Namaku LEAH RIANE, usiaku 23 tahun dan baru setahun aku bekerja pada salah satu Bank swasta di salah satu kota besar di negara tercinta ini.
Pagi ini cuaca begitu cerah, dan aku sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tuaku di kampung.
Perjalanan dari kota tempatku bekerja ke kampung halamanku cukup jauh, kurang lebih memakan waktu 7 jam untuk sampai disana.
Tepat pukul 9 aku menyetir kendaraanku, karena memang seperti itu lah setiap aku pulang kampung.
Dari kecil ayah dan ibu selalu mendidikku untuk mandiri, jadi rasanya tidak masalah kalau setiap bulan aku pulang ke kampung halamanku, menyetir sendiri kendaraanku untuk sampai ke sana.
Namun di dalam perjalanan menuju kampung halamanku, aku ketiban nasib sial. Di tengah perjalanan melewati hutan yang dipenuhi pohon rindang, ban mobilku kempes. Sialnya lagi aku hanya bisa menggunakan kendaraanku tanpa bisa memperbaikinya.
“Ah sial! Kenapa harus bocor di tempat seperti ini sih aduuuh, mana tempat ini sepi lagi.” Gumam kesalku sembari ku lihat ban belakang sebelah kanan itu benar-benar kempes parah.
Tempat ini benar-benar sepi, sisi kiri dan kanan jalanan dipenuhi pohon-pohon besar nan rindang, tak satu pun ada kendaraan yang lewat. Aku benar-benar kesal hari ini.
Kulihat jam ditanganku menunjukan pukul 1 siang. Meski siang hari tempat ini sedikit membuat aku takut, bukan karena tempat ini sepi saja tetapi suasana mendung mulai menyelimuti tempat ini dan sepertinya hujan akan segera turun.
“Ah benar-benar ini adalah hari yang buruk untukku!.”
Aku mengambil ponselku yang ku letakan pada jok sebelahku. Sialnya lagi di tempat ini tidak ada signal.
Aku benar-benar kesal hari ini. Sudah 15 menit aku menunggu di depan mobilku tapi tak satu pun ada kendaraan yang melewatiku.
“Ya Tuhan… sampai kapan aku akan berada disini dengan rasa takut yang terus membayangi pikiranku.”
Aku ingin menangis meratapi semua yang telah terjadi padaku, bagaimana jika ada orang jahat yang mendekatiku.. oh Tuhan tolonglah aku, itu tidak boleh terjadi padaku, aku semakin takut membayangkan hal itu.
Lalu aku masuk kedalam mobilku karena gerimis mulai membasahi bumi dan menurutku sepertinya di dalam mobil lebih aman untukku saat ini.
Dalam ketakutanku, dari jauh di balik hujan rintik-rintik terlihat sebuah jeep rubicon warna hitam mendekat ke arahku.
Aku semakin takut di buatnya, mungkin saja di dalam jeep itu adalah orang jahat. Dengan tangan sedikit gemetar aku kunci mobilku.
Kulihat jeep itu berhenti tepat di hadapan mobilku. Jantungku semakin berdegup kencang saat melihat seseorang sepertinya sedang memperhatikanku dari dalam.
“Ya Tuhan.. tolonglah aku, turunkan malaikat penolong padaku ya Tuhan. Aku benar-benar takut saat ini.”
Benar saja seseorang turun dan keluar dari mobil itu. Berjalan menuju ke arahku.
Seorang pria tinggi berkulit putih dengan stelan jas rapi warna hitam lengkap dengan dasinya mendekat kearahku dan semakin dekat.
Ia biarkan tubuhnya itu basah dibawah guyuran rintikan hujan.
Setelah mendekat ia mengetuk kaca mobilku. Aku ragu untuk membukanya. Ku tutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, sayup-sayup dari luar ku dengar suaranya.
“Nona, tolong buka kacanya. Apa anda perlu bantuan? Sepertinya ban belakang mobil anda kempes.” Suara pria itu sembari mengetuk kaca mobilku.
Mungkin dia orang baik yang hendak menolongku. Tapi aku masih merasa takut dengan pikiranku. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku buka saja kaca mobil ini sedikit?, baiklah akan ku coba.
“Hm, iya ban mobilku sepertinya pecah.” Jawabku dibalik kaca.
“Apa ada ban serepnya nona?.”
“Ada di belakang.” Jawabku masih dalam keadaan sedikit takut.
“Baik, tolong buka bagasinya biar saya ambilkan.” Kata pria tersebut.
Lalu ku tekan tombol switch untuk membuka bagasi mobilku.
Aku perhatikan dia, dengan cepat dia mengambil ban serep dan alat-alat untuk mengganti ban mobilku.
Benar.. mungkin dia memang hendak menolongku. Akhirnya aku beranikan diri kaluar dari dalam mobil.
Aku mengambil payung karena air hujan membasahi pakaiannya, aku berdiri disampingnya dan ku payungi tubuhnya yang tengah mengganti ban mobilku.
“Terima kasih.” Katanya seraya mengangkat wajahnya.
Lalu tanpa di duga, tiba-tiba saja datang angin kencang bertiup di iringi sahutan petir yang menggelegar. Payung yang ku pegang lepas dari tanganku dan terbawa angin.
Dengan cepat ia menarik tanganku dan membawa tubuhku ke dalam mobilnya. Hujan semakin deras dan kilatan petir di iringi suara gemuruhnya yang menakutkan semakin memekakan gendang telingaku.
Ia duduk dibelakang kemudi dan aku duduk di sampingnya.
“Kita tunggu sampai hujannya berhenti ya?.” Katanya sembari menatapku dari wajah sampai ke kakiku.
“Ma-maaf jadi merepotkan.” Kataku
“Tidak apa-apa, kebetulan saja aku lewat sini.”
Dia terus menatapku, memperhatikan tubuhku yang basah karena air hujan. Aku malu karena kemeja putih yang terkena air membuat pakaian dalamku menerawang terlihat jelas. Ku silangkan kedua tangan di dadaku.
Ku lihat dia tersenyum kecil dan mendekat ke arahku.
Ya Tuhan aku takut sekali, apa yang akan dia lakukan padaku. Ku pejamkan mataku dan ku jauhkan badanku dari tubuhnya. Tangannya meraih sesuatu dari belakang jok tempatku duduk.
Ah ternyata dia mengambil long coat yang tergantung di belakangku.
“Ini pakailah untuk menutupi tubuhmu.” Katanya seraya menyerahkan long coat itu padaku.
“Terima kasih.” Ucapku, ku ambil long coat itu dan ku tutupi tubuhku yang mulai merasakan kedinginan.
Harusnya aku tadi tidak memakai rok pendek ini, kalau tahu akan seperti ini, aku lebih nyaman memakai celana panjang saja.
Ku beranikan diri memandang ke arahnya, ku lihat dia membuka jas nya yang basah. Lalu membuka ikatan dasi dan melepaskannya.
Setelah ku perhatikan wajahnya, ia cukup tampan juga dan sepertinya usia dia beberapa tahun di atasku karena terlihat ia cukup dewasa.
“Kenapa?.” Tanya pria itu sembari menggulungkan lengan kemejanya. Sepertinya dia tahu kalau aku memperhatikannya. Aku jadi gugup dibuatnya.
“Ah ti-tidak, terima kasih ya sudah menolongku.”
Tiba-tiba, Duuaaarrr!!….. Suara petir yang sangat keras sekali mengejutkanku. Tanpa sadar aku menjatuhkan tubuhku memeluknya erat. Aku benar-benar takut dan sangat sangat terkejut.
Untuk beberapa saat kepalaku masih bersandar pada dada bidangnya. Ia mengangkat kedua tangannya, membiarkan dada bidangnya itu sebagai tumpuan wajahku. Semakin ku eratkan pelukanku saat petir bertubi-tubi menggelegar bersahutan.
Hingga sampai disaat tangan kekarnya memeluk tubuhku. Dengan cepat ku lepaskan tubuhku darinya dan meraih kembali long coat yang terjatuh di bawah jok karena tak sadar saat tadi aku terkejut ia lepas dari tubuhku.
“Ma-maaf suara petir itu menakutkan aku.” Kataku padanya.
Ya Tuhan, aku benar-benar malu padanya.
“Tidak apa-apa. Oya sebenarnya kamu mau kemana? Lewat tengah hutan begini sendiri. Kamu tidak takut? Untung aku yang pertama kali menemukanmu, bagaimana coba jika yang menemukanmu orang yang tidak bertanggung jawab!!.”
“Aku hendak pulang kerumah orang tuaku di kampung. Setiap bulan aku pulang.”
“Oya? Memangnya kamu tinggal dimana?.”
“Aku bekerja pada salah satu Bank swasta di ibu kota.” Jelasku.
“Oh begitu.”
“Iya.”
“Oya, kenalkan namaku CAKRA BUANA.” Katanya seraya mengulurkan tangannya padaku.
“Aku Leah Riane.” Ku sambut tangannya.
Dan hujan diluar semakin deras mengguyur aku dengannya, dan aku masih berada di dalam mobil miliknya. Sesekali petir mengejutkan aku dan dia membuat aku merasa sudah mulai kesal. Tapi hujan belum juga reda.
“Kalau dilihat-lihat, mungkin hujan dan badainya akan lama.” Ujarnya.
Tiba-tiba Haciiiish… hacsiiiish… aku bersin-bersin, aku baru teringat kalau aku punya penyakit dingin. Tiba-tiba saja kepalaku pusing dan tubuhku menggil hebat.
Pria di sampingku terlihat cemas melihat keadaanku.
“Eh.. kamu kenapa? Sepertinya kamu demam. Mungkin pakaian basahmu membuat kau jadi seperti ini.” Setengah sadar aku masih melihatnya dalam kepanikan.
“Iya kak, aku punya penyakit dingin, aku minta tolong untuk mengambilkan pakaian di dalam mobilku.” Pintaku padanya.
Kulihat ia bergegas berlari menuju mobilku dan mengambil tas pakaianku. Diambilnya pakaian untukku dan memberikannya padaku. Saat aku akan mengganti pakaianku, aku tidak kuat karena tubuhku lemas entah kenapa.
“Maaf, aku bantu kamu mengganti pakaianmu ya? Maaf….” Itu kata terakhirnya yang aku dengar dari mulutnya. Selanjutnya aku tak sadarkan diri.
…………
Saat aku tersadar, sepertinya hari sudah mulai gelap dan hujan pun telah reda. Sementara aku masih berada di dalam mobil pria itu dan aku sudah berganti pakaian.
Ku ingat-ingat terakhir kali aku mulai tak sadarkan diri adalah pada saat tubuhku menggigil dan tak mampu mengganti pakaianku sendiri.
Entah aku harus marah padanya karena telah berani-beraninya mengganti pakaianku atau aku harus berterima kasih padanya karena dia telah menolongku. Aku bingung dan kulihat dia memandangiku.
“Jangan khawatir, aku tidak melakukan apa-apa padamu. Ban mobilmu sudah selesai aku ganti.”
Lalu aku keluar dari dalam mobilnya berjalan ke arah mobilku.
Benar saja ban kempesnya sudah ia ganti. Dia turun dari dalam mobilnya dan mengikutiku.
“Sekarang sudah selesai, kau bisa melanjutkan perjalananmu kembali. Hati-hati ya mungkin jika nanti ban mobilmu pecah lagi belum tentu aku bisa menolongmu kembali.” Ujarnya sembari meletakan tas pakaianku pada bagasi mobilku.
Kemudian ia kembali ke dalam mobilnya. Aku hanya diam memperhatikannya, dan tak tahu harus berkata apa.
Perlahan ia menjalankan kendaraannya, pada saat ia melintas disampingku.
“Tunggu!.” Kataku. Dan ia menghentikan kendaraannya tepat di sampingku.
“Terima kasih.” Kataku padanya. Lalu ia tersenyum tanpa berkata apa-apa kemudian pergi meninggalkanku.
Itulah saat pertama dan terakhir kalinya aku bertemu dengan dia.
Diantara hujan badai dia datang menolongku. Seandainya aku tak bertemu dengannya, entah apa yang akan terjadi padaku.
Terima kasih Cakra Buana, siapa pun engkau, dimana pun kini engkau berada, aku sangat berterima kasih padamu.
Semoga Tuhan dapat mempertemukan kita kembali.
Ada hutangku padamu yang belum terbayarkan.
TERIMA KASIH..