bab 1 Penemuan Buku Rekening Tabungan Gaji
" Dek, uang bulanan ada di meja rias ya. Mas berangkat kerja dulu.
Aku yang sedang menjemur baju menoleh, lalu tersenyum dan mengangguk.
"Ada bonus buat beli lipstik kamu. " Dia berkata seraya memainkan alis. Kebiasaan yang ia lakukan saat menggoda ku. " Jangan lupa! Beli yang warnanya merah menyala, mas suka itu," tambahnya lagi, saat sudah berada di atas motor.
Aku memonyongkan bibir , tanda mengejek . Ia lantas melajukan motornya perlahan menuju Sekolah Dasar di mana ia menjadi guru PNS. Lalu aku beranjak masuk ke rumah. Langkah kaki terayun menuju kamar tidur. Ku ambil amplop berisi uang bulan dari suamiku. Lima lembar uang seratus ribuan. Aku tersenyum kecut. Mengingat permintaannya untuk membeli pewarna bibir.
Memang benar, ia memberiku bonus lima puluh ribu. Karena untuk sehari - harinya, ia memberi ku jatah lima belas ribu. Untuk jajan kedua anak kami sehari - hari, uang dari mas agam tidaklah cukup. untungnya, orang tuaku memberi beberapa petak sawah untuk lahan pertanian. Sehingga untuk makanan pokok, kami tak usah membelinya.
Aku tak pernah tahu, berapa gaji yang ia terima untuk sebulan. Karena setauku, ia masih memiliki cicilan dari sebelum menikah. Dan setelah menikah ia menambah utangnya lagi untuk membeli sepetak tanah, sebagai investasi, katanya. Tanah tersebut kini dikelola oleh mertuaku. Sedangkan uang sertifikasi yang diterima tiap triwulan sekali, kami sepakat untuk menyimpan di bank, untuk jaga - jaga kalau ada kebutuhan mendadak.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari, aku mengajar di TK milik yayasan PKK desa. Aku juga membuka kantin di sekolah tempatku bekerja. Selain itu, aku membuat beraneka macam keripik di rumah dan kutitipkan ke warung - warung. Alham dulillah bisa ditukar dengan keperluan dapur.
Kujalani dengan penuh rasa ikhlas sekalipun berat kurasa. Karena aku percaya suamiku telah memberikan yang terbaik untuk kami. Hanya saja memang kemampuannya dalam memberi nafkah sebatas ini.
" Gaji mas cuma satu juta, Dek, buat nabung simpanan hari raya di koperasi dua ratus. Sisanya buat ongkos mas beli bensin, ya? makanya, kamu harus terima kalau mas sering banget nginep di rumah ibu, yang lebih dekat dengan sekolah. Untungnya, mas gak ngerokok. Mas yakin kamu bisa mengatur keuangan kita dengan baik.
Begitu yang selalu ia ucapkan saat aku mengeluh. Dan aku selalu percaya padanya. Karena aku yakin, ia pria yang sangat baik, taat beribadah serta memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Selama ini keluarga mas agam menganggap aku sangat bahagia bersuamikan ia yang sudah PNS sebelum menikah. Mereka mengira, semua kecukupan yang aku dapatkan berasal dari gaji yang ia berikan. Aku tak pernah menjelaskan apa pun pada mereka karena kewajiban seorang istri adalah menjaga marwah keluarga. Tak sepatutnya menceritakan urusan rumah tangga kepada orang lain. Sekalipun mereka masih keluarga kita. Berat ringannya hidup, cukup kami yang tahu. Aku yak ingin harga diri suami jatuh di hadapan keluarga besarnya.
Siang ini, sepulang dari TK, aku berniat membersihkan meja kerja Mas agam. Kubereskan buku - buku yang berserakan dari mulai buku materi ajar sampai perangkat pembelajaran. Tiba - tiba sebuah buku rekening tabungan bertuliskan bank daerah buku rekening gaji terjatuh dari dalam sebuah buku pelajaran matematika. Entak terdorong apa aku membuka itu perlahan. Terlihat rentetan angka, nominal uang gaji yang setiap bulannya diterima suamiku.
Seketika dadaku bergemuruh hebat. Sudut netra ini mulai memanas. Ku teliti satu persatu rentetan angka yang tertera tiap bulannya. Aku mulai tergugu, lalu terjatuh lemas di lantai. Isak tangis mulai keluar dari bibir ini. Sekali lagi, kulihat tranksasi uang yang tiap bulan diterima dan diambil suamiku dari bank tersebut, untuk memastikan apakah aku salah melihat atau tidak. Deretan angka dalam kisaran dua juta tujuh ratus bila ada lebih kurangnya hanya selisih seratus ribu tiap bulannya sukses membuat dada ini sesak.
Dalam sekejap, luluh lantak sudah kepercayan yang kuberikan padanya. Ia selalu mengatakan sisa gajinya hanya satu juta. Ternyata delapan tahun menikah dengannya, aku telah di bohongi. Dipaksa berjuang sendiri demi terpenuhinya kebutuhan makan kami berempat. Dan dengan begitu, aku pun tahu, hanya separuh dari uang sertifikasi yang ia berikan padaku untuk di tabung.
Mengapa ia begitu tega membohongiku? membiarkanku berjuang dan banting tulang sendirian. Kemana larinya uang itu?