Seorang Fans menghadiri fansign idolanya, untuk mendapat tanda tangan atau sekedar bersalaman. Karna berdesakan, tanpa sengaja ia terdorong hingga mencium idolanya.
Sang idola jadi diam dan gugup, karna itu adalah ciuman pertamanya.
"Maaf mba, tolong lebih hati-hati lagi." ujar seorang staff yang menjaga sang artis.
"Maaf,, maafkan saya. Ini bukan di sengaja, saya terdorong oleh orang di belakang saya. sekali lagi saya minta maaf, saya akan pergi." ujar gadis itu dengan teramat menyesal.
Namun sang idola tidak membiarkannya pergi, ia menarik tangan gadis itu.
"Kau tidak boleh pergi, kau harus pertanggung jawabkan perbuatanmu"
Tatapan sang idola itu begitu tajam pada gadis tersebut.
"Maafkan aku. Aku gak ada maksud seperti itu, aku juga sangat malu telah merendahkan diriku sendiri di depan idolaku. Sebagai gantinya, kau berhenti jadi Fansmu."
Air mata gadis itu berlinang melepaskan martabatnya sebagai fans, padahal ini pertama kali baginya mendapatkan kesempatan menghadiri fansign.
Gadis itu pergi, dengan langkah cepat.
Namun saat menuju gerbang keluar gedung, ia di hadang oleh penjaga keamanan.
"Maaf, anda tidak di perbolehkan pulang, silahkan ikut saya ke dalam." ujar sang penjaga.
"Pak, apa salah saya?" ujar gadis itu bingung.
"Turuti saja. Ayo jalan!." penjaga kemanan itu memaksa sang gadis untuk membawanya masuk ke gedung agensi sang idola.
°°°
Gadis imut nan mungil itu bernama ^SUZU LIM^ . ia berusia 20 tahun, tinggal di kota BUSAN, korea selatan.
Suzu sangat mengidolakan penyanyi solo dan juga aktor muda yang bernama panggung ^ZIDAN^ itu. umur mereka sama, bahkan tanggal lahir mereka pun sama.
Tentu saja itu hanya kebetulan, Suzu mengidolakan Zidan bukan karna tanggal lahir mereka yang sama, namun ia sangat menyukai lagu-lagunya dan juga cara Zidan yang terkenal ramah dan baik itu.
°°°
Saat masuk ke dalam suatu ruangan, Suzu hanya diam. Hatinya begitu takut akan kena sanksi karna sudah berlaku pelecehan seksual, padahal ia bukan sengaja melakukannya.
Namun momen itu sudah terlanjur tertangkap kamera fans yang hadir di sana dan menjadi kesalah fahaman.
Satu jam menunggu, tanpa di ajak bicara oleh staff, tanpa di pedulikan, dan tanpa di beri makan dan minum.
Suzu merasa dirinya seperti debu yang melekat di lantai, sungguh tiada berarti bagi orang-orang.
Braakkkk... (Suara pintu terbuka)
Zidan bersama beberapa staff masuk ke dalam ruangan itu. para staff tengah sibuk menyusun barang-barang hadiah pemberian dari fansnya.
Suzu hanya diam, ia makin takut dan malu berhadapan langsung dengan idolanya itu. Ia hanya bisa merunduk sambil mengepalkan tangan yang sudah berkeringat dingin.
Sedangkan staff masih sibuk mengganti pakaian Zidan sambil mengelap keringat dan memberinya minum karna cuaca yang panas.
Setelah selesai, Zidan langsung duduk menghadap Suzu.
"Angkat kepalamu, aku ingin melihat wajahmu." ketus Zidan dengan wajah datar.
*Astaga, gimana ini, aku benar-benar takut. Dia tidak seramah yang aku kenal.* batin Suzu sambil memejamkan mata.
"Kenapa diam? tatap mataku." tegas Zidan lagi.
"Ma....af. tapi aku gak berani." sahut Suzu pelan.
Lalu Zidan mengisyaratkan pada staff untuk menyuruh mereka keluar.
Dalam ruangan tertutup itu, hanya ada mereka berdua.
"Siapa namamu? dan di mana kau tinggal." ujar Zidan.
"Namaku Suzu Lim. Aku tinggal di Busan." jawabnya takut dan masih merunduk.
"Lalu, naik apa kau ke kota Seoul? dan bersama siapa? apa kau sudah berpengalaman?" tanya Zidan lagi.
"Aku sendirian, dan ini pertama kalinya. Aku ke sini naik KRL. karna aku gak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu denganmu. tapi maafkan aku untuk kejadian ini. Aku janji, aku akan berhenti mengidolakan kamu, supaya kamu gak malu."
Suzu tetap merunduk diam.
"Apa kau tau? itu tadi adalah ciuman pertamaku. Kalo misal kamu tadi cium di pipi sih gak masalah. Tapi kamu tepat mencium bibirku."
"Aku tau, itu juga ciuman pertamaku. Tapi aku bersumpah, itu bukan kusengaja. sekali lagi maafkan aku sudah membuatmu malu. Kalo gak ada keperluan lagi, aku pergi dulu."
Saat Suzu berdiri, Zidan kembali menarik tangannya. "Aku belum menyuruhmu pergi. Silahkan kembali duduk."
Dengan terpaksa, Suzu duduk kembali.
"Apa yang kau bawa? dan apa yang akan kau berikan padaku?" ujar Zidan.
"Aku membawa album, dan sedikit hadiah untukmu. tapi sepertinya aku tidak akan memberikannya lagi padamu, karna kau pasti menolaknya."
"Letakkan semuanya di meja." ketus Zidan.
"Hah? bu.... buat apa?" Suzu mencengatkan kepalanya karna kaget.
"Kau sudah datang jauh-jauh kesini, kau harus mendapat tanda tangan dariku. Dan hadiah itu akan aku ambil." Zidan mulai membuka album yang di bawa Suzu.
*Dia... ternyata baik juga.* Suzu tersenyum dalam hati sambil menatap Zidan yang tengah menanda tangani albumnya itu.
"Apa aku menyeramkan? kenapa kau seperti takut padaku?" ujar Zidan tersenyum.
"Kau.... kau tersenyum padaku?" Suzu makin mencengatkan kepalanya saking bahagianya.
"Hm.. dasar gadis bodoh, tadi aku hanya mengerjaimu." Zidan mengacak rambut Suzu sambil terbahak melihat ekspresi Suzu yang bengong tak percaya itu.
*Astaga, ternyata aslinya beneran absurd dan bobrok. Tadi jantungku hampir saja loncat bunuh diri.* batin Suzu.
"Kau menanda tangani semua halaman?" tanya Suzu bingung.
"Iya, emangnya kenapa?"
"Gak usah, tanganmu pasti keram karna tadi memberi ratusan tanda tangan pada fans." ujar Suzu khawatir.
"Gak masalah, ini supaya kau gak berhenti menjadi Fans setiaku. dan supaya kau selalu terbayang wajahku, my firs kiss." Zidan lagi-lagi melemparkan senyuman manisnya.
*Astaga, apa ini? tingkahnya romantis banget. fix.. aku butuh oksigen, aku sesak nafas. Tahan.. ntar kalo sudah di rumah, aku ajak fotonya gelud.* Suzu begitu kesemsem mendengar gombalan Zidan.
Saat membuka lembaran terakhir pada album, Zidan menemukan fotonya bersama Suzu yang sudah di edit.
"Ini kau edit ya?" tanya Zidan sambil mengeluarkan foto itu dari album.
"What? ehh... jangan di liat dong, aku malu. Tolong balikin lagi ke sana. Pliss.." Suzu menyatukan tangannya dengan wajah memerah.
"Haha,,.. Kenapa kau cantik sekali di foto ini, sedangkan aslinya kagak. Filternya kebanyakan nih. haha.." Zidan mulai mengejek Suzu.
"Ya, terserah anda wahai kaum tamvan." Suzu hanya diam dan pasrah.
"Fotonya buat aku aja ya. Makasih." Zidan buru-buru menyimpan foto itu ke dalam tas nya.
*Astaga, malunya aku..!! kenapa sih aku lupa ngeluarin foto itu. Ahhh. serahlah.* batin Suzu kesal.
"Keluarkan ponselmu. mari foto bersama." ujar Zidan.
"Serius?" dengan senang hati Suzu mengeluarkan ponsel untuk bersua foto bersama idola kesayangannya itu.
Sekali jepret selesai.
"Sini deh aku yang fotoin. pake kamera belakang aja ya." ujar Zidan merebut ponsel Suzu.
Ternyata Zidan bukan ingin mengambil gambar, melainkan video yang langsung merekam mereka.
"Sebelum kita foto, aku mau tanya. apa yang kau suka dariku?" ujar Zidan sambil mengarahkan kamera pada Suzu.
"Em.. aku suka lagumu, caramu dan semuanya darimu." jawab Suzu dengan senyuman.
"Bukankah yang utama itu karna visual?" tanya Zidan lagi.
"Kurasa kalo visual, semua orang pun mendahulukannya. Tapi bukankah banyak artis yang visualnya juga gak kalah tampan darimu?. tapi bakatmu lebih dari mereka semua, itu yang aku suka." jawab Suzu.
"Lalu, apa kau mencintai dan menyayangiku?" Zidan menatap Suzu
"Tentu saja" sahut Suzu riang sambil menatap kamera.
"Ehh.. udah ah. Ayo kita mulai foto lagi." lanjut Suzu.
"Ah iya. Lupa, maaf.
pake kamera depan aja deh, biar lebih fokus." timpal Zidan sambil menutup video dan beralih ke foto.
Setelah selesai. Suzu hendak pulang.
"Apa kau gak mau memelukku? biasanya itu yang di lakukan seorang fans jika bertemu idolanya." goda Zidan.
"Apakah boleh? aku gak mau melakukannya tanpa izin darimu." sahut Suzu merunduk.
*Hm.. dia berbeda dari yg lain* batin Zidan tersenyum.
Tanpa bicara, Zidan langsung memeluk Suzu hingga membuatnya kaget tak percaya.
*Astaga apa ini? apa kau mimpi? aku ingin pingsan saat dia peluk seperti ini. tapi jangan deh, sayang momennya terlewatkan.* Suzu menyeringai bahagia.
"Hubungi aku jika kau ada waktu. Cek halaman terakhir pada album." bisik Zidan dalam pelukan Suzu.
"Ah.. em.. iya.. iya. hehe." Suzu tidak mengerti dgn apa yg di bilang Zidan, karna hatinya masih di tumbuhi bunga-bunga cinta.
Dengan berat hati, Suzu harus meninggalkan idolanya itu yang telah membuatnya bahagia dalam waktu singkat.
Namun ia berbalik kembali.
"Zidan, apakah sikapmu seperti ini hanya kau lakukan padaku? atau pada semua fansmu?"
Zidan terdiam sesaat. "Tentu saja untuk semua Fansku, aku gak mau mereka kecewa." jawabnya tertawa kecil.
Suzu merunduk diam. "Ya aku tau, itu bagus." sahut Suzu tersenyum paksa, kemudian pergi dari gedung agensi.
*Apaan aku ini, ya jelaslah dia melakukan ini pada semua Fans dia. kenapa aku jadi berharap lebih hanya karna bertatap muka secara 4 mata. sudahlah, jangan dipikirkan.*
Mulai saat itu, Suzu selalu di bayangi wajah Zidan. ia sampai tidak fokus belajar.
Namun ia baru melihat galeri ponselnya, dan menemukan video yg di buat Zidan pada hari itu.
Video itu mengejutkan Suzu, sekaligus membuatnya rindu akan Zidan. ada rasa ingin bertemu lagi, namun fansign tidak di lakukan tiap saat.
~~
Di rumah Zidan.
"Ah.. aku kenapa sih jadi males kerja.! kenapa aku selalu memikirkan gadis itu. entah kenapa aku jadi.... auk ah...
Gara-gara dia aku jadi gak fokus. lagian dia kemana sih? sudah 3 bulan gak ada kabar. padahal aku sudah ngasih nomor telpon. apa dia beneran berhenti jadi fansku?"
Zidan bergumam sendiri dengan perasaan gundahnya. Ia merindukan Suzu, gadis yang merebut ciuman pertamanya.
Drtt....drttt.. (telpon dari manager)
^Halo, ada apa hyungnim?^
^Zidan, fanmeet di Seoul di batalkan. tapi jadwalnya di ubah di kota Busan.^ ujar si manager.
^Hah? Busan? serius? kapan?^
^Semangat banget sih.
pekan depan. tepatnya akhir minggu. jaga kesehatanmu ya.^
^Iya.. iya.. pasti kok.^
saat telpon di tutup, Zidan langsung loncat kesenangan. "Astaga, ada apa denganku? apa aku sudah terkena serangan sakit jiwa?. tapi bodo amatlah, siapa tau bisa ketemu Suzu."
~
Satu minggu kemudian, pada akhir pekan.
"Akhir-akhir ini kenapa jadwal Zidan sangat sedikit ya. apa dia lagi sakit?" gumam Suzu sambil membuka album.
Ia pun teringat saat Zidan membisikkan ada sesuatu di halaman belakang album. Suzu pun langsung membukanya.
"Hah? ada nomor telpon? apakah ini nomornya Zidan? astaga kenapa dia gak bilang sih? atau aku yang ogeb."
Suzu buru-buru menelpon nomor tersebut.
Namun yang menjawabnya adalah sang manager, karna Zidan sedang latihan.
~
Dalam ruangan istirahat.
"Zi, tadi ada yang menelpon kamu. katanya dia temen lama kamu." ujar manager bernama Kim itu sambil memberikan ponselnya pada Zidan.
"Oh ya? oke makasih Hyungnim"
Zidan mencoba menelpon nomor tersebut, tidak lama kemudian telponnya terhubung.
^Halo, siapa ini?^
Mendengar suara Zidan, Suzu sangat riang dan langsung ngoceh tanpa henti.
^Zidan, ini aku Suzu. kau apa kabar? maafkan aku baru menemukan nomor ponselmu. aku tau aku bodoh.
Kau tau, aku selalu memikirkanmu. aku merindukanmu. Kapan akan fansign lagi. aku ingin datang lagi jika mendapat undangan. Aku.. aku..^
Tut... tut... (Telponnya mati)
"Ahh... sialan.... Kenapa harus mati sih." Suzu benar-benar emosi.
tidak lama kemudian, ponsel Suzu berdering lagi.
^Jika kau bicara terus, maka aku tidak akan menjawab telponmu lagi.^ ketus Zidan.
^Ehh.. maafkan aku. Karna aku terlalu senang. baiklah, aku akan diam.^
^Bagus.
Aku juga merindukanmu sebagai fansku yg paling aneh. Hari ini kami pergi ke Busan untuk fanmeet. Aku akan menunggumu di sana.^ jelas Zidan.
^Hah? kok aku gak tau? kapan? dimana? jam berapa? ^
^Kau ini. Apa kau gak join club online khusus fandom Zidanie? kenapa kau ketinggalan berita seperti ini.?^ ketus Zidan.
^Ahh itu. aku join kok, tapi akhir-akhir ini aku banyak tugas kampus. maafkan aku ya.^
^Oke gak masalah, karna belajar lebih penting. Besok jam 9 pagi, di gedung Shinja.^
^Baiklah, kebetulan dekat dari rumahku. Makasih ya Zi.^
^Hm.. aku tutup telponnya ya. kami mau berangkat ke Busan. dahh. sampai jumpa.^
~
Esok pagi, fans sudah berkerumun di depan gedung Shinja untuk melihat idolanya.
Suzu dan Zidan sudah saling tau akan menggukan baju warna apa. Supaya Zidan mudah mengenali Suzu.
Namun jarak dari panggung ke bangku penonton agak jauh, walaupun Suzu sudah berada di depan, namun ia susah di cari.
Zidan sudah mencarinya di setiap sudut sambil bernyanyi, namun ia belum menemukan Suzu.
*Dia dimana sih? katanya pake baju putih juga.* batin Zidan.
Suzu memang belum menunjukkan wajahnya, karna dia menggunakan masker, dan ia lagi sibuk merekam Zidan dengan kamera ponselnya.
ketika Zidan selesai bernyanyi, ia berbicara sedikit untuk menyapa para Fans nya yang memenuhi ruangan gedung dengan jumlah ribuan orang itu.
Suzu pun membuka maskernya, lalu memanggil Zidan sambil teriak.
"Zidan... Suzu disini..." teriaknya kencang.
"Eh mba. Percuma kamu teriak, dia gak akan denger." ujar gadis yang di samping Suzu.
*Emm. iya juga sih.. tapi dengan cara apa ya? aku gak punya lightstick.. aha.. aku tau.*
Suzu mengambil ponselnya dan menyalakan Flas, hingga Zidan melihatnya.
*Suzu? astaga ternyata dia di depan?*
Zidan melanjutkan bicaranya sambil berjalan ke arah Suzu.
"Halo semua... yang di sini apa kabar?"
Saat dia mendekat, semua fans berteriak histeris.
"Zidan.. aku mencintaimu." teriak Suzu.
"Aku juga mencintai kalian." sahut Zidan sambil menunjukan pinger heart di tangannya.
Zidan mengambil ponsel Suzu, dan menyalakan kamera, kemudian ia menghadap belakang, supaya semua fans nya ikut serta dalam foto.
Esok hari, fanmeet kedua. Namun Suzu gak bisa hadir, karna harus mengerjakan tugas kampus yg gak bisa ia tinggalkan.
Sore harinya, Zidan mengajak Suzu bertemu di belakang gedung Shinja. Ia menggunakan topi, jaket tebal, masker dan kaca mata. Supaya tidak ada yg mengenali.
Suzu juga begitu, ia tak menampakkan Wajahnya, karna ia gak mau di serang Fans zidan yg lainnya.
Saat mereka bertemu. Suzu langsung memeluk Zidan karna terlalu kangen.
"Aku minta izin meluk kamu. Aku sangat kangen."
Zidan membukakan maskernya. "Aku juga merindukanmu. kenapa sangat telat menghubungiku. kau ini bodoh sekali." Zidan menepuk lembut kepala Suzu.
"Zidan, kenapa kau ajak aku ketemu diam-diam seperti ini? gimana kalo ada yg menguntit. kan kita bisa video call"
"Aku ingin menemuimu secara langsung. hari ini kami pulang ke Seoul.
btw. tiga bulan gak ketemu, kamu makin cantik." Zidan mencubit pipi Suzu.
"Fans kamu banyak yg lebih cantik dariku. Aku yakin, kau juga mau memeluk mereka seperti kau memelukku. Kau terlalu gombal."
"Nggak tuh, aku cuma mau memeluk kamu aja. Mungkin kamu adalah my first kiss. haha." Zidan tertawa riang.
"Apaan sih, gak usah di bahas. Malu tau.
Udah ya, jangan lama-lama, aku gak mau kau terkena masalah. Sampai jumpa Zidan. moga kita bertemu lagi. Hati-hati di jalan ya."
"Tunggu. waktu itu kau memberiku gelang cantik ini. Dan aku selalu memakainya."
"Hah? kau beneran memakainya? tapi itu murahan loh. apa kamu gak malu?" ujar Suzu heran.
"Aku gak menilai dari harganya. tapi ini sangat berharga bagiku, karna ini pemberian darimu.
Sekarang tutup matamu."
Zidan kembali mendekap Suzu, namun bukan hanya mendekap, ia memasangkan sebuah kalung perak yang sudah ia pesan di toko perhiasan.
Kalung itu khsusus untuk Suzu, liontinnya bertuliskan huruf "SZ" yaitu Suzu Zidan.
betapa kagetnya Suzu melihat hadiah dari Zidan, tentu saja harganya memberikan angka Nol yg panjang. sampe gak bisa di sebutin berapa.
"Silahkan buka mata. Lihatlah lehermu." ujar Zidan tersenyum.
"A...apa ini? kau memberiku kalung? pasti ini mahal ya?" Suzu terus memandangi kalungnya itu.
"Jangan di tanya harganya, asalkan ini membuatmu terus mengingatku, soal harga pun bukan masalah.
Apa kau tau, sejak hari itu, wajahmu selalu terbayang di benakku. Entah apa yg sudah kau lakukan padaku hingga aku begitu susah melupakanmu."
Zidan menggenggam tangan Suzu dan menatap matanya seakan penuh cinta.
"Zidan, jangan berlebihan. Kau di cintai banyak orang. Dan kau mencintai banyak orang. Jangan memberiku harapan. Aku pergi dulu, makasih kalungnya. Aku akan menjaganya selalu."
Suzu pergi dari hadapan Zidan. ia bingung dengan perasaan Zidan.
Tapi dia begitu jelas dengan perasaannya sendiri, dia sangat mencintai Zidan bukan hanya sekedar idola, tapi lebih dari itu.
~
Esok pagi, di kampus Suzu, ia datang dengan senang hati karna terus merasakan keberadaan Zidan di sisinya, walaupun kota mereka berbeda.
Terlihat kerumunan gadis-gadis yang berbincang di depan kampus.
Saat Suzu tiba, mereka tiba-tiba mendekat.
"Ada apa ini?" tanya Suzu heran.
Seorang wanita yang bermata tajam tiba-tiba menjambak rambut Suzu.
"Hei kau gadis jal*ang! kau adalah wanita yg menemui Zidan di belakang gedung Shinja kemaren kan? dan kau juga orang yg mencium Zidan waktu Fansign di Seoul."
"Maaf, aku bukan orang itu. Aku memang kenal dengan Zidan, tapi aku gak pernah menemuinya." dengan rasa takut, Suzu mencoba membela diri.
Sedangkan orang lainnya menunjukkan video rekaman pertemuan Suzu dan Zidan kemarin sore.
Prakkk... !!
Gadis itu menarik paksa kalung Suzu hingga putus.
"Heh, kalung ini yg diberi Zidan? enak sekali hidupmu. ini gak adil." dengan geram gadis itu membuang kalung Suzu.
"Jangan.! tolong kembalikan. kalung itu aku sendiri yg bikin, bukan dari Zidan. tolong balikin..!!" teriak Suzu.
Paakkk... !
Mereka memukul wajah Suzu, dan mengeroyoknya hingga rambutnya banyak yg rontok, pipinya lebam, dan bajunya basah karna mereka siram dengan minuman yg mereka pegang.
Suzu terpuruk di tanah, tak kuat untuk beranjak.
"Bagaimana ini? aku harus mengikuti kelas sebentar lagi. tapi bajuku sudah basah."
Seorang mengulurkan tangannya untuk membantu Suzu.
Cowok yg tampan, berkulit putih, hidung mancung bak artis k-pop itu.
"Boleh aku bantu?" ujarnya sambil mengulurkan tangan.
"Siapa kamu?" tanya Suzu sambil berdiri dengan bantuan orang itu.
"Namaku Park Ji Won. panggil saja Jiwon.
Ada apa denganmu? kenapa bisa kayak gini?"
"Namaku Suzu, aku di kira merebut Zidan dari mereka. jadinya mereka menghakimi aku." jelas Suzu.
"Zidan? penyanyi itu?"
"Iya, apa kau kenal?" tanya Suzu.
"Sudahlah, nanti saja. Sekarang ayo ikut aku. Ganti dulu pakaian kamu, aku ada baju cewek di kantor dosen."
Setelah Jiwon memberikan pakaian pada Suzu, ia pun pergi ke toilet untuk mengganti pakaiannya.
*Astaga, baru segini aja langkahku. tapi aku sudah hampir mati. Hiks... hiks. Zidan, tolong aku. Aku mencintaimu, tapi aku gk mau merusak reputasimu. Apakah aku harus berhenti menghubungimu.*
Suzu menangis sambil menatap wajah lebamnya di cermin toilet.
Drttt... drrrttt..
[Video Call dari Zidan]
"Kenapa kau vc di saat yg tidak tepat. Aku harus gimana? aku gak mungkin tunjukin wajahku." gumam Suzu.
Tiga kali Zidan melakukan panggilan video, namun Suzu masih ragu untuk menjawabnya.
Triiing.... [Notif chat]
^Kenapa gak jawab panggilan videoku? perasaanku mengatakan, kau tidak dalam keadaan baik. Tolong jawab sebentar saja, 5 menit lagi aku mau perform.^
"Gimana ini? ya sudah pasrah saja."
Saat telpon masuk. Suzu langsung menjawabnya. namun ia hanya tertunduk.
^Halo my first kiss. Ahhh kau lagi dalam toilet? kau sedang apa? tolong perlihatkan wajahmu.^
Perlahan Suzu mengangkat wajahnya untuk mengahadap kamera ponselnya.
^Suzu! ada apa dengan wajahmu? kau habis di pukul.^ tanya Zidan cemas.
Suzu hanya mengangguk sambil menangis.
^Siapa yang memukulmu sampai lebam gitu? apakah pencopet? atau orang tuamu?^
Suzu hanya geleng kepala.
^Zu, tolong katakan padaku, jangan membuatku cemas. sebentar lagi aku akan perfom, aku cuma punya waktu sedikit.^
^Ya sudah, matikan saja. Jangan lupa fokus sama perform nya. Aku akan melihatmu di streaming online. telpon saja jika kau punya waktu panjang. Dahh Zidan.^
Suzu langsung menutup telponnya.
Tok..!! tok!
"Suzu, apakah sudah selesai?" ujar Jiwon dari luar.
"Iya.. udah nih. aku segera keluar." Suzu buru-buru menyimpan ponselnya.
Saat dia keluar, Jiwon memberikan kalungnya yang tadi sempat hilang.
"Kau menemukannya? makasih banyak.
Eh, tapi liontin nya patah." Suzu tertunduk sedih.
"Sepulang dari kampus, aku akan mengajakmu ke toko perhiasan untuk menyatukan kembali patahan itu." ujar Jiwon tersenyum.
"Eh, gak perlu. Makasih banyak. biar kusimpan aja.
Oh iya, kamu siswa baru kah? kok aku gak pernah liat."
"Aku cuma kunjungan. Aku kuliah di kota Seoul. Aku kesini cuma seminggu aja." jawab Jiwon dengan ramah.
Ponsel Suzu kembali bergetar, ia kembali mendapat telpon dari Zidan.
"Ada apa lagi dia ini. Bukankah tadi bilangnya mau perform." gumam Suzu.
"Zu, aku pergi dulu ya. sampai jumpa nanti." ujar Jiwon sambil melambaikan tangan.
"Oke, sekali lagi makasih ya."
Saat Jiwon pergi. Suzu mengangkat telpon Zidan.
^Zi, bukankah kau mau perform? kenapa masih menghubungiku.^ ketus Suzu.
^Kebetulan lagi iklan, jadi aku masih punya waktu. Zu, tolong jawab aku. Ada apa denganmu. pliss katakan yg sebenarnya.^ paksa Zidan.
^Zi, ini salahku. Pertemuan kita kemarin ada yg merekamnya. Hingga kampusku heboh. Aku di hakimi oleh Zidanie (fandom Zidan).
Zi, aku minta maaf, sepertinya sampai di sini saja hubungan pertemanan kita. Aku gak mau reputasimu hancur. lebih baik aku yg mundur. maafkan aku. dan terimaksih untuk semua hal yg pernah kau lakukan untukku.^
Suzu menutup mulutnya menahan tangis, namun air matanya sudah tak terbendung.
^Zu, kau salah, jika memang kau mencintaiku, harusnya kau bisa bertahan lebih lama. Karna yg paling lama bertahan itu lah yg menang.^ tegas Zidan.
^Aku mau mempertahankan apa Zi?
hubungan kita hanya sebatas Fans dan Idola. Lagian jika aku berhenti jadi fansmu, maka akan tumbuh ribuan Fans baru tiap harinya. Apa yg kau rugikan dari kehilanganku?
Dan, aku gak mau berharap telalu banyak, dan berhayal terlalu tinggi. dunia kita berbeda, kau dan aku berbeda, dan kota kita berbeda. Ku harap kau selalu bahagia dan terus maju dengan kesuksesan. Terimaksih untuk semuanya.^
Dengan perasaan yg amat sedih, Suzu terpaksa harus menghapus kontak telpon Zidan. mungkin dengan begitu, dia bisa melupakan Zidan.
~
Beberapa hari Suzu absen dari kampus, karna ia takut di bully lagi. Bahkan ia tidak mengumpulkan tugas penting.
Panggilan masuk dari nomor baru.
Suzu ragu untuk menjawabnya. karna ia takut nomor itu adalah Zidan.
Setelah tiga kali berdering, akhirnya Suzu menjawabnya juga.
^Halo suzu, sudah berapa hari kau absen? dan sudah berapa banyak tugas yang tidak kau kerjakan? apakah kau mau ketinggalan kelas? jika tidak mau dapat surat SP, datanglah ke kampus besok!^ telpon itu langsung putus.
"Astaga, ternyata dosen. Terpaksa harus ke kampus."
~
Esok pagi, Suzu sudah menyiapkan pakaian cadangan jika nanti terjadi lagi hal seperti kemarin.
Saat tiba di kampus, ia kaget melihat Fotonya yg tengah ciuman dengan Zidan terpampang di majalah dinding kampus.
Melihat semua itu, Suzu sangat emosi.
"Ini bukan salahku!! ini bukan di sengaja. tau apa kalian hah? jangan menilai orang sembarangan. Aku bukan gadis yg seperti itu..!!" teriak Suzu sambil merobek foto-foto itu.
Kerumunan gadis-gadis itu mulai menghampirinya lagi.
"Oh ya? masa iya tanpa sengaja tapi pas banget mencium bibir."
"Bener.! dan kenapa dia masih berani datang ke kampus ini. Semuanya.. ayo kita bikin dia kapok datang ke kampus.!!" ujar mereka hendak membully.
Mereka mulai melemparinya berbagai macam benda yg mereka pegang. Suzu hendak melawan, tapi jumlah mereka terlalu banyak, dan dia dalam keadaan terdesak.
Ditengah kerumunan, datanglah Jiwon untuk melindungi Suzu, ia mendekap Suzu dan menutupi tubuhnya dengan jaket yg ia pakai.
"HENTIKAN!!" teriak Jiwon.
"Apa yg kalian lakukan di kampus ini? apa kalian di ajarkan untuk membully?
Kuliah itu bukan hanya untuk mendapatkan tittle, tapi juga tata krama yg baik, dan cara bicara yg sopan!
Apa kalian tau aku? Namaku Jiwon, aku anak dari kepala dekan kampus ini. Dan aku di turunkan kesini untuk mengecek keamanan kampus. Aku akan membuat kalian tidak lulus, dengan perlakuan kalian yg bukan seperti mahasiswa.!"
Semua orang terdiam seketika. Lalu Jiwon membawa Suzu pergi dari hadapan mereka.
Suzu benar-benar trauma. ia tidak mau lagi datang ke kampus. Mental Suzu sangat lemah, ia memilih berhenti kuliah.
Beberapa hari kemudian.
Jiwon mendatangi rumah Suzu, ia meminta alamatnya di kantor dosen.
Jiwon sangat kasihan melihat Suzu yg hanya murung akibat bully'an dan ucapan kasar dari teman kampusnya. Selama ini ia tidak pernah mengalami hal itu.
Jiwon membujuknya untuk pindah kuliah ke kota Seoul di kampus yg sama dengannya. dan semua biaya dia yang tanggung. Jiwon juga meminta izin pada orang tua Suzu dan membahas ini sampai larut malam.
Namun keputusan ada di tangan Suzu.
Ia ingin kuliah lagi, tapi jika di kota Seoul, ia takut akan bertemu lagi dengan Zidan.
~
Esok harinya, Jiwon kembali mendatangi rumah suzu untuk meyakinkannya supaya mau pindah ke Seoul.
Setelah berfikir cukup panjang. Akhirnya Suzu mau ikut Jiwon ke kota Seoul, ia juga sudah di restui oleh kedua orang tuanya.
Setibanya di Seoul, Jiwon langsung mengajak Suzu pergi membeli perlengkapan seperti baju, sepatu, tas, dll.
Suzu juga di belikan alat make-up supaya menyamai mahasiswa di sana.
Hari baru mulai di jalankan, sekarang Suzu benar-benar berubah. Ia lebih cantik dengan lensa kontak berwarna coklat di matanya.
Rambutnya yg hitam, di ubah menjadi warna coklat gelap, membuat kulitnya terlihat lebih cerah. Tak lupa, outfit dan semua pakaian yg ia kenakan adalah barang branded.
Ia juga tinggal di apartemen mewah dan luas.
Mobil berwarna putih dan seorang supir pun sudah di sediakan untuk mengantarnya kemanapun ia pergi. Kini hidupnya bak ratu, penuh kemewahan.
"Apa yg kudapat ini pantas untukku? memangnya aku siapa bisa menikmati fasilitas ini.? ini semua gratis, mewah, tapi apakah tidak ada imbalannya?"
Suzu bergumam sendiri di depan kaca mobilnya.
Suara kalkson mobil menyadarkan Suzu.
"Heii suzu, ayo berangkat ke kampus." ujar Jiwon dari jendela mobilnya.
"Baiklah." Suzu hendak masuk ke dalam mobilnya. namun Jiwon kembali memanggilnya.
"Zu, kau harus bersamaku hari ini. Karna ini hari pertama kau masuk kampus. Ayo kemari." ujar Jiwon tersenyum.
"Oh, oke. makasih Jiwon."
~
Tibalah di depan kampus. Jiwon keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Suzu, tak lupa ia menggandeng tangan Suzu.
"Ji, apa yg kau lakukan? ini berlebihan." bisik Suzu saat keluar dari mobil.
"Ini supaya kamu di segani dan di hormati disini. Jika kau bersamaku, maka tidak akan ada yg berani mengganggumu." jawab Jiwon tersenyum.
Suzu keluar dari mobil, dan berjalan perlahan bersama Jiwon.
Hembusan angin menyapu rambutnya hingga terlihat antingan yg berkilau tergantung di telinganya.
Langkah yg tegap, wajah yg imut dan tubuh yg hampir sama tingginya dengan Jiwon itu membuatnya bak model kelas atas. di tambah semua pakaian yg ia kenakan begitu menarik perhatian.
"Wah.. siapa cewek yg datang bersama pangeran kampus? apakah pacarnya?" ujar mahasiswa yg melihat mereka.
Teman-teman Jiwon pun datang menghampirinya.
"Wahh.. ji, siapa dia? pacar kamu?" tanya salah satu sahabatnya.
"Maaf semuanya. Dia adalah sepupuku dari Busan, mulai hari ini dia akan pindah ke kampus ini." jawab Jiwon.
Suzu hanya tersenyum sipu. Ia pun mulai berkenalan dengan semua teman Jiwon.
Saat dalam kelas, semua orang mendekati Suzu untuk berkenalan, ia sangat di hormati. Banyak yg ingin berteman dengannya, ia juga mudah bersosialisasi dengan teman sekelasnya
Tidak membutuhkan waktu lama, Suzu pun terkenal di kampusnya. Ia juga menjadi selebgram karna aktif di IG dan juga wajah imutnya yg menarik perhatian.
Berbulan-bulan ia fokus belajar, hingga bayangan Zidan pun perlahan pudar dari benakknya, ia sama sekali tidak ingin lagi mengingatnya.
Sekarang ada Jiwon yg selalu di sisinya, membantunya dalam segala hal.
Saat ini, Suzu sudah bisa menyetir mobil sendiri, dan sudah lulus dari kursus bahasa inggris. Ia benar-benar jadi gadis yg pintar dan pandai bicara terhadap banyak orang. Ia mempunyai kepercayaan diri yg tinggi.
~
Memasuki semester ke 8. Jiwon menawarkan supaya Suzu membuka bisnis sendiri, mengingat ia seorang designer pakaian (Stylis) sebagai mata kuliah yg ambil.
Ia juga mempunyai banyak pengikut di akun sosial medianya.
Namun Suzu masih bingung harus mulai dari mana.
Jiwon memberikan dana, untuk membangun gedung khusus milik Suzu, supaya iya semangat berkarya dan berbisnis, tapi semua dana itu akan di kembalikan Suzu jika bisnisnya sudah mengeluarkan keuntungan.
Tak lupa, Jiwon juga mengajarkannya cara berbisnis.
Saat ini usia Suzu memasuki 22 tahun, pola pikirnya mulai mateng, dan sikapnya sudah dewasa.
Perlahan ia menjalani bisnis di bantu oleh Jiwon yang sudah lama berpengalaman di bidang bisnis.
Nasib baik berpihak pada Suzu, hanya dalam waktu 3 bulan saja, rancangan busana yg ia buat sudah laris manis di pasaran.
Tak jarang, ia di jadikan sebagai stylis oleh artis-artis ternama.
Saat Suzu mencoba mengikuti lomba fashion, ia sama sekali tak menyangka bahwa ia akan menjadi juara dengan permintaan pembelian busana terbanyak. Tak heran, karna design yg ia buat sangat unik, bagus, dan menarik konsumen.
Malam hari, ia pulang sendirian ke apartemennya, dan menyetir sendiri.
Tanpa sengaja, ia melihat sebuah kotak merah yg terselip di bawah setirnya.
Ia pun mengambil dan membukanya.
Ia kaget, karna itu adalah kalung pemberian dari Zidan. pikiran Suzu mulai mundur ke 2 tahun silam.
"Zidan, walaupun aku gak bisa melupakanmu. Tapi setidaknya aku bisa menghapus perasaanku padamu secara perlahan. Semoga kau juga bisa melupakanku. Dan semoga kau bahagia selalu. Aku syg kamu sebagai masa laluku. Aku akan menyimpan kalung ini sebagai kenang-kenangan bahwa aku pernah mengidolakan kamu."
Setibanya di apartemen, Suzu membawa kotak kalung itu untuk menyimpannya di kamarnya.
Gubraaakkkk...!!
Tanpa sengaja ia menabrak seseorang. hingga kotak kalungnya jatuh.
"Ehh,, maaf tuan, aku tidak sengaja." Suzu membungkukkan tubuhnya untuk minta maaf.
Orang itu mengambilkan kalung beserta kotaknya yg terletak di lantai. Ia melihat sekilas kalung itu sebelum memasukkannya di kotaknya.
"Ini punyamu? jaga baik-baik. jangan ceroboh."
"Iya, itu punya saya, tapi sudah patah. Makasih sudah mengambilkannya." ujar Suzu.
"Tidak masalah." orang itu langsung pergi begitu saja.
*Suaranya.... kenapa mirip Zidan.* batin suzu yg masih menatap pria itu dari kejauhan.
"Sayangnya wajahnya tertutup oleh masker dan kaca mata. aku tidak bisa mengenalinya." gumam suzu.
~
Tiada hari tanpa kesibukan. Kuliah dan bekerja ia lakukan tanpa henti.
Berkat kerja kerasnya itulah Suzu di kenal di korea, bahkan di luar negeri.
Ia selalu menghabiskan waktu bersama Jiwon.
Suatu malam, mereka jalan-jalan ke taman bermain,
"Zu, jangan lupa pakai maskermu. Ahh iya, aku lupa bawa masker, aku beli dulu ya, kamu tunggu di sini sebentar." ujar Jiwon, lalu meninggalkan Suzu.
"Baiklah, jangan lama-lama Ji."
Selang beberapa saat, Jiwon kembali lagi dengan Masker dan kaca mata yg baru ia beli.
"Zu, maaf sudah lama menunggu. Oh iya, kamu mau naik apa?" ujar Jiwon.
"Em.. gimana kalo naik biang lala aja." Suzu menunjuk pada biang lala yg sedang berputar itu.
"Oke siapa takut." tegas Jiwon sambil merangkul Suzu. kemudian mereka menaiki wahana permainan itu.
Selagi menunggu yg lain naik, Suzu dan Jiwon bercengkraman bercanda ria.
"Ji, entah kenapa, aku ngerasa terkadang kau mirip dengan Zidan. Dari caramu bicara, tinggi tubuhmu, dan cara kau memperlakukanku. itu mengingatkanku padanya."
Suzu menatap mata Jiwon, namun Jiwon tak berani menatapnya.
"Zu, apakah kau belum bisa move on dari artis itu? sudah dua tahun berlalu, dan kalian tidak pernah berkomunikasi lagi. Apakah sekarang kau merindukannya?"
Pertanyaan itu menyudutkan Suzu, ia bingung harus bilang apa.
"Ji, aku sendiri gak tau. Aku sudah menyibukkan diri untuk melupakannya. Dia memang tidak selalu ada di pikiranku. Tapi hatiku tidak bisa menghilangkan namanya. Apakah cintaku untuknya terlalu besar? atau hanya ambisi sebagai seorang Fangirl."
Suzu merunduk bingung dengan perasaannya sendiri. Namun ia harus bertekad melupakan seorang Zidan. karna ia sadar bahwa Zidan milik semua fans nya.
Biang lala pun di putar, Suzu teriak histeris saat mencapai puncak tertinggi, ia begitu takut hingga tak berani membuka matanya.
Jiwon mendekapnya sampai permainan itu selesai. Suzu merasa nyaman selama Jiwon mendekapnya.
"Akhirnya turun juga. Jantungku hampir copot. Makasih ya Ji." ujarnya tersenyum.
"Gak masalah cantik. Oh iya, aku ke toilet dulu ya. Gara-gara naik wahana itu, aku jadi kebelet. Jangan kemana-mana Zu." Jiwon buru-buru pergi mencari toilet umum.
Suzu membuka maskernya supaya bisa menghirup udara malam. Ia menghampiri kedai makanan untuk mengisi perut.
Namun ia tak sengaja melihat orang yg berpakaian mirip Jiwon sedang berlari kecil di tengah kerumunan.
"Jiwon? ngapain dia kesana?" gumam Suzu.
"Heii beli apa nih? kebetulan aku lapar." Jiwon menepuk pundak Suzu membuatnya kaget.
"Ehh Jiwon? tadi itu... Aku kayak melihat kamu loh di sana. Ahh mungkin aku salah lihat."
"Iya, kamunya salah lihat, mungkin efek dari lapar. haha."
~
Sehabis dari taman bermain. Mereka langsung pulang ke apartemen.
Letak kamar mereka hanya berjarak satu lantai. Apartemen Jiwon berada di lantai 5, sedangkan suzu di lantai 6.
Saat dalam kamar, Suzu masih memikirkan orang yg mirip dengan Jiwon itu. Karna baju mereka sama persis, sedangkan baju yg di pakai Jiwon adalah baju yg dibuat dan di rancang sendiri oleh Suzu, dan hanya ada satu di dunia.
~
Satu tahun berlalu. Saatnya Suzu dan Jiwon lulus dari belajar, yaitu Wisuda. Suzu sangat berterima kasih pada Jiwon. berkat dialah hidup Suzu banyak berubah.
Suzu sama sekali tidak menyangka bahwa ia bisa menyelesaikan S¹ nya.
Suzu memulai kuliahnya pada umur 19 tahun dikota Busan, lalu umur 20 tahun pindah kampus ke kota Seoul. dan saat ini usianya sudah 23 tahun.
Ia menjadi gadis dewasa yg sangat cantik, berpakaian modern. Hidup mewah. Tak heran banyak pria yg mengincarnya untuk di jadikan istri. Namun selama ini, Suzu sama sekali tidak ingin berpacaran, karna ia lebih fokus belajar dan bekerja.
Berkat kegigihannya dalam bekerja, ia sudah berhasil mengembalikan dana yg di pinjamkan Jiwon padanya.
Suzu sudah membangun rumah megah, bahkan ia sudah memboyong kedua orang tuanya pindah ke kota Seoul.
Sudah satu bulan ia menempati rumah barunya itu. Rumah yg mewah dengan beberapa asisten rumah tangga.
Mobil mewah pun terlihat terparkir di bagasi yg luas dan berjumlah 3 buah.
Malam hari, Jiwon mendatangi rumah Suzu.
"Ada apa Ji? mari masuk." sapa Suzu dengan senyuman.
"Gak perlu Zu, aku mau ajak kamu jalan-jalan aja. Aku lagi pusing, aku ingin berkeliling bersamamu."
Suzu tak kuasa menolak permintaan sahabatnya itu. Mereka pun pergi bersama.
Mereka berbincang dalam mobil sambil membahas bisnis. Namun Suzu kaget melihat poster-poster besar yg terpajang di sepanjang tepi jalan.
Foto Zidan terpampang di mana-mana, bahkan hampir di semua Billboard kota itu.
"Ada apa ini? kenapa aku harus melihat ini? aku sudah melupakannya. Kenapa dia makin mendekat." Suzu tak ingin melihat poster Zidan yg menghiasi sepanjang jalan itu.
"Oh,, kayaknya si Zidan itu mau konser Zu.
Menurut isu yg aku denger di media, ini adalah konser terakhirnya. Karna dia akan hiatus." jelas Jiwon.
Suzu kaget seakan tak percaya. "Loh, kok hiatus? bukankah saat ini dia sedang berada di puncak kariernya?" tanya Suzu penasaran.
"Gak tau juga. Katanya sih masa kontraknya sudah berakhir, dan dia gak mau lanjut lagi. Padahal agensi nya masih memaksa supaya dia tetap dalam agensi itu. kan sayang kalo hiatus dalam kejayaan." lanjut Jiwon menjelaskan.
"Astaga.. aku baru ingat. Benar, kontraknya sudah 7 tahun, dan akan berakhir di bulan ini.
Ji.. aku minta sesuatu boleh?"
"Kamu mau apa? aku akan mengusahakannya." jawab Jiwon.
"Ji, aku mau nonton konser terakhirnya. Tolong carikan aku tiketnya ya. Dan kau juga harus temani aku. Kau harus beli dua tiket. Nanti uangnya kuganti jika tiketnya dapat."
Suzu menyatukan tangannya untuk memohon pada Jiwon.
"Tenang saja, akan ku usahakan ya." Jiwon tersenyum sambil menepuk lembut kepala Suzu.
~
Esok hari, Suzu bersiap untuk pergi menonton konser. Tidak lama kemudian Jiwon menjemputnya.
"Ayo kita pergi. tadi sudah ramai sekali di depan stadion"
Mereka pun langsung masuk mobil, dan melaju perlahan menuju stadion tempat Zidan konser.
"Nih tiketnya. aku nyarinya susah loh." Jiwon memberikan kedua tiket itu pada Suzu.
"Ini..... tiket Vip? kenapa gak beli yg biasa aja."
"Adanya yg itu, ya sudah aku beli. Dari pada gak dapet sama sekali.
Oh iya biasanya konser mulai jam berapa ya?" tanya Jiwon.
"Mulai buka acaranya sore. Biasanya pemutaran mv dulu. Jam 7 malam, baru dia naik stage."
~
Malam hari, konser di mulai. Suzu dan Jiwon berada tepat di depan panggung karna pengguna tiket Vip.
Suzu menutup wajahnya dengan masker, supaya Zidan tidak mengenalinya.
"Zu, kenapa pake masker? aku bawa kamera loh, aku mau merekam keseruan kamu saat nonton konser." ujar Jiwon sambil membuka masker Suzu.
"Jangan, aku gak mau Zidan melihatku. Biarkan aku menggunakan masker ini." timpal Suzu sambil merapikan maskernya kembali.
Konser inti di mulai. Teriakan Fans menggema memenuhi gedung saat Zidan naik stage dan mulai bernyanyi bersama dancer yg mengiringinya.
Tubuh Suzu terasa gemetar saat melihat Zidan di hadapannya. karna mengingatkan kembali pada kejadian 3 tahun yg lalu, saat hubungan mereka masih baik-baik saja.
*Zidan, hari ini aku datang untuk melihatmu lagi. Sudah terlalu banyak yg kulewatkan.
Sekarang kau makin tinggi, makin dewasa, makin tampan dan makin sukses.
Aku sama sekali tidak kenal lagu-lagu yg sudah kau ciptakan sejak 3 tahun terakhir. Semoga kau tidak mengenaliku lagi.* Suzu menahan rasa tangisnya.
Tak terasa, satu lagu telah usai.
Zidan mengawali konsernya dengan menyapa para penggemarnya terlebih dahulu. Teriakan histeris terdengar bergema. namun Suzu hanya merunduk diam.
Zidan menyapa fans nya secara bergilir, dari sudut ke sudut. Hingga ia tiba tepat di depan Suzu.
*Dia masih memakai gelang yg aku beri? itu artinya dia masih mengingatku?* Suzu kaget melihat gelang yg dipakai Zidan dalam konsernya itu.
Zidan meraih ponsel Fans nya yg berada di dekat Suzu untuk foto bersama.
Suzu merunduk diam.
*Andaikan hubungan kita masih seperti dulu, mungkin sekarang kau akan mengambil ponselku untuk foto bersama.
Entah kenapa aku iri dan gak rela kau memperlakukan mereka seperti kau memperlakukan aku dulu. Tapi sekarang semuanya telah berbeda, aku gak boleh egois lagi. Walaupun sebenarnya aku sangat merindukanmu.*
Suzu memejamkan matanya supaya tak melihat Zidan. tak terasa air matanya mengalir begitu saja.
Selama konser berlangsung, Suzu hanya diam tanpa semangat. sementara Jiwon sangat menikmati konser itu dan ikut loncat-loncat gak jelas.
Setelah pulang dari konser, Suzu masih terus terbayang wajah Zidan yg sudah lama ingin ia lupakan.
Tapi entah kenapa perasaan itu datang lagi, bahkan lebih besar dari yg dulu. Ia merasa menyesal telah menonton konser jika harus kembali mencintai seorang Zidan.
~
Esok malam, Jiwon ingin mengajak Suzu makan malam bersama.
Setibanya di sebuah restoran bintang 5. Jiwon sengaja menyewa satu lantai khusus mereka berdua.
Dalam ruangan itu, sudah di penuhi hiasan bunga mawar merah, lampu ruangan yg redup, namun di hiasi oleh cahaya lampu lilin yg menyala indah di setiap sudut ruangan.
Ruangan itu makin tenang dan nyaman dengan suara musik yg romantis dan melow.
"Ji, ada apa ini? haruskah kau menguras uang demi makan malam seperti ini? apa gak terlalu berlebihan?" ujar Suzu.
"Demi melihatmu bahagia, uang bukanlah apa-apa. Silahkan duduk ya cantik." Jiwon membukakan kursi untuk Suzu duduk.
Dengan tatapan mata yg dalam, Jiwon meraih kedua tangan Suzu.
"Zu, aku mau tanya, jangan kau lepaskan tanganku sebelum aku selesai bicara."
Suzu hanya diam, ia bingung apa yg harus ia katakan jika nanti Jiwon menyatakan perasaan padanya, sedangkan ia sama sekali tidak mencintai Jiwon lebih dari sahabat.
"Sebelum aku bicara serius, aku mau tanya hal yg penting padamu. Apakah orang ini masih terkurung di hatimu." Jiwon menunjukkan selembar foto Zidan pada Suzu.
"Ji, ini pertanyaan atau jebakan?
kau tau sendiri gimana hatiku terhadap dia. Aku mencintainya sejak ia debut 7 tahun silam. Dan cinta ini bukan sekedar cinta fans pada idolanya. Mungkin kau berfikir aku sudah gila." Suzu tertunduk malu.
"Apakah caramu melupakannya kurang ampuh? hingga kau sulit untuk move on.?".Jiwon menatap Suzu dengan serius.
"Aku sudah berusaha keras melupakannya, dia sempat hilang dari pikiranku, namun dia sulit hilang dari hatiku. Dia seakan sudah terkunci dalam hatiku. Kenangan yg ia buat terlalu indah hingga aku tak sanggup menguburnya." timpal Suzu bersedih.
"Aku mengerti, Kau masih mencintainya kan?
itu artinya tidak ada ruang untukku dalam hatimu Zu. jujur, aku kecewa." Jiwon melepaskan genggaman tangannya.
Jiwon berjalan pelan menuju jendela yg menghadap langsung ke danau dan pemandangan kota di langit malam.
"Zu, bagaimana jika suatu saat kalian bertemu? apakah kau akan mengakui perasaanmu padanya?
jika dia juga mencintaimu, maka apa yg akan kau lakukan."
Suzu turut berjalan mendekati Jiwon dan berdiri di sebelahnya.
"Jika semua itu benar terjadi, maka aku tidak akan mundur lagi. Dulu aku menyesali karna memutuskan untuk meninggalkan Zidan sebagai idolaku.Tapi sekarang tidak. Karna aku sudah merasa pantas untuknya. Lalu bagaimana denganmu?"
Jiwon menghadap Suzu dan menatap wajahnya.
"Jika kau dan dia bertemu, dan jika kalian saling cinta, maka aku rela melepasmu. Tapi jika hanya kau yg mencintai dia. Maaf, aku akan terus menjagamu dan mempertahankanmu sampai kau menerimaku di hatimu.
Zu, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga."
"Ji, kau pria yg baik. Walaupun aku tidak bertemu Zidan lagi seumur hidupku. Aku tetap tidak bisa menerimamu. karna kau sudah kuanggap sebagai saudaraku."
Mereka saling tatap beberapa detik.
"Hm.. aku faham, aku mengerti perasaanmu."
Drtt... (getaran ponsel Jiwon)
"Zu, aku keluar sebentar ya, mau angkat telpon." Jiwon langsung keluar ruangan sambil menjawab telpon.
Suzu menatap ke luar jendela. Ingatannya mulai mengulang ke masa lalu, di mana saat pertama bertemu Zidan sang idola.
Setelah banyak kejadian yg ia alami selama dekat dengan Zidan, mulai saat itu Suzu berhenti mengidolakan orang yg dia cinta itu.
*Aku tau ini gila, ini gak masuk akal. Semua fans Zidan pasti menginginkan hal yg sama denganku. Pacaran atau menikah dengan idola.
Tapi.. itu mana mungkin, dunia kita berbeda. profesi kita pun berbeda. yg mencintainya bukan hanya aku, tapi jutaan wanita.
Aku berangan terlalu tinggi, hingga aku sangat sakit saat terjatuh. tapi cinta ini? dan kenangan ini, terlalu manis untuk di lupakan.*
Suzu kembali meneteskan air mata. Dia pikir dia sudah bisa melupakan Zidan selama tiga tahun ini. Ternyata tidak. Zidan masih tertanam dalam hatinya.
"Zu, kau masih di sana?" Jiwon kembali masuk, tapi sekarang dia menggunakan masker."
"Ji? kenapa kau pake masker?" tanya Suzu bingung.
Jiwon mendekati Suzu yg masih berdiri di depan jendela.
Kemudian ia membuka maskernya.
Namun..., Suzu kaget melihat itu. Ia seakan tak percaya.
"Zi.....dan??" Suzu menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Ya, ini aku Zidan. idola yg paling kamu cintai." jawabnya dengan senyuman.
Tanpa sadar, Suzu langsung memeluk Zidan.
"Kau kemana saja. Aku sangat merindukanmu. Maafkan aku pergi begitu saja dari hidupmu. karna aku pikir, aku pasti merusak reputasimu."
Zidan hanya diam sambil memeluk dan mengelus kepala Suzu.
*Aku terlambat Zu, dan aku menyesal akan hal itu.* mata Zidan mulai berkaca-kaca.
"Zi? kenapa diam.
Tunggu. di mana Jiwon? dan kenapa kau bisa tau aku ada di sini? sebenarnya apa yg terjadi.?" tanya Suzu bingung.
Zidan mengajak Suzu duduk kembali di kursi.
Kemudian menggenggam kedua tangannya.
"Sebelum kita bahas Jiwon, aku mau menyampaikan sesuatu padamu. Dan ini, kau harus pakai kembali." Zidan menyodorkan kota kalung yg pernah ia berikan pada Suzu.
"Hah? kalung ini? bukankah dia di kamarku ya? kok bisa ada di kamu? dan, ini sudah gak patah lagi." Suzu benar-benar kebingungan dan gak habis fikir.
"Nanti saja ceritanya.
Zu, aku mau minta maaf, dulu aku gak peka dengan perasaanmu, karna aku menganggapnya cintamu adalah cinta seorang fans pada idolanya." jelas Zidan sambil menggenggam tangan Suzu.
"Zi, perasaan fans itu sama, mencintai, menyanyangi dan ingin memiliki. tapi aku sadar, aku tidak pantas untuk orang sepertimu. sedangkan aku, hanya gadis biasa." Suzu merunduk sedih.
"Tidak, kau berbeda. Setelah kau memutuskan untuk berhenti jadi penggemarku, mulai saat itulah aku selalu memikirkanmu. memikirkan hal apa yg sedang kau alami. Dan aku baru menyadari bahwa aku... juga mencintaimu. Bukan sekedar cinta idola pada Fansnya, tp aku mencintaimu dari hatiku."
Suzu tercengang kaget. Ada rasa bahagia juga sedih di matanya. Namun ia bingung dengan ucapan Zidan.
"Tidak, kau bukan mencintaiku. bukankah kau sudah melupakanku? kita sudah 3 tahun tanpa komunikasi, ku pikir ucapanmu itu hanya ingin membuatku senang." sahut Suzu putus asa.
"Zidan benar Zu." tiba-tiba Jiwon masuk menghampiri mereka.
"Jiwon? apa maksudmu?" tanya Suzu bingung.
Jiwon duduk bersama mereka.
"Zu, sebelumnya maafkan ucapanku tadi ya. Aku gak ada perasaan kok sama kamu. Selama ini aku hanya ingin membantu kamu supaya jadi sukses seperti sekarang, itu karna Zidan."
"Hah?" Suzu masih bingung.
"Aku adalah adik sepupu Zidan. beberapa tahun yg lalu, kita berdua trainee bareng, tapi aku mengundurkan diri karna orang tuaku gak menyetujui aku jadi artis.
Zidan itu peduli pada Fans nya, apa lagi kalo penggemarnya membuat hal yg berkesan, seperti yg kau lakukan pada Zidan, yaitu First Kiss."
"Ji, pliss deh jangan di bahas, lagian itu bukan ku sengaja." sahut Suzu malu.
"Hehe iya.. iya.
Zu, kamu inget gak, waktu Zidan jumpa Fans di kota Busan? saat pulang dari sana, dia langsung menghubungiku untuk menjagamu, padahal aku belajar di sini. tapi untungnya kampus itu punya keluargaku, jadi aku bisa melindungimu dari pembullyan itu.
Dan, saat kau di bully, aku menyampaikannya pada zidan, lalu dia menelponmu kan? saat kau di toilet, tapi dia pura-pura gak tau."
"Hah? benarkah?" tanya Suzu sambil menoleh pada Zidan yg hanya diam saja.
"Benar. dan saat kau memutuskan untuk berhenti jadi penggemar Zidan, saat itu dia begitu cemas denganmu. dia takut tidak bisa bertemu denganmu lagi. Maka dari itu, dia memaksaku untuk membawamu kuliah di kota Seoul, apapun caranya. Untungnya aku berhasil membujuk kedua orang tuamu."
Zidan hanya tersenyum mendengar semua cerita Jiwon. namun Suzu masih bengong.
"Kau tau? apartement, biaya kuliah, dana buat membangun gedung bisnis kamu, itu semua adalah uang Zidan, aku hanya perantara." lanjut Jiwon.
"Zi, apa semua itu benar? jadi selama ini kau membiayai hidupku?." tanya Suzu.
Zidan masih diam sambil tersenyum.
"Sudah, nanti saja bahasnya. sekarang aku mau lanjut ngasih tau kamu.
Zu, mungkin kamu pikir Zidan sudah melupakanmu, tapi kau gak tau selama ini dia berada di dekatmu.
Dia tinggal di gedung apartemen yg sama dengan kita, tepatnya kamarnya berada di samping kamarku.
Saat di taman hiburan, yg bermain bersamamu itu adalah Zidan, bukan aku. itulah sebabnya dia selalu pakai masker ketika lagi menyamar menjadi aku.
Saat kau berlatih menyetir, itu juga Zidan yg mengajarimu. Saat pembukaan Grand Opening bisnis kamu, itu juga Zidan yg berada di dekatmu. Jadi, selama ini dia ada disisimu, hingga dia tau perjalanan kariermu sampai ke titik ini." jelas Jiwon panjang lebar.
"Hiks.. hiks.. jadi selama ini, aku bersalah karna sudah melupakanmu. Maafkan aku Zi, kau berpengaruh besar dalam kesuksesanku. Aku bersalah banget sudah meninggalkanmu." Suzu merundukkan wajahnya dengan air mata berlindang.
Zidan dan Jiwon berdiri mendekati Suzu.
mereka merangkulnya bersama.
"Zu, aku berterimakasih padamu. Mungkin aku tidak akan pernah lagi menemukan Fans yg tulus dan selalu mementingkan karier idolanya. Jujur, aku ngerasa sangat terlambat mencintaimu. tapi aku seneng bisa berada di dekatmu selama 3 tahun ini."
Suzu pun berdiri dan langsung memeluk Zidan.
"Aku gak tau harus ngmong apa. Aku hanya bisa berterimakasih Zi, berkat bantuan kamu, aku bisa mencapai titik ini. Aku gak menyesal telah mengidolakan kamu." Suzu masih menangis dalam pelukan Zidan.
"Ehem... " Jiwon yg terabaikan.
"Eh, maaf. Aku juga berterimakasih banyak sama Jiwon, dia juga yg membantuku selama ini, dia yg mengajarkanku banyak hal tentang berbisnis, dia juga yg mengubah semuanya dariku. Makasih banyak untuk kalian berdua."
Suzu memeluk mereka berdua, orang yg sangat penting dan orang yg ada di balik kesuksesan Suzu.
"Em.. aku pulang duluan ya, Kalian silahkan lanjutkan. Oh iya, aku sudah membayar semua biaya sewa restoran malam ini. Aku pulang ya.. Zi, jangan lupa pakai masker saat keluar nanti, atau kau akan di serang Fans."
Jiwon meninggalkan mereka berdua dengan hati yg gembira, karna akhirnya mereka bersatu setelah melalui masa sulit sebagai fans dan idola.
Dalam ruangan yg remang-remang itu, tinggal hanya mereka berdua.
Zidan kembali memeluk Suzu karna rasa rindu nya sudah tak terbendung.
"Zu, hari ini kita resmi pacaran ya, aku gak mau lagi jauh darimu. Aku gak mau lagi kau meninggalkanku. Aku menyayangimu. Aku ingin kau menjadi masa depanku." Zidan mengelus kepala Suzu dalam pelukannya.
"Tapi gimana dengan masa depanmu Zi? aku takut setelah fans kamu tau bahwa kau punya pacar maka mereka akan meninggalkanmu. Dan kariermu pasti menurun."
"Sayang, aku lebih takut kamu tinggalkan, dari pada mereka yg meninggalkanku. Jika memang mereka Fans sejati, dan mencintaiku karna karya dan bakatku, maka mereka akan menegerti bahwa aku juga punya dunia sendiri dan kehidupan pribadi." jelas Zidan sambil mengusap kepala Suzu.
"Aku mengerti, tapi aku takut. Dan juga, bukankah kau tidak memperpanjang kontrak lagi?" tanya Suzu menatap Zidan.
"Itu cuma candaa Jiwon, dia mau melihatmu cemas saja. Dan supaya kau datang ke konserku, karna dia tau kalo kamu belum move on. Hehe.. tiket Vip itu pun aku yg ngasih." timpal Zidan cengengesan.
"Oh gitu?! dasar Jiwon kurang ajar! beraninya dia membohongiku. Tapi sukurlah kalo kamu memperpanjang lagi kontraknya. Aku ingin kau terus berkarya seperti ini." Suzu tersenyum menatap Zidan.
"Hm.. apa nanti kau gak cemburu? Aku pasti di kelilingi banyak cewek loh." goda Zidan sambil memencet hidung Suzu.
"Silahkan saja. Aku gak cemburu kok. Karna aku tau, di hatimu hanya aku. Dan cuma aku yg kau cintai. Ya kan?" sifat percaya diri Suzu mulai meradang.
"Pede sekali. Tapi kamu benar, aku hanya mencintaimu sebagai kekasihku. Aku mencintai mereka sebagai penggemarku.
Oh iya sayang, gimana kalo kamu jadi stylis pribadiku."
"Hah? boleh, aku mau banget." kedua insan itu tersenyum bahagia.
"Btw, tanggal lahir kita sama loh." Suzu tersenyum manis.
"Masa? berarti ultah kita barengan dong. wahh senengnya. kita memang jodoh kayaknya. Oh iya, aku mau di panggil bunny dong. hehe"
"Dih, kayak bocah. Oke deh bunny syg.
Ya udah kita pulang yok. Kayaknya aku harus keluar duluan deh." Suzu mengambil tas nya untuk berisap keluar.
Namun Zidan meraih tangannya. "Tunggu, aku belum memasangkan kalung ini."
Zidan kembali memasangkan kalung yg pernah ia pasangkan tiga tahun silam itu.
Kali ini berbeda, karna perasaan mereka sudah menyatu.
Setelah kalung terpasang, Zidan mengecup lembut kening Suzu dengan penuh cinta.
Malam yg tak terduga itu membuat Suzu sangat bahagia dengan perasaan yg berbunga.
Saat keluar dari restoran, mereka naik mobil masing-masing. Zidan meminta Suzu untuk mengikutinya, namun bukan pulang ke apartemen, Zidan malah mengajaknya ke tempat yg romantis di tepi danau.
Malam itu jadi malam terindah bagi mereka, karna mereka duduk di kursi bawah pohon yg hanya di hiasi lampu jalan itu.
Sembari merangkul Suzu, mereka menatap bulan dan bintang yg makin mempercantik langit malam.
Berpisah dan tanpa kabar selama 3 tahun pun terobati dengan kebersamaan ini, sekarang dan untuk selamanya.
~
Beberapa minggu menyiapkan mental untuk membawa dan memperkenalkan Suzu ke pihak agensi, dan akhirnya hari ini Zidan memberanikan diri membawa Suzu ke kantor.
Zidan memberitahu CEO beserta jajaran, semua staff dan juga artis dalam agensi tersebut bahwa sekarang Suzu menjadi pacarnya sekaligus Stylis pribadi.
Namun, pihak agensi belum menyuruh Zidan untuk mengumumkannya ke publik, demi melindungi reputasi mereka berdua dan demi karier Zidan sebagai penyanyi.
~
Satu tahun pacaran, Zidan mulai memberi tau fans nya kalau dia sudah punya pacar. Namun tidak secara terang-terangan, ia memposting foto makan bersama dengan Suzu yg sedang menggunakan masker.
Saat di tanya media, Zidan belum mengakuinya, ia hanya menjawab bahwa dia hanya sedang dekat dengan seseorang.
Satu minggu saat perilisan album barunya. Pihak agensi mengadakan Fansign selama satu jam.
Tak mau kalah, Suzu pun turut hadir layaknya fans yg lain. Namun ia tetap menggunakan masker, karna kamera fans ada di setiap sudut.
"Heii Bunny.. " Suzu menyapa ketika gilirannya sudah tiba.
Zidan kaget, karna Suzu tidak memberitahunya.
"Kenapa datang ke sini? aku bisa memberimu ratusan tanda tangan, gadi bodoh." Zidan tersenyum sambil memberikan tanda tangannya.
"Aku kesini karna ingin mengenang masan 4 tahun silam. Dari sinilah kita bisa bersama sekarang. Aku bahagia melihatmu semangat seperti ini. jangan lupa bagi aku ya hadiah dari penggemarmu, hehe."
Di tengah percakapan mereka, seorang staff yg menjaga Zidan, datang menghampiri.
"Maaf nona, satu orang hanya di beri waktu dua menit saja, silahkan ada berlalu."
Tak terima pacarnya di usir, Zidan pun berbisik pada Staff tersebut dan mengatakan bahwa dia adalah Suzu.
Staff itu pun langsung minta maaf pada Suzu sambil menyatukan kedua tangannya.
"Gak masalah, Zidan harus adil. Oke aku pergi dulu. Aku tunggu hadiahnya di belakang ya." bisik Suzu sambil mengedipkan mata.
Setahun pacaran dengan Zidan, dan juga bergabung di agensinya, membuat Suzu di kenal semua orang dari agensi itu.
Bahkan dia di segani dan di perlakukan sama seperti Zidan.
Saat ini, Suzu resmi jadi Stylis semua artis dalam agensi itu. Namun ia tetap menjalankan bisnis nya dengan manager baru yg mengambil alih toko designer nya.
~
Sekian lama pacaran dan menyiapkan mental, akhirnya mereka resmi mengumumkan bahwa mereka pacaran, dan juga di setujui oleh pihak agensi. Karna, walau gimanapun, mereka akan tetap memberitahu fans.
Fans yg sejati, mereka sangat mendukung pilihan Zidan, apa lagi pacarnya itu cantik, cerdas dan juga pembisinis. Bahkan penggemar mendo'akan supaya mereka segera menikah.
Bagi yg Fans musiman dan bersifat egois, mereka tidak menyukai Suzu sama sekali, bahkan banyak yg menghujat, bahwa Suzu tidak pantas untuk Zidan.
Mereka maunya Zidan jomblo seumur hidup, supaya mereka gak sakit hati melihat Zidan bahagia dengan wanita lain.
Apakah itu di sebut fans?
bukan, tapi itu adalah ambisi, yg hanya mencintai orangnya bukan karyanya.
Namun Zidan dan Suzu tidak memikirkan hujatan, mereka hanya memikirkan yg benar-benar penggemar setia.
Dan akhirnya, mereka menikah di usia 26 tahun.
Setelah menikah, mereka masih melanjutkan profesi masing-masing. Keromantisan dan kebahagiaan mewarnai kehidupan mereka.
Nama mereka bahkan makin melambung tinggi setelah menikah.
Makin di kenal di manca negara. Suzu juga makin terkenal menjadi Designer international.
Yg bahagia akan bahagia. bagi yg tidak bahagia melihat mereka, cobalah untuk merelakan idola untuk menikah. Dengan begitu maka hatimu lega. dan akan lebih bahagia.
•••
THE END.
salam
ZIDAN & SUZU
Author
OCTHA.SU