gubuk itu mereka sediakan khusus untuk Alexiano jika kebetulan Alexiano bertandang kesana.
Alea semakin tak terkendali, semakin lama ia merasakan tubuhnya semakin dingin. Alexiano kebingungan dengan apa yang ia lihat, ia tidak tahu harus berbuat apa.
“Tolong Alea bertahanlah sampai paman dan bibi kembali, aku yakin mereka memiliki penawarnya.”
“Tuan tolong lakukan sesuatu padaku, bebaskan aku dari kesakitan ini. Tuan tolong rasa nya seperti akan mati saja. Aku mohon lepaskan aku dari dingin yang menyiksa ini.” Terus dan terus Alea merancu.
Sampai pada titik dimana ia tidak mampu menahannya lagi. Ia menarik paksa Alexiano kedalam tubuhnya. Seperti kesetanan ia membuka paksa pakaian Alexiano. Sekuat tenaga Alexiano meredam apa yang terjadi pada Alea, namun ia terbawa suasana dan terhanyut mengikuti keinginan alea. Hingga terjadilah sesuatu yang menjadi salah satu penawar dari efek minuman yang telah banyak masuk kedalam tubuhnya.
Kedua tubuh polos itu lemas bersimbah peluh. Dalam tatapan kosongnya terbesit penyesalan dalam diri Alexiano. Sementara Alea terkulai lemas dalam buaian mimpinya.
“Maafkan aku Alea. Aku tidak bermaksud melakukannya. Aku tidak tahu harus bagaimana mengatasi apa yang terjadi padamu. Maafkan aku..” bisik Alexiano. Kemudian ia menutupi tubuh polos wanita cantik itu dengan selimut dan mengecup bibir mungilnya. Lalu ia memakai pakaiannya kembali kemudian berlalu keluar dan menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuhnya.
Ia duduk di depan api unggun yang telah ia buat tadi sembari membayangkan apa yang telah ia dan Alea lakukan dengan membawa penyesalan dalam dirinya.
SELESAI
—————————————