Naskah buatanku untuk suatu pertunjukan aku kirimkan kepada kalian wahai pengguna MT dan NT. Sebab rasanya amat sayang jika hanya orang yang menonton pertunjukan tersebut yang dapat menikmati ceritaku ini. Jadi lebih baik jika aku kirim juga ceritaku ini ke sini, tak hanya ke penonton itu saja, supaya lebih banyak lah yang menikmatinya.
Note: Aku mengubah sedikit alur cerita dari cerita aslinya dalam naskah.
~ 🌻Goblin•Shinbi (R.F.S.) ~
***
Tersebutlah seorang anak yang bernama Levita, umurnya sekitar 15 tahun. Dari masa kecilnya ia amat suka bernyanyi hingga kini, sehingga ia mempunyai bakat menyanyi. Ia terus berlatih hingga mahir. Semuanya berawal ketika ia masih TK, ia sering melihat dan mendengar orang-orang bernyanyi di TV.
Menyanyi menjadi cita-citanya saat ini, ia bertekad penuh agar dirinya dapat menjadi penyanyi yang hebat dan terkenal.
Hanya saja, masalah pun menghampirinya.
Sesungguhnya mamanya tidak setuju akan cita-cita Levita. Ia merasa kalau menyanyi bukanlah suatu hal yang membanggakan.
Suatu pagi,
Levita: (Menyanyi)
Mamanya Levita: “Nak, gak usah nyanyi dulu, ah. Sini makan dulu, nanti kamu terlambat sekolah!”
Levita: "Baiklah, Ma."
Levita menghembuskan nafas pelan sambil mengeluh dalam hati. Sesungguhnya ia sudah tahu bahwa mamanya amat tidak suka jika ia bernyanyi.
Berbeda dengan papanya, ia justru mendukungnya untuk bernyanyi.
Levita: “Pa, papa tidak marah kan kalau aku bernyanyi?
Papanya Levita: “ Lho, untuk apa papa marah, papa justru senang kalau kamu bernyanyi. Justru papa dukung kamu, nak, apalagi itu kan cita-cita mu.”
Levita: “Tapi… Kenapa sih mama gak pernah suka kalau aku bernyanyi. Dalam diriku aku bertanya-tanya sampai sekarang bahwa apa alasan mama melarangku untuk menyanyi.”
Papanya Levita: “Sejak dahulu, kakekmu, orang tua mamamu, menuntut mamamu untuk bekerja di bidang arsitek. Kakekmu menuntut mamamu terus-menerus. Dan mamamu pun juga ingin berbuat demikian kepada kamu, nak. Maafkan mamamu ya, nak. Tolong mengerti tentang mamamu.”
Levita: “Apa! Jadi selama ini Ibu ingin menuntut aku untuk menjadi arsitek!”
Akhirnya jawaban telah terungkap.
Papanya Levita: “Sebenarnya nasib papa juga sama seperti mama. Papa dituntut untuk menjadi dokter oleh nenekmu, orang tua papa, untuk mengikuti jejak nenekmu yang juga seorang dokter. Papa amat tertekan, papa amat tidak suka jadi dokter, papa lebih memilih untuk bekerja di bidang seni. Karena tuntutan nenekmu itu, papa menjadi orang yang paling buruk di mata para mahasiswa.
Levita: “Lalu aku mesti ngapain?”
Papanya Levita: “Lakukan apa saja sesuai keinginanmu, nak. Papa justru gak mau kamu bernasib sama seperti papa.”
Levita: “Tapi jika seperti itu, apa aku berarti melawan keinginan mamaku?”
Papanya Levita: “Itu akan jadi urusan papa. Papa akan membujuk mama agar mama mau mendukung keinginanmu.”
Levita: “Baik pa, aku bakal lakuin yang terbaik.”
Malam harinya, papanya Levita berbicara pada istrinya saat Levita sedang tidur.
Papanya Levita: “ Ma, sebaiknya mama jangan memaksa Levita untuk menjadi sesuai dengan keinginan mama. Kasian, ia menjadi tertekan. Lebih baik ia melakukan apa yang ia inginkan agar tidak tertekan sepertiku.”
Mamanya Levita: “Lalu jika ia menyanyi, apa keuntungannya, apa yang akan ia dapat?
Papanya Levita: “Ia tuh lebih suka melakukan apa yang ia inginkan daripada apa yang tidak ia inginkan hingga ia tertekan, ma!
Mamanya Levita: “Aku cuman mau anak kita punya karir jelas, gak kayak kamu ngutang terus kerjaannya!”
Papanya Levita : “Heh! Malahan aku yang gak mau anak kita kayak kamu, suka banget ngerusak kesenangan orang!”
Tiba-tiba saja Levita terbangun dari tidurnya, dan tanpa sadar mereka berdua, ia mendengar apa yang mereka berdua bicarakan!
Levita berlari ke kamar sambil menangis, tak sangka akan kata-kata yang keluar dari mulut mamanya.
Kemudian ia terduduk di atas tempat tidurnya, air matanya mengalir, beserta luapan sedihnya. Lalu ia menyanyikan sebuah lagu untuk menenangkan hatinya yang diselimuti ribuan kesedihan. Tenang, pelan, lembut ketika ia bernyanyi, agar tak ketahuan mamanya.
***
Keesokan harinya, ia mendengar dari temannya bahwa akan ada audisi menyanyi di kotanya.
Shani: “Eh, Lev.”
Levita: “Ya, ada apa?”
Shani: “Di kota kita bakalan ada audisi menyanyi, lho! Kamu mau ikut gak? Kan kamu tuh kalo soal nyanyi, beuh jago banget”
Levita: “Wah, seriusan ada audisi menyanyi?”
Shani: “Ih serius, masa aku bercanda! Nih kertas pengumumannya, aku dapat dari teman di kelas sebelah.”
Levita mengambil kertas pengumuman tersebut dan membaca isinya.
Levita: “Wah, benar! Audisinya bentar lagi nih, 2 hari lagi!”
Tapi ia terdiam seketika. Ia teringat akan mamanya yang tidak memperbolehkannya untuk bernyanyi.
Shani: “Kamu kenapa, Lev? Kok tiba-tiba terdiam gitu, sih?
Levita: “Ah, gak ada apa-apa koq.”
Shani: “Jadi kamu mau ikut gak nih?”
Levita: “Duh, aku pikir-pikir dulu ya.”
Shani: “Hmmm... Ok deh. Tapi aku berharap kamu akan ikut, hihi.”
Kemudian Shani meninggalkan Levita yang sedang dipenuhi beban pikiran.
Setelah Levita berpikir panjang, ia memutuskan untuk ikut. Ia tak peduli lagi akan mamanya yang tidak setuju dengan keinginannya. Ia akan mengikuti audisi itu diam-diam tanpa sepengetahuan mamanya!
Levita kembali bersemangat, melupakan sejenak kejadian kemarin malam. Ia akan menunjukkan bakatnya nanti di audisi itu.
***
Sore harinya, Levita mengobrol dengan papanya.
Levita: “Pa. Tolong jangan beritahu mama kalau aku akan mengikuti audisi menyanyi 2 hari lagi, ya.”
Papanya Levita: “Baiklah, nak. Pokoknya papa bakalan jaga rahasia kamu, deh.”
Levita: “Janji ya!”
Papanya Levita: “Iya, papa janji. Ngomong-ngomong audisinya di mana, nak?”
Levita: “Di kota ini koq, Pa. Jadi gak terlalu jauh.”
Papanya Levita: “Ah, begitu ya. Ya sudah, sekarang kamu tidur ya. Kalau gak tidur nanti kamu terlambat sekolah.”
Levita: “Baik, Pa.”
Kemudian Levita tidur, sambil berharap bahwa papanya akan memenuhi janjinya.
***
Besoknya, di sekolah.
Shani: “Gimana, udah kamu putuskan belum?”
Levita: “Sudah dong. AKU BAKALAN IKUT!”
Shani: “Asiiiiik! Aku gak sabar loh dengar kamu nyanyi, kamu tuh the best banget bagiku!
Levita: “Hehe, makasih ya atas pujiannya!”
Shani: “Sama-sama. Semangat ya, Levita! Aku dukung kamu!”
Levita tersenyum, senang rasanya dipuji oleh Shani.
***
Sore harinya sepulang sekolah.
Kabar buruk, mamanya Levita sudah tahu kalau anaknya akan mengikuti audisi menyanyi!
Levita: “Aku pulang.”
Mamanya Levita: “Nak, mama tidak izinkan kamu untuk mengikuti audisi menyanyi besok!”
Levita: “Lho, ka... ka... kata siapa kalau besok aku bernyanyi?”
Mamanya Levita: “Lalu apa maksud dari kertas ini?”
Rupanya mamanya Levita tahu dari kertas pengumuman tersebut!
Mamanya Levita: “Pokoknya mama gak izinkan!”
Levita: “Ma, aku mohon, izinkan aku ikut audisi itu!”
Mamanya Levita: “Kan mama sudah bilang, mama gak izinkan! Titik!”
Levita menangis seketika, batinnya bercampur aduk, antara ingin menangis, juga ingin marah.
Levita: “MAMA JAHAT!”
Levita berlari ke kamarnya, mengunci pintu. Ia sudah muak, tak mau berurusan dengan mamanya lagi. Ia tak mau masalah ini menjadi lebih parah!
Apa yang ia lakukan ini salah?
Mengapa ibunya terus menghalanginya
Bagai tembok tebal
Untuk meluapkan bakatnya?
Maafkan ia bakat
Kau terpendam
Bahkan tenggelam
Karena seseorang yang menolak engkau, yaitu ibunya
Ibunya menganggapmu tak berguna bagai sampah
***
Esok harinya.
Levita bangun tidur dengan rasa ketakutan akan mamanya karena kejadian kemarin.
Tiba-tiba saja mama dan papanya menghampiri Levita.
Mamanya Levita: "Nak."
Jantungnya berdegup kencang.
Mamanya Levita: "Kemarin mama sudah membicarakan tentang audisi menyanyi itu dengan papamu, dan kamu..."
Jantung Levita semakin berdegup kencang, ia menunggu jawaban yang keluar dari mulut mamanya.
Mamanya Levita: "Mama izinkan kamu untuk mengikuti audisi itu!"
Ketika mendengar itu, Levita amat bahagia dan sukacita tak karuan! Akhirnya ia diizinkan untuk mengikuti audisi itu!
Levita: "IIIIIH, aku senang banget deh. Makasih banyak ya, ma. Akan aku buktikan kalau aku bisa menyanyi! Pokoknya aku akan membuktikannya pada mama dan papa!
Papanya Levita: "Haha, anak kita amat gembira, Ma!
Walaupun diizinkan, sebenarnya mamanya Levita masih agak ragu dan gengsi, ia mengizinkan dengan perasaan tidak ikhlas.
***
Setelah Levita mengikuti audisi menyanyi pertama kali.
Levita: "Shan, AKU LOLOS!"
Shani: "Wiiiiiih, selamat yak!"
Levita: "Iya. Makasih atas pujiannya!"
Shani: "Gimana reaksi mama papamu, Lev?"
Levita: "Mereka senang banget, Shan!"
Sebenarnya reaksi mamanya Levita biasa-biasa saja, beda dengan papanya yang senangnya bukan main.
Shani: "Wiiih!"
Levita: "Eh jangan lupa untuk nonton ketika aku nyanyi di TV, ya!"
Shani: "Tentu saja! Pokoknya nanti kalau aku nontonin kamu nyanyi, akan aku dengar dengan suuuunguh-sunguh, pakai perasaan!"
Levita: "Wiiih."
***
Tiap seminggu sekali Levita mengikuti audisi menyanyi itu. Seluruh temannya, juga seluruh keluarganya menontonnya bernyanyi dengan semangat lewat layar televisi, kecuali ibunya, yang masih agak ragu-ragu.
Levita lolos, lolos, dan lolos. Dan tak terasa ia masuk ke dalam final.
Saat ini, Levita menelepon papanya.
Papanya Levita: "Papa tak menyangka kamu masuk ke final!"
Levita: "Aku hebat kan Pa dalam bernyanyi?"
Papanya Levita: "Sungguh, kamu hebat, nak. Andai papamu ini juga sukses sepertimu."
Levita: "Tenang saja, pa, aku akan membuat papa gembira dengan memberikan hasil yang terbaik. Papa jangan sedih mulu dong karena dulu papa gagal."
Papanya Levita: "Baiklah nak, berikan yang terbaik, ya. Papa gak peduli kamu menang atau kalah, tapi yang penting kamu udah berikan yang terbaik!"
Levita: "Baik Pa."
***
Final telah tiba, sungguh tak terasa.
Sehari sebelum final, poster besar berisi dukungan untuk Levita dalam final sudah terpampang jelas di papan reklame sekolah.
Levita dan Shani saling video call.
Shani: "Mantap banget kamu, Levita! Kamu sampai terkenal satu sekolah gara-gara reklame ini!"
Levita: "Ya ampun, ada muka aku dong."
Shani: "Iya! Semuanya heboh banget lho, termasuk aku, hihi."
Levita: "Hahahahaha."
Shani: "Fix kamu bakalan menang ini mah, asli! Kamu udah bagus banget bisa masuk sampai ke final!"
Levita: "Aku juga berharap begitu!"
Shani: "Eits, bukan beharap, tapi pasti! Aku tahu kamu pasti memenangkannya, Levita!"
Ia tersenyum mendengarnya.
Levita: "Terimakasih lagi ya atas pujiannya, dukungan dari kamu dan orang lain membuat aku makin semangat dalam bernyanyi, seriusan!"
Shani: "Sama-sama. Diingat loh ya, jangan makan makanan yang berminyak dulu, tahan dulu tuh dengan yang namanya ayam goreng, makanan favorit kamu banget tuh!"
Levita: "Dari pertama kali aku ikut audisi udah aku tahan kok, hiks."
Shani: "Hahaha."
***
Ketika final telah tiba...
Levita menumbuhkan tekadnya untuk memenangkan audisi ini. Ia akan buktikan pada mamanya kalau ia bisa bernyanyi!
Juri 1: "... Kita sambuuuut, Levita!"
Levita: "Ayo, Levita. Buktikan kamu bisa di depan jutaan penonton, termasuk mamamu!"
Ia naik ke atas panggung dengan penuh rasa percaya diri. Di depannya sudah ada banyak penonton, termasuk mama dan papanya! Ya, dalam rangka anak mereka lolos ke final, mereka sengaja menonton anaknya secara langsung!
Levita: (menyanyi)
Setelah Levita menyanyi, giliran Abu, saingannya yang akan bernyanyi, mencoba mengalahkan kemampuan menyanyi milik Levita.
Levita amat ingin dirinya menang, agar mamanya dapat mendukungnya sepenuhnya dalam hal menyanyi.
Levita kini hanya perlu menunggu jawaban dari juri nanti.
***
Juri 1, 2, 3: (Mengomentari kemampuan menyanyi mereka berdua)
Juri 2: "Baiklah, pemenang audisi menyanyi tahun ini, adalaaaaaah!"
Mereka berdua amat gugup menunggu jawaban dari juri. Levita amat ingin menang saat ini, supaya mamanya menyutujui cita-citanya itu.
Juri 2 mulai membuka mulut lagi.
Juri 2: "Levitaaa"
Levita: "YEEEEEEEEEEEEE!"
Bagaikan mimpi indah, Levita berhasil memenangkan juara 1 audisi menyanyi!
Ia berhasil membuktikan pada mamanya bahwa ia memiliki bakat menyanyi, itu kemampuannya. Hanya soal nanti, Levita akan melihat reaksi mamanya ketika mamanya tahu bahwa anaknya berhasil meraih juara 1.
***
Mamanya Levita: "Selamat, nak. Mama amat bahagia melihatmu meraih juara 1 audisi menyanyi tahun ini. Maafkan ibu karena menuntutmu untuk mengikuti keinginan mama. Mama sungguh menyesal. Sekali lagi, maafkan ibu ya nak.
Levita: "Iya Bu. Tidak apa-apa."
Levita tak akan pernah melupakan hari itu, ia akan selalu mengingatnya, selamanya, kenangan dan kemenangan itu.
***
Beberapa hari kemudian.
Levita: "Akhirnya aku bisa makan ayam goreng lagi!"
Shani: "Haha. Btw selamat yak, kamu berhasil, aku seeeeenang banget."
Levita: "Ya ampun, aku yang menang, kamu yang senang. Gimana sih!"
Shani: "Hihi. Eh, teman aku bilang kalau Minggu depan ada audisi menyanyi di sekolah ini, jadi..."
Shani hendak mengambil ayam goreng milik Levita.
Levita: "Weh, ga boleh ngambil! Lagian mana ada audisi menyanyi di sekolah ini minggu depan, pengumumannya juga gak ada!"
Shani: "Aku cuma bercanda, jadi silahkan makan ayamnya lagi."
Levita: "Huh!"
Begitulah kehidupannya saat ini. Kini kegembiraan menghampiri dirinya selalu.
Bakat menyanyi Levita tidak terpendam lagi seperti dulu. Ia bebas dalam meluapkan cita-citanya lagi. Ia juga sudah tak takut akan mamanya, sebab kini mamanya bukanlah mamanya yang dulu lagi.
~ TAMAT ~
Jangan lupa untuk mampir ke Novel dan Chat Story ku. Juga jangan lupa untuk mampir ke cerpenku yang ada di bawah ini 👇☺️
Follow IG ku juga: @rainhard.frealdo