Title: Nothing Without You
Author: Nurwahidah Bi
Genre:
Romance
Type:
SONGFICT
Note: Silakan dengarkan lagu Wanna One-Nothing Without You dan 너의 이름을
***
Aku berdiri dari kejauhan, tak ingin melewatkan sehirup napasnya. Aku kini sedang menikmati setiap inchi wajah dari gadis di seberang sana.
Melihat warna cantiknya saat puas tertawa, penuh kebahagian. Aku bisa merasakannya, begitu menginginkannya. Bahkan ketika matanya mengembung manis saat mengeluarkan suara lucu itu.
Aku semakin ingin melihatnya tersenyum. Meski dari kejauhan semata. Walau senja berlalu, seolah lagu sedang menemani lamunku ini.
***
"Apa yang kau lakukan? Masih memandanginya?" Suara berat Jino membuatku mengalihkan pandangan dari gadis berpipi kemerahan itu.
"Sejak kapan kau di sini?" Aku menimpali, sambil meliriknya curiga.
"Sejak kurasa gadis itu tampak semakin cantik. Beautiful ...," jawabnya duduk di sampingku. "Kak? Kau melakukannya dengan benar kan? Apa Hitomi menerima surat itu? Aku sangat bersemangat." Jino mengalihkan pandangan pada gadis berponi manis. Aku tersenyum lalu menggeleng.
Tiba-tiba tatapan kami bertemu, aku dan Hitomi berada dalam satu pandangan lurus. bintik di matanya pun tepat mengenai hatiku. Aku bergegas berdiri mencoba agar tak tampak gugup. Lalu, hanya bisa menyentuh saku beberapa kali untuk mengurangi perasaan aneh.
"Kumohon, bergegaslah!" Suara Jino mengantarkan langkah ringan untuk mencoba menghampiri Hitomi. Gadis Jepang, putri dari dosenku.
Kutatap Jino sejenak, anak lelaki di hadapan yang tampak pucat mencoba menyemangatiku. Aku tersentuh sesaat, merasa seolah pengkhianatan itu tak perlu kulakukan. Niatku, seharusnya tak perlu dilakukan.
"Hitomi-chan?"
"Kak Jaeyong?" panggilnya tersenyum padaku. Suaranya yang ringan terdengar lucu. Tidak, Jaeyong. Sadarlah. Lakukan tugasmu yang seharusnya.
"Aku tadi menunggumu untuk datang terlebih dahulu, tapi kau tetap duduk di sana. Apa itu dia? Apa itu orangnya?" serang Hitomi menunjuk lelaki yang jaraknya tak begitu jauh di belakangku.
"Kau sudah baca surat itu?" Aku bertanya sambil menunduk agar tak melampaui gadis mungil ini.
"Tentu saja. Kenalkan aku padanya. Berapa lama dia menderita Gerd? Berapa lama harus dirawat di sini?" Hitomi tampak penasaran dengan sosok itu. Sosok Jino yang mengiriminya surat beberapa waktu lalu.
"Dia akan segera pulang ke rumahnya. Kau tenang saja." Aku meyakinkan Hitomi dan tersenyum hangat, ya, kuharap begitu.
***
Saat itu, rumah sakit pun semakin ramai, aku ikut membantu Hitomi untuk tugasnya sebagai relawan sekolah.
Tak sengaja, Jino anak tetangga sebelah rumahku melihat Hitomi dan meminta untuk dikenalkan.
Kini keduanya pun dipertemukan oleh takdir lewat diriku dan kisahku dalam mengagumi Hitomi akan berakhir di sini.
Melihat keduanya saling memperlihatkan ketertarikan satu sama lain. Rasanya tak tega bagiku untuk mengutarakan perasaan pada gadis yang lebih cocok jadi adikku.
Kupendam sajalah ....
***
Jino mendekati kami, berbungkuk dan menyapa Hitomi.
Apa yang kulakukan? Apa yang sedang mengganjal di dadaku? Kenapa ingin tertawa terbahak bahak rasanya. Menggelikan.
Melihat Hitomi tersenyum di hadapan orang yang kupercaya. Aku merasa penuh, dia membuatku terasa mudah bernapas. Seolah-olah aku telah melakukan hal yang tepat sebagai seorang kakak.
Inginku hanya satu, memeluk, melindungi dan menjaga semua kenangan selama ini. Diam dalam hasrat terdalam, mengaguminya seperti ini.
Karena aku tanpanya bukanlah apa-apa, aku tanpa Hitomi bukanlah siapa-siapa. Aku tak berarti tanpanya, sehingga sebesar apapun inginku untuk memeluknya, aku tak sanggup melakukan itu.
Takkan kubuat dirinya bersedih, hanya karena cinta sepihak yang sudah kupendam selama berbulan-bulan. Aku tidak bisa membayangkan wajah kecewa Hitomi nantinya, saat dia tahu bahwa aku menyukainya. Sedari awal.
***
"Kutitip Hitomi-chan padamu, cepatlah sembuh," ucapku menepuk pundak Jino, mencoba keren.
"Apa maksudmu Hyung?" sela Jino memunggungi Hitomi.
"Aku harus membantu yang lainnya. Bersenang-senanglah." Aku hendak meninggalkan keduanya.
"Kau lucu," ucap Hitomi tertawa. Aku terhenti dan meliriknya bingung. "Apa tentang surat itu?" Hitomi tersenyum.
"Suratnya tentangmu, Kak." Jino tertawa dan melirik Hitomi.
"Apa? Aku? Apa maksudmu?" Aku kebingungan, kenapa dua orang di hadapanku tampak mengolok?
"Kuceritakan padanya betapa kau menyukainya. Apa kau pikir aku tidak tahu?" Jino tersenyum dengan matanya.
"Apa?" Aku terkejut. Apa maksudnya Hitomi sudah tahu perasaanku lewat anak nakal ini? "Siapa kau berani mengusik hidupku? Yaak!!!" teriakku mendadak kesal.
"Apa kau tidak berniat untuk menyatakan perasaanmu padaku?" Hitomi menatapku lekat. Aku terdiam.
Aku meleleh, apa ini? Apa yang terjadi? Entahlah. Kugunakan saja kesempatan ini.
"Hmm." Aku mendadak gugup.
"Kak?" Hitomi memanggil. "Kak Jaeyong!"
"Hah?" Aku mencoba mencari kesadaran. Hitomi tersenyum, dia tampak menunggu. Aku melirik Jino, mata dan alisnya bergerak acak.
"Baiklah. Aku menyukaimu, Hitomi! Jadilah pacarku!" ucapku satu napas dan hanya bisa tertawa saat mengucapkan kebodohan itu.
***
"Kak?" Suara Jino memecah suasana dan memecah lamunanku. "Apa yang sedang kau pikirkan, Hitomi sedang bicara padamu," lanjutnya.
"Apa? Maaf, aku tadi sedikit tidak enak badan." Aku bergegas berjalan mundur meninggalkan keduanya. Menyadari mimpiku terlalu senja.
Sepertinya khayalanku semakin nyata, aku terlalu berharap.
Dari kejauhan, kutatap Jino dan Hitomi tampak malu-malu satu sama lain. Keduanya duduk menunduk seolah dipenuhi hal indah yang ingin diceritakan.
Hah, orang bodoh macam apa aku ini?
Aku pasrah saja, halusinasiku mulai menyeramkan .... Jaga dia untukku. Kumohon.
***
"Aku hanya ingin melindungimu, sebagai orang yang akan menjagamu dalam diam. Aku akan mengingat namamu. Jika kita bertakdir, dan dipertemukan dalam kisah lainnya. Tolonglah untuk menjadi orang yang mengingat namaku, karena aku tanpamu bukan siapa-siapa." - Kim Jaeyong 2020.
***
TAMAT.
***
Terima kasih sudah mampir, semoga suka ya.