Setelah tersesat di kedalaman hutan, Pendaki itu kini melihat setitik cahaya remang di ujung jalan. Dalam batinnya dia bersyukur karena akhirnya melihat sebuah peradaban. Pemuda itu nekat mendaki seorang diri, hatinya yang patah menjadi satu-satunya alasan baginya memilih keputusan berbahaya itu.
***
Di dalam hati pemuda itu terdapat luka besar yang menganga. Sebab beberapa minggu yang lalu kekasihnya memilih menerima lamaran dari pria yang lebih kaya dan lebih jelas masa depannya. Sementara pemuda itu hanya sastrawan payah yang karya-karyanya tak begitu diminati khalayak. Pemuda itu melakukan pendakian dalam suasana hati yang patah dan hancur berantakan.
Meski teman-temannya sudah meyuruhnya untuk tak melakukan pendakian seorang diri, namun pemuda itu masih saja melakukannya. Selain berbahaya, teman-temannya juga tahu pemuda itu tidak memiliki keahlian pendakian. Ah, patah hati memang selalu membutakan realita.
Perjalanan cukup berjalan lancar sampai ke post 3. Petaka mulai terjadi ketika pemuda itu meakukan perjalanan dari post 3 menuju post 4. Di tengah perjalanannya dia berjumpa dengan percabangan jalan yang menuju ke dua arah yang berbeda. Pemuda yang memang tidak kenal medan gunung itu menjadi bimbang. Entah mengapa dia sangat ingin mengambil jalur kanan, namun saat kakinya melangkah dia merubah niat dan mengambil jalur kiri.
Pada awal-awal perjalanan dia menyaksikan pemandangan yang begitu indah. Terdapat berbagai macam jenis tumbuhan dan hewan langka di sana. Dia begitu bahagia dan merasa telah menemukan sedikit dari bagian surga. Namun hingga berjam-jam dia melakukan perjalanan, tak segera dia menemukan post berikutnya. Dia berpikir tidak mungkin untuk melakukan putar balik. Mengingat berjam-jam waktu yang sudah dia lewati untuk sampai di posisinya itu, maka bila memutuskan kembali, dia akan memerlukan berjam-jam lagi untuk samapi di percabangan jalan itu. Pemuda itu hanya bisa pasrah dan terus melakukan perjalanannya.
Pendaki muda itu semakin dekat dengan sumber cahaya. Setelah semakin dia mendekat, cahaya itu ternyata berasal dari sebuah lampu damar di warung kecil. Pemuda itu merasa bahagia karena akhirnya bertemu manusia lain di hutan itu setelah berjam-jam perjalanan melelahkan yang ditempuhnya.
“mari mas, silakan duduk”. Ucap ibu-ibu setengah baya pemilik warung kecil itu.
“mari mas, silakan, silakan”. Ucap para pengunjung warung, ramah. Yang tampak seperti sekumpulan pencari kayu dan pemburu.
Di sudut warung dia melihat seorang pemuda lain yang tampak seperti pendaki lengkap dengan ransel besar dan peralatannya. Pemuda itu mendekat ke sudut warung menghampiri pendaki yang tampaknya maih belum manyadari kehadirannya itu. Tepat setelah pemuda itu berada di sebelahnya, pendaki itu langsung beranjak dari tempat duduknya. Berlari keluar dan menangis berlinangan air mata. Pemuda itu masih tak mengerti apa yang sedang terjadi.
“pelangganmu lari tuh”. Ucap salah satu pengunjung dengan senapan angin di sebelahnya.
“ndakpapa, toh dia baru saja membayar”. Ucap ibu pemilik warung sambil melihat ke arah pemuda yang baru datang itu. Tatapannya begitu misterius, sebuah angin berhembus ke leher bagian belakang pemuda itu, membuatnya merinding. Pemuda yang lelah itu akhirnya memesan segelas kopi.
“adanya cuma teh susu mas”. Ucap ibu pemilik warung itu.
“yaudah deh boleh”. Ucap pemuda itu.
Setelah selesai meminum segelas teh susunya, pendaki itu membayar dengan harga yang tertera lalu melanjutkan perjalanan. Berjam-jam sudah dia tempuh menyusuri jalan setapak yang menanjak itu, namun belum juga di menemukan tanda-tanda pemukiman warga atau post pendakian berikutnya. Dia mulai panik dan ketakutan. Pemandangan yang sebelumnya indah kini berubah semakin gelap dan mencekam. Ribuan mata seolah sedang memandanginya di balik batang pepohonan. Seolah menunggu waktu yang tepat untuk mengambil alih tubuhnya ketika badannya sudah mencapai puncak kelelahannya. Tepat ketika dia telah berputus asa, dia melihat sebuah cahaya remang kembali. Dia menjadi semangat dan segera menuju ke arah cahaya itu.
Betapa terkejutnya dia, cahaya itu adalah cahaya lampu damar yang berasal dari warung tempat dia membeli segelas teh susu tadi. Lengkap dengan penjual dan para pengunjungnya.
“eh, masnya lagi. Di sini aja mas, di luar sana bahaya”. Ucap salah satu pengunjung yang mirip pencari kayu itu.
“ini mas uangnya, maaf tapi kami ngggak nerima pembayaran dengan uang seperti ini”. ucap pemilik warung menyodorkan uang yang tadi pemuda itu keluarkan untuk membeli segelas teh susu.
Pemuda itu masih terdiam bingung. Pasalnya dia sangat yakin bila sepanjang perjalanan tadi, dia terus bergerak menanjak. Bagaimana mungkin warung yang tadi dia temui di bawah kini dia temui lagi setelah melakukan perjalanan menanjak selama berjam-jam?. Kini pemuda itu mengerti, dia sudah terjebak dalam dimensi yang berbeda.
Pemuda itu bergegas berlari meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa. Pemuda itu semakin lelah, dia berusaha mati-matin mempertahankan kesadarannya. Sepanjang perjalanan, ribuan mata yang sebelumnya hanya bisa mengintip di balik pepohonan kini mulai menampakkan wujudnya. Mula-mula sesosok makhluk hitam besar mengeluarkan kepalanya dari balik pohon besar. Bibirnya menyeringai menampakkan taring-taringnya. Matanya bersinar berwarna merah dengan rambut di sekujur mukanya. Pemuda itu semakin ketakutan lali mulai berlari.
Tiba-tiba saja sekelebat kain putih melayang tepat di atas kepalanya. Seolah-olah menunjukan bahwa mereka jauh lebih cepat dan jauh lebih kuat dari pemuda itu. Pemuda itu terus berlari menanjak. Makhluk-makhluk menyeramkan satu persatu menampakkan wujudnya. Pemuda itu kini benar-benar telah kehabisan tenaga setelah berlari berjam-jam.
Pemuda itu melihat kembali sebuah cahaya remang. Seolah tak ingin percaya dengan apa yang dipikirkannya, pemuda itu berharap itu adalah rumah warga. Meskipun sebenarnya dalam hatinya dia tahu bahwa cahaya itu pasti berasal dari warung kecil yang tadi dia singgahi. Dan benar saja, senyuman ramah ibu pemilik warung itu menyambutnya.
“kan sudah aku bilang, mas. Di sini aja lebih aman”. Ucap pengunjung yang tadi menyarankannya untuk singgah itu lagi.
Tubuh pemuda itu sudah terlalu lelah untuk melakukan perjalanan kembali. Dia pun memutuskan untuk tinggal di warung itu. setidaknya para pengunjung warung itu lebih mirip seperti manusia. Tidak seperti makhluk menyeramkan di luar sana. Begitulah yang dipikirkan oleh pemuda itu.
***
Entah sudah berapa lama pemuda itu tinggal di sana. Dia hanya bisa duduk terdiam di sudut warung itu. Sampai akhirnya suatu ketika datang seorang pendaki yang tersesat dan masuk ke warung itu. Pemuda itu kembali teringat dengan kejadian waktu dia masuk dan seseorang keluar. Kini pemuda itu tahu arti dari tatapan ibu pemilik warung ketika mengatakan pendaki yang dia temui dulu baru saja membayar. Pemuda itu segera beranjak keluar dan berlari dengan berlinangan air mata. Terdengar suara pendaki yang baru masuk ke warung itu memesan segelas kopi. Pemuda itu mengucap syukur.
Setelah berjalan beberapa menit dia menemukan post pendakian ke 4. Di sana di bertemu dengan para pendaki ahli yang sedang hendak turun gunung. Tanpa berpikir panjang pemudi itu mengikuti mereka.
Sampai akhirnya pemuda itu sampai pada titik persimpangan awal mula petaka itu berada. Namun anehnya, kini persimpangan itu bukanlah persimpangan. Persimpangan itu kini hanya jalur satu arah ke arah kanan.
“dulu di sini ada sebuah persimpangan. Namun beberapa tahun lalu terjadi longsor hebat dan membuat jalan ini menjadi satu arah. Konon beberapa warga terjebak dan menjadi korban daam insiden tersebut. Beredar juga kabar jasad mereka belum ditemukan. Roh mereka menggiring para pendaki untuk menemukan jasad mereka. Tapi entahlah,, itu hanya dongeng di antara para pendaki”. Ucap salah seorang pendaki ahli di rombongan tersebut.
Pemuda itu hanya diam saja karena terlalu ketakutan. Dia sangat terkejut. Namun dia lebih terkejut ketika melihat poster wajah orang-orang yang hilang dari insiden longsor tersebut. Yang setelah diamati lebih dekat, mereka adalah para pengunjung dan pemilik warung itu.