Hari ini, aku beserta teman-temanku berkemah di hutan. Di dalam bus, kami bernyanyi bersama dengan riang gembira. Tak membutuhkan waktu yang cukup lama, kami pun sampai di lokasi perkemahan. Saat kami tiba di lokasi perkemahan, matahari telah hampir terbenam, sehingga kami bergegas mendirikan tenda dan membuat api unggun. Setelah berunding, akhirnya Cinta dan Stevani yang terpilih untuk mencari kayu bakar.
“Oke. Jadi, Stevani dan Cinta, kalian yang cari kayu bakar, ya. Jangan kelamaan,” kata Putri, teman kami yang paling dewasa di antara kami.
Akan tetapi, sampai tengah malam mereka berdua belum kembali juga ke tenda.
“Dua anak itu ke mana, sih? Kok gak balik-balik,” kataku sedikit gusar.
“Iya, ini ‘kan udah tengah malam.” Temanku yang lain juga mulai gelisah.
“Gini aja, gimana kalau kita nyari mereka bareng-bareng,” usul Putri.
Kami semua pun langsung menganggukkan dan mengambil senter kami masing-masing. Kami berjalan pelan-pelan sambil meneriakkan nama Cinta dan Stevani.
“Cinta! Vani! Kalian dimana?!”
Walaupun kami telah berjalan sangat jauh dari lokasi perkemahan, tapi kami belum juga mendapatkan tanda-tanda keberadaan maupun jejak Cinta dan Stevani.
Malam bertambah gelap. Tak ada bulan ataupun sebuah bintang di atas langit, yang dapat membantu kami menerangi jalan untuk mencari kedua sahabat kami. Kami pun telah tersesat semakin jauh ke dalam hutan, dengan perut yang telah keroncongan meminta diisi. Kami meninggalkan semua bekal makanan kami di tenda, karena mengira pencarian kami hanya membutuhkan waktu yang singkat saja. Mata kami juga sudah terasa sangat berat.
“Kita istirahat dulu, ya. Aku udah capek banget. Laper lagi.” Sinta yang memang anak paling manja segera terduduk lesu di sebuah akar pohon.
Kami pun menghentikan pencarian kami sejenak untuk melepas lelah, sambil memerhatikan sekeliling kami.
Di tengah kemalangan yang menimpa kami itu, aku tanpa sengaja mengarahkan lampu senterku pada suatu tempat, dan secara samar-samar aku melihat sebuah rumah yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami berada.
“Teman-teman! Lihat di sana, ada rumah!” seruku sambil berdiri menunjuk rumah yang tiba-tiba aku lihat itu.
“Ayo, kita ke sana,” ajak Putri,dan kami pun mengikutinya.
Ada perasaan takut yang muncul di hati kami saat berdiri di depan rumah itu. Kami tertegun dan saling berpandangan sejenak. Kami berpikir, mengapa di tengah-tengah hutan seperti ini ada sebuah rumah? Siapa pemiliknya? Akan tetapi, karena kami benar-benar telah sangat lelah dan mengantuk,kami pun memaksakan diri untuk masuk ke dalamnya.
Saat kami masuk, ruangan rumah itu sangat gelap. Seorang temanku berhasil menyalakan lampu yang ada di sudut dinding. Setelah lampu dinyalakan, kami pun dapat melihat keadaan rumah itu dengan jelas. Rumah itu cukup besar dan bagus, terdapat beberapa patung serta barang-barang antik di sana. Kami sangat kagum melihatnya. Hanya saja, di beberapa sudut rumah debu tampak menumpuk dengan tebal.
Kami masih berkeliling mengagumi barang-barang yang ada di sana saat terdengar suara tangisan wanita. Kami segera berlari ketakutan. Aku mencoba mencari asal dari suara itu, dan ternyata tangisan itu berasal dari Cinta dan Stevani di belakang rumah itu.
“Lho, kok kalian berdua ada di sini?” tanyaku heran
“Ceritanya gini. Tadi, saat aku sama Vani lagi nyari kayu bakar, tiba-tiba Vani kebelet pipis, terus kami cari tempat yang cukup bagus buat Vani pipis. Tapi, kami malah gak tahu jalan pulang lagi setelah itu. Kami berdua terus berjalan hingga melihat rumah ini dan masuk. Sayangnya, rumah ini kayaknya gak ada penghuninya, jadi aku sama Vani nangis di sini sampai kalian nemuin kita berdua,” cerita Cinta panjang lebar.
Saat kami sedang melepas rindu, tiba-tiba seorang kakek datang mendekat. Kami menjerit ketakutan, karena mengira kakek itu adalah hantu penunggu rumah itu.
Dan ternyata, kakek itu merupakan pemilik rumah antik itu. Beliau membangun rumah di tengah hutan dengan alasan, di hutan sepi, tidak ada yang dapat mengganggu ketenangannya.
Semenjak istri dan anak-anaknya meninggal pada sebuah kecelakaan beberapa tahun silam, beliau menjadi pendiam dan suka menyendiri. Dan akhirnya, memutuskan untuk menetap di hutan seumur hidupnya. Beliau sangat senang mendapati tamu, karena telah bertahun-tahun beliau tak pernah berbicara dengan sesama manusia. Kedatangan kami memberi sebuah semangat baru baginya.
Kami mengetahui itu semua saat kakek itu menceritakan secara singkat tentang kehidupannya. Kami juga menceritakan peristiwa yang terjadi sehingga kami dapat sampai di rumahnya. Kami cepat akrab pada kakek yang memang ramah itu.
Kakek itu sangat baik pada kami, dia memberi kami makanan dan minuman, serta mengantarkan kami ke kamar tamunya untuk beristirahat.
Keesokan harinya, kami diantar ke lokasi perkemahan kami oleh kakek. Ternyata, kakek telah sangat hafal dengan keadaan hutan di sana. Saat tiba di lokasi perkemahan, tiba-tiba kakek yang baik hati itu menghilang secara tiba-tiba tanpa kami ketahui. Kami tak sempat mengucapkan terima kasih kepadanya.
Aku berpikir, mungkin saja kakek itu merupakan bentuk pertolongan yang diberikan oleh Allah kepada kami saat kami telah benar-benar kehabisan tenaga.
Aku tersentak kaget saat ditegur oleh Cinta saat sebuah bus telah siap untuk mengantarkan kami pulang di depanku.
“Nay, ngelamun aja. Busnya udah datang tuh. Mau tinggal di sini terus?”
Aku yang baru tersadar dari lamunanku hanya tersenyum kecil. Kami pun segera naik ke bus itu dengan tertib.
Di perjalanan pulang itu, kami tak banyak bicara dan tenggelam dalam lamunan kami masing-masing. Kami juga masih merasa lelah, sehingga di antara kami ada yang telah tertidur dengan pulas, dan tampaknya sedang bermimpi indah.