Hari semakin larut. Semua orang sudah tertidur kecuali Alisa. Meskipun ibunya sudah berulang kali menyuruh Alisa tidur karena besok masih harus sekolah. Dengan rasa malas yang masih bergelayut, dia pun beranjak ke kamarnya untuk tidur. Ketika memasuki kamar, tiba-tiba dia merasakan sebuah suasana ramai hiruk-piruk anak berseragam sekolah sedang membersihkan kelas.
"Alisa! Bantuin!" Teriak kedua sahabatnya dari dalam kelas.
"Eh, iya. Maaf, aku tadi masih ikut ekskul." Alisa mempercepat langkahnya menghampiri Muthia dan Nazla.
Di tengah-tengah mereka merapihkan, Alisa menemukan sebuah buku yang berjudul Peri Kesayanganku. Awalnya, Alisa biasa saja melihat buku tersebut, hingga akhirnya dia melihat halaman selanjutnya dan terdapat sebuah gambar peri yang sangat manis. Alisa langsung menyobek halaman bergambar peri tersebut dan membawanya pergi. Setelah merobek buku tersebut Alisa, Muthia, dan Nazla mendengar suara lonceng yang ada pada sebuah kotak di pojok ruang kelas. Kotak tersebut berwarna cokelat dan tampak sangat tua. Awalnya, Alisa ragu membukanya, tetapi karena penasaran akhirnya Alisa dan kedua sahabatnya membuka kotak tersebut.
Kotak tersebut mengeluarkan cahaya sangat terang dan keluarlah peri yang sama dengan gambar yang tadi disobek Alisa. Alisa dan kedua sahabatnya kaget melihat peri tersebut. Mereka lebih kaget lagi karena peri tersebut berbicara kepada mereka.
"Jangan takut! aku hanya ingin membuktikan bahwa kalian sahabat yang setia." Ujar sang peri.
Alisa dan kedua sahabatnya terheran-heran,
"Membuktikan bagaimana? Kami sudah bersahabat cukup lama. Apa yang harus di buktikan?" Tanya Alisa. Peri tersebut hanya tersenyum, "Ayo ikut ke duniaku, kalian akan mengetahui jawabannya."
Alisa dan kedua sahabatnya mengikuti sang peri menuju gudang. Ketika mereka membuka pintu gudang tiba-tiba sang peri menghilang dan di hadapan mereka terdapat sebuah kaca yang sangat antik dan mengeluarkan cahaya. Dalam hitungan detik mereka terseret ke dalam kaca tersebut. Mereka tiba di sebuah kerajaan yang sangat megah. Kerajaan tersebut dipimipin oleh seorang ratu yang sangat baik. Ratu dengan didampingi peri yang di temui Alisa dan kedua sahabatnya itu menyambut mereka dengan ramah.
Peri dan sang ratu kemudian memberikan sebuah tongkat dan sebuah peta. Tongkat yang diberikan sang ratu hanya memiliki tiga kekuatan saja dan hanya bisa digunakan saat ada cahaya matahari.
Akhirnya mereka pun pergi mengikuti peta yang diberikan oleh ratu dan peri. Tugas pertama yang mereka terima adalah pergi ke hutan untuk menemui sang Naga. Perjalanan mereka menuju kerajaan Naga bukanlah sesuatu yang mudah. Mereka harus melewati berliku, curam, dan masuk hutan belantara. Hingga sampailah mereka di sebuah air terjun yang merupakan gerbang masuk kerajaan Naga.
Sesampainya di depan air terjun tersebut mereka tertegun melihat jauh ke dalam kerajaan. "Bagaimana kita melewati para penjaga yang ada disana?" Ujar Muthia dengan sedikit berbisik. Alisa dan Nazla tampak berpikir. Begitu juga dengan Muthia. Tiba-tiba tercetus ide di kepala Nazla,
"Kita akan membuat rencana untuk melewati para penjaga."
Nazla kemudian menjelaskan rencananya kepada Alisa dan Muthia sebelum akhirnya mereka menjalankan rencana tersebut. Alisa berjalan perlahan lahan mendekati penjaga gerbang kerajaan. Dia mengatakan kepada mereka bahwa dia adalah seseorang yang tersesat dan sedang membutuhkan pekerjaan. Salah satu penjaga melihat Alisa dan mempersilahkan masuk. Alisa kemudian dihadapkan kepada kepala pelayan di Kerajaan tersebut dan di terima untuk bekerja sebagai salah satu pelayan kerajaan.
Sementara itu, Muthia dan Nazla bergegas untuk mencari tanaman beracun dan seekor merpati di hutan. Mereka kemudian melatih merpati tersebut untuk bisa menyampaikan pesan ke seseorang. Setelah di rasa cukup terlatih, Muthia dan Nazla kemudian meracik tanaman beracun tersebut menjadi serbuk racun. Serbuk racun tersebut kemudian diikatkan ke kaki burung merpati untuk diberikan ke Alisa. Alisa yang sudah menunggu kedatangan merpati pun langsung mengambil serbuk racun. Alisa kemudian mencari kesempatan untuk memasukkan serbuk racun tersebut ke dalam minumannya yang akan disajikan kepada para penjaga. Semua penjaga menikmati minuman yang di sajikan oleh Alisa tanpa curiga sedikit pun. Setelah semua penjaga tersungkur akibat minuman racun, Muthia dan Nazla bisa masuk ke dalam kerajaan tersebut dengan mudah.
Mereka bertiga langsung bergegas untuk masuk ke dalam kerajaan tersebut. Mereka harus menaiki tangga yang sangat tinggi untuk menemui sang Naga. Matahari akan segera tenggelam, mereka harus bergegas untuk menemui sang Naga. "Apa yang kalian lakukan di sini?" Sebuah suara tiba-tiba mengagetkan mereka bertiga.
Mereka semakin terkejut ketika melihat sang Naga yang tiba-tiba ada di dekat mereka. Alisa, Muthia, dan Nazla sedikit berjalan mundur dengan langkah yang gemetar. Naga tersebut tampak marah karena tempat tinggalnya di usik oleh mereka bertiga. Naga menakuti Alisa dan kedua sahabatnya dengan percikan api. sang Naga tidak menyerah. Dia mengeluarkan sebuah kekuatan untuk menyerang mereka bertiga. Sebuah cahaya merah menyala mengarah ke mereka bertiga dan berhasil membuat mereka terpental ke arah yang berlawanan. Alisa dan kedua sahabatnya langsung bangkit dan balik menyerang, tetapi kekuatan mereka masih terlampau lemah mengalahkan sang Naga.
"Hahaha! Kalian tidak akan bisa mengalahkanku" Teriak sang Naga dengan sombong.
Alisa, Muthia dan Nazla melihat langsung berpikir bagaimana caranya untuk mengalahkan sang Naga. Tiba-tiba mereka teringat dengan tongkat pemberian peri dan ratu. Namun matahari sudah hampir tenggelam, sementara tongkat tersebut hanya bisa digunakan ketika terkena cahaya matahari. Pandangan Nazla tertuju pada sebuah pecahan kaca yang berada tak jauh darinya. Nazla mengambil pecahan kaca tersebut dan menempatkan ke arah datangnya matahari. Cahaya matahari yang memantul melalui kaca kemudian dimanfaatkan oleh Alisa untuk mengayunkan tongkat dan mengarahkan ke sang naga. Dengan sekali pukulan sang Naga jatuh tersungkur dan menghilang dengan sekejap mata. Naga tersebut hanya meninggalkan bola ajaib berwarna pelangi. Tanpa menunggu perintah Muthia langsung berlari mengambil bola tersebut.
Rasa lega langsung terlihat di wajah mereka. Dengan sisa kekuatan yang ada, Alisa mengajak Muthia dan Nazla untuk menyerahkan bola ajaib itu kepada sang ratu. Mereka bergegas pergi dari hutan, tetapi karena tidak hati hati Alisa terperosok ke dalam jurang dengan menyeret kedua sahabatnya.
"Aaaaaaa!"
Tiba-tiba mereka terbangun dan mengamati sekelilingnya. Hutan, peri, ratu, Naga tidak ada di sekitar mereka. Hanya ada bangku, papan tulis, meja guru dan beberapa tumpukan buku di rak kecil yang ada di pojokan kelas. Rupanya Alisa, Muthia, dan Nazla tertidur karena kelelahan membersihkan kelas sepulang sekolah tadi.