Bab 4 Usaha Keripik
Pagi ini, aku mendapatkan orang yang akan membantuku membuat keripik. Dengan bahan sisa yang ada, mereka mulai setelah kuajarkan. Kulanjut menyiapkan sarapan untuk Dinta dan Danis. Lalu berangkat ke TK bersama Danis yang sudah masuk nol kecil.
Mulai hari ini, kantin akan aku isi dengan makanan ringan saja, agar tidak repot. Selepas pulang nanti aku berencana ke petani pisang dan singkong, meminta dikirim stok barang lebik banyak dari biasanya.
Seminggu sudah berlalu, Mas Agam belum juga pulang. Pun tidak memberi kabar. Keripik - keripik produksiku juga sudah kupasarkan melalui story WA. Banyak warung desa lain yang ikut memesan. Ada tiga toko di pasar juga yang meminta distok.
Rasa yang lebih enak, menjadi alasan makanan ini semakin laris di pasaran. Namun, aku percaya bahwa semua merupakan kemudahan yang allah berikan.
Untuk sementara, aku belum ada keinginan untuk menyusul Mas Agam. Pesanan yang semakin banyak membuat waktuku tersita untuk mengembangkan bisnis ini. Meskipun beberapa kali Danis bertanya, aku masih bisa membuat anak ini sabar menunggu ayahnya pulang.
Tujuh hari berjalan, aku sudah menambah karyawan menjadi empat. Ada satu dari mereka yang bisa mengendarai motor, bertugas mengantar ke toko dan warung - warung. Selain empat toko di pasar, sudah sepuluh warung di desaku yang menjadi langganan. Serta ada dua puluh warung di dua desa lain yang sudah kustok keripik selama tiga hari ini.
Aku sengaja menggunakan sistem bayar lunas, agar keuntungan bisa langsung kuhitung. Stok yang kukirim juga tidak terlalu banyak, hal ini menghindari barang tidak laku, bisa jadi kerugian. Karena perjanjian awal, barang yang tidak laku akan di tukar dengan yang baru.
Malam ini kuhitung laba bersih yang didapat. Alhamdulillah, hasilnya mencapai dua juta rupiah. Sebuah awal yang bagus, menurutku. Tak lupa, kusisihkan sepuluh persennya untuk kuberikan pada Mak Tarni dan Mak Siti, janda sebatang kara yang dekat rumah ibu.
Aku sudah berniat memberi label keripik dengan nama DD snack, singkatan dari Dinta dan Danis. Hari - hari besok, aku akan mempromokasikan kerumah makan dan kafe tempat nongkrong anak muda. Dan tidak menutup kemungkinan, akan kutambah lagi keripik jenis lain, jika ini sudah berjalan lancar. Selain usahaku semakin besar, tentunya bisa menyerap tenaga kerja, memanfaatkan tenaga ibu - ibu rumah tangga supaya mereka memiliki penghasilan.
Untuk urusan kantin sekolah, aku akan mempekerjakan salah satu ibu wali murid yang setiap harinya mengantar dan menunggu anaknya hingga pulang. Dengan seperti ini, perkejaanku tidak terlalu berat. Dan di sisi lain, memberikan rejeki pada orang.
Produk kecantikan dari Afifah sudah mendarat dua hari setelah telfon malam itu. Sudah kuiklankan ke teman - teman guru TK. Aku pun sudah mulai menggunakan. Benar kata Afifah, produk ini bagus untuk wajah dan tidak menimbulkan ketergantungan.
Kesibukanku mengurus bisnis nyatanya tak hanya membuat lupa akan masalah Mas Agam, tetapi juga menurukan berat badan. Wajah semakin bersih memudahkanku untuk gencar mempengaruhi teman - teman agar memesan produk kecantikan padaku. karena dalam menjual kita harus punya bukti terlebih dahulu.
Sepuluh hari pakai NS Glowing sudah memberi hasil nyata, aku semakin sering berswafoto. Tujuannya supaya teman - teman melihat perbedaan pada wajahku. Supaya mereka semakin tertarik dalam beralih perawatan wajah pake produk ini. Namun, semua story kusembunyikan dari Mas Agam serta keluarga besarnya. Biarlah mereka tidak tahu tentang aktivitasku saat ini.
Sore itu hari keempat belas Mas Agam meninggalkan rumah. Aku sendang mendampingi anak - anak belajar. Tengah asik mengajari mereka, pintu rumah diketuk agak keras. Aku berpikir jika orang itu sedang marah. Setengah berlari, segera kubuka kenop pintu. Dan betapa terkejutnya aku saat mengetahui tamu yang datang dengan raut muka yang tidak bersahabat.
Mencoba tersenyum saat hendak menyalami tamuku, tetapi tanganku ditepis olehnya, Bapak mertua Bapak Hanif. Ia datang bersama Mbak Eka. Setelah di persilakan masuk, keduanya melangkah kedalam rumah.
"Langsung saja, Nia, bapak mau bertanya. Kamu apakan Agam sehingga ia pulang kerumah kami dan menangis? " Bapak mertuaku langsung bertanya tanpa basa basi.
Aku ternganga di tempatku berdiri. Pria yang sudah beranak dua dan berprofesi sebagai seorang pendidik, punya masalah yang disebabkan oleh dirinya sendiri, mengadu pada orang tuanya? Aku bingung harus menjelaskan dari mana.Toh, aku juga sudah paham mereka berada di pihak siapa. Akankan penjelasanku ini penting? Wajah Mbak Eka aja terlihat sinis saat memandangku.
Segera kuatur napas,agar bicara yang kusampaikan ini, tidak berujung emosi. " Bapak, kalau Mbak Eka di beri nafkah yang tidak cukup dan harus berjuang keras agar tidak hidup kekurangan, kemudian Mbak Eka tahu jika suaminya berbohong tentang gajinya,apa Mbak Eka diam akan saja? Tidak akan menanyakan hal ini kepada suami?
Mbak Eka objek percontohan segera membuang muka. Sementara bapak mertua masih menunjukkan muka masam.
" Jangan bawa - bawa namaku ke dalam masalah kamu, Nia. Kita jauh berbeda. Adikku PNS. Kamu harus bersyukur nikah sama dia. Hidupmu terjamin, wajah kamu aja kelihatan bersih. Mana bisa kamu perawatan kalau tidak memakai gaji suamimu? Gak tahu diuntung, pakai ungkit uang yang dikasih ibu segala. Masih lebih banyak yang dikasih ke kamu, Nia daripada ibuku." Mbak Eka bicara dengan nada sedikit tinggi dan ketus.
" Banyak kata Mbak Eka? Mbak, uang Lima ratus ribu itu banyak, ya? Sementara yang dikasih ke ibu tiga kali lipatnya, itu sedikit? " jawabku tak kalah sengit.
" Kamu tidak usah cari tahu tentang gaji suami kamu, biar tidak sakit hati. Dasar kamunya saja perempuan lancang."
"Jadi, menurut Bapak, aku yang salah? Mas agam tidak bersalah? tanyaku memutus perdebatan.
Bukankah menghidar perdebatan adalah hal terpuji sekalipun seseorang berada di pihak benar? Terlebih berbicara dengan orang yang tidak mau merasa salah.
"Iya, lah. Kalau kamu tidak suka ya, minta cerai dari Agam. Sesalah apa pun anakku, tetap aku akan bela. Jangan pernah kamu menyakiti Agam. Camkan itu!" ancamnya kemudian.
Bapak mertua dan Mbak Eka lantas berdiri, berlalu begitu saja. Bahkan, berpamitan ataupun menyapa Dinta dan Danis pun tidak. Mereka berdua terlihat ketakutan, berdiri mengintip dari balik tembok. Aku membuang napas kasar dan bergegas menghampiri kedua hatiku dan membawa mereka kedalam pelukan.