Masa masa disekolah adalah masa yang paling indah bukan?masa dimana semua cerita mengalir apa adanya tanpa harus memikirkan beban apa pun.
"Diana,murid paling cantik di sekolah itu penilaian semua yang memandangnya,bermata coklat indah dengan rambut panjang yang hitam nan lebat dan lebih sering di kuncir dua.punya senyum indah bak iklan pepsodent serta lesung pipi di kiri kanan pipi nya yang membuat ia makin terlihat sangat manis di pandang mata.
***
"Hai Din yuk ke kantin aku lapar nih." teriak Amel hingga memecah keheningan kelas mereka yang baru saja bubar untuk istirahat.
"Iya." jawab Diana lembut.
Tiba di kantin suasana sudah sangat ramai,para siswa yang tumpah ruah bak ibu ibu belanja di pasar sungguh menyilaukan mata di hari yang terik itu.Amel dan Diana pun saling tatap kira kira mau duduk dimana lagi untuk makan kali ini.
"Mel,ramai sekali kantin kita hari ini." lirih Diana pada Amel yang masih terlihat kebingungan.
"Iya Din dan kita bungkus saja yuk,nanti kita kan bisa makan di kelas." jawab Amel bersemangat.
Amel dan Diana pun bergegas masuk ke kantin dan merebak ramainya siswa lain.mereka berdua tentu saja memilih makanan favoritnya masing masing.
***
"Din kamu tahu nggak kalau pemilihan ketua Osis akan di mulai minggu ini." celetuk Amel yang masih berusaha mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Iya Mel dan kita juga harus bersiap siap untuk ikut serta." lirih Diana sambil mencubit pipi tembem temannya ini.
"Awww." teriak Amel sambil melirik malu karena di lihat sebagian teman kelas mereka.
Jam istirahat usai,aktifitas belajar kembali di mulai dan seperti biasa hari ini tetaplah menyenangkan bagi Diana yang merupakan salah satu siswa pindahan dari Kota lain.
Ayah Diana adalah seorang Penegak hukum dan terkadang memaksa Diana untuk berpindah pindah tempat tinggal di saat penempatan tugas bagi ayahnya harus di Kota lain lagi dan ini sudah berlangsung dari sejak Diana bersekolah di Taman kanak kanak.
Terkadang Diana bingung untuk dekat dengan teman temannya lebih akrab karena baru saja keakraban itu terjalin,ia harus berpisah dengan teman temannya lagi.
Diana merasa untuk punya seorang sahabat pun itu adalah hal yang mustahil baginya.ia tak ingin hati nya terlalu berharap,tapi beda dengan pertemanan nya bersama Amel.kali ini orang tua Diana tetap bertugas di kota ini hingga Diana tamat dari bangku Sekolah Menengah Pertama nya.
***
Satu minggu kemudian,pemilihan ketua Osis pun di mulai pada pagi ini.jam pelajaran sekolah pun sengaja di liburkan,namun semua siswa harus hadir disekolah untuk menjadi bagian terpenting di hari ini.
Suasana aula sekolah sudah tampak ramai,para kandidat calon ketua Osis pun sudah duduk rapi di depan dan para siswa pun sudah menduduki kursi nya masing masing.
Dewan Guru pun juga sudah tampak berjajar rapi di kursi depan.
***
Pemilihan ketua Osis pagi ini pun di mulai.ada enam orang kandidat dari setiap perwakilan kelas.
Para kandidat ini pun saling menyampaikan visi dan misinya masing masing.tepuk tangan riuh memenuhi aula tak kala satu dari kandidat ini maju sebagai peserta terakhir yang akan membacakan visi misinya.
Dialah Niko,siswa dari kelas dua.tepatnya ia satu kelas dengan Diana dan Amel.ia adalah siswa yang juga menduduki peringkat satu di kelasnya.siswa pintar yang juga ramah dengan siapapun.
Amel dan Diana sangat senang salah satu teman sekelas mereka menjadi salah satu kandidat dalam pemilihan ketua Osis pagi ini.
"Din,Niko terlihat sangat manis ya." celetuk Amel.
Diana hanya membalas celetukannya Amel dengan senyuman.bagi Diana,Niko tetaplah teman sekelas yang baik.
***
"Hai Niko yuk kita ke kantin." ajak Diana dengan semangat."
"Nggak ah aku sudah kenyang." jawab Niko sambil berlalu.
Diana pun melanjutkan langkah kakinya menuju kantin.ia makan bersama teman temanya yang lain.
Di Sekolah dasar ini,Diana juga adalah siswa pindahan.Diana kebetulan satu kelas dengan siswa yang bernama Niko Al Fatih dan kediaman mereka juga tidak berjauhan.namun Niko adalah anak yang pendiam,dia tidak seperti anak laki laki lainnya yang tampak begitu aktif bermain bersama.
Dan sayangnya Diana hanya setahun bersekolah di sana,meski begitu Diana sangat menikmati masa sekolahnya kala itu.Diana sempat berpamitan langsung ke Niko di pagi sebelum keberangkatan nya,tapi sayang Niko tidak berada di rumahnya.
Sebelumnya Niko sudah dua hari tidak masuk sekolah dan Diana pun lebih memilih untuk mengucapkan salam perpisahan sebagai teman ke Niko di rumahnya hari itu.Diana hanya mampu menyampaikan pesan tanda pamitnya pada seorang ibu yang tak lain adalah neneknya Niko.
***
Setelah enam tahun berlalu,kini Diana bisa kembali melihat sosok Niko temannya kala itu.namun sayang seribu sayang,Niko tidak pernah tahu jika Diana adalah teman semasa sekolah dasarnya dulu.
Diana yang sudah hampir setahun satu kelas dengan Niko ini juga tidak berniat menceritakan pada Niko bahwa dulu enam tahun silam mereka juga pernah satu kelas.
"Hei Din,kok bengong."? lirih Amel.
Diana seketika terkesiyap dan kembali fokus menatap ke depan,dimana Niko Al Fatih sedang berorasi dengan visi misinya.Diana tampak kagum dengan semangat juang temannya ini.
Tiga jam pun berlalu dan kandidat terpilih pun sudah di tentukan.tak kala nama Niko Al Fatih di sebut sebagai Ketua Osis yang baru,seluruh orang yang berada dalam aula ini pun tepuk tangan dengan riuh.
"Horeee....,teman sekelas kita yang menang." celetuk salah seorang teman sekelas Amel dan Diana.
Niko Al Fatih pun langsung di lantik hari itu,terlihat raut senang di wajahnya.ucapan selamat dari para dewan Guru beserta siswa siswa lainnya makin membuat suasana pemilihan hari ini sangat meriah.
"Selamat ya Nik,sapa Amel penuh semangat sambil mengulurkan tangannya.
Niko menyambutnya dan tersenyum sumringah.
"Nik selamat atas pemilihannya." ucap Diana lantang pada Niko.
Niko pun juga menyambut uluran tangan milik Diana dengan senyum manisnya.
Hari ini sungguh melelahkan.setelah pemilihan ketua Osis usai para siswa diperbolehkan untuk pulang.begitupun juga dengan Diana,namun kali ini ia harus pulang sendirian,karena Amel sudah lebih dulu di jemput Ayahnya.
Diana tampak mondar mandir di gedung terdepan sekolah,disana juga masih banyak terlihat siswa yang juga menunggu jemputan mereka masing masing.
Tepukan ringan di bahunya mengagetkan Diana dan seketika Diana menoleh ke belakang.ia terkejut tak kala tangan itu adalah milik Niko.
"Hei,jawab Diana.
Niko pun mensejajarkan posisi tubuhnya dan berdiri tepat di samping Diana berdiri.mereka terlihat mengobrol dengan santai sambil sesekali melihat ke arah gerbang sekolah menanti untuk di jemput.
Sekitar lima belas menit berlalu,jemputan Niko lebih dulu datang dan seorang Wanita paruh baya turun dari mobil itu.Niko pun segera pamit lebih dulu pada Diana dan ia segera menghampiri ibunya yang terlihat berjalan masuk menuju gedung depan.
"Mama." sapa Niko sambil mengulurkan tangan kanannya untuk mencium tangan ibunya.
"Yuk kita pulang,tapi sebelumnya mama antar ini dulu ya ke dalam." pamit ibunya pada Niko.
Niko pun lebih dulu menuju mobilnya dan sang mama pun dengan langkah lebih cepat masuk ke dalam sekolah.
Diana pun mengurai senyumnya tak kala mama nya Niko lewat di sampingnya.Diana pun kembali menatap arah gerbang sekolah,hari ini sang ayah sudah berpesan jika beliau agak lama datang untuk menjemput.sesekali mata Diana pun tak luput dari mobil putih yang dinaiki Niko barusan.
Tak lama,suara sapaan membuat Diana tersentak dan itu suara mamanya Niko.beliau bertanya dengan lembut.
"Ini Diana bukan."?
Diana kaget bukan kepalang,ia tak menyangka mama Niko masih mengenali sosoknya.padahal jelas jelas itu sudah berlalu enam tahun yang lalu.
Dengan gelagapan Diana menjawab sapaan itu dengan mengulurkan tangan kanannya dan dibalas dengan ramah ulurah tangan itu.
"Diana mau pulang bersama tante tidak."? lirih mama Niko dengan hati hati.
"Tapi tante..."
Dengan hati hati,beliau menjelaskan jika beliau di minta tolong oleh seseorang yang bernama Khalid dan nama itu tak lain adalah nama ayahnya Diana.
Diana pun menyanggupi ajakan tersebut,mereka segara menuju mobil yang sudah menunggu sedari tadi.Niko yang duduk di belakang pun kaget takkala temannya Diana masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.
Niko melempar senyumnya ke Diana sambil merasa sedikit bingung,tapi ia merasa tidak nyaman jika di tanyakan hal itu pada ibunya saat sekarang ini.mobil pun berlalu meninggalkan sekolah.selama dalam perjalanan,sang mama terlihat fokus menyetir dan sesekali melempar guyonan pada Niko dan Diana yang terlihat duduk manis di bangku belakang.
Tak lama,Diana turun lebih dulu karena mobil putih ini sudah tiba tepat di depan rumahnya.tak lupa Diana pun menucapkan rasa terimakasih pada Niko dan juga ibunya.
***
Di dalam mobil,setelah Diana turun dan mobil berlalu,barulah Niko melemparkan rasa penasaran nya pada sang mama dan sang mama pun dengan penuh semangat menjawab semua rasa penasaran anaknya ini.
"Jadi mama dan ayahnya Diana satu tempat bertugas kan ma."? tanya Niko yang terakhir kalinya.
Jawaban sang mama membuat Niko menyimpan makin banyak rasa penasaran dalam hatinya.
Ia ingin besok pagi pagi di sekolah menanyakannya langsung pada Diana untuk benar benar membenar kan pernyataan sang mama barusan.
Sesekali mata Niko menatap ke luar jendela mobil yang tak lama lagi akan membawanya segera tiba ke rumah.ia berharap akan dapat mengingat kembali masa masa enam tahun silam setelah rebahan di dalam kamarnya sambil menatap figura lama yang terlihat kian manis karena ada anak manis kuncir dua di dalamnya.
~~~Selesai~~~