Ku pacu kuda besi yang ku tunggangi sedikit lebih cepat dari biasanya. Aku merasa benci pada diriku sendiri karena kebodohanku. Bisa-bisanya wanita yang selama ini aku cintai menghianati cintaku. Sementara waktu pernikahan itu tinggal menunggu hari saja.
Apa yang harus aku katakan pada orang tuaku seandainya mereka tahu kalau calon menantu kesayangannya itu telah berselingkuh dibelakangku.
Sungguh ini adalah tahun yang buruk bagiku. Seharusnya tahun ini aku dapat menikahinya dengan sempurna. Namun mengapa justru disaat waktu pernikahan semakin dekat, aku malah menemukan dia bersama seseorang disebuah kamar hotel.
“Apa kurangnya aku maria! Apa??! Kenapa kau perlakukan aku seperti ini? Kenapa kau menjadikan aku sebagai lelaki bodoh mu.”
Aku betul-betul hancur. Bukan karena aku begitu mencintainya, tetapi karena semua orang telah mengetahui bahwa aku dengan dia sebentar pagi akan menikah dan sebagian undangan telah tersebar. Bagaimana aku mengatakan pada ibu dan ayahku tentang semua ini? Sementara mereka begitu mengharapkan pernikahanku dengannya, yang telah lama mereka nantikan.
Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini, semakin aku pikirkan semakin kepalaku pusing saja. Mungkin sedikit minum kopi kepalaku akan sedikit ringan.
Ku hentikan laju kendaraanku pada parkiran taman kota. Namun baru saja aku keluar dari mobilku dan baru jalan beberapa langkah saja, tiba-tiba seorang wanita tomboy menabrakkan tubuhnya kearahku dan sialnya minuman boba yang berada ditangannya tumpah mengotori jas ku.
“Aduh… maaf tuan aku tidak sengaja maaf ya.” Kata wanita tomboy itu dengan begitu saja pergi meninggalkanku tanpa merasa berdosa, sementara jas ku basah karena ulahnya.
“Hei.. enak saja kamu pergi begitu saja!.” Aku kejar dia karena langkahnya yang terburu-buru.
“Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan padaku.” Teriakku dibelakangnya.
Wanita tomboy dengan memakai celana blue jeans robek di bagian lututnya dan memakai kaos putih itu tetap tidak menghiraukan teriakanku. Akhirnya ku tarik tas gendongnya.
“Tuan maaf saya buru-buru harus bekerja!.”
“Tapi bagaimana urusanmu dengan ku, minumanmu telah mengotori pakaianku!.”
“Aku kan sudah minta maaf tuan, terus harus bagaimana lagi?!.” Kata-katanya sungguh menyebalkan dan ia kembali berjalan cepat tanpa menghiraukan keadaanku.
Lalu ku tarik rambut panjangnya, kemudian
“Aduuh, sakit tuan!” Ia meringis memegang kepalanya.
“Heh! Kamu harus tanggung jawab! Kamu tidak lihat pakaianku hancur karena minumanmu!.” Kataku kesal.
“Oke, nanti aku ganti deh, sekarang lepaskan aku dulu tuan. Aku sudah terlambat, bos ku pasti akan marah karena aku datang terlambat.”
“Kamu pikir kamu bisa mengganti pakaianku ini! Kamu tahu harganya berapa?!.” Aku semakin kesal dengan ulah wanita tomboy itu.
“Berapa pun akan aku ganti nanti! Sekarang lepaskan aku!.” Pintanya, sementara aku cengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat.
“Kamu tahu?! Jas ku ini harganya ratusan juta!.”
“Apa! Tuan serius!.” Ia terkejut dengan bola mata yang membulat.
“Kamu pikir jas yang aku pakai ini murahan apa!.”
“Oke, kalau aku tidak bisa menggantinya karena jas tuan sangat mahal, lalu apa yang akan tuan lakukan pada ku?.” Tantangnya kepadaku.
“Aku tidak mau tahu! Bagaimana pun caranya jas ku ini harus kembali seperti semula!.” Pintaku sedikit kesal.
“Oke. Nanti akan aku cucikan jas tuan itu. Sekarang lepaskan aku.” Katanya dan ia langsung berlari meninggalkanku.
Aku kesal padanya dan ku kejar dia, tapi karena langkah wanita tomboy itu begitu lebar, aku tetap berada dibelakangnya tidak mampu mengejarnya.
Lalu ia masuk kedalam sebuah cafe, oh rupanya dia bekerja pada cafe tersebut.
Aku memberanikan diri masuk ke dalam cafe tersebut, kulihat seorang pria gendut seperti menegurnya, tidak lama dari itu dia masuk kedalam sebuah ruangan dan tak lama kembali sudah dengan memakai apron.
Aku duduk pada meja barista dekat meja kasir. Lalu seseorang pelayan mendekatiku.
“Selamat sore tuan, mau pesan apa?.” Pelayan itu menyerahkan buku menu padaku. Mau tidak mau aku memesan minuman saat itu.
“Sore, aku minta Vietnam coffe nya ya mbak.”
“Ada lagi tuan?.”
“Sudah cukup, itu saja dulu.” Jawabku. Kemudian pelayan itu pergi.
Aku lihat pelayan itu membisikkan sesuatu pada wanita yang menabrakku tadi. Ku balas pandangannya saat ia memandangiku. Lalu ia berjalan mendekat ke depan meja barista tempatku duduk, karena mesin untuk meracik kopi itu berada diseberang meja barista tempatku duduk. Oh sepertinya dia seorang barista di cafe ini.
Setelah ia selesai meracik secangkir kopi, lalu ia menyerahkannya padaku.
“Silahkan tuan!.” Katanya, menyerahkan kopi Vietnam yang aku pesan tadi. Ku lihat wajahnya, sepertinya dia sedikit malu padaku. Namun aku berpura-pura tidak mengenalinya di depan bos dan teman-teman dia bekerja.
Aku terus memperhatikan dia yang sibuk melayana pelanggan di cafe itu, karena sore itu cafe terlihat cukup ramai dengan pengunjung.
Aku menduga ia bekerja shift malam hari ini. Ku lihat sebagian pelayan dan dua orang barista lain telah pulang, tinggal dia dengan beberapa temannya yang lain.
Malam semakin larut, dan kurasakan cacing di dalam perutku meronta-ronta, ku panggil dia karena aku memerlukan makanan berat untuk menghentikan cacing dalam perutku yang terus meminta makanan. Dia mendekat ke arahku,
“Ada yang bisa saya bantu tuan?.” Tanya dia padaku.
“Ada makanan apa yang bisa aku makan disini?.”
“Baik, tunggu sebentar tuan saya ambilkan menu nya dulu.” Katanya. Lalu ia memberikan buku menu padaku. Setelah aku melihat-lihat beberapa makanan pada buku menu, lalu aku memesan beberapa,
“Aku minta singkong Thailand, Onion ring dan chicken fingers nya ya? Minumannya air mineral saja.”
“Baik, tunggu sebentar ya tuan.” Katanya padaku. Lalu ia membuatkan makanan yang aku pesan tadi.
Sepanjang dia memasak makanan yang aku pesan, aku terus memperhatikannya nya dari belakang tubuhnya.
Kulihat dia pandai sekali memasak selain meracik beberapa jenis kopi. Tangannya lincah dan cepat pada saat ia memasak. Dan tanpa ku sadari, semua yang ku pesan telah selesai ia masak, lalu ia memberikannya padaku.
Karena perutku sudah tidak kuat, akhirnya langsung aku santap makanan itu.
“Mh, ternyata masakannya enak juga.” Bathinku. Ku nikmati makanan itu sembari sesekali ku pandangi si pembuatnya.
Alunan musik yang terdengar membuat aku terhanyut sembari menikmati makanan itu.
Kulihat beberapa pengunjung satu persatu pergi meninggalkan cafe itu. Kini tinggal lah aku sendiri.
“Sampai kapan tuan akan berada disini? Cafe ini sebentar lagi akan tutup.” Kata dia padaku sembari melepaskan Apron yang ia pakai.
“Sampai cafe ini tutup, baru aku akan pergi.” Jawabku.
“Sekarang waktunya tutup tuan.” Katanya.
“Oke. Berapa semuanya?.”
“Tidak usah! Anggap saja saya mengganti pakaian anda yang kotor.” Katanya seraya pergi meninggalkanku.
Bergegas aku membayar apa yang telah aku pesan tadi pada kasir dan mengejar dia yang berlalu keluar.
Ku kejar dia dan terus aku ikuti.
“Ada apa lagi tuan?.” Tanya dia membalikan barannya.
“Loh, kok malah nanya, aku minta pertanggung jawaban kamu, kamu lupa kalau kamu sudah mengotori pakaianku?.”
“Anda menunggu di cafe sampai semalam ini hanya untuk itu tuan?.” Tanya kesalnya padaku.
“Tentu saja! Coba kamu lihat, noda bekas minumanmu masih membekas pada jas ku.”
“Baiklah! Serahkan jas anda padaku, beberapa hari lagi ambil lah.” Ia mengulurkan tangannya padaku meminta jas yang aku pakai.
Aku melepaskan jas yang kupakai dari tubuhku dan ku berikan padanya.
“Ambilah nanti di cafe. Saya permisi dulu.” Katanya seraya mengambil jas ku dan pergi meninggalkanku.
Aku tidal tahu harus berkata apa, aku pandangi saat ia pergi dengan meletakan jas ku pada lengannya yang ia lipat di dadanya.
Aku pandangi kepergiannya sembari melangkahkan kakiku pada mobilku yang tidak jauh dari situ. Sampai aku masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, aku masih dapat memandangi punggungnya yang semakin jauh dan semakin hilang dari pandanganku.
Entah mengapa aku begitu saja menyerahkan jas ku padanya. Padahal dia orang yang tidak aku kenal sama sekali. Bahkan namanya pun aku tidak tahu.
Ah BUMI MANGKULANGIT kenapa kau seceroboh ini sih..
Awalnya karena aku kesal padanya yang membuat aku memintanya untuk membersihkan jas ku. Padahal tidak dibersihkannya pun sebenarnya tidak apa-apa juga.
❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️
Keesokan harinya, di sore hari selepas aku pulang kerja, aku kembali lagi ke Cafe itu. Sedikit tergesa aku menuju kesana. Entah mengapa setelah kemarin malam aku ingin segera bertemu kembali dengan dia. Seperti ada kekuatan yang besar yang menarikku untuk kembali lagi mendatangi cafe itu. Walau hanya untuk sekedar melihat wajahnya.
Perlahan ku langkahkan kakiku memasuki cafe itu, namun aku tidak menemukannya.
Lalu pelayan yang kemarin mendekatiku dan menyapaku.
“Maaf tuan. Apa tuan pemilik jas yang teman saya titipkan itu?.”
“Oh iya.” Jawabku sedikit tidak mengerti.
“Sebentar tuan, saya ambilkan dulu jas nya.” Katanya mengambil jas ku.
Sepertinya jas itu sudah dibersihkan dan sudah berada di dalam sebuah paper bag warna biru.
“Ini tuan, tadi teman saya menitipkan kepada saya, katanya kalau tuan datang, saya disuruh memberikannya pada tuan.” Kata pelayan itu sembari menyerahkan paper bag itu padaku.
“Oh iya, makasih ya. Mh maaf, teman andanya kemana ya?.” Tanyaku padanya penasaran, karena wanita itu tak terlihat di cafe itu.
“Tadi dia mendadak mendapat telepon dari kampung, katanya ibunya meninggal. Jadi dia buru-buru pulang ke kampungnya.”
“Apa dia pulang ke kampungnya?!.” Aku sedikit terkejut.
Aku berharap dia yang akan menyerahkan sendiri jasku ini. Tapi ya sudahlah..
Ku ambil paper bag itu. Lalu aku berlalu meninggalkan cafe itu menuju mobilku.
Aku duduk di belakan kemudi. Perlahan ku buka paper bag itu. Benar saja ada jas ku di dalamnya dan secarik kertas.
Kuambil carikan kertas itu lalu ku baca.
“Tuan! Maafkan aku telah mengotori jasmu. Sekarang sudah ku bersihkan. Kuharap kau tidak marah lagi padaku. Ku berikan pewangi aroma kopi, ku harap kau suka. Sampai jumpa lagi.”
By : EDELWEISS.
Oh jadi namanya Edelweiss.
Perlahan ku ambil jas ku di dalam paper bag itu. Benar saja jas ku sudah bersih kembali. Tercium aroma kopi pada saat aku mengeluarkan jas itu dari dalam paper bag tersebut.
Namun entah mengapa aku merasakan perasaan yang lain saat aku mencium aroma itu.
Ingatanku kembali padanya saat aku bertemu dengannya kemarin.
Tumbuh rasa ingin kembali melihat wajahnya saat aku tidak bisa bertemu dengannya hari ini. Semakin aku mengingat wajahnya semakin wajahnya mengganggu pikiranku.
Aku harus bertemu dengannya kembali. Dia tidak bisa se-enaknya datang kemudian pergi tanpa mengatakan apa pun padaku.
Lalu ku langkahkan kakiku kembali ke cafe itu dan menanyakan kepada temannya dimana dia tinggal.
Temannya mengatakan di kota ini dia kost. Setelah aku meminta alamat kostan nya, bergegas aku pergi ke tempat kost nya itu.
Tempat kost nya tidak begitu jauh dan dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari cafe tersebut.
Aku mendatangi tempat kost nya. Seorang wanita paruh baya menyambutku, rupanya ia ibu kost nya.
Ia mengatakan kalau Edelweiss pamit padanya dan tidak akan pernah kembali karena akan melanjutkan hidupnya di kampung untuk mengurusi adik-adiknya.
Mendengar apa yang di katakan ibu kost itu, aku sedikit kecewa, jika begitu kenyataannya, artinya aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya kembali.
Apa yang kau tinggalkan dalam hatiku lebih sadis Edelweiss. Kau datang dalam hidupku tanpa permisi. Lalu pergi begitu saja setelah kau membuat aku terjatuh. Waktu yang singkat itu terasa lebih menyakitkan.
Sepertinya aku membutuhkanmu Edelweiss.