Sudah beberapa hari aku selalu melihat gadis cantik itu bekerja di Raina Cafe. Dia, dia selalu tersenyum dengan ramah pada para tamu yang datang.
Aku masih ingat pertemuan pertama kami di jalan waktu itu. Secara tidak sengaja aku menabrak dirinya dan membuatnya jatuh ke lumpur dan membuatnya kotor.
Dia bahkan tidak marah sedikitpun dengan senyum lembut dia mengatakan tidak apa-apa bahkan ketika tangannya mengeluarkan darah merah.
Kali ini aku melihatnya lagi, dia gadis cantik dengan keindahan yang berbeda melalui caranya sendiri.
Ia berdiri di sudut dinding yang tidak terlalu menjadi pusat perhatian di Raina Cafe itu sembari melihat orang-orang yang datang, matanya melihat dan menelusuri setiap pengunjung yang tiba berharap ia bisa melayani orang-orang yang belum didatangi pelayan kafe lainnya.
Dia tersenyum pada pelayan lain dengan ramah dan sopan tapi tak satu pun dari pelayan yang ada di sini bersikap tidak ramah padanya. Meski umurnya masih terbilang muda dibandingkan pelayan lainnya.
“Alya!” panggil seseorang yang membuatnya menoleh ke arah asal suara. Bibirnya langsung menyunggingkan senyuman cerah saat melihat siapa yang telah memanggil namanya.
Pria itu adalah pria paruh baya yang biasa dipanggil dengan nama Pak Sabirin, beliau adalah pemilik Raina Cafe ini. Umur beliau sekarang memasuki usia kepala empat tapi masih bisa terbilang tampan dan tidak terlalu tua.
“Paman!” sapanya sembari menganggukkan kepala dengan hormat, aku masih menatapnya dengan heran.
‘Pantas saja tak ada karyawan yang berani menentang atau menyuruhnya ini dan itu ternyata dia keponakan pemilik kafe ini,' batinku berbicara.
“Huh ... Paman membawamu kemari bukan untuk bekerja sebagai pelayan, Sayang!” ujar Pak Sabirin dengan senyuman lembut di bibirnya.
Wajah tuanya terlihat teduh dan penuh dengan kasih sayang kebapakkan yang pasti membuat orang-orang hormat dan sangat sopan padanya.
“Aku hanya membantu, Paman! Kasihan jika kakak-kakak di sini bekerja seperti itu dan aku hanya melihat mereka saja tanpa peduli, ibu dan ayah mengajariku untuk membantu tanpa harus dimintai terlebih dahulu.” Alya tersenyum pada Pak Sabirin dengan wajah polos dan lugunya.
Senyum lembutnya menyentuh hatiku membuatnya berdetak tak terkendali.
Aku bahkan menyentuh bagian dadaku dengan rasa heran yang menggelayut aneh di kepalaku. ‘Oh ... Tuhan! Apakah aku terkena serangan jantung? Kenapa detaknya berbeda dari hari biasanya?’ tanyaku di dalam hati sembari berpikir yang tidak-tidak.
“Sayang sekali gadis sebaik dirimu dibuang begitu saja!” bisik Pak Sabirin lemah masih bisa terdengar di telingaku.
Sontak hal itu membuat wajah gadis yang tadi bersinar cerah bak mentari yang tidak ditutupi awan langsung mendung seperti hujan yang akan meluapkan petir dan kilatnya.
“Aku tidak dibuang, Paman!” serunya kembali diiringi senyuman meski tak secerah tadi. “Mereka hanya menitipkan aku kepadamu sebentar saja,” ujar penuh penekanan di kalimat sebentar yang diucapkannya tadi.
“Iya, iya ... kau tidak dibuang melainkan hanya dititipkan padaku sampai waktu yang tidak ditentukan,” balas Pak Sabirin dengan senyuman lembut penuh kasih sayang tetap seperti tadi.
“Ada tamu, Paman! Alya ke sana dulu ya,” pamitnya dengan langkah kecil meninggalkan Pak Sabirin yang masih setia menatap punggungnya yang menjauh dari tempat mereka tadi berada.
Alya nama gadis itu, dia datang ke meja tempat tamu yang baru datang dengan senyuman ramah. Ia berbicara dengan sopan dan lemah lembut. Tidak sedikitpun senyuman yang indah itu pergi dari bibir cantiknya yang menawan.
Setelah menghabiskan makanan yang kupesan tadi aku pun pergi meninggalkan kafe itu, aku pergi dengan langkah cepat dan tak pernah menyadari jika ternyata aku akan bertemu dengan Alya lagi. Aku hanya berharap jika bertemu aku bisa berkenalan langsung dengannya.
Aku menaiki mobil sport merah pembelianku sendiri, mobil ini adalah hasil keringatku sendiri setelah aku bekerja di perusahaan ayahku sebagai direktur utama perusahaan dan ayah masihlah pemegang saham dan sekaligus CEO perusahaan kami.
Aku kembali bekerja seperti biasa dan melupakan kehadiran gadis yang sempat membuat hatiku berdetak tak tentu arah. Hari ini adalah hari libur bagiku, minggu siang ibuku Siti Aminah meminta diantarkan ke pengajian yang diadakan di rumah temannya.
Aku yang merupakan seorang anak yang berbakti dengan bersemangat sekali mengantar beliau mencapai keselamatan akhirat.
Aku mengantar beliau dengan mobil sederhana kesukaannya. Mobil berwarna hitam dengan merek biasa saja itu selalu mengantarkan beliau ke tempat pengajian yang beliau tuju.
Satu jam perjalanan yang terasa tidak terlalu jauh mengantarkan kami menuju sebuah rumah yang tidak terlalu mewah, rumah itu terlihat sederhana dan elegan dengan caranya tersendiri.
Aku membukakan pintu untuk ibu sembari tersenyum kecil diiringi anggukan kepala saat menjawab sapaan dari teman-teman ibu yang telah mengenalku.
Saat menoleh ingin mengikuti langkah kaki ibu, mataku terpaku pada orang yang menyambut tamu pengajian di rumah itu.
Ya, itu adalah gadis yang sempat aku lupakan beberapa hari ini. Dia adalah Alya keponakan Pak Sabirin pemilik kafe yang kukunjungi waktu itu.
Dia berdiri menyambut para tamu yang datang dengan senyuman di bibirnya.
Melihat aku menghentikan langkah, ibu memukul bahuku pelan dengan bisikan lembut takut terdengar oleh orang-orang.
“Abang! Jangan bengong dong! Ayo ikut ibu masuk ke dalam!” ajak ibuku dengan tatapan ingin tahu tanpa meninggalkan senyuman ramah di bibirnya.
“Eh iya, Bu!” jawabku tergagap sembari kembali mengikuti langkah kakinya yang bisa dihitung dengan cepat itu.
“Assalamualaikum nak, Alya!” sapa ibuku pada gadis cantik tanpa kerudung itu.
“Wa’alaikummusssalam salam, Bu Siti!” sapa Alya lebih ramah, nampaknya beliau sudah saling mengenal satu sama lain. Hatiku bertanya-tanya apakah gadis yang tidak tahu agama seperti dia ini sering mengikuti pengajian? Aku rasa itu tidak mungkin meski ia terlihat ramah dan sopan namun dari gaya berpakaiannya di Raina Cafe aku tidak yakin dengan semua itu.
Hari itu aku melihatnya dengan gaun selutut yang memperlihatkan paha dan bahunya yang putih itu, astaghfirullah! Aku mengucap karena masih mengingat dengan jelas caranya berpakaian yang jauh dari kata sopan dalam agamaku.
“Nak Alya semakin hari semakin cantik saja, ibu mau deh kamu menjadi menantu ibu. Ibu-ibu yang lain pasti juga ingin seperti ibu.” Aku menatap heran pada ibu, biasanya beliau tidak pernah suka menjodohkan diriku, apalagi dengan gaya berpakaian Alya yang terkesan jauh dari sopan waktu itu.
Sekarang saja ia tidak menggunakan jilbab untuk menutupi kepalanya, jauh berbeda dari wanita-wanita yang datang ke rumah yang langsung beliau tolak dengan alasan aku belum berminat berumah tangga.
Aku akhirnya memberanikan diri menatap dengan cermat gadis di depanku dengan pandangan menilai yang membuatnya risih.
‘Ahh ... mungkin ibu belum melihatnya dengan pakaian urakan yang biasa dipakainya,' batinku menyanggah dengan cepat, aku yakin ibu pasti salah paham dan belum mengetahui sifat aslinya.
Ibu masuk ke dalam sedangkan dia masih berdiri di depan pintu menunggu setiap tamu yang datang. Aku edarkan pandanganku melihat semua isi rumah yang kami datangi kemudian mataku terpaku pada foto-foto yang terpajang di dinding dan di lemari hias rumah yang ternyata mewah ini.
Di setiap dinding ada foto Alya yang sedang memegang berbagai macam piala dengan senyuman yang tak pernah hilang dari bibirnya.
Aku menatap ke arah tempat ibu-ibu duduk dan ternyata ibuku juga tengah memperhatikan foto Alya yang tanpa kerudung dan pakaian seksinya, ia nampak mengangguk puas dengan wajah penuh kebanggaan yang bahkan tak pernah aku lihat saat kami mencapai kesuksesan seperti sekarang ini.
Mataku juga memperhatikan ibu yang menatap Alya di depan sana, gadis cantik itu masih dengan sopan menerima tamu tanpa merasa lelah sedikitpun.
Setelah pengajian yang memakan proses sangat lama itu kami akhirnya bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Aku membukakan pintu untuk ibu namun mata beliau masih tak meninggalkan tubuh Alya sedikitpun.
“Abang sudah berumur berapa sekarang?” tanya ibu tanpa melihat kepadaku yang sedang menyetir.
“28, Bu!” jawabku cepat yang dibalas anggukan kepala ibu.
“Sudah bisa menikah bukan?” tanyanya lagi dengan senyuman kecil, mendengar pernyataan itu aku pun mengangguk dengan cepat. “Abang mau tidak dengan Nak Alya tadi?” Ibu bertanya lagi membuatku heran dan langsung melihat ke arah ibu.
“Maksud ibu apa? Kemaren anak teman pengajian ibu datang kok ditolak? Nah, sekarang gadis yang tidak sesuai kriteria ibu kok disodorkan padaku?” tanyaku dengan raut wajah heran.
“Abang kalau menyetir lihat ke depan! Fokus, Abang cukup jawab pertanyaan ibu saja.” Ibuku kembali memukul bahu sebelah kiriku dengan lembut.
“Maaf, Bu!” jawabku cepat sembari tersenyum canggung.
“Abang lihat dia itu urakan, Bu! Bajunya aja kekurangan bahan dan lagi tadi di pengajian bukannya mendengarkan ustadz ceramah dia malah duduk di luar tanpa peduli dengan isi ceramah. Dia juga tidak memakai kerudung seperti menantu idaman ibu,” jawabku dengan cepat yang membuat ibu mengangguk.
“Jadi kamu menilainya dari pakaian luarnya saja?” tanya ibu terkesan menyudutkan diriku, sebenarnya dari awal bertemu Alya aku sudah menanamkan di hatiku gadis itu tidak cocok denganku ataupun dengan keluargaku yang sangat kuat dalam agama.
“Iyalah, Bu! Seorang wanita muslim harus memerhatikan cara berpakaian dan cara bicaranya, dia memang sopan dan ramah tapi dia masih belum cocok dengan cara berpakaian kita.” Aku menjawab ucapan ibu sesuai dengan apa yang aku pikirkan.
“Alya memang belum cantik dalam berpakaian tapi dia cantik dari hatinya. Abang tahu kenapa Ibu sangat menyukai gadis itu?” tanya ibu dengan suara penuh kebanggaan.
Kebanggaan yang tidak pernah beliau perlihatkan pada kami anak-anaknya. Kebanggaan yang tidak pernah beliau tampilkan ketika kami menamatkan hapalan Al-Qur'an.
“Dia itu adalah lulusan terbaik di kampusnya, dia mendapatkan pekerjaan yang luar biasa juga di sana. Ada lamaran pernikahan yang bagus juga tapi ditolaknya.” Aku menatap sebentar dengan raut wajah heran pada ibu yang begitu tahu tentang Alya secara jelas.
“Tapi Nak Alya menolak dengan tegas, dia dikirim ke sini karena orangtuanya marah menerima penolakan Alya yang dianggap tidak tahu terima kasih. Kau ingin tahu kenapa dia menolak lamaran itu dan memilih diusir ke sini?” tanya ibu lagi dengan mata yang lagi-lagi dipenuhi dengan kebanggaan yang luar biasa.
“Tidak, Abang saja baru melihatnya di Raina Cafe milik Pak Sabirin dan pengajian ini,” jawabku cepat.
Karena memang aku hanya beberapa kali bertemu dengannya.
“Dia bilang dia ingin memperdalam agamanya, dia ingin lebih mengenal agamanya. Jika dia menikah dengan bule di sana belum tentu mereka tahu dalam agama. Dia menolak keputusan orangtuanya dalam mengejar kekayaan dunia, dia menolak kesempatan yang bagus hanya untuk agamanya.” Ibu menjelaskan dengan suara bergetar.
“Banyak yang seperti dia di luar sana, Bu!” jawabku membantah ucapan ibu. “Banyak yang seperti dia kok, aku punya teman yang seperti itu.” Lagi aku menjelaskan pada ibu dengan wajah penuh percaya diri.
“Hah ... Alya itu berbeda dari yang lain, Anakku!” Ibu membelai kepalaku dengan lembut, hal ini adalah kesukaanku sedari dulu.
“Alya beradaptasi dengan baik di sana, dia dilahirkan dalam keluarga yang minim agama. Dia dibesarkan juga di dalam agama yang sangat sedikit tapi dia menjaga pergaulannya, ia menjaga dirinya dengan baik, ia menjauhi semua yang dilarang agamanya hanya saja dia belum bisa sesempurna wanita muslim lainnya.” Ibu menjelaskan kembali dengan wajah penuh kebanggan.
“Lalu ... ibu ingin aku menikahinya begitu?” tanyaku asal ceplos yang dibalas sambutan lembut senyuman di bibir ibu.
“Ya ibu ingin kamu menikah dengannya! Ibu ingin Abang membawanya ke dalam agama yang sempurna yang selama ini dia inginkan.” Ibu mengangguk cepat membuatku terdiam.
“Kalau menurut Ibu ... Alya itu perempuan yang baik Abang sih setuju saja tapi, Bu ....” Ucapanku terputus karena masih ada keraguan di dalam hatiku.
“Kalau Abang tidak yakin ibu tidak akan memaksa kok. Toh, setiap manusia sudah memiliki takdirnya sendiri.” Ibu tersenyum tanpa mau memaksaku.
“Bagaiamana jika ia ternyata tidak seperti yang ibu pikirkan?” pancingku dengan senyuman menggoda di bibir.
Ibuku tersenyum dengan wajah yang menampakkan jejak bangga diiringi rasa percaya yang tinggi. “Pilihan ibu tidak akan pernah salah,” jawab ibu dengan tingkat keyakinan 1000 persen.
Aku mengangguk yakin karena selama ini pilihan ibu memang tidak pernah salah. Apa yang dipilihkan ibu memang selalu menjadi pilihan terbaik yang sangat bermanfaat bagi kami.
Akhirnya aku mengikuti saran ibu untuk berta’aruf dengan Alya, dua minggu setelah itu kami akhirnya memutuskan untuk menikah.
Aku menyunggingkan senyuman penuh kebahagiaan ke arah ibu saat kami sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Akhirnya aku juga tahu Alya itu ibarat rembulan di penghujung malam menjelang pagi datang. Dia indah dengan caranya sendiri, dia menawan tapi jarang diperhatikan oleh orang lain tapi ketika diperhatikan ternyata ia adalah mutiara yang tersimpan jauh didasar lautan yang paling dalam.
Aku menatap ibu yang menangis haru saat melihat proses ijab qobul kami tadi.
Pilihan beliau memang tidak pernah salah dan aku berterima kasih atas pilihan yang beliau sodorkan padaku.