Hari ini langit terlihat begitu cerah dan semua manusia mulai melakukan rutinitas hariannya. Seperti biasa, pukul 07:47 aku sudah berada di kelas untuk mengajar. Karena hari ini adalah hari senin, maka jam pelajaran pertama digunakan untuk upacara.
Setelah semuanya selesai berdoa, aku mulai mengabsen murid terlebih dahulu. Hari ini ada satu siswi yang tidak hadir di kelas. Aku pun tidak tau siswi itu tidak berangkat atau terlambat karena tidak ada surat atau pemberitahuan dari teman kelasnya. Bahkan ketika upacara hanya ada dua siswa kelas 11 yang terlambat.
Sesaat setelah pelajaran berlangsung selama satu jam pelajaran yang artinya memakan waktu 45 menit, pintu kelas diketuk dari luar hingga kami seisi kelas mengalihkan pandangannya ke sana. Namun karena pintu tertutup rapat, kami yang berada di dalam tidak mampu melihat siapa yang mengetuk pintu tadi.
Setelah saya berkata 'Masuk', terlihat seorang siswi dengan bet berwarna merah dengan bentuk bintang sebanyak tiga buah yang berarti kelas 12 IPA di lengan kirinya. Fikiran saya langsung tertuju saat kejadian tadi saat mengabsen, saya langsung tau kalau dia merupakan siswi yang tidak hadir tadi.
Siswi itu mengucapkan salam sambil dilanjutkan kata 'Maaf pak saya terlambat'. Saya menutup spidol yang tadi digunakan kemudian menaruhnya di atas meja. Dengan menggunakan isyarat tangan, saya menyuruhnya untuk mendekat.
Siswi itu menurut, dia terlihat menundukkan kepalanya karena menjadi pusat perhatian seisi kelas. Saya duduk di bangku khusus guru yaitu berada tepat di samping papan tulis, kemudian menegakkan tubuh bersiap untuk mengintrogasi nya.
Saya mulai bertanya mengapa alasan dia datang terlambat bahkan sampai melewatkan dua jam pelajaran. Dia menjawab seragam OSIS nya belum kering. Lantas saya mengerutkan kening, saya tanya lagi 'Loh bukannya sabtu-minggu weekend? Terus kenapa masih basah? Padahal ada waktu dua hari buat nyuci seragam, kemarin juga nggak hujan kok'
Siswi itu semakin menundukkan kepalanya, tanpa saya sadar kalau dia sedang menangis. Saya baru mengetahui dia menangis ketika mendengar suara isakan darinya.
Disitu saya bingung dan juga panik, padahal dari kata-kata saya juga tidak ada yang salah. Saya kembali bertanya 'Terus apa alesannya? Coba kasih saya alasannya'
Tidak beberapa lama siswi itu menjawab 'Saya baru sempet nyuci baju semalem. Dan saya terlambat karena saya nganterin ibu ke pasar'.
Apa? Dia baru nyuci seragam itu semalam? Saya tidak habis pikir memangnya kemarin-kemarin dia ngapain saja. Dia melanjutkan perkataannya 'Hari sabtu dan minggu saya tidak bisa mencuci seragam karena hari itu saya bekerja, dan pekerjaan saya lebih banyak dari yang sebelumnya pak'
Mendengar itu saya semakin bingung. Kerja? Memangnya kemana orang tua dia sampai membiarkan anak SMA bekerja?
Saya lanjut bertanya 'Memangnya orang tua kamu kemana? Bapak kamu kemana sampe kamu harus kerja?'. Terlihat siswi itu kembali terisak, mungkin perkataanmu kali ini ada yang salah. Atau malah jangan-jangan...
'Ayah saya sudah meninggal sawaktu saya kelas 3 smp pak. Jadi saya bekerja sama orang yang sudah membiayai saya sekolah'. Kata-kata itu seperti sebuah tampan keras untukku.
Dia anak yatim, dan dia bekerja untuk orang yang sudah membiayainya sekolah. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa alasan dia jarang membeli jajan di kantin karena hal ini.
Ayah saya adalah bos konveksi, sedangkan ibu saya adalah seorang Akuntan. Dapat dipastikan saya hidup tanpa kekurangan. Dari kecil saya selalu dimanja, dan selalu dituruti kemauannya, sedangkan dia? Dia bekerja agar tetap bisa sekolah, bahkan dia tetap membantu ibunya meskipun resiko terlambat masuk ke sekolah.
Hari ini mata saya benar-benar terbuka. Tidak semuanya adalah orang yang mampu, salah satunya adalah siswi di depanku. Dia membuat saya sadar jika dunia sangat luas, masih banyak orang-orang yang tidak mempu membeli atau mencoba merasakan apa yang saya rasakan.
Dengan mata berkaca-kaca, saya merangkul siswi itu dan membuatnya menghadap murid kelas. Saya sudah tidak berniat untuk mengintrogasi nya. Saya berkata dengan lantang 'Ada banyak hal di luar yang belum kita tahu, saya dan kalian.. mungkin tidak akan tau kalau tidak ada kejadian ini'
Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya keluar, saya segera menghapusnya kemudian melanjutkan kata-kata saya 'Semuanya... Harus selalu bersyukur. Coba kalian lihat Nisa' tangan saya menepuk pundak siswi di samping saya dengan pelan.
'Dia bekerja disaat kita pergi berlibur, dan dia membantu ibunya disaat kita sedang berjalan-jalan. Sadar, kita seperti ini juga karena orang tua. Masih banyak orang yang tidak bisa melakukan apa yang kita lakukan. Maka dari itu sering-seringlah membagi rezeki. Sekiranya kalau ada pengemis lewat, kasihlah uang meskipun tidak seberapa. Kalau ada orang kelaparan berikanlah sedikit makanan kita atau membelikannya yang baru. Jadi orang harus suka memberi. Kita mungkin menganggap uang yang kita kasih merupakan masalah sepele, kita tidak tau saja kalau mereka yang kita kasih merasakan betapa beruntungnya dia ketika mendapat itu meskipun tidak seberapa'
Beberapa murid yang ada di kelas ada yang terisak ketika mendengar kisah pilu temannya. Mereka tidak menyangka teman yang selalu perang menyimpan beban yang berat di pundaknya.
Saya juga melihat itu, melihat bagaimana tatapan tidak percaya mereka. Namun inilah faktanya, saya tau dengan jelas bahwa kata-kata yang di ucapkan Nisa itu tulus terlihat dari tatapan matanya.
Sejak hari itu kami membuat lembaran yang berbeda di kehidupan kami. Kini sudah 4 tahun berlalu, saya juga merasa bahwa semua yang telah saya jalani adalah benar. Mulai dari berbagi takjil saat berpuasa, menyumbangkan uang untuk masjid, dan memberikan uang beresta makanan kepada pengemis.
Namun kini, Nisa meninggalkan seseok ibu yang selalu disayanginya. Tepatnya dua bulan yang lalu dia meninggal karena DBD. Sedangkan ibunya, kini bekerja di rumah saya sebagai ART.
Nisa pergi meninggalkan kenangan dari manis sampai pahit kehidupannya. Dan yang tidak pernah saya lupakan, karena Nisa-lah yang membuat saya seperti ini, menjadi manusia yang bersyukur.