***
Bel pulang baru saja berbunyi, perlahan satu persatu orang yang ada di dalam ruang kelas XI-III itu mulai berhamburan keluar kelas begitu pelajaran terakhir selesai.
Cony, anak laki-laki yang dikucilkan hanya karena memiliki kemampuan di luar nalar membuatnya sering kali di anggap aneh oleh teman-teman sekelasnya, apalagi setelah mereka mendengar gosip dari sekolahnya dulu. Hal itu membuatnya semakin di jauhi oleh teman-temannya. Ya, Cony adalah anak pindahan. Baru dua Minggu yang lalu ia masuk, awalnya ia mengira kehidupannya akan lebih baik. Tapi ternyata tidak ada yang berubah. Kehidupannya sama saja seperti kehidupan SMA-nya di sekolah lamanya.
Cony saat ini sibuk membereskan semua alat tulisnya ke dalam tas, teman-temannya telah keluar menyisakan dirinya seorang di dalam sana. Tapi baginya, kesendiriannya justru berarti lain. Apalagi ketika ‘mereka’ mulai berdatangan dan mengganggunya. Mereka yang tak kasat mata dan hidup di antara ada dan tiada. Sebagian orang ada yang percaya akan kehadiran mereka, tapi ada juga yang tidak mempercayainya serta menganggap bahwa mereka hanyalah hasil imajinasi yang lahir dari ketakutan manusia.
BRAKK!!
Pintu ruang kelasnya di buka dengan kasar oleh seorang cowok putih tinggi dengan wajah tampan yang di hiasi plester di bagian pipi kirinya. Ryder, itu namanya dan Cony kenal dengannya. Dia adalah salah satu anak yang selalu mengganggunya, bersama dengan kedua teman setianya Hugo dan Arthur, mereka melangkah menghampiri Cony.
"Wah lihat, si aneh yang katanya bisa melihat hantu ini masih duduk di sini," ujar Ryder seraya duduk di meja yang ada di hadapan Cony, sementara itu Hugo dan Arthur duduk di sisi mejanya.
"Haha, kenapa kau masih di sini? Apakah kau memiliki janji dengan teman-teman astral mu itu?" Hugo terkekeh.
"Hahaha." Arthur tertawa di sampingnya bersama Ryder.
Cony diam tanpa kata, ia hanya menatap datar ketiga cowok di hadapannya.
"Tunggu-tunggu! Jangan seperti itu, kalian ingin teman-temannya marah dan mengganggu kalian? Hahaha…" Ryder kembali terkekeh.
"Uuhh, aku takut." Hugo memasang wajah sok ketakutannya.
"Hahaha…" mereka kembali tertawa terbahak. Cony lagi-lagi hanya diam, demi apapun perkataan mereka sama sekali tidak lucu.
"Tapi tunggu, apakah kau benar bisa melihat hantu?" Ryder menghentikan tawanya dan mendekatkan sedikit kepalanya ke arah Cony seraya menatapnya lekat, begitu pula dengan Hugo dan Arthur. "Aku penasaran apakah kau benar-benar bisa melihat hantu, atau kau hanya membual bisa melihat hantu," katanya lagi.
"Haha, jangan-jangan dia hanya berpura-pura bisa melihat hantu," kata Hugo.
"Mungkin saja dia gila, dan berhalusinasi bisa melihat hantu." Arthur terkekeh.
"Hahaha, aku lebih setuju dengan pemikiran mu. Lagipula tidak ada yang namanya hantu di dunia ini, itu pasti hanya karangan dan khayalannya saja." Hugo terkekeh bersama Arthur, sebelah tangannya menunjuk Cony dan sebelah lagi memegangi perutnya.
Cony menatap mereka tajam secara bergantian, ia masih berusia untuk sabar menghadapi mereka.
"Sssstttt! Diam!" Ryder menghentikan tawa mereka dan kembali menatap Cony tajam.
"Katakan! Apakah kau benar-benar bisa melihat hantu?" Tanyanya seraya mengeluarkan seringainya, kedua matanya seakan meremehkan Cony yang katanya bisa melihat hantu.
"Terkadang ada hal-hal yang tidak kau ketahui," jawab Cony akhirnya.
Ryder, Hugo, dan Arthur di buat terkejut dengan kalimatnya.
"Haha, kau dengar itu? Dia berbicara, haha." Hugo tertawa.
"Astaga, lihat ekspresinya tadi. Benar-benar lucu hahaha…" Arthur menirukan gaya bicara Cony.
BRAKK!
Ryder menggebrak meja dengan keras membuat keduanya berhenti tertawa. "Berani sekali kau berbicara seperti itu," ucapnya sembari menatap tajam Cony.
Cony tak menghiraukannya, ia kini mengeluarkan kertas dan bolpoin lalu menuliskan sesuatu di secarik kertas yang di sobeknya.
"Kalau kau memang benar-benar bisa melihat hantu, coba kau panggil mereka dan suruh mereka memberikan tanda kalau mereka benar-benar nyata adanya." Ryder melipat kedua tangannya di depan dada.
Cony berhenti, ia lantas melirik padanya. "Kalian ingin bertemu dengan mereka?" Tanyanya.
"Siapa takut. Panggil saja, lagipula tidak ada hantu di dunia ini," kata Ryder.
"Kalau kau ingin bertemu dengannya, maka panggil lah." Cony menyodorkan kertas di tangannya ke arah Ryder dan kedua temannya.
Ryder beralih pandang menatap kertas di hadapannya, ia meraihnya perlahan kemudian melirik pada Cony.
"Hahaha, maksudmu ini adalah mantra untuk memanggil mereka? Begitu? Cih dasar konyol, haha… ternyata selama ini kau menipu semua orang," ujar Arthur.
"Tapi aku ingatkan, ini adalah pilihan. Sekali kau membuka pintu, maka kau tidak akan bisa membukanya lagi untuk yang kedua kalinya."
"Hahaha, kau berharap aku percaya dengan ini?" Ryder terkekeh menanggapi perkataannya.
Cony menatapnya datar, "jika kau tidak percaya… maka cobalah. Kau akan tahu setelahnya," sahutnya.
"Tidak perlu, aku tidak butuh mantra murahanmu ini!" Ryder menyodorkan kertas itu kembali pada Cony.
"Lebih baik kita pulang daripada menanggapi anak aneh yang tidak waras ini, ayo!" Hugo bersiap untuk pergi begitu juga dengan Ryder yang bersiap untuk bangkit dari duduknya.
"Kenapa? Kalian takut?" Kalimat Cony berhasil membuat mereka berhenti dan menoleh ke arahnya.
"Berani sekali kau meremehkan kami." Arthur kesal.
"Kami tidak takut!" Tukas Hugo.
"Ya!" Arthur menimpali.
"Kalau begitu buktikanlah." Cony mengeluarkan seringainya.
"Baiklah. Dengar! Aku sama sekali tidak percaya dengan yang namanya hantu, dan aku juga tidak percaya denganmu. Tapi kalau kau ingin aku membuktikannya, maka aku akan membacanya!" Ryder meraih kertas itu.
"Silahkan, tapi ingat peraturannya." Cony mengingatkan.
"Persetan dengan peraturan bodohmu itu, aku tidak peduli!" Tukas Ryder yang kemudian memandangi kertas di tangannya dan mulai membacanya.
"A terra, a vento, ab aqua, et ab igni. Vivos et mortuos, visum et invisibile. Voco te, permitte me intrare tuum mundum."
Ryder membacanya dengan keras sehingga Hugo dan Arthur dapat mendengarnya. Wajah Hugo dan Arthur semula berubah pucat ketika Ryder membacanya, tapi setelah ia selesai membacanya air muka mereka berubah bingung.
"Apa itu tadi? Tidak terjadi apa-apa?" Arthur kebingungan.
"Bagaimana? Apakah kau melihat mereka?" Tanya Hugo yang penasaran.
"Tidak sama sekali," sahut Ryder yang memang tidak melihat apa-apa.
"Hey! Kau mempermainkan kami kan?!" Tuduh Arthur dengan ratu wajah kesal.
"Dasar penipu ulung!" Kata Hugo dengan raut wajah kesal sementara Cony yang mereka cemooh hanya diam dan memperhatikan Ryder. Ia menatap lekat cowok tampan yang kini mulai menampakkan gerak-gerik aneh di hadapannya.
"Argh—" Ryder tiba-tiba meringis kesakitan seraya memegangi pundak sebelah kirinya, membuat kedua temannya itu tersentak dan spontan menoleh ke arahnya.
"Ryder, kau kenapa?" Tanya Hugo.
"Aku tidak tahu, pundak ku tiba-tiba terasa sakit," tuturnya seraya memegangi pundaknya. Ryder kemudian menggerak-gerakkan kepalanya, memutar lehernya berusaha meredakan rasa nyeri yang tiba-tiba saja muncul. Rasanya begitu sakit, seperti di tusuk dengan jarum yang begitu tajam, begitulah yang di rasakan olehnya.
Cony masih anteng memandanginya. Apalagi saat melihat Ryder yang mulai merasakan efek dari mantra yang ia berikan.
"Apakah masih sakit?" Tanya Arthur.
"Masih. Rasanya seperti di tusuk dengan jarum," sahutnya. Seraya terus menggerakkan kepalanya, sampai kemudian perhatian Ryder tersita akan sosok mengerikkan yang melayang di langit-langit ruang kelasnya.
"ARGGGHHHH!!!!" Teriaknya ketakutan. Kedua matanya membulat, dan wajahnya berubah pucat. Arthur dan Hugo tersentak kaget.
"Ryder! Kau kenapa?" Hugo mengguncang tubuhnya.
"Kau baik-baik saja? Katakan sesuatu, apa yang kau rasakan?" Teriak Arthur panik. Kedua wajah mereka berubah pucat, apalagi ketika secara tiba-tiba kepala Ryder bergerak seakan di tarik ke arah belakang.
Hugo dan Arthur bergerak mundur, keduanya tersungkur di lantai. Kepala temannya itu nyaris bersentuhan dengan meja yang berada di belakangnya, bersamaan dengan itu Ryder terus memekik keras dengan ketakutan. Suaranya begitu nyaring menginterupsi seisi ruang kelas yang kini hanya di isi oleh mereka.
Cony hanya diam dan memperhatikan, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibirnya. Perlahan sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk smirk.
***
*Binbin Talk
Halo, Binbin di sini.
Ugh, aku dapat ide menakjubkan lagi. Yang lagi-lagi kayaknya seru kalo aku bikin seriesnya. But, let's we see aja wkwkwk
Buat kalian yang mungkin bertanya-tanya itu si Ryder kenapa? Aku bakal sambungin sama yang day challenge berikutnya ya. Yang judulnya "Langit Berbintang."
So, yang penasaran boleh mampir buat tahu kelanjutannya.