***
"Aku hanya bisa mengantarkan kalian sampai di sini, selanjutkan kalian harus pergi tanpa aku karena area ini terlarang untuk di datangi oleh penyihir penjaga sepertiku," kata Hilda begitu mereka tiba di sebuah jalan yang selanjutnya akan mengantarkan Lea dan Serena menuju puncak gunung salju untuk memetik moonlight flower.
"Tidak apa-apa, terima kasih karena sudah mengantarkan kami hingga kemari dengan sapu terbang mu."
"Bukan masalah."
"Kalau begitu kami pamit." Serena tersenyum simpul.
"Ya, sampai jumpa. Aku harap kita bisa bertemu lagi lain kali."
"Sampai jumpa."
Lea dan Serena melangkah pergi dari sana, melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki. Waktu mereka benar-benar hanya tersisa sedikit lagi, nanti malam fenomena full moon atau bulan purnama, dimana bulan akan terlihat secara utuh akan terjadi. Dan ketika malam itulah, tepat di tengah malamnya moonlight flower akan mulai bermekaran.
Semakin lama, udara di gunung salju selatan yang mereka lalui semakin menipis. Lea dan Serena benar-benar di buat tak tahan dengan udaranya, beberapa kali mereka sampai terjatuh karena kaki mereka yang gemetar akibat menggigil. Tapi biarpun begitu, mereka tidak boleh menyerah begitu saja, apalagi perjalanan mereka benar-benar sudah di depan mata.
Malam baru saja tiba dan sang fajar telah berganti peran dengan sang bulan, setelah beristirahat sejenak guna menghangatkan diri dan mengisi perut kosong mereka. Lea dan Serena memutuskan untuk kembali melangkah, perjalanan mereka sudah di depan mata. Hanya tinggal berjalan menuju puncak dan mereka akan menemukan bunga yang mereka cari.
Bulan malam itu tertutupi awan-awan yang bergerak melintas di langit malam, tidak ada terlalu banyak bintang malam ini, tapi sinar sang rembulan tampak begitu terang walau tertutupi awan.
"Kita harus cepat, waktu kita semakin menipis," ujar Lea pada Serena.
"Iya, kita hanya memiliki waktu beberapa jam agar bisa tiba di puncak tepat waktu sebelum full moon tengah malam nanti terjadi." Serena terus melangkah, salju yang tebal membuat jalanan tidak terlalu jelas. Beberapa kali ia tersungkur dan tidak bisa bangun, tapi beruntung Lea selalu hadir untuk membantunya.
"Kita pasti bisa! Ayo semangat!" Lea menyemangati seraya membantunya bangun.
"Ya, kita bisa," sahutnya.
Mereka kembali melangkah tapi semakin tinggi mereka berjalan menuju puncak, semakin menipis pula jarak pandang mereka dengan puncak gunung tempat dimana moonlight flower itu berada. Lea menghentikan langkah kakinya begitu ia mulai kehilangan arah, apalagi ketika sang rembulan yang tiba-tiba lenyap begitu saja dari pandangan nya.
"Gawat. Bagaimana ini? Kita kehilangan arah." Lea terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling berusaha mencari jalan yang benar.
"Kita bukan kehilangan arah, hanya saja sepertinya kita mulai memasuki area perlindungan bunga itu."
"Area perlindungan?"
"Area dimana kita akan kehilangan arah dan akhirnya tersesat dan mati beku. Tapi tenang saja, kita masih tetap bisa menemukan puncak dan mendapatkan bunga itu!"
"Caranya?"
"Menurut beberapa cerita yang aku dengar dari warga desa, ada sebuah bunga yang tumbuh di sekitar gunung ini. Nama bunganya adalah sparkle flower, bunga itu bercahaya. Kita hanya perlu menemukan bunga itu agar kita bisa melihat jalannya."
"Kalau begitu ayo cari! Sebelum waktu kita habis."
Lea dan Serena beranjak mencari sparkle flower, bunga yang bersinar dalam kegelapan yang mampu menuntun mereka menuju jalan yang benar agar bisa sampai di puncak dan lepas dari kawasan perlindungan. Setelah hampir berjam-jam lamanya mereka mencari, akhirnya Lea menemukan bunga itu tertanam. Mekar di antara salju tebal yang menyelimuti seluruh bagian gunung. Begitu menemukan sparkle flower, Lea segera pergi bersama Serena melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak.
"Ketemu!" Ucapnya saat kedua matanya berhasil menangkap cahaya dari puncak gunung yang mereka yakini adalah kilauan dari kristal di bunga moonlight flower.
"Lea, lihat!" Serena menunjuk ke arah udara. Awan-awan mulai bergerak menjauh dari bulan, menandakan waktu mereka benar-benar hanya tinggal sedikit lagi.
"Kita harus cepat."
Lea dan Serena kembali melangkah, hanya tinggal beberapa puluh meter lagi saja agar mereka bisa tiba di puncak gunung dan mendapatkan moonlight flower.
Awan di atas sana terus bergerak menjauh dari bulan, Serena dan Lea semakin di buru waktu. Mereka harus tiba sebelum bulan itu terlihat secara utuh, dan membuat bunga-bunga itu mekar.
"Sampai!" Lea dan Serena akhirnya tiba di puncak gunung salju selatan. Napas mereka terengah-engah, mereka berhenti sejenak berusaha mengatur napasnya.
"Lea, cepat!" Serena berteriak panik saat di lihatnya bulan mulai terlihat utuh. Lea bergegas berlari menghampiri bunga moonlight flower yang jaraknya sekitar lima meter dari arahnya. Bergegas ia berjongkok memetik satu bunga, dan bersamaan dengan itu fenomena full moon terjadi.
Lea beranjak bangun, berdiri dengan tangan yang kini sudah berhasil memetik satu bunga. Mengangkat tinggi bunga itu di udara dan membiarkan cahaya bulan meneranginya. Kuncup bunga itu perlahan bergerak, ada satu hal yang tidak di sadari Lea dan Serena sejak tadi.
Tanpa sadar setitik air yang telah mengkristal dari bunga itu menetes di tangannya, dan bersamaan dengan bermandikan cahaya bulan. Lea mulai merasakan sesuatu yang berbeda dengan tubuhnya.
Lea membulatkan kedua matanya saat ia merasakan beberapa tubuhnya terasa berbeda.
Serena yang sadar ada yang berbeda dengan Lea bergegas ia menghampirinya dengan raut wajah panik.
"Lea, ada apa? Kau kenapa?" Tanya Serena. Lea melirik ke arahnya dengan kedua mata yang masih membulat sempurna.
"A-air…" gumamnya dengan sedikit terbata, ia masih berusaha tenang dan menguasai dirinya.
"Air? Oh, astaga… jangan bilang kalau kau…" Serena melirik ke arah bunga yang di genggam Lea dan mendapati bunga itu telah mekar sempurna dan tetesan air yang semula mengkristal menghiasi kuncupnya, lenyap di serap tangan Lea.
"Kita harus bergegas pulang. Kita cari bantuan Hilda untuk membantu mencari ramuan untukmu," katanya panik. Lea menganggukkan kepalanya pelan.
Serena segera menuntunnya turun, dengan bantuan sparkle flower mereka turun dari gunung itu. Lea dan Serena mulai berlari dalam balutan salju. Tapi semakin mereka turun, Lea semakin merasakan perubahan dalam tubuhnya.
Tubuh Lea yang semula begitu kedinginan, tiba-tiba saja terasa lebih hangat di bandingkan sebelumnya. Dan udara yang semula terasa dingin, kini terasa sebaliknya.
Lea menghentikan langkahnya. Serena menoleh. "Kenapa kau berhenti? Kita harus bergegas!" Katanya.
"Tanganku…" Lea menatap kedua telapak tangannya, entah kenapa rasanya udara dingin di sekitarnya terserap ke dalam kedua telapak tangannya.
"Ada apa dengan tanganmu?" Serena mengecek, tapi begitu permukaan kulitnya bersentuhan degan tangan Lea seketika bagian kulitnya membeku. "Argh—" Serena tersentak kaget begitu pula dengan Lea.
"Astaga, kau tidak apa-apa?"
"Efeknya mulai muncul."
"Apa?"
"Kekuatan… kau mendapatkan kekuatan super dari tetesan bunga itu."
"Huh?" Lea melotot terkejut dengan kalimatnya.
"Ya, saat kau merasakan tubuhmu mulai berbeda. Itu artinya efeknya mulai merasuk ke dalam seluruh tubuhmu, dan kekuatan itu kini mulai muncul. Oh, dan coba kau ingat-ingat lagi. Bukankah Hilda bilang tidak ada yang bisa memetik bunga itu dengan mudah? Tapi kau berbeda, kau bisa meraihnya dan bahkan ketika kita turun, kita turun lebih cepat!"
"Oh… kau benar!"
"Itu berarti kekuatannya mulai muncul tanpa kita sadari!"
"Ya, kalau begitu ayo kita bergegas. Dengan kekuatan yang aku miliki sekarang, aku bisa membantu."
"Ng." Serena mengangguk dan bergegas berjalan.
"Tunggu!" Lea menahannya. Entah kenapa tiba-tiba ia mendapatkan ide untuk membuat sebuah kereta luncur agar mereka bisa pulang lebih cepat. Dengan kekuatan es yang ia miliki, ia membuat kereta luncur. Mengendarainya secepat mungkin agar bisa tiba di Imagitopia lebih cepat.
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka tiba di Imagitopia yang kini tampak hancur. Api berkobar dimana-mana membakar seluruh desa, dan peperangan masih berlanjut.
"Oh, astaga…" Serena tak bisa berkata-kata di buatnya.
"Tidak ada waktu! Cepat!" Lea mengintruksikan. Bergegas mereka lari menuju gerbang rahasia, masuk ke dalam sana agar bisa tiba di istana.
Tapi di dalam istana, langkah Lea berhenti begitu ia mendapati prajurit yang tampak mulai kelelahan menghadapi penyerangan yang ada.
"Aku harus membantu mereka," gumam Lea yang di dengar Serena.
"Apa maksudmu?"
"Bawa bunga ini pada menteri tua itu. Aku akan membantu mereka menghadapi musuh."
"Tapi…"
"Cepat! Kita tidak punya waktu lagi!"
"Hati-hati." Serena menepuk pelan pundaknya sebelum pergi dari sana.
Lea bergegas mencari tempat tinggi, ia lalu melangkah naik ke atas dinding yang membentengi kerajaan. Di sana sudah ada banyak prajurit yang sibuk memanah setiap musuh yang ada. Lea berhenti di antara mereka, ia mulai memfokuskan diri. Memusatkan seluruh energinya pada kedua tangannya, ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan bersamaan dengan itu salju yang menyelimuti Imagitopia mulai bergerak, lalu dalam satu kali hempasan tangannya. Semua prajurit musuh berubah menjadi es.
Semua orang beralih pandang ada Lea, ia begitu terkejut saat menyadari gadis itu berdiri di sana.
Pertempuran berakhir, dengan bantuan dari Lea semuanya berhasil di selesaikan. Prajurit musuh kalah tak tersisa dan mereka berhasil mempertahankan Imagitopia agar tidak jatuh ke tangan musuh.
***