Teh susu, teh yang dicampur dengan susu kental manis atau susu kental manis yang dicampur dengan teh.
Bagi beberapa orang mungkin beranggapan itu tidak enak, atau rasanya bertabrakan. Tapi cobalah menyeruput nya sedikit demi sedikit, rasakan kemanisan nya. Mungkin memang pahit diawal, tetapi jika dirasakan memakai hati, pasti akhirnya akan berakhir manis.
-----
"Ini udah yang ke berapa kali sih?? Kamu selalu aja beli mainan tanpa sepengetahuan aku, tanpa izin sama aku!" Ucap ku pada kekasih ku. Aku marah. Dia selalu membatasi belanja ku, sedangkan dia sendiri selalu khilaf saat berbelanja.
"Iya maaf... Itu seri baru, jadi harus cepet-cepet dibeli sebelum sold out." Kata nya sepele.
"Maaf, maaf dan maaf. Aku capek tau ga?! Katanya kamu berusaha untuk tabung uang kamu sedikit demi sedikit untuk melamar aku, tapi apa buktinya?? Tiga hari yang lalu baru gajian, gaji itu udah habis kan?!!" Tanya ku.
"Aku capek tau ga?! Aku selalu batasi belanjaan make up aku, skincare aku, untuk tabung sedikit demi sedikit uang nikah kita, tapi akhirnya kamu yang boros!" Lanjut ku sambil mengacak-acak rambut ku.
"Kalau memang kamu ga serius, bilang saja aku, Tetra!!" Kata ku pada akhirnya.
"Aku serius sama kamu, Suzy." Katanya lirih.
"Aku ga butuh kata-kata kamu. Aku butuh bukti nyata, Tetra. Ingat, aku ini manusia. Aku butuh uang untuk hidup, bukan game." Akhirnya aku mengatakan kata-kata itu.
Aku langsung pergi dari ruangan itu. Ini sudah sering terjadi diantara kami, tapi aku terus-menerus mengalah pada nya. Aku berharap, kata-kata ku tadi menusuk jantung nya dan bisa membuka pikiran nya.
------
Pada malam nya, aku kembali ke rumah itu. Rumah kontrakan kami. Kami tinggal di satu atap tetapi berbeda kamar, 'ingin hemat' katanya.
Aku membuka pintu rumah, sepi. Tidak ada suara sama sekali. "Mungkin Tetra sedang bermain game," pikir ku.
Aku berjalan didepan kamar nya, tetapi tiba-tiba terdengar sesuatu dari pendengaran ku, "Iya, cewe aku marah lagi, ga peka banget dia. Padahal aku beli mainan juga ga pake uang dia."
Hahhhh, kata-katanya sungguh membuat darah tinggi. Apa kata orang jika mereka mengetahui kebenaran nya?? Mungkin orang-orang akan menertawakan nya sekarang.
"Ku pikir kau akan berubah, Tetra. Ternyata tidak sama sekali," gumam ku dalam hati.
Kecewa. Aku kecewa dan amat kecewa pada nya. Langsung saja diriku berjalan balik ke kamar ku, membungkus beberapa pakaian dan aku berpikiran untuk menginap di tempat kos salah satu teman ku, Ririn nama nya.
***
Rencana menginap ku berhasil tanpa dipedulikan oleh Tetra. Tentu saja dia tak peduli, toh dia sedang bermain bersama teman nya.
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu kamar Ririn.
"Rin, ini aku." Kata ku.
Ririn membukakan pintu, Ia terlihat sangat kusut.
"Ehm... Kamu toh Suzy, masuk-masuk." Kata nya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Maaf, ganggu kamu ya." Ucap ku.
"Gapapa, gapapa kok, kenapa?" Tanya nya saat aku sudah duduk di kursi.
"Aku numpang nginap satu malam ya..." Pinta ku.
"Hmm, terserah kamu deh, aku ngantuk banget ini, aku tidur lagi ya. Maaf ga bisa temenin kamu." Kata nya dan langsung tidur.
Aku maklum saja, toh aku yang salah, jadiii yaaa tidak boleh marah.
------
Hari sudah berganti pagi, Tetra tidak menelepon aku. Mungkin dia sudah lupa pada ku.
"Ck, nikahi saja mainan mu itu!" Gerutu ku.
"Kenapa, Su?" Tanya Ririn tiba-tiba.
"Kamu lagi berantem sama Tetra ya?" Lanjut nya.
"E-enggak... Jawab ku terbata-bata.
"Jangan bohong deh, kamu ga lupa kan kalau aku lulusan psikologi?"
"Ck, iya-iya deh." Aku kalah. Memang ya, kalau dengan Ririn berdebat tidak akan menang.
"Kenapa lagi kamu sama Tetra?"
Ya, aku sekarang di introgasi.
"Ya gitu deh, dia bilang kita harus hemat, tapi dia sendiri habisin gaji bulanan dia cuma untuk beli mainan!" Jawab ku kesal.
"Aku disini sengsara tau ga, nabung, hemat pakai skincare dan make up, bahkan aku beli baju diskonan yang harga nya 30 ribu- an!" Lanjut ku.
Ririn mengangguk.
"Kamu tau ga, game yang sering dimainin sama pacar mu?" Tanya Ririn pada ku.
"Kurang tau sih, tapi aku pernah diajak main bareng di salah satu game bareng dia." Jawab ku.
"Nama game nya apa?"
"Teatime.io"
"Oke, kita main yuk!"
"Kenapa jadi bahas game sih??" Tanya ku kesal.
"Ikut aku aja, aku kasih tau kamu cara balas dendam yang elegan." Jawab nya meyakinkan ku.
Aku hanya diam, diam seribu bahasa, karena tiba-tiba aku mengingat kata-kata yang dia katakan pada teman nya semalam.
"Hey, kok melamun sih?? Ayo dong!" Ucap Ririn pada ku.
Akhirnya aku pasrah.
------
"Hallo, Tetra ya?" Tanya Ririn dalam panggilan suara didalam game itu.
Ini ternyata yang Ririn bilang balas dendam?? Apa efektif??
"Iyaa, Silvia ya?" Tanya Tetra balik. Silvia, akun palsu yang aku dan Ririn buat.
"Iyaa. Tetra, kamu tau ga kenapa aku main game ini?" Tanya Ririn.
"Kenapa tuh?"
"Karena aku teringat pacar aku. Di game ini kita disuruh buat teh susu kan ya, kita harus campur teh dan susu walau rasanya pasti berantakan kalau kita coba, tapi kalau kita sedikit demi sedikit coba seruput, itu pasti bakalan manis. Jadi umpama nya, memang aku sama pacar ku ga bisa akur terus, tapi kalau kami coba saling tahan diri, pasti bakalan tercipta hubungan yang manis diantara." Kata Ririn panjang lebar.
"Kamu punya pacar ga, Tetra?" Tanya Ririn memancing.
"Engga, aku jomblo. Kamu mau ga jadi pacar aku?"
DEG! Suzy dan Ririn sama-sama terkejut mendengar ungkapan Tetra.
"Br*ngsek lo ya!" Maki Ririn tiba-tiba.
"Hah?" Tetra yang di seberang sana bingung bukan main.
"Terus lo anggep gue selama ini apa?" Kini Suzy membuka suara.
TEP! Tetra langsung keluar dari permainan.
-------
Tidak semua orang bisa mendapat manis dari tehsusu, kita tidak boleh melupakan satu hal, lidah setiap orang pasti berbeda-beda.
Sama seperti perasaan, kita mungkin merasa suatu hubungan bisa dibawa serius, tapi apa benar pasangan kita juga berpikir seperti itu?? Ingat, perasaan setiap orang berbeda-beda. Jangan naif.
NB : Game dalam cerita hanya rekayasa.
вσ вαhhh
08 Januari 2022, Sabtu