Ayah dan ibuku meninggal saat aku belum mampu mengingat. Kata tanteku, ayah seorang novelis terkenal. Kalau aku rindu, aku pergi ke toko buku dan menikmati nama ayah di deretan novel horor.
Waktu aku SMP, ada tugas review buku bacaan. Aku penasaran dengan apa yang ayah tulis. Jadi aku membeli bukunya. Novel bekas, karena uang tabunganku tidak cukup untuk membeli yang baru.
Ada beberapa hal dalam novel itu yang tidak aku pahami. Bagiku saat itu, novel ayah terlalu kejam dan absurd. Tentang bagaimana seseorang--bukan, sesosok mahluk bisa muncul dari balik tembok dan meneror seisi rumah. Juga bagaimana sebatang tusuk konde nan cantik bisa menjadi mesin pembunuh yang mengerikan.
Aku pernah bertanya kepada tante, tentang perilaku ayah semasa hidup. Kupikir, novel adalah cerminan seseorang. Namun tante menjawab sebaliknya, bahwa ayah sangat baik. Jadi dari mana datangnya semua pemikiran berdarah-darah itu?
Hari ini adalah ulang tahunku yang keenam belas. Oom dan tante yang merawatku mengajak ke suatu tempat. Wajah mereka sangat serius.
Tante mendatangiku malam sebelumnya. Ia bilang, kami akan mengunjungi salah satu kerabat ayah. Mereka tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun dan baru kembali ke Indonesia.
"Kami akan mengenalkanmu," kata oom. "Ini bagian dari kewajiban kami."
"Kami sungguh tidak keberatan mengasuhmu," tante menambahkan. Ia melihat tatapanku. Aku merasa telah menjadi beban semua orang. Aku bukan milik siapa-siapa dan tidak akan menjadi milik siapa-siapa.
"Ada beberapa hal yang tidak dapat kami gantikan. Ini berkaitan dengan tanggung jawab."
"Selama ini, dia yang paling jarang berhubungan dengan ayahmu. Mungkin karena jarak dan perbedaan waktu. Jadi mumpung dia ada di kota ini, tidak ada salahnya bersilaturahmi. Apalagi lebaran baru seminggu yang lalu."
"Kenapa baru sekarang?" tuntutku. "Kenapa gak sejak dulu?"
"Kami baru mendapat kontaknya. Selama ini kami berusaha menghubunginya tapi gagal. Lagi pula ...." Tante berdehem sambil melirik suaminya. "Kami tidak terlalu dekat."
Kami berangkat pukul sembilan pagi, dengan estimasi perjalanan satu jam, mengobrol satu jam, dan tiba kembali di rumah saat zuhur. Taksi online menjadi kendaraan kami, karena oom hanya punya motor.
Memasuki perumahan di wilayah perbukitan utara Bandung, aku terpana. Selama ini aku tinggal di rumah oom yang sangat sederhana, di gang tengah kota. Mungkin garasi rumah di sini lebih besar. Sekarang aku maklum mereka sangat segan menghubungi atau berkunjung.
Seorang ART membukakan pintu. Kemudian seorang perempuan berparas anggun keluar menemui kami.
"Apa kabar, Ratri, Saka?" sapanya kepada oom dan tante. Kemudian tatapannya jatuh kepadaku. "Ini pasti Dara."
"Dhara," ralatku. "Mahidhara Atyasa." Aku tak suka orang mengucapkan namaku secara asal. Harus ada penekanan di 'dh' karena beda pengucapan akan berbeda pula maknanya.
Perempuan itu memiringkan sedikit kepalanya dan mengangguk. Aku tak suka perempuan itu. Dan aku tak suka berada di sini.
" Kami baik, Mbak Yvonne," jawab tante. "Ke mana Mas Rangga?"
"Dia sedang ada keperluan."
Oom segera mengambil alih percakapan. "Semalam saya meneleponnya, memberi tahu kami akan datang."
"Ya, Mas Rangga sudah cerita. Keperluan ini sangat mendesak."
Hening sesaat. Kemudian oom berdehem. Ia menoleh ke arahku lalu berkata kepada perempuan itu.
"Kami bermaksud mengenalkan Dhara kepada Rangga sebagai paman dari pihak ayahnya. Selama ini hanya Sita yang ia kenal. Sekarang Sita diboyong suaminya ke Kalimantan. Kebetulan lebaran kemarin dia telepon dan mengabari bahwa Mas Rangga ternyata tinggal di Bandung. Karena satu kota, jadi kami ingin silaturahmi."
"Ya," sahut perempuan itu. "Waktu itu kami tinggal di London, kemudian Mas Rangga ditugaskan di kantor cabang Amerika, Boston. Lima tahun lalu pensiun, lalu pulang ke Indonesia.
"Oh," sela Tante Ratri. "Ternyata sudah lima tahun."
"Kami sempat tinggal di Jakarta dua tahun. Mas Rangga kurang betah. Dia cari udara sejuk."
Oom dan tanteku mengangguk-angguk.
"Baiklah." Oom Saka berkata kepadaku. "Sekarang kamu sudah tahu, ini Tante Yvonne. Kakak ipar ayahmu. Sayang sekali kita tidak bisa bertemu Oom Rangga."
Kemudian Oom Saka beralih kepada perempuan itu.
"Karena Dhara anak perempuan, kami merasa wajib mengenalkan pada paman pihak ayahnya. Ini terkait garis tanggung jawab. Kami sangat lega bisa menghubungi Mas Rangga. Dengan begitu, jika suatu saat Dhara butuh pamannya dia sudah tahu harus mencari ke mana."
Perempuan itu mengangguk dan menarik sebuah map dari sisi tubuhnya.
"Ya, Mas Rangga sudah cerita. Dia menitipkan ini." Disodorkannya map itu kepada Oom Saka yang langsung membukanya.
Aku tidak bisa membaca isi map itu, tapi aku bisa membaca raut Oom Saka. Bibirnya bergetar, matanya berkilat.
"Ini maksudnya apa?"
"Kami tidak tahu harga pasaran terakhir," sahut perempuan itu. "Ada beberapa anak yang mendatangi Mas Rangga saat di Jakarta. Ada yang dari Bali, Cianjur, Yogya ... semua bertujuan sama. Kami akui, Rembaya bukanlah orang suci."
"Tapi bukan ini maksud ...."
"Saya sangat mengerti. Segala hal berkaitan tanggung jawab sudah ada di map itu. Kalian juga harus mengerti, Rembaya sudah tidak punya apa-apa lagi. Warisannya tidak cukup untuk menutupi dosa-dosa.
Oom Saka meletakkan map itu di meja dan bangkit. Meski tampak gusar, ia masih menjaga sikap.
"Saya sudah melaksanakan tanggung jawab dengan menyampaikan apa yang perlu. Soal Anda menerima atau tidak, itu tanggung jawab Anda. Kami berlepas diri dari itu."
Usai berkata, Oom Saka bergegas keluar. Aku dan Tante Ratri tergopoh mengikuti langkah lebarnya. Sempat kulihat tante mengangguk kikuk kepada perempuan itu.
"Ini tidak dibawa?" tanya perempuan itu saat kami menuruni undakan teras. Ia mengacungkan map biru tadi.
Oom Saka tidak menyahut, tidak pula menoleh. Rahangnya mengeras. Ia sudah mencapai pintu mobil ketika perempuan itu berkata lagi, "Kau membawanya ke sini untuk menuntut tanggung jawab. Sudahkah kau melaksanakan tanggung jawabmu, dengan menceritakan yang sesungguhnya?"
Langkah Oom Saka terhenti. Perlahan ia menatap perempuan itu. Senyum tipis melintasi wajah perempuan itu.
"Tentang bagaimana ayahnya mati?"
Oom Saka bergetar, pasti karena marah. Tante Ratri terkesiap, menatap perempuan itu dan aku bergantian.
Tanpa berkata apa pun Oom Saka menaiki mobil. Aku masih terpaku hingga Tante Ratri harus mendorongku lembut.
Keheningan menyelimuti udara di dalam Avanza hitam itu. Perjalanan pulang terasa dingin dan membeku. Aku tidak tahu, seberapa lama kisah akan mengalir di rumah nanti. Hal-hal yang tidak aku ketahui, tentang bagaimana ayah meninggal.***