Rifky NovRian, cowok manis yang memiliki kehidupan yang terbilang cukup menyedihkan. walau ia memiliki semuanya tetapi rasa kesepian yang begitu mendalam menjadikan kendala terbesar dalam hidupnya. ia yang kesehariannya terlihat behagia namun sebenarnya memendam begitu banyak luka. luka yang membuat segalanya menjadi bagaikan serpihan kaca yang tidak akan bisa kembali seutuhnya.
walau begitu ia tetap mampu mengendalakin nya sampai ia menemukan titik balik untuk meusaikan semuanya.
Cerita ini didasari atas hayalan semata, jika ada yang tersinggung harap maklumi saja^^
-Skip-
Rian bersandar ditepi koridor kamarnya yang berjarak 5 lantai dari bawah bagunan utama. Gelas yang berisi agur merah tertera ditangannya. Ia bersandar ditepi pagar apartemen degan mata melihat-melihat panorama sekita hingga matanya tertarik lepas akan seseorang dsamping bangunan itu.
Seorang gadis berabut panjang memiliki paras yang jelita tengah berlari keluar dari perkomplekan rumah susun yang ada disana. Ia berlari sambil mengengam tangga yang cukup panjang ditagan nya.
Gadis itu adalah bi Pipit yang juga karyawan dikantin sekolahnya. Jika libur datang ia bekerja sampingan menjadi asisten rumah tangga dirumah buk Memei yang kebetulan selokasi degan apartemen Rian.
Setelah itu Rian pun melepas pandangannya kebawah. Disana ia melihat akan perkomplekan yang tertera rapi dipingiran alun-alun tepat di sekitar apartemen nya.
Kring...
Ponsel yang berada disaku-saku celananya tiba-tiba berdering. Rian pun mengambilnya lalu memperhatikan sms dari nyokapnya.
"Sayang mama sibuk akhir-akhir ini, mungkin mama dan papa belum bisa pulang buat rayain ulang tahun kamu, tapi mama janji, ulang tahun berikutnya mama pasti akan pulang"
Sebuah pesan yang membuat Rian tersenyum pahit menerima kenyataan jika dia anak yang terabaikan oleh orang tuanya. Bahkan jika mempunyai uang yang selipat gandanya tidak membuat Rian meresakan apa itu kebahagian.
Kukuriuk...
Pagi harinya, Cuaca yang begitu tidak bersahabat, sama seperti hari-hari sebelumnya.
Rian kembali bersadar, kali ini bukan di koridor namun diatas sofa yang berada diruang tamu. Pagi ini ia tidak masuk sekolah. alasannya, jika ia sakit dan tidak bisa datang.
Dipagi yang agak mendung ini Rian hanya mengabiskan waktunya untuk memulai hal-hal yang baru bahkan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Ia mengabil beberapa batang rokok lalu menghirupnya untuk menengkan beban pikiran yang menganjal dihatinya, Usai harapannya sirna begitu saja.
Setelah setegah hari ia melepas lelah, Rian pun akhir nya memutuskan untuk menulis sebuah surat, bukan surat wasiat melainkan surat yang akan ia berikan kepada della. ya... della, cewek yang sudah lama ia taksir.
Sesudah surat itu siap ia tulis, Rian pun memutuskan untuk mengatarnya kerumah sekolah. Degan diantar pak Jody, sopir pribadinya, Rian tiba tepat pas waktu keluar main berlansung.
Ia melihat dari pintu pagar menemukan jika della tengah berjalan berdua degan Adit, cowok yang baru pindah pada bulan kemaren. Tawa yang begitu tentram dari mereka membuat Tangan Rian tergepal erat diarea pagar degan pandagan menusuk.
Rian menjadi termenung sesaat, mengigat perkataan faruq kemaren. perkataan yang membuat hati Rian kembali memanas.
"Tadi gue lihat, kalau gebetan lo kencan buta diresto deket tanah abang, kayaknya mereka udah jadian"
perkataan yang singkat namun membuat dirinya tidak dapat berkata-kata.
Setelah itu, Rian berjalan kearah pak somad yang tengah berdiri degan topi menghadap kebelakang, seperti seorang pereman.
"pak" ucap rian pelan.
namun tidak ada sahutan.
"pak!" teriak rian yang lansung membuat pak somad sontak keget.
"siap pak" teriak pak somad yang terbagun dari lamunannya. kemudian pak somad melihat kesampingnya menemukan Rian degan tubuh dibalut switer dan celana sobek.
"Eh nak rian, ada apa, kok ngak masuk sekolah" tanya pak somad beruntun.
"lagi ngek enak badan pak" jawab Rian, kemudian ia menyodorkan sebuah kotak kepada pak somad.
"Pak, tolong berikan kotak ini kepada Della" ucap Rian lalu berlalu pergi.
"Nak rian, ini isinya apa?" Tanya pak somad sambil melirik kotak surat itu.
Rian berhenti sejenak seraya menoleh kearah pak somad. "Bukan apa-apa, hanya secerik kertas degan tulisan angka, yang mengadung beribu makna" ucap Rian lalu melanjutkan langkahnya.
"Beribu makna..." Pak somad mengulangi pelan ucapan Rian degan tangan megusap-usap kepala sambil memandagi kotak itu.
****
Setelah dua hari berlalu, Rian tidak lagi menampakan wajahnya diarea sekolah. Juga rumahnya yang kini terlihat begitu ramai degan resah risih orang melayat.
Setelah melakukan atopsi pada minggu kemaren, pemeriksaan pun akhirnya menyatakan jika Rian dikabarkan sudah meningal pada saptu kemaren. Rian meningal bukan karna isidenth dibunuh melainkan karna bunuh diri. Semua kerabat dan keluarga dekat nya bersedih atas kemalangan yang menimpa Rian, begitu juga degan teman-temannya.
Mereka yang terlihat termenung dengan wajah terisak menatap jenazah Rian yang sudah diabalut kain putih.
Ucapan sedu pun begetar dai mulut faruq, ia mencium tangan rian lalu menatap wajahnya sambil mengelus degan lembut rambut rian.
"Yan... gua minta maaf, kalau gua pernah buat lo jengkel, gua ngak bermaksut yan..."
Faruq kemudian berjalan keluar degan wajah menahan tangis. Naufal dan putra pun juga lansung menyusul faruq setelah mereka berdoa untuk keselamamtan rian.
"Ruk... gua ngak nyangka jika Rian akan pergi secepat ini" ucap naufal kepada faruk.
Faruk meberhentikan langkahnya lalu menoleh kapada naufal dan putra.
"Gua juga fal. Lo lihat mereka" faru melirik kearah orang tua rian yang terduduk disamping jenazah Rian.
"Gua pernah kehilangan orang yang gua sayang dan rasanya itu bener-bener sakit" lirih faruq degan tatapan kosong.
Naufal dan putra pun ikut menatap kosong kearah orang tua Rian. mereka melihat bertapa sakitnya orang tua Rian saat melihat anaknya yang sudah tidak ada didunia.
"Sayang...maafin mama ya. Mama belum bisa membuat kamu bahagia. Mama ngak bisa menjaga kamu sepenuhnya, mama minta maaf sayang..." Lirih mama Rian saat melihat wajah anaknya yang sudah kaku dibalut kapas di area hidung dan telinga.
Wajah rian yang semula mengambarkan kesedihan kini malah tersenyum saat orang tuanya melangkah lalu mencium dahi Rian degan air mata yang meluncur deras dipipi.
Gilang makmur, sang ayah hanya bisa meratapi tubuh Rian yang sudah tidak lagi beryawa. Ia merasa sangat menyesal telah menyia-nyiakan anak semata wayangnya ini demi sebuah pekerjaan semata.
***
Setelah jenazah Rian selesai dimakankan, semua warga yang melayat pun akhirnya pergi dan yang tinggal hanyalah keluarga dan teman-teman dekat Rian.
Arwah Rian yang sedari tadi berdiri dibalik pohon beringin kini nampak meratapi kepergian raganya. Ia berjalan bertelanjang kaki degan wajah muram, jiwanya yang masih belum tenang terlihat engan untuk masuk ke dalam liang lahat.
Sesudah air mawar terakhir disiramkan kearea makan, keluarga Rian pun juga akhirnya pergi degan kesedihan yang berlarut-larut.
Kini area TPU sudah tidak ada lagi yang datang, susana nya pun menjadi semakin seram. Namun keseraman itu tidak belaku untuk gadis beparas ayu ini.
Ya, itu Della. Della diam-diam datang degan mengengam bungga dan air mawar ditangannya.
Disana ia terdiam degan wajah dibendung air mata, ia masih tidak percaya jika Rian pergi begitu saja dari dunia ini.
Tangan della bergetar saat tangan nya menyentuh permukaan tanah. Ia lalu menyibak bunga-bunga diiringi isakan tangis nya. Kemudian di bukanya perlahan surat yasin yang akan ia antrakan untuk Rian. Degan suara lantang Della membacanya.
Setelah Doa selesai dibacakan, ia kemudian menuangkan air mawar kedaerah batu nisan yang disusul degan bunga-bunga kecil diarea tanahnya.
Della terlihat sangat sedih mendegar kabar yang baru terima, jika ia lah yang membuat Rian menjadi seperti ini. Ungkapan demi ungkapan lirih pun terdegar sedu dari mulut Della. ia tersenyum pahit sabil berkata jika ia akan memperbaiki kesalahanya yang telah ia perbuat dimasa lalu.
Kata maaf juga tidak henti della lontarkan kepada Rian, mengenang perbuatan nya dimasa lampau membuat Rian patah hati. Tapi itu semua belum ada penjelasan dari mulut nya sendiri, jika ia tidak punya hubungan apa-apa degan adit.
"Sumua ini hanya salah paham yan..." hiks
Mendegar tangis Della yang begitu isteris, Rian lansung memundurkan langkahnya degan wajah kecewa. Walau Rian tidak dapat dilihat, namun ia yakin jika Della pasti tau keberadaan nya sekarang.
"Dell...! ayok balik"
Suara itu membuat wajah rian memanas kemudian ia melirik kearah asal suara itu.
Della yang mengenal suara itu lansung keget lalu menoleh kebelakang menemukan seorang pria yang bepakaian serba hitam tengah berdiri tidak jauh dari lokasi Della berada, tangan nya melambai kearah Della degan seyum yang membentuk kerutan di area ujung matanya menyipit.
Della segera meyapu air matanya. Kemudian bangun dari duduk jongkoknya lalu berajalan kearah Adit degan seyum yang mengiasi lekuk wajah nya.
"Adit...kamu ngapain disini?" Tanya Della sambil berlari kerahnya.
"Cuacanya lagi gerimis, jadi aku bawain kamu payung" Adit menyodorkan sebuah payung yang sudah mengembang kepada Della.
"Makasih" ucap Della, mengabil payung itu.
"Rian juga sekelas degan kita. Masa kamu ngejenguk aku ngak, kan ngak enak" balas Adit.
Della balas tersenyum.
"Hmm, yaudah, cuacanya semakin gelap, yok pulang" ajak Della yang dijawab agukan oleh Adit.
Adit dan della pun meningalkan TPU. Mereka berjalan ketepat pakir mobil yang tak jauh dari sana.
Pak husen, sopir della lansung membukakan pintu mobil lalu mempersilakan mereka untuk masuk.
"Wah... pak husen demem nih, lihat kalian berdua. bener-bener Cocok" ucap pak husen sambil mengarahkan jempolnya kehadapan mereka disusul degan tawanya.
Della dan Adit terseyum degan wajah dipenuhi rasa salah tingkah.
"Doain ya pak" ucap Adit yang juga ikut tertawa.
"Dit, kamu apa-apaan sih" ujar Della sambil menyengol tubuh Adit.
Aww... "lihat kan pak, Della aja setuju" cengir Adit sambil mengelus-ngelus lengan nya.
"Haha... kalian ini, buat bapak iri aja" sahut pak husen sambil melihat mereka dari kaca spion.....
...Tamat...