Tik… Tik… Tik…
Suara cairan infus yang menetes bergema di sebuah ruangan yang sunyi.
“Ugh…”
Thea merasakan rasa sakit di seluruh tubuhnya, terutama di bagian perut. Setelah beberapa saat beradaptasi dengan rasa tidak nyaman di sekujur tubuhnya, dia dengan perlahan-lahan membuka mata.
“Ini dimana…?”
Interior kamar tidur mewah yang sangat asing bagi Thea terpapar di matanya. Saat dia melihat ke depan, sosok seorang pria berusia 20-an sedang berdiri di ujung tempat tidur terlihat.
Atau lebih tepatnya, pria dewasa itu sedang berdiri di atas ranjang.
??? Siapa pria gila ini.
Pria gila itu sedang berdiri dengan tangan di selimut dan tanpa mengenakan sepatu. Dia memiliki rambut hitam dan wajah yang cukup tampan menurut Thea. Dia kemudian menatapnya dengan kemarahan yang luar biasa yang dicerminkan di wajahnya.
“SHI XIAO NIAN! BRENGSEK APA KAMU GILA?” teriak pria itu sangat kencang sampai membuat telinga Thea berdengung.
Ada apa dengannya? Siapa yang baru saja dipanggil nya brengsek?
Thea baru saja mendapatkan kembali kesadarannya dan segera setelah itu dia diteriaki oleh pria tidak dikenal yang saat ini sedang menginjak-injak ranjang seperti anak berusia lima tahun. Kepalanya berdenyut ketika ia mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
‘Shi Xiao Nian?..Nama ini terdengar familiar…’
Thea yang masih sibuk dengan pikirannya membuatnya tidak bisa memikirkan respon untuk menjawab pertanyaan itu dan hanya menatap sang pria dalam diam.
“AKU MENYURUHMU MATI, KAMU MAU MATI! APA KAMU BEGITU PENURUT?” pria itu lanjut berteriak dalam kemarahan setelah tidak mendapat respon dari ‘Shi Xiao Nian’ . “AKU MENYURUHMU JADI CEWEKKU, KENAPA TIDAK MAU? SAMPAI MATI SAJA TIDAK MAU MEMINTA AMPUN!”
Otak Thea masih terus memproses kejadian di depannya. Dia kemudian dengan susah payah bagun dari tempat tidurnya yang besar. Saat dia bagun dan duduk, dia mulai menelusuri seluruh interior kamar tidur yang tidak dikenalnya sementara pria gila itu masih terus berteriak-teriak.
Benda-benda di ruangan ini benar-benar mewah. Dinding di ruangan ini diberi wallpaper dengan desain elegan, diatasnya terdapat lampu gantung dengan berlian-berlian sebagai hiasannya, di belakang si pria gila terdapat TV yang sangat besar, barang-barang lain yang di ruangan juga terlihat mewah dan mahal.
‘Kenapa aku ada disini?’ Batin Thea bertanya. ‘Bukannya beberapa saat yang lalu aku sedang-’
Ah, sekarang dia ingat.
Dia sudah mati tertembak.
Thea dengan cepat memeriksa tubuhnya, sepenuhnya mengabaikan pria gila yang sekarang sedang memaki dan berteriak sambil menendang-nendang selimut. Tidak ada bekas tembakan maupun luka-luka yang biasa ada di tubuhnya. Tubuhnya terasa sangat lemas dan setiap gerakan kecilpun menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman. Lalu, rasa sakit dari perutnya terasa seperti rasa sakit akibat maag parah, bukan akibat tembakan. Tubuhnya juga kurus kerempeng, tidak seperti tubuhnya dulu yang bugar karena sering berolahraga.
Thea segera menyadari bahwa ini bukan tubuhnya. Sepertinya dia benar-benar telah mati dan jiwanya entah bagaimana bertransmigrasi menjadi seorang gadis bernama Shi Xiao Nian.
“Apa yang kamu lihat, Aku yang ganti!” geram pria itu saat melihat ‘Shi Xiao Nian’ sedang mengamati baju(tubuh)nya. “Tubuhmu bagian mana yang belum kulihat, belum ku sentuh?”
“...”
Xiaonian benar-benar ingin segera bangkit dan menghajar pria yang sedari tadi memakinya itu, tetapi ada hal yang lebih penting yang perlu dia lakukan sekarang.
Semua adegan yang sedang berlangsung beserta dengan nama yang familiar membuatnya menyusun pecahan-pecahan informasi ini.
Kini dirinya sudah memiliki dugaan mengenai identitas pria gila didepannya, dan untuk memastikan, Xiaonian memanggil nama pria itu.
“Gong Ou…?”
“Apa? Kamu gak terima?” kata Gong Ou mengira Xiaonian memanggil namanya karena dia keberatan bajunya diganti olehnya. “Berterima kasihlah aku tidak menidurimu saat kamu dehidrasi dan pingsan karena aku adalah orang yang terdidik”
Xiaonian tertawa dalam hati. Orang terdidik katanya. Orang terdidik macam apa yang memperkosa perempuan lemah? Bahkan lelaki bajingan ini memperkosa heroine yang sedang pingsan. Untuk pria semacam ini, Shi Xiao Nian hanya bisa memberikan satu kesan, yaitu-
Men-ji-ji-kan.
Di samping semua itu, tanggapan dari Gong Ou mengkonfirmasi bahwa dugaannya benar. Dirinya telah bertransmigrasi menjadi pemeran utama wanita dari komik yang dibacanya dulu.
Thea mendeduksi bahwa Shi Xiao Nian asli telah meninggal akibat kelaparan dan kehausan saat penyiksaan 3 hari di hutan. (Chapter 20 di komiknya)
Dan jika dia adalah ‘Shi Xiao Nian’, maka sampah di depannya merupakan pemeran utama pria, Gong Ou.
Komik ini berjudul, “Boss Sombong” yang menceritakan seorang gadis lemah yang tertuduh menyembunyikan anak dari seorang CEO dengan gangguan mental paranoid. Karakter utama kemudian mengalami serangkaian peristiwa yang menyedihkan, dari diperkosa, diculik, di aniaya, di interogasi, dipermalukan, dan lain sebagainya. Meski keberadaan cinta sado-maso antara gadis dengan CEO, komik ini memiliki banyak pembaca.
Semakin banyak chapter yang dirinya baca, semakin besar juga amarahnya terhadap karakter-karakter ini. Sebagai sesama perempuan, dirinya tidak bisa menerima karakter utama diperlakukan seperti pelacur murahan. Jika mereka perlu untuk menunjukkan bahwa pemeran utama pria tersebut memiliki banyak kekuatan, mengapa mereka harus merendahkan karakter utama wanita dahulu? Apakah untuk satu ditinggikan, yang lain harus di injak? Dirinya benar-benar membenci lelaki sialan itu. Mengingatnya lagi, pria ini juga mengatakan kalau perempuan menikmati xxx, maka itu bukanlah pemerkosaan. Apa dia gila? Manusia sampah ini berani memukul MC ketika dia menolak dirinya. Parasit ini juga memperlakukan karakter utama sebagai pembantunya.
Meskipun karakter Gong Ou 'melunak' setelah ratusan chapter dan komik ini memiliki happy ending, dirinya tetap tidak dapat menerima kenyataan bahwa sang pemeran utama pria melakukan pemerkosaan dan kekerasan di chapter-chapter awal. Pemerkosaan dan abusive relationship adalah hal yang benar-benar tidak boleh dilakukan apapun alasannya, dan setiap orang yang melakukan hal itu harus mendapatkan hukuman tidak peduli apa statusnya.
Tidak bisa dihitung berapa kali dirinya ingin mengambil gunting dan memotong 'kaki ketiga' dari ampas dunia ini.
Dan sekarang-
Kesempatan telah datang.
Saatnya untuk menyingkirkan keparat cacat mental ini dari dunia~
‘HAHAHAHAHAHAHA’
Meskipun saat ini Xiaonian sedang tertawa terbahak-bahak dalam hati, namun wajah Xiaonian masih menunjukan ekspresi kaku dan berada dalam posisi diam tidak bergerak.
Hal ini membuat Gong Ou marah dan kemudian menendang ranjang dengan sangat keras, dan jika bukan karena kualitas ranjang yang sangat bagus, Xiaonian yakin tendangan itu dapat membuat tempat tidurnya roboh.
“JANGAN PURA-PURA MATI” teriak si sampah.
Sekali lagi Xiaonian ingin melompat dan memberikan pria gila itu beberapa pukulan, hanya saja kondisi tubuhnya saat ini tidak memungkinkan.
Namun, tidak puas hanya dengan meneriakinya, sekarang Gong Ou mengangkat kaki dan menendang punggung kaki Xiaonian.
Xiaonian mengerutkan alisnya dengan kuat akibat rasa sakit dan kemarahan yang mulai memenuhi dirinya.
Tendangan itu membuat rasa sakit yang sudah dirasakannya sejak tadi menjadi semakin parah. Rasa marah yang sejak tadi dirinya rasakan sudah meluap dan dia tahu bahwa kesabarannya telah habis.
‘Sudah cukup.’
Xiaonian benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Tidak peduli sekarang tubuhnya sedang sakit, dia akan-
‘Aku akan membunuhnya.’
Hanya satu orang yang bisa keluar dari kamar ini hidup-hidup.
Dan tentu saja orang yang akan mati adalah si sampah tidak berguna itu!
Xiaonian membuka kepalan tangannya dan bersiap untuk melemparkan selimut ke kepala Gong Ou lalu membekap saluran pernafasan b*jingan itu, ketika Gong Ou melemparkan tumpukan kertas ke atas.
Kertas-kertas itu beterbangan di udara dan Xiaonian melihat sekilas isi dari kertas-kertas itu. Dia langsung mengambil salah satu kertas yang sedang melayang di atas ranjang.
Di kertas itu, terdapat gambar seorang pria dengan tulisan tersebar di seluruh permukaan kertas. Xiaonian kemudian melihat kertas-kertas lainnya yang kini berserakan di tempat tidurnya. Semua kertas tersebut memiliki gambar dan tulisan yang sama dengan yang tadi dipegangnya. Semua kata-kata di kertas menuliskan satu kalimat yang serupa : Tidak ada yang mempercayaiku.
Dia mengenali kertas itu.
Ini adalah kertas yang menggambarkan isi hati pemilik tubuh yang asli menjelang kematiannya.
Gong Ou bergerak mendekatinya lalu sekali lagi menendang ranjang berserta kertas-kertas yang berserakan di atasnya. Hal ini membuat Xiaonian terpukau oleh kualitas ranjang yang tidak rubuh meskipun sudah diberi dua kali tendangan hebat. Gong Ou kemudian menatapnya dengan intens lalu menggeram.
“Shi Xiaonian, kamu meninggalkan gambar yang menuliskan bahwa tidak ada yang mempercayaimu, apa maksudnya? Jelaskan padaku!”
Xiaonian mengingat kembali nasib tubuh ini, memang sang gadis tidak pernah dipercayai oleh orang-orang disekitarnya. Suara dan permohonan Shi Xiaonian asli selalu diabaikan atau dianggap palsu. Baik itu psikiater-psikiater yang menginterogasinya, Gong Ou, keluarga angkat Xiaonian, ataupun lelaki pada kertas gambarannya, tak ada satu pun yang percaya pada kebenaran yang dia berikan. Shi Xiao Nian asli adalah seorang yang jujur, tetapi semua orang di sekelilingnya selalu menganggapnya sebagai pembohong.
Gong Ou mengangkat tangannya dan menyingkirkan kertas-kertas di tangannya, menatapnya dan mengeluarkan suara penuh amarah, “Katakan dengan jelas! Apa maksudnya tidak ada yang percaya padamu? Apa aku bersalah padamu?”
Mendengar ini membuat Xiaonian tercengang …apa yang baru saja dia dengar? Apakah ini sebuah lelucon?
“pfft..”
Suara tawa keluar dari mulutnya. Lelucon itu sangat lucu hingga membuatnya tidak bernafsu lagi untuk membunuh pria itu. Gong Ou benar-benar hebat, dia adalah satu-satunya orang yang berhasil membuat Xiaonian merasa sangat jijik sekaligus lucu sampai nafsu membunuhnya menghilang.
Gong Ou terlihat bertambah marah saat pendengarannya yang setajam anjing menangkap suara gelaknya.
Xiaonian yakin Gong Ou baru saja ingin meneriakkan 'apa yang kau tertawakan', dan ini membuatnya memiliki keinginan untuk tertawa lebih kencang.
“Hahahaha!” Xiaonian tertawa kencang dengan suara seraknya membuat Gong Ou tertegun. Dirinya kemudian menyeka air mata yang jatuh hasil dari terlalu banyak tertawa. Dia merasakan perutnya bertambah sakit akibat tawa yang dikeluarkannya, tetapi dihiraukannya.
“Apa aku bersalah padamu?” Xiaonian mengulang lagi pertanyaan Gong Ou dengan nada sarkastik. “Apa kamu bercanda, bukankah itu sudah jelas?”
Gong Ou tampak tidak menerima apa yang dikatakan Xiaonian. Dia menggertakan giginya, merasa Xiaonian seakan-akan sedang merendahkan harga dirinya. Emosi sampah itu menjadi semakin berapi-api.
“BAGIAN MANA DARI AKU YANG SALAH?! Kamu merencanakan untuk naik ke ranjangku, diam-diam melahirkan anak dan tidak menyerahkannya, tidak tahu niat apa yang kamu sembunyikan dalam hati!” Ujar Gong Ou. “Beritahu kepadaku, dimana letak kesalahanku?!
Xiaonian hanya mengangkat bahunya, “Aku sudah memberitahumu aku tidak bohong, kamu yang tidak percaya.” Xiaonian tersenyum mengejek. “Yah, memangnya apa yang bisa diharapkan dari orang yang hanya mempercayai apa yang dirinya pikirkan.”
Wajah Gong Ou kini benar-benar merah padam. Tubuhnya gemetar akibat amarah.
Melihat ekspresi Gong Ou saat ini membuat Xiaonian sadar bahwa keparat ini sudah mencapai batas kesabarannya yang sangat cetek itu.
Sampah itu akan meledak layaknya anak TK dalam beberapa detik lagi.
Dan sebagai wanita yang merasakan kenikmatan diatas penderitaan lelaki brengsek, Xiaonian tentunya akan dengan senang hati mendorong Gong Ou meluap.
“Oh iya, padahal sebelum kamu memperkosa ku, aku adalah seorang perawan… namun, kamu masih percaya bahwa aku pernah mengandung?” Xiaonian memberikan tatapan mengejek. “Sepertinya ada yang bermasalah dengan otakmu, oh tunggu-”
“Sepertinya ‘itu’ mu yang bermasalah… Apakah ‘itu’ mu sudah mati rasa akibat terlalu banyak bermain-main dengan wanita? Ah, kalau kamu mau, aku bisa memperkenalkan dirimu kepada dokter SpKK yang bagus.”
Mengikuti alur cerita komik, setelah Gong Ou menuduh Xiaonian, dia akan menyuruhnya untuk memberikan bukti bahwa dia tidak berbohong dan diam-diam memiliki anak Gong Ou.
Sekarang Gong Ou bahkan tidak meminta bukti padanya dan menunjuk tangan secara buta. Tetapi tentu saja dirinya tetap akan dengan rendah hati memberikannya.
Sungguh perbuatan yang mulia bukan?
Xiaonian menonton Gong Ou yang kini sudah gemetar hebat dan mulai menghitung detik-detik meledaknya Gong Ou.
Dengan tangan yang gemetar akibat amarah dan muka semerah cabai, Gong Ou meraih lampu tidur di samping ranjang dan bersiap untuk melemparnya.
"BERANI-BERANINYA KAU MENGHINAKU!" Teriak Gong Ou sambil membanting lampu tidur yang dipegangnya ke arah Xiaonian.
Yak, dia sudah meledak sekarang~
Xiaonian segera menghindari lemparan lampu tidur itu. Melihat Xiaonian berhasil menghindari lemparan mautnya, Gong Ou menjadi semakin kesal dan dengan cepat berjalan menuju Xiaonian dan berusaha untuk menerkamnya.
“‘Itu’ ku bermasalah? Kenapa kau tidak mencobanya sendiri!” Gong Ou menggeram sambil membuka kancing celananya.
Xiaonian yang menyadari bahwa Gong Ou sedang berniat untuk memperkosanya langsung menendang bagian selangkangannya.
Tetapi, anehnya, tendangan yang Xiaonian berikan tadi tidak memberikan pengaruh pada Gong Ou dan hanya membuat Gong Ou terlihat bertambah marah.
‘Apakah ‘itu’nya benar-benar rusak???’
Gong Ou terlihat kehliangan minat untuk memperkosa Xiaonian (mungkin tendangan sebelumnya benar-benar berpengaruh), kini dia menggerakan tangannya menuju leher Xiaonian untuk mencekiknya.
Sekali lagi Xiaonian mempersiapkan beberapa gerakan untuk menyerang sekaligus menghindar dari tangan Gong Ou. Tetapi-
Tubuhnya yang sekarang jauh lebih lambat dibanding tubuhnya yang lama. Ditambah lagi, tubuhnya kini dalam kondisi yang buruk.
Keadaan mendebarkan seperti ini dapat membuat adrenalinnya mengalir kencang dan membuatnya dapat mengabaikan rasa sakit.
Hal inilah yang membuatnya berhasil menghindari lampu tidur yang dilemparkan Gong Ou dan menendangnya tadi. Namun, tubuhnya yang sekarang tetap memiliki batas.
Tangan Gong Ou berhasil mencengkram leher dirinya. Xiaonian tampak kesulitan bernafas. Kaki Xiaonian mencoba menendang Gong Ou lagi, namun sayangnya Gong Ou sadar akan gerakannya ini dan menekan kakinya dengan kedua dengkulnya.
"Kau pikir kau bisa menendangku lagi?!"
Gagal dalam menendang, gerakan Xiaonian terlihat lebih panik dan dirinya mencakar tangan Gong Ou pada lehernya. Xiaonian kemudian mendorong-dorong tubuh Gong Ou, seakan-akan mencoba untuk mendorong Gong Ou pergi dari dirinya.
Setelah beberapa saat, Xiaonian tampak sudah pasrah saat matanya mulai diselimuti kabut dan kesadarannya mulai memudar.
Atau setidaknya, itulah yang Gong Ou pikirkan.
Gong Ou melepaskan cengkeramannya dari leher Xiaonian saat gadis itu sudah tidak bergerak sepenuhnya. Tubuh Xiaonian merosot ke bawah dan Gong Ou menatapnya dengan matanya yang merah.
”Tch! Inilah yang terjadi ketika ada yang berani melawanku!”
Gong Ou berdiri dan membalikkan badan, dia baru saja ingin memanggil pelayan untuk menyingkirkan tubuh Xiaonian tetapi kemudian-
BUAK
Benturan keras mendarat di bagian belakang kepala Gong Ou. Badan si sampah itu langsung jatuh tidak sadarkan diri.
"Hmph." Xiaonian mendengus sambil memegang tiang Iv yang tadi digunakannya untuk memukul Gong Ou. Dia memelototi sampah yang terbaring di lantai dengan tatapan membeku.
Ya, sedari tadi dia hanya berpura-pura pingsan, sambil mencari kesempatan untuk menumbangkan Gong Ou. Mungkin, bagi orang lain hal yang dilakukan Xiaonian adalah tindakan pengecut karena menyerang seseorang dari belakang. Namun, seorang laki-laki yang berani bermain tangan dengan wanita adalah kasus yang lebih parah bukan? Lagipula yang terpenting pada akhirnya dirinyalah yang menang.
Xiaonian kemudian mengalihkan pandangannya pada punggung tangan kirinya yang sudah bercucuran darah akibat jarum infus yang sedari tadi tertarik-tarik. Dia dengan malas mencabut jarum infus dari tangannya, kemudian melemparnya bersama tiangnya ke lantai.
"Pfft, menyedihkan sekali…. Lihat siapa yang bertindak angkuh dan perkasa tadi.” Xiaonian menyeringai saat dia mendekati tubuh Gong Ou dan menginjaknya. “ Tetapi sekarang lihat dirimu, terbaring dengan menyedihkan dibawah kaki seorang wanita.”
Setelah puas menginjak tubuh Gong Ou, Xioanian mengeluarkan dompet milik pria itu yang tadi diambilnya saat dia meronta-ronta dibawah cengkraman si sampah.
Sekarang, dia akan keluar dari rumah ini dan mencari hotel untuk beristirahat menggunakan dompet Gong Ou.
Lalu, Xiaonian melangkah menuju pintu keluar ruangan, sepenuhnya membiarkan tubuh Gong Ou yang tergeletak mengenaskan di lantai.
Ini adalah dunia di mana seorang wanita selalu menjadi pihak yang direndahkan dan disalahkan. Tapi sekarang dengan dirinya ada di sini, dia akan menghajar semua pria bajingan dan supports women’s right!