"Hosh... Hosh... "
Seorang cewek berlari-lari dengan terburu-buru ke sebuah halte dengan nafas terengah-terengah, kecapekan. Eisha Teretta, sebuah nama yang tercetak di sebelah kiri dada seragam itu. Nama yang cukup manis, selaras dengan wajah cantiknya.
Tubuhnya tinggi semampai, rambut hitam legam yang cantik bergelombang, kulitnya putih, dan wajahnya -siapapun terutama cowok pastinya gak rela gak perhatiin - berbentuk oval dengan sepasang mata mirip kucing, bibirnya tipis, dan bulu mata lentiknya, tidak dibuat-buat, sealami saat lahir.
Cewek itu melirik jam tangan yang meliliti pergelangan tangannya yang putih Mulus, jam keluaran terbaru, lalu mengumpat dalam hati.
Duh, sia-sia gue lari sejauh ini, mana kura-kuranya gak datang lebih cepat, (kura-kuranya adalah panggilan darinya untuk sebuah angkot yang biasa menganterinya ke sekolah). Sesuai dengan namanya, angkot itu sangatlah lambat, bahkan pejalan kaki pun menang dariyna, tidak berkelas, jorok, dengan warna-warna catnya yang sudah hampir terkikis penuh, di ganti dengan karatan sana sini.
Namun apalah daya, satu-satunya transportasi yang selalu sedia ada saat ini, hanyalah angkot butut itu. Ia masih belum punya SIM. Karena usianya baru menginjak 16 Tahun, belum cukup berumur. Seandainya punya mobil, sudah berjejer puluhan di halaman rumahnya. Maklum, anak orang kaya sih!
Seorang cowok, Kira-kira nya usianya tidak terlalu jauh di atasnya, mungkin sekitar dua puluhan, merokok dengan asyiknya di sampingnya. Refleks, cewek itu terbatuk-batuk.
"Uhuk uhuk" Cewek itu menutup hidung dan mulutnya dengan sebelah tangan, sebelahnya lagi mengibas-ngibas, menghalau asap rokok yang menuju padanya.
Di halte itu, hanya ada Eisha dan cowok perokok itu. Meskipun di tempat yang terbuka, cewek itu tetap tidak terbiasa menghirup asapnya. Jadilah ia terus terbatuk-batuk, dengan geram ditahan dalam hati.
Duh, oom ini. Kalau mau ngerokok jangan sininya juga dong! Bukannya auranya positif, malah tebar penyakit. Awas saja jika guenya sampai kena kanker paru-paru. Katanya penghirup pasif rokok lebih beresiko terkena penyakit. Dih tolong deh, gue gak mau mati muda. Masih cantik-cantik gini, udah jadi mayat. Jelek, sumpah.
"Kalau mau liatin, bilang aja dek. Gak usah malu-malu gitu" tiba-tiba si oom perokok berkata, masih dalam ngerokok. Pandangannya tidak mengarah pada Eisha, tetap lurus ke depan.
Eisha menatap cowok itu, linglung. "Eh, enak aja. Siapa bilang gue malu malu sambil ngeliatin lo? Sadar siapa lawan bicara yang ditujukan cowok itu, Eisha segera mengernyit. " sory ya om, gue gak tertarik buat namanya ngerokok. Gue gak mau muka gue yang cantik-cantik gini rusak keriput gara-gara orang rusak"
"Orang rusak? Sory deh jika lo bilangnya gue, tapi gue enggak" cowok itu kini memandangnya, dengan wajah terpasang raut tersinggung. "Dan, om? Gue belum setua itu, dek. Satu helai uban pun belum tumbuh. Lo nya aja yang kekecilan, dek"
Kekecilan? Refleks Eisha menyilangkan kedua tangannya, memandang cowok itu dengan wajah merah, marah. "Eh, elo! Sembarangan ngomong lo. Dasar mesum! "
Mungkin Eisha merasa perkataan cowok itu bermakna yang tidak benar, jadilah ia mundur sedikit menjauh, setidaknya sedikit celah untuk bisa kabur, jika ada apa-apanya nanti.
Dasar cowok mesum. Gak keinget usia apa?
Tapi...
Diam-diam Eisha menatap cowok itu, tentu saja dengan gerakan yang tidak terlalu kentara. Dari ekor matanya, ia menatap postur tubuh cowok itu.
Badannya tegap. Garis wajahnya tegas-Eisha tidak bisa melihat jelas wajahnya karena tertutup topi bisbol yang dikenakan cowok itu- namun terkesan orang dewasa. Pakaiannya lusuh, sepertinya baju lama. Dari sepatunya, kotor berdebu, entah dicuci apa enggak. Celananya, aduhai lagi, robekan kecil terlihat sana sini. Kenapa gak beli yang baru sih? Sama dompet aja, pelit. Dan hoodie hitam yang sedikit kebesaran mungkin untuknya... Tapi Eisha berani yakin kalau di di dalamnya, otot otot itu dilatih cukup rajin, dan gayanya...
"Udah puas ngeliatin gue? " Eisha terkejut ketika cowok itu menatapnya. Malu ketangkep basah, Eisha segera mengarahkan pandangan lurus kedepan, walau gak ada apa apa yang bisa dilihat.
"Udah ngaku aja kalo gue ganteng, dek" Duh, Narsisnya!
"Apaan sih? Ge-er mulu" Eisha berpura-pura nyolot, kemudian kembali melirik jam tangannya. Aduh, masih lama nih, kemana sih? Terburu-buru amat nih gua, mana ada orang mesum lagi. Semoga aja pas balik, mama gak shock melihat satu satunya anak gadisnya udah gak utuh lagi. Tuhan, selamatin aku darinya!
Bulir demi bulir keringat membasahi wajahnya, menetes demi menetes. Duh lamanya, mana panas banget. Masa gak ada sih toko di sini? Ia menoleh kiri-kanan.
"Cari angkot dek? " cowok itu bertanya. Rokoknya udah habis, sisanya dibuang. "Mau numpang? "
Eisha bergidik. "Ish, norak banget. Enggak lah, tau-tuanys ntar guenya diapain. Gak, makasih. " ia mencoba tidak menggubris lagi cowok itu.
"Elo cari angkot Surya berjaya kan? "
Eisha mencak-mencak, kali ini sewot. " apaan lagi sih? Kalo lo mau bilangi, gua gak ngeliatin lo! Lo itu... "Ucapannya terhenti sementara. Raut wajah yang tadinya di penuhi bara amarah, berganti kebingungan. " kok lo tahu gue lagi nungguin itu? "
Cowok itu tidak menanggapi, berjalan ke arah persimpangan jalan, di samping halte.
"Mang! Udah belum? Buruan" cowok itu berteriak. Eisha tidak tahu kepada siapa dia berteriak.
"Bentar bang! Belum siap.. Nah siap! "
Sebuah angkot keluar dari penghujung simpang. Tak butuh waktu lama Eisha mengenalinya. itu angkot butut yang sedari tadi ia tunggu-tunggu. Nyatanya, hanya beberapa jauh dari halte.
Angkot itu berhenti di hadapannya. Eisha melihat seorang cowok gendut berbotsk di kursi pengemudi. Eh? Kayaknya bukan deh? Seingatnya sih, tukang angkotnya gak gendut gendut gini.. Apa jangan-jangan, penculik? Wah, harus kabur nih!
Baru eisha mencoba untuk melarikan diri, tiba-tiba di tahan oleh cowok bertopi itu. "Eh, mau kemana dek? Tadi katanya nyari angkot. Nih, Angkotnya"
Cowok itu melompat masuk ek dalam angkot. Cowok ber gendut tadi bergeser berpindah posisi ke kursi penumpang di sebelahnya. Dan cowok bertopi itu kini duduk di kursi pengemudi. Cowok itu!
Cowok itu memandangnya dengan tatapan heran. "Kok masih bengong sih? Buruan naik, nanti telat lo nya ke sekolah. Mau naik gak? "
Eisha terkejut ketika cowok itu menurunkan kepalanya, dan pandangan mereka beradu untuk pertama kalinya.
Ya Tuhan, mama, do'akan anak gadismu ini baik baik saja jika tidak pingsan saking shocknya!
Eisha tidak akan pernah melupakan cowok itu, dengan topi bisbol nya, baju lusuhnya, celana sobeknya, sepatunya penuh berdebu, dan hoodie yang agak kebesaran itu.. Semua kritikan yang ia berikan tentang cowok itu, tapi hanya ada satu hal yang aneh.
Wajahnya GANTENG AMAT!!!
Makanya, seharusnya gue ngak ngeliatin dia.
Oleh Lika_Zhuo 🤗