***
Ryder membuka kedua matanya perlahan. Hal pertama yang di lihatnya adalah langit-langit ruangan yang ditempatinya.
"Argh…" ia beranjak bangun, terduduk di atas ranjang tidurnya seraya memegangi kepalanya yang terasa pening.
"Apa yang terjadi?" Gumamnya pelan. Ia mendongak, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ruangan itu tampak asing, ia sama sekali tidak ingat dimana ia berada. Tapi di lihat dari keadaan sekeliling, ia bisa simpulkan kalau dirinya saat ini berada di ruang rawat rumah sakit.
"Aku… di rumah sakit?" Ryder mengerutkan keningnya berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ia tidak sadarkan diri, tapi ia benar-benar tidak ingat satupun yang ia alami.
Atensinya tersita saat ia mendapati jendela kamar rawatnya yang terbuka. Angin malam berhembus masuk meniup tirai di sana. Ryder beranjak turun hendak menutup jendela kamarnya agar udara malam tidak terus masuk. Ia menghentikan kegiatannya begitu mendapati langit malam yang begitu indah bertabur bintang.
"Indah," gumamnya pelan seraya mendongak menatap langit.
"Ya… seperti dirimu." Tiba-tiba suara serak menjawabnya, terdengar seperti sebuah bisikan. Dan bersamaan dengan itu, ia merasakan sesuatu merayap di lehernya. Ryder tersentak kaget, wajahnya berubah pucat dan kedua matanya membulat sempurna. Ia menoleh secara perlahan ke arah suara itu berasal, ia begitu terkejut saat melihat sosok mengerikan dengan kedua mata yang melotot tengah tersenyum ke arahnya. Senyuman yang tampak mengerikan, seluruh tubuhnya hitam di penuhi dengan darah yang bau amisnya begitu menyengat.
Ryder gemetar ketakutan, suaranya nyaris tak bisa keluar saking takutnya. Bahkan walau hanya untuk menjerit.
"KYAAA!!!" Sosoknya memekik keras bersamaan dengan itu Ryder di dorong keras hingga terjatuh keluar dari jendela kamarnya yang berada di lantai atas.
"AAAAAAAA!!!" Ryder menjerit keras. Ia membuka kedua matanya spontan dan mendapati dirinya yang masih hidup.
Napasnya tak beraturan, keringat dingin mengucur deras di keningnya, dan wajahnya masih tampak pucat.
Ia bangun dan duduk di atas ranjang tidurnya. Ryder berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan.
"Ternyata hanya mimpi," gumamnya pelan.
"Mimpi itu benar-benar nyata."
Perhatian Ryder tersita pada hal lain, ia baru menyadari kalau dirinya berada di tempat yang nyaris sama dengan tempat dimana ia terbangun dalam mimpinya. Saat ini ia berada di ruang rawat sebuah rumah sakit, ia mengenakan baju piyama pasien rumah sakit, dan sebelah tangannya di hiasi dengan selang infus.
"Apa yang terjadi denganku?" Ryder mengerutkan keningnya. Hal yang terakhir dapat di ingatnya adalah kejadian terakhir saat pertemuannya dengan Cony di dalam kelas, setelah itu ia benar-benar tidak bisa ingat apa-apa.
CLAK!
Sesuatu menetes di bahunya. Sebuah cairan yang terasa kental begitu bersentuhan dengan permukaan kulit tangannya.
Perasaan tidak enak mulai menyelimutinya, dengan perlahan Ryder menatap cairan di tangannya. Ia begitu terkejut saat mendapati cairan yang di sentuhnya adalah darah yang masih begitu segar, dengan bau amis yang dapat jelas dicium indera penciumannya.
Napasnya kembali memburu, ia menelan saliva-nya susah payah. Dengan gerak yang amat lambat, ia mendongak ke langit-langit. Wajahnya semakin berubah pucat pasi begitu mendapati sosok hitam yang menempel di dinding kamar rawatnya, sosoknya mirip seperti yang ada di dalam mimpinya.
"AAAAAAAA!!!" Ryder memekik keras, ia berusaha untuk turun dari atas tempat tidur sampai-sampai ia tersungkur jatuh bersamaan dengan tiang infusnya.
"Hahh… hahh…" napasnya tak beraturan, tangannya gemetar dan jantungnya berdegup kencang.
Atensinya tersita pada sosok lain yang bersembunyi di bawah ranjang tidurnya. Wajahnya lebih mengerikkan di bandingkan yang di lihatnya di atas langit-langit kamarnya. Sosok di bawah sana, memiliki wajah yang buruk rupa, sebagian wajahnya rusak di penuhi dengan darah yang tampak mulai menghitam. Ia tersenyum ke arah Ryder, sebuah senyuman yang benar-benar membuatnya bergidik ngeri.
Makhluk itu merangkak menghampirinya. Ryder semakin keras berteriak ketakutan. Hal itu membuat semua orang yang berjaga di luar kamarnya berdatangan dan berusaha untuk menenangkan dirinya. Suster dan dokter bahkan sampai di buat kewalahan olehnya, tapi beruntung mereka berhasil membuat Ryder tenang walaupun hanya sedikit.
"Ryder!" Hugo tiba bersama dengan Arthur dan Cony. Hugo dan Arthur menghampiri Ryder, terduduk di dekatnya dan berusaha membuatnya sadar. Sementara itu Cony hanya diam memandangi dari arah pintu masuk. Sosok Cony yang tiba membuat kedua makhluk itu ketakutan, apalagi setelah ia menatapnya dan memberikan isyarat pada mereka untuk pergi.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Arthur yang melihat Ryder mulai tenang, ia masih berusaha mengatur napasnya.
"Astaga, pundakmu berdarah, apakah sakit?" Hugo tampak cemas.
"Ayo bantu dia kembali ke ranjangnya, biar saya periksa," ujar dokter yang diangguki keduanya. Mereka memapah Ryder kembali ke atas ranjangnya. Dokter lalu memeriksa keadaannya, dan memastikan dia baik-baik saja.
*
Hugo menyeret kasar Cony menuju lorong lain yang sepi, di lorong itu ia mencengkeram keras kerah Cony penuh amarah.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan pada Ryder?!" Tukasnya penuh rasa kesal, tangannya mencengkeram erat kerah Cony menghimpitnya di dinding sampai-sampai tubuhnya melayang.
Cony kesulitan untuk bernapas, tapi ia masih berusaha untuk tenang dan tidak terpancing emosi.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Bukankah kalian sendiri yang ingin bertemu dengan mereka?" Tuturnya.
Hugo melepaskan cengkeramannya spontan membuat Cony tersungkur di lantai.
"Maksudmu… dia bisa melihat hantu sepertimu?" Arthur angkat bicara. Cony mengedikkan bahu dengan wajah tak bersalah, "kenapa kau tidak bertanya langsung padanya?" Katanya kemudian.
"Kau harus mengembalikannya seperti semula!" Tukas Hugo.
Cony beralih pandang padanya. "Aku sudah memperingatkan kalian sebelumnya, sekali pintu itu terbuka maka jangan harap pintu itu akan terbuka untuk yang kedua kalinya. Karena begitu kau masuk, kau sudah menentukan pilihannya. Dan saat sekali kau masuk ke dalam dunia kami, maka kau tidak akan pernah bisa kembali. Mata batinnya akan terbuka untuk selamanya. Memang bisa di tutup seperti sebelumnya, tapi jika dia tidak kuat… maka dia akan jadi gila."
"Jadi maksudmu dia akan seperti itu selamanya?" Hugo masih berusaha untuk tenang.
"Seiring dengan berjalannya waktu, dia akan mulai terbiasa."
"Kenapa kau bisa menghadapi semua ini begitu tenang?! Apakah kau tidak merasa bersalah atas apa yang telah kau lakukan?!" Emosi Arthur.
"Aku tidak melakukan apa-apa, kalian sendiri yang sejak awal menginginkan semua ini 'kan?"
"Tapi kau… ck! ARGGGHHHH!" Hugo frustasi di buatnya, ia kehabisan kata-kata untuk balik melawan Cony apalagi pada dasarnya semua ini memang salah mereka sendiri. Hugo berusaha menurunkan emosinya, ia berusaha untuk tenang menghadapi semua ini.
***