Hari ini, OSIS SMA Pelajar Berbudaya mengadakan forum pertemuan untuk membahas sesuatu yang penting. Joko, sebagai ketua OSIS memimpin forum itu yang diadakan di ruang OSIS dan juga dihadiri oleh setiap koordinator seksi bidang berikut pengurus harian.
" Selamat pagi. " Joko membuka forum itu dengan salam, yang dijawab secara serempak oleh anggota lainnya. " Pagi juga.. "
" Terimakasih atas kehadiran kalian di forum ini. Sebenarnya tujuan forum ini diadakan untuk membahas mengenai salah satu rekan kita, Pajul yang baru saja tersandung kasus. " Joko berhenti sejenak. Ia menunggu respon dari rekan rekannya yang lain. Pajul, adalah teman dekat dari Joko yang kemarin ketahuan merokok di dalam sekolah. Akibatnya, dia harus mendapat skorsing selama tiga hari. Maka dari itu, ia tidak dapat hadir di forum itu.
" Izin bertanya. " Seorang siswi langsung mengangkat tangannya. Memang sudah menjadi tata cara bagi setiap anggota yang ingin bertanya atau menyampaikan pendapat adalah dengan mengangkat tangan. Hal ini bisa menghindarkan dari adu mulut yang tidak diinginkan dalam forum. " Bukan kita udah sepakat, kalau Pajul harusnya keluar dari OSIS ? Dia udah dapet poin yang banyak. "
Joko menggeleng. " Itu tak benar. Pajul adalah koordinator seksi bidang empat, dan kita masih memerlukan dia dalam OSIS. Saya membahas hal ini, maksudnya adalah untuk meminta pendapat kalian, bagaimana caranya agar dia tidak melakukan hal itu lagi, " jelasnya yang disambut dingin oleh beberapa anggota lainnya. Mereka berpikir bahwa Joko tidak adil.
" Itu karena Pajul adalah sahabatmu. Makanya kau bela dia ! " Tiba tiba saja seorang siswa berteriak ke arahnya. Itu menyalahi peraturan forum pertemuan dan seharusnya akan ada peringatan yang dilayangkan untuknya.
" Ren, ikuti aturannya. " Joko berusaha tak terpancing emosi. Meski sebenarnya di dalam hati, ia sudah bergejolak ingin membalas kata kata Ren tadi. " Minta maaf sekarang di forum ini. "
" Heh.. " Ren tersenyum sinis. Ia jelas tak mau diperintah oleh rivalnya. Sebelum Joko menjadi ketua OSIS, Ren adalah pesaingnya saat pemilihan dahulu. Dan karena kekalahan yang diterimanya, ia seolah-olah menjadi kubu oposisi dari Joko. " Aku mau minta maaf, kalau kau mengeluarkan Pajul. "
Suasana forum mendadak panas. Joko yang berharap Ren mau meminta maaf, akhirnya terpaksa melakukan hal lain agar forum tetap berjalan. " Oke, aku mau bertanya dulu kepada Jona. " Ia mengalihkan pandangannya kepada seorang siswa berkacamata yang duduk di seberangnya. " Jona, apa aja program kerja dari sekbid empat ? "
Jona langsung membuka handphone miliknya, mencari dokumen yang berisi tentang program kerja seksi bidangnya. " Ehm, ada PAS ( Pekan Akademik SMAPEL ), ada Classmeeting, ada Liga SMAPEL, ada PES ( Pekan E-sport SMAPEL ), juga ada SMAPEL Research Competion. "
" Oke, terimakasih. " Joko tersenyum. Ia sekarang tahu hendak berkata apa. " Kalau Pajul keluar dari OSIS, perannya sebagai koordinator sekbid empat yang memegang proker yang disebutkan tadi, siapa yang akan menggantikan dia ? " Seketika ruangan itu menjadi hening. Tak ada yang membantahnya lagi, dan itu adalah bukti kapasitas dari Joko sebagai seorang ketua OSIS. " Bagaimana Ren ? Apa kau mau minta maaf ? "
Ren menghela nafas. " Huh, oke Pajul masih dibutuhkan dalam OSIS. Tapi, masa anggota seperti dia ga dihukum ? Nanti kalau anggota lainnya kedapatan seperti itu, mereka bebas dong. " Masih terus mendesak Joko dalam situasi sulit. Sepertinya Ren punya banyak rencana cadangan kalau kalau rencana utama miliknya gagal.
" Ada yang punya saran hukuman ? " tanya Joko yang meminta keaktifan anggota lainnya. Ia tak ingin bila Ren dan dirinya saja yang mendominasi forum ini.
" Izin menyampaikan pendapat. " Siswi yang pertama kali bertanya, kembali mengangkat tangannya. " Bagaimana dengan pembekuan sementara ? Tiga bulan mungkin akan membuatnya jera. "
" Wah, saran yang bagus. " Joko terkekeh geli mendengarnya. Saran itu kembali mengingatkannya pada pembekuan tim sepakbola yang pernah terjadi. " Kalau begitu, mari lihat proker tiga bulan yang harus dikerjakan. Jona, tolong kau baca prokernya. "
Jona mengangguk. " Ya. Program kerja pertama adalah PAS, yang berlangsung selama satu pekan. Lalu, Classmeeting yang diadakan satu minggu setelah PAS. Terakhir, Liga SMAPEL yang diadakan setelah tahun ajaran baru. Berlangsung selama tiga bulan. "
" Oke, terimakasih lagi. " Joko kemudian kembali menatap siswi itu. " Tasya, tiga bulan, sekbid empat punya proker yang besar. Kalau sampai Pajul dibekukan, siapa yang akan memimpin proker itu ? Sementara proker itu juga butuh dana dan waktu yang ga sedikit. Kita masih butuh Pajul. "
" Huh.. jadi gimana, dong ? Masa dia ga dihukum apa apa ? " Tasya memandangi Joko, menunggu dia memberi jawabannya. Cukup lama Joko diam, sampai akhirnya dia berseru kencang, " Aku punya ide ! "
Joko lalu berdiri, dan menyampaikan idenya itu kepada anggota OSIS yang lainnya. Dan setelah diadakan voting, hasilnya adalah ide tersebut diterima lebih banyak daripada yang menolak. Termasuk Ren, yang juga setuju meski dia menginginkan lebih dari sekadar hukuman biasa.
~~~
Beberapa hari kemudian..
Pajul diarak dengan tulisan ' saya janji ga akan merokok lagi di sekolah ' yang dikalungkan di lehernya. Tak hanya itu, ada juga gulungan kertas kecil yang digigitnya, seolah olah itu adalah rokok. Disampingnya, ada Joko yang membawa korek api, berusaha menggoda Pajul dengan berkali-kali berniat menyalakan kertas gulungan itu.
" Aku nyalakan, ya.. " Joko menyalakan korek apinya, mendekatkannya kepada gulungan kertas yang digigit oleh Pajul. Seketika, Pajul berteriak histeris. " Woi ! Jangan ! Bisa terbakar nanti. " Tapi Joko masih menggodanya, seraya menyuruh dia untuk berjalan keliling sekolah.
" Jok, matiin koreknya ! Jok ! " Namun Joko terus menyalakan korek apinya, hingga tanpa sengaja korek api tersebut mengenai gulungan kertas itu. Dengan cepat, api membakar gulungan kertas itu hingga habis. Menyisakan Pajul yang pingsan sebab api itu sempat mengenai mulutnya.
" Uh.. " Joko bergidik ngeri saat melihat mulut Pajul yang kini tampak aneh. Ia pun memutuskan untuk menutupinya dengan kertas tulisan di leher Pajul, lalu memboyongnya ke UKS.
~~~