Angel melepaskan tali baju yang mengikat pada pundaknya. Dia juga melepas tali baju yang mengikat pada pinggangnya.
"Hah, lega sekali bisa segera mandi." Angel menyiramkan air pada tubuhnya.
Dia berendam pada bak mandi, tubuhnya yang mulus sengaja rutin diberi lulur. Angel mendengar suara bel pintu rumah.
"Siapa?" Teriak Angel.
Tidak ada jawaban, Angel segera beranjak dari posisi rebahannya. Dia menyiram tubuhnya dengan air yang berjatuhan dari lubang shower. Dia segera melilitkan handuk, lalu membuka pintu.
"Setangkai bunga, siapa pengirimnya?" Monolog Angel.
Tidak ada siapapun juga, hanya ada tulisan MY Chubby Girl. Angel teringat, akan penggemar di kampusnya. Angel masuk kembali ke dalam rumah dengan kesal.
Di kampus.
"Reyna kamu tahu tidak, pagi ini aku dapat kiriman setangkai bunga." Ujar Angel.
"Kamu memang perempuan paling laris." Jawab Reyna.
"Apaan sih, memangnya aku barang." Ucap Angel.
"Secara, kamu itu perempuan paling cantik di kampus ini. Kamu mempunyai bentuk tubuh yang indah." Jawab Reyna.
"Eh, waktunya olahraga nih. Ayo kita ganti baju." Ajak Angel.
"Iya, ayo kita ganti. Nanti, dosen olahraga akan marah." Jawab Reyna.
Mereka segera pergi ke Locket lemari, mengambil baju milik mereka. Mereka masuk ke ruang ganti masing-masing. Angel meletakkan bajunya di atas pintu.
Angel sedang membuka bajunya, dia kini tanpa sehelai benang pun. Saat mau mengambil baju ganti, tiba-tiba baju olahraga miliknya tidak ada.
"Mana bajuku." Angel panik.
Tiga perempuan cekikikan, karena berhasil mengambil baju Angel.
"Trio penguasa hebat." Ujar Tika.
"Iya dong, kita memang juara penguasa." Jawab Tari.
"Pasti dia panik sekali itu." Tambah Fika.
Ardi merekam percakapan mereka, sengaja mengawasi Angel. Ardi benar-benar naksir pada Angel. Dia segera menghampiri mereka, sambil merampas baju miliknya.
"Apaan sih Ardi." Ujar Fika.
"Kalian yang apaan, kenapa mengambil baju milik Angel." Jawab Ardi.
Dia segera berlari ke ruang ganti, karena pelajaran olahraga sebentar lagi dimulai. Ardi masuk ke ruangan ganti baju.
Aaa!
Angel berteriak, karena tubuhnya sedang polos. Ardi segera menutup matanya, sambil memberikan baju. Angel mendorong Ardi, hingga menyudut ke tembok.
"Kamu sengaja iya, mencuri bajuku." Tuduh Angel.
"Bukan aku, malahan aku mengambilnya dari orang yang mencuri." Jawab Ardi.
"Mana ada maling mau mengakui." Ucap Angel.
Dia tetap sibuk menuduh, hingga Ardi memperlihatkan rekaman video pada ponselnya. Angel benar-benar malu, dia seperti tidak ada muka. Mata Ardi dapat melihat jelas, gunung kembar Angel yang bergoyang ketika dia bergerak.
"Maaf, aku tidak tahu." Ucap Angel.
"Iya, tidak apa-apa. Aku mengerti, kenapa kamu bisa salah paham." Jawab Ardi.
Angel segera memasang celana olahraga. Saat hendak memasang baju, malah semut merah menggigit bagian tengah gunung kembarnya.
"Aduh sakit." Keluh Angel, sambil memegang tonjolan merah muda.
"Kenapa?" Tanya Ardi khawatir.
"Ada semut yang menggigit ini." Jawab Angel.
Dia melirik pada tengah gunung padat berisi, yang bulat menonjol. Ardi melihat Angel yang merasa kepanasan. Ardi berpikir, untuk menghilangkan bekas gigitannya dengan cepat. Ardi segera menunduk tepat pada gunung kembar Angel, dia langsung melahap dengan rakus warna merah muda itu. Ardi mengigit nya dengan sedikit lembut, berusaha menghilangkan panas akibat gigitan semut itu.
"Apa masih sakit?" Tanya Ardi, sambil mendongak.
"Masih, tapi sedikit berkurang." Jawabnya.
Ardi melahap kembali, antara ingin menolong dan keinginan hati.
Ardi terus melakukan dengan lembut, hingga Angel terbuai dengan suasana.
"Bagaimana, apa sudah hilang?" Tanya Ardi.
"Iya, sudah membaik." Jawab Angel.
"Jangan malu, aku tidak apa-apa." Ucap Ardi.
"Tidak, aku biasa saja." Jawabnya.
Mereka segera berlari, menuju ke lapangan. Ardi melihat gunung milik Angel naik turun, seiring langkah kakinya berlari.
”Wow, dia tidak menggunakan pembungkus.” Batin Ardi.
Mereka terlambat sampai lapangan, akhirnya terkena marahan dosen. Mereka berdua menjadi pusat perhatian.
"Kalian berdua dilarang ikut pelajaran olahraga. Sekarang juga, bersihkan gudang kampus." Titah dosen.
Ardi dan Angel segera pergi ke gudang kampus. Di sana sangat sepi, hanya mereka berdua.
"Apa sih tujuan tuh dosen, kenapa harus membersihkan gudang." Gerutu Ardi.
"Sudahlah, laksanakan saja. Kamu tidak perlu bertanya." Jawab Angel.
Angel segera duduk berjongkok, Ardi dapat melihat belahan gunung kembar Angel. Ardi menahan sesuatu yang mulai menegang.
"Angel, kamu jangan bersihkan. Biar aku saja, aku tidak mau kamu capek." Ardi memegang kedua pundak Angel.
"Tapi Ardi, aku tidak mau kalau kamu sendiri. Ini sungguh tidak adil, karena semua karena aku." Jawab Angel.
"Kita bersihkan sama-sama saja." Ucap Ardi.
Angel mengangguk, lalu mereka mulai membersihkan bersama. Ruangan yang awalnya kotor menjadi bersih.
Pikiran Ardi terbayang tubuh Angel yang tanpa apapun di ruang ganti tadi. Angel mengipas telapak tangannya pada lehernya.
"Kamu merasa panas?" Tanya Ardi.
"Iya nih, gerah sekali." Angel menghapus peluh yang bercucuran.
Waktu pulang dari kampus telah tiba, Ardi menawarkan Angel untuk pulang bersama. Angel tidak menolak, dia mau menaiki motor Ardi. Diperjalanan Angel memegang pinggang Ardi dengan erat. Hingga Ardi mengerem mendadak, gunung bulat padat Angel menekan punggung Ardi.
”Gila, gue gak sanggup. Ini benar-benar membangkitkan dia yang lagi tidur.” Batin Ardi.
"Maaf iya, aku peluk kamu. Aku takut jatuh." Ucap Angel.
"Iya tidak apa-apa." Jawab Ardi.
Tak berselang lama, mereka sudah sampai. Angel segera ke kamar mandi, dan Ardi pun menumpang mandi. Setelah selesai mereka keluar bersama, dari kamar mandi berbeda.
"Terimakasih iya Angel, kamu sudah mau menumpangi aku mandi." Ucap Ardi.
"Iya sama-sama." Jawab Angel.
Ardi segera melangkahkan kakinya mendekat, dia dapat mencium aroma tubuh Angel.
"Kamu wangi sekali." Puji Ardi.
"Kamu juga." Jawab Angel.
Angel membuka lilitan handuknya, mengambil ganti baju di dalam lemari. Baju seksi yang sekali ditarik, bisa membuat tubuhnya polos.
"Kamu cantik sekali." Puji Ardi.
"Iya sayang, eh Ardi maksudku." Jawab Angel bercanda.
Ardi melihat tonjolan merah muda, dari balik baju itu. Angel tidak menyukai pembungkus yang menyangga. Dia lebih suka dan nyaman, bila dua gunung bulat padatnya bebas.
"Apa rasa gigitan semut merah tadi sudah hilang?" Tanya Ardi.
"Sudah, yang tersisa malah bekas bibirmu." Jawab Angel, sambil tertawa kecil.
Ardi merebahkan tubuh Angel di atas ranjang tidur. Dia membuka tali pengikat baju di pundaknya, kini terbukalah memperlihatkan gunung menonjol itu.
Ardi menciumi dan menjilatinya. "Angel, jangan sungkan. Aku dengan senang hati memberikan kenikmatan."
"Baiklah, aku mau." Jawab Angel.
Ardi mencubit warna merah muda itu. Kemudian dengan rakus melahapnya, hingga memenuhi mulut. Ardi menggigit dengan perlahan, Angel mendesah karena Ardi bermain dengan lembut.
"Enak sekali, kamu memang perempuan bertubuh indah." Puji Ardi.
"Nikmat, aku dapat merasakan cintamu." Jawab Angel.
Keesokan harinya, Angel dan Ardi pergi bersama. Mereka sengaja mengendarai sepeda, sambil tertawa.
"Sekarang, kamu mau kemana?" tanya Angel.
"Mau mengajak kamu jalan chubby girl." jawab Ardi.
"Kemana?" tanya Angel.
"Ke tempat tumbuhan ilalang." jawabnya, sambil mengayuh pedal.
Tak berselang lama, mereka sudah sampai. Ardi mendorong tubuh Angel ke dalam semak ilalang. Ardi mengangkat baju yang dikenakan Angel. Dua gunung kembar bulat dan besar terlihat menantang.
"Muach!" Ardi menciumnya.
Ardi menggigit gunung kembar Angel, sambil terus tersenyum. Angel merasa nikmat, terus mendesah. Angel melirik pada bagian bawah pusar Ardi. Angel sengaja meremas-remas milik Ardi.
"Sayang, nikmat." Ardi mendesah.
"Iya dong sayang." jawab Angel.
"Angel, kelihatannya kita harus menyudahi ini. Lihatlah, ada orang di sana." Menunjuk seorang pria paruh baya.
"Hih, dia menggangu saja." Angel memasang kembali bajunya.
Mereka berdua segera pergi sambil tersenyum masam. Namun, hati sudah bahagia dan puas.