Dunia bagaikan menyakitiku, orang yang kita sayang berpaling dengan orang lain itu sangat menyakitkan, ini bukan tentang cinta dengan pasangan melainkan kurangnya kasih sayang orang tua dalam diriku.
Namaku Raiza, dulu keluarga utuh dan masuk di list keluarga yang paling bahagia, namun itu hanya cerita singkat, entah keadaan yang memaksa mereka berpisa atau memang takdir kami bertigalah.
Kenapa aku bilang cerita bahagia ku itu sangatlah singkat? Karena hanya masa kecilku lah yang bahagia,, setelah menginjak usia tujuh tahun aku sudah harus mengenal apa itu broken home, jujur sangat pedih.
*****
Aku terbangun tepat jam 5:30, aku melihat jam dan turun dari kasur empuk ku, aku menarik nafas dan membuangnya dari mulut, aku tersenyum melihat diriku di depan cermin, usiaku sekarang sudah 17 tahun, hari ini pula hari dan tanggal yang aku tidak suka karena hari dan tanggal inilah Ayah dan Ibuku resmi bercerai dan benar saja sudah sepuluh tahun mereka memilih jalan masing-masing.
Aku ikut dengan Ayahku, karena aku perempuan dan harus ikut dengan Ayahku andai aku laki-laki aku akan ikut dengan Ibu ku, itu menurut hakim di sini.
"Raiza! Kamu udah bangun?!" Teriak Ayahku di luar kamarku.
Aku melangkah gontai dan membuka ointu kamarku lalu menatap wajah yang begitu cerah sekaligus penyemangat hidupku, aku tersenyum kepada-nya.
"Cepet mandi sayang nanti Papa antar ke sekolah," ucapnya sambil mengelus lembut kepalaku.
"Beneran Pa? Yey," ucapku berbinar dan memeluknya.
Aku ingin menangis saat itu juga, menangis karena bahagia bisa mendapatkan orang tua seperti Ayahku namun ingin menangis ketika mengingat perpisahan yang aku tidak inginkan.
Aku berlari kecil menuju kamar mandi dan membersihkan diri, setelahnya aku memakai seragam sekolah ku, aku pun melangkah menuju ruang makan dan terlihat di sana ada Ayahku yang sedang menyiapkan makanan.
Ayahku belum mempunyai istri baru, kami juga tidak menyewa asisten rumah tangga, karena ayahku sering bilang "Buat apa ada pembantu kalo kita sendiri bisa mengerjakannya, itu sama saja dengan boros, toh kamu juga perempuan ada Ayah yang ngajarin kamu nanti kalo umur kamu udah pas untuk tau semuanya," Itulah Ayahku, pandai memasak dan selalu bekerja keras untuk kehidupanku yang cerah nantinya.
Ibuku sudah tiga kali menikah dan dua kali gagal dalam pernikahan, dulu aku di undang ketika dia menggelar pernikahan, aku tidak membencinya, anak mana yang bisa membenci wanita yang sudah melahirkannya. Dia wanita tangguh yang pernah aku kenal, dia sudah mempunyai dua anak dengan suami ke tiganya, karena dia menikah itu beberapa tahun lalu.
*****
Singkat cerita, aku sudah menduduki bangku SMA kelas satu dan kehidupan pedih pun di mulai. Ayahku menikah dengan wanita yang dia cintai, aku merestuinya karena aku tau, itulah jodoh yang di kirimkan tuhan olehnya.
Sebulan berlalu dan kasih sayang ayahku pun semakin menghilang se iring berjalannya waktu, dia pindah ke rumah istri barunya karena istrinya sedang hamil muda. Aku maklumi tetapi hati ini sangat tidak mengiklaskan.
hari ini hari libur bagi penghuni sekolah, aku tinggal berdua dengan sepupu perempuanku di rumah lama Ayah dan Ibuku yang mereka tinggalkan untukku, aku sering menangisi nasib namun aku tidak suka curhat atau berbagi cerita dengan siapapun karena aku tau, yang bertanya "Kenapa?" hanya ingin tau, bukan peduli.
"Kenapa sesesak ini tuhan? Kenapa harus aku yang memerankan peran ini?" Aku frustasi dalam semua hal ini, aku ingin berteriak di dalam kamar ini, sesak, itu yang aku rasakan, di tinggal oleh kedua orang tua, itu sangatlah menyakitkan, bagaikan di telantarkan.
Aku tidak seberuntung kalian, di tinggal berbisnis oleh kedua orang tua kalian tapi ada uang yang terus mengalir di rekening kalian, aku berbeda dengan kalian, kedua orang tuaku bukan orang berada bukan juga orang yang tidak mampu, tetapi semuanya serba bercukupan, tetapi .... aku yang tidak menikmati itu semua harus bersyukur karena masih di beri tempat tinggal oleh keduanya.
Aku bekerja online dan menulis novel di sebuah aplikasi, sudah beberapa kali aku mengontrak kan karyaku tapi di tolak, jujur aku kecewa dengan diriku sendiri, aku begitu lemah aku terlalu bersahabat dengan air mata.
Semua ceritaku di mulai dari sini, aku berada di sekolah, aku bersama dengan sahabatku yang bernama Irene, aku bersahabat dengannya sejak aku menaiki bangku SMA.
"Ra, gue denger-denger mama tiri lo hamil?" tanya Irene sambil menyeruput jus jeruknya. Kita berdua sedang berada di kantin sekolah dan kita duduk di pojokan kantin.
"Iya, bulan ini sudah memasuki sembilan bulan,"
"Wah selamat yah, bentar lagi lu punya dede baru dong," ucap Irene sambil mencubit pipiku.
"Hem, iya makasih beb," jawabku menutupi semuanya.
Aku sudah bilang dulu, aku tidak suka curhat atau membagi cerita dengan siapapun termasuk sahabatku, bukannya aku tidak percaya melainkan, masalah besarku itu biarlah aku yang tau dan tuhan, itu masalah frifasiku dan itu hak ku.
Tidak lama ponselku berdering dan terpampang jelas tulisan nama di sana.
"Papa?" Gumamku sambil mengerutkan keningku.
Aku menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselku di kupingku, berdiri sedikit menjauh dari Irene.
"Halo,"
'Halo Raiza, kamu masih belajar?' tanyanya di seberang sana.
"Hari ini ada jam kosong di jam terakhir tapi di larang pulang dulu," jawabku, yah memang ada jam kosong tetapi kami di larang pulang dahulu karena di takutkan ada pengumuman nanti di jam pulang.
'Besok Papa jemput di rumah yah, Mama kamu sudah melahirkan, papa udah izinin kamu di kepala sekolah buat tidak masuk dua hari,'
"Oh iya," ucapku tersenyum kecut.
Aku bahagia punya adik baru lagi, namun yang aku resahkan adalah aku pasti akan terlupakan.
'Yaudah Papa tutup dulu yah,' ucapnya dan menutup sepihak sambungan itu.
"Hh! Miris!" Ucapku menahan sahabat beningku ini, dia terlalu setia dalam semua hal yang berbau menyakitkan dan sesak.
****
Hari ini, hari yang Ayahku tunggu, aku sudah bersiap-siap sambil menghembuskan nafas kasar.
Mungkin bagi orang-orang, luka ini hanya sebatas cerita pelengkap dalam hidup, namun berbeda denganku, aku bagaikan burung yang terhempas dengan kenyataan namun di tarik oleh rantai kegelapan di paksa untuk berekspektasi bahwa itu hanyalah mimpi buruk.
Sebuah mobil sedan hitam terparkir di depan rumahku, ingat ini rumahku, karena hanya aku yang tinggal tanpa ada seorang selain diriku, sepupuku pindah karena dia kuliah di bandung.
"Ayo Ra," ucap seseorang yang turun dari mobil itu.
"Om siapa?" Tanyaku bingung sambil mengerutkan keningku. Terpampang jelas di depanku berdiri seorang pria paruh baya yang seusia dengan Ayahku.
"Saya Brahma, tetangga Ayah kamu, saya di suruh jemput kamu di sini," ucapnya sopan sambil tersenyum.
Aku membalas senyumnya kecut,"Papa mana? kok bukan dia yang jemput aku?" Tanyaku sambil menarik koperku menuju bakasi mobil.
"Ayah kamu katanya sibuk ngurusin Mama kamu, jadi enggak sempat jemput, itupun adik kamu selalu menangis," ucapnya menjelaskan.
"Sibuk dalam keluarga besarnya hingga melupakan anak kecilnya dan tidak memberikan waktu unttuk anak satu-satunya, itu yang benar," ucapku dan menutup pintu mobil.
"Apa ada masalah dengan Ayah kamu?" tanyanya melirikku di kaca mobil.
"Tidak," jawabku singkat dan melipat kedua tanganku sambil memalingkan wajahku ke arah jendela, mobil itu pun melaju dan keluar dari area rumahku.
*****
Sekarang aku tepat berada di ruang ICU, aku duduk di dekat anak kecil yang masih terlihat memerah, dia tertidur lelap, ada sedikit sejuk di hatiku.
'Dia malaikat kecil, Malaikat kecil, semoga suatu saat nanti kamu terus bahagia cukup kakak kamu yang merasakan itu semua,' batinku sambil menatap lembut Bayi kecil yang sedang terlelap itu.
Aku menyayangi adik-adikku aku tidak mau apa yang aku rasakan terlimpah kepada mereka, makanya aku diam ketika merasakan sakit agar kedua orang tuaku bahagia dalam dunianya masing-masing biarlah aku terlupakan tapi aku yakin masih ada sedikit ruangan kasih sayang untukku dari keduanya.
"Pantesan panas ternyata ada orang baru di sini," sindir Rina ---- anak dari istri ayahku.
Aku diam dan menganggap ucapannya angin lalu, aku tidak ingin berurusan dengan perompak sepertinya, mengapa aku bilang perompak? Karena dialah orang yang selalu merengek dan meminta ini itu kepada Ayahku, dia meminta apapun pasti di turuti yang pasti berbeda denganku:)
"Rin," tegur istri Ayahku sambil menggelengkan kepalanya.
Tidak lama Ayahku datang dan melihatku, dia tersenyum aku melihatnya dari ekor mataku.
"Ternyata sudah datang? Adik kamu hidung dan pipinya sama persis dengan kamu kan?" tanyanya sambil membelai lembut pipi gembul milik si dede Bayi bergantian dengan membelai lembut rambutku.
Aku tersenyum dan memeluknya, menahan yang akan jatuh seharusnya pantas namun aku berusaha menahannya.
"Raiza kangen Pa," ucapku sambil membekap erat tubuh Ayahku.
"Papa minta maaf Ra, Papa belum bisa jadi orang tua yang baik buat Raiza," ucapnya mencium pucuk rambutku.
Aku hanya mengangguk dan berkata,"Gagal untukku dan harus berhasil untuk adikku," ucapku sambil mengusap kasar sahabat beningku, entahlah dia tiba-tiba turun tanpa di minta.
Rina menatapku dengan tatapan benci, dia sangat tidak suka ketika aku dan ayahku bersama, makanya dia mengusulkan Ayahku dan ibunya pindah ke kotanya.
"Om," rengeknya sambil menghentakkan kakinya kesal dan pura-pura sedih.
"Kan aku iri sama Raiza bisa di perhatiin kayak gitu, aku tau kok Om aku cuman anak tir___," ucapan Raina terhenti karena aku memotongnya.
"Tenang aja, gue bukan orang yang suka ngerebut kebahagiaan orang kok, gue ikhlas kalo Papa gue lebih milih lo daripada gue," ucapku dingin sambil tersenyum kecut.
"Raiza!" Teriak Istri Ayahku sambil menatapku tajam.
Aku mengerutkan keningku dan mentapnya bingung, apa ada yang salah di dalam kalimatku? Kayaknya tidak ada toh itu semua fakta.
"Tidak semua yang kamu katakan itu seharusnya benar! Asalkan kamu tau Rina itu selalu menyuruh kami pindah ke kota kamu, tapi kami menolak karena dia hanya tinggal sendiri di sana, apa kamu tega melihat Rina tinggal sendiri? Bisa-bisa dia kekurangan kasih sayang dan satu hal lagi dia itu penakut jadi tidak pantas untuk di tinggal sendiri," tegasnya sambil mendengus kasar memalingkan wajahnya.
Jujur saat ini aku ingin tertawa, lalu apa kabar denganku? Apa aku sedang baik-baik saja di tinggal sendiri? Uangpun aku yang cari untuk membeli makanan.
Rina tersenyum kemenangan dan menaikkan alisnya seakan-akan meberitahuku bahwa dialah yang selalu jadi pemenangnya.
"Em, Mama udah, Rina enggak Papa kok," ucapnya
sambil tersenyum tulus.
"Raiza Papa ingin bicara sama kamu," ucap Ayahku sambil berlalu pergi dan aku pun mengekorinya.
*****
Di sinilah aku, berada di roftoop rumah sakit bersama ayahku, Ayah menatapku dengan tatapan yang sangat sulit di tebak, aku duduk di kursi usang dan memandang limpahan gedung pencakar langit di atas sini.
"Apa kamu tidak menyukai saudara tirimu?" tanya Ayah sambil menatap langit biru.
"Aku perempuan Pa aku masih sehat, aku tidak mungkin menyukai sesama perempuan," jawabku.
"hahaha," Ayah terkekeh, jujur aku sangat rindu canda tawa dari mereka berdua selama sepuluh tahun tidak ada keharmonisan dalam hati ini.
"Bukan begitu maksud Papa, apa Raiza benci dengan Rina?" tanyanya lagi, kali ini dia menatapku dengan tenang.
"Tidak," jawabku singkat dan membalas tatapannya, mata iris kecoklatan yang seperti yang ku bawa saat ini langsung bertemu pandang.
"Terus?" Ayah berjalan ke arahku dan mengelus pucuk rambutku.
"Aku tidak pernah membenci siapapun Pa, aku hanya tidak menyukai sifat yang selalu ingin menang dan serakah dalam segala hal," jawabku memandang ke arah langit yang terhempas luas di atas sana.
"Kalo begitu .... Maafkan Rina yah, dia memang seperti itu, dia terlalu takut karena dia terauma dengan kehidupan dulunya, dia di tinggal oleh ayahnya demi kehidupan baru Ayahnya, kasihan kan? Jngan dendam yah sama saudara-saudara kamu, walaupun tidak sedarah dia tetaplah saydara kamu," ucap Ayah yang entah kata apa yang sangat aku tidak suka dalam kalimatnya saat ini, tapi menahannya adalah perisaiku.
Aku hanya tersenyum kecut dan memeluknya, aku sangat merindukan momen seperti ini, singkat namun penuh makna dalam setiap detiknya.
Tak Tak Tak
Suara langkah kaki terdengar di antara kami, aku dan Ayah menoleh melihat ke arah sang empunya dan ternyata dia adalah Rina.
Aku cepat-cepat merubah wajahku datar dan memandangnya dengan tatapan datar, dia terus melangkah ke arahkan dengan senyuman manis, yang pastinya di berikan oleh Ayahku.
"Om, aku mau bicara berdua sebentar dengan Raiza boleh?" tanyanya dan di angguki oleh Ayah.
"Yasudah Ayah ke bawah dulu yah, Mama sama dede kamu pasti sendirian kan, yasudah baik-baik yah kalian berdua," ucap Ayah sambil mengusap lembut pucuk rambutku bergantian dengan Rina.
Sepeninggalan Ayah, Rina merubah wajahnya kesal dan menatapku tajam, aku mengerutkan keningku dan mengangkat alisku seakan bertanya "Kenapa?"
"Lo enggak usah coba-coba ngerayu om Rian buat pindah ke kota lo, gue enggak bakalan biarin lo ngerebut kebahagiaan yang udah gue susun secara rapih!" Teriaknya lantang dan menunjuk-nunjuk aku
"Enggak salah? Padahal kebalik loh, ya nggak sih?"
"Nyolot lo yah! Gue enggak bakalan ngebiarin lo ngambil hak gue!" Gertaknya sambil menatap Aku tajam.
"Ingat Rin, gue diam bukan berarti gue takut, gue bisa aja ngehancurin hidup lo andai gue mau, tapi gue fikir dua kali kok sebelum bertindak, karena bukan lo doang yang hancur, papa sama adek gue juga bakalan terlibat, jangan samain gue sama lo, gue bukan Rina yang nerkam mangsanya secara ekspos, gue Raiza yang bisa kapan saja menekan mangsanya secara diam namun tanpa jejak," jelasku tetap tenang.
"Lo boleh licik besok, tapi biarin gue yang lancarin aksi gue hari ini ...," Rina menggantung kalimatnya dan mendekat ke arahku lalu berbisik "Karena gue enggak bakalan ngebiarin lo hidup tenang selama lo ada di kota ini," ucapnya dan berjalan mundur.
Aku hanya menatapnya datar, tidak lama kemudian dia berdiri tepat di tepi roftoop, karena memang roftoop tidak memiliki pagar pembatas, aku mengerutkan keningku dan menatapnya bingung.
"Selamat tersiksa dan kena murka Ayah lo sendiri Raiza bodoh," ucapanya dan melambaikan tangannya ke arahku.
Dia menjatuhkan dirinya dari roftoop yang berlantai sembilan itu, tapi untung aku segera menariknya dan menahannya cepat.
"Lo gila ya?! Kalo lo punya masalah sama gue, selesaiin secara baik-baik, jangan bahayain nyawa lo sendiri demi ngehancurin hidup orang lain!" Gertakku tidak percaya dengan tingkah konyol Rina.
Posisi aku sekarang menahannya dan dia berdiri miiring ke belakang, dia menatapku sambil tersenyum.
"Lo ngelancarin aksi gue Raiza, maksih, goodbye," ucapnya dan menghenttak keras lengannya dari tangankku.
"Rina!" Teriakku sambil terduduk lemas dengan dada bergemuru.
Brugh!
Sedetik kemudian suara jatuh pun terngiang di area gedung itu, ada suara orang yang berteriak di bawah sana dan meminta tolong.
"Lo yang bodoh apa gue Rin? Gue enggak mungkin mau nyelakain lo demi kebahagiaan gue, tapi lo malah sebaliknya, lo ..... udah ngehancurin dan ngerebut semuanya Rin, hiks," ucapku sambil menangis.
"Lo jahat Rina!" Teriakku di sambut dengan suara geledek dan sambutan air hujan.
Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba langit mendung dan menumpahkan air jernihnya, aku si penikmat hujan kini merasa pembenci hujan, seakan-akan semuanya mendukungku untuk mundur, langit ikut menangis dengan kesedihanku.
Tidak lama kemudian seseorang melangkah ke arahku dan berteriak.
"Raiza! Kamu terlaluan!" Teriaknya sambil menarik dan memaksaku berdiri.
Plak!
Wajahku berpaling ke samping karena tamparannya yang begitu keras, aku merasa tulang pipi ini seakan bergeser dari tempatnya.
"Kan Papa sudah bilang selesain baik-baik kalo kalian punya masalah, kenapa kamu mendorong Rina?! Raiza!" Gertaknya dan menatapku tajam, ini kali pertamanya dia membentakku dan me ... mukulku.
"Rugi aku jelasin sama Papa! Sampai nangis darah pun Papa enggak bakalan percaya sama aku! Aku terlalu abu-abu di mata Papa! Anak kandung papa itu siapa pa?! Aku atau Rina?! Dia itu hanya anak tiri Pa! Oke fine! Aku ngerti kalo Papa lebih syang sama dia karena mamanya istri sah Papa, tapi Papa ngelupain aku malaikat kecil Papa! Mana sikap peduli Papa aku dulu?! Mana Pa? Apa pernah aku menuntut kemauanku sama Papa? Apa pernah aku ngerengek minta sesuatu sama Papa? enggak pernah Pa! Apa-apa aku sendiri Pa, aku capek berekting dalam kegelapan Pa, ini terlalu sakit buat aku, ada namun tidak di anggap itu lebih sakit Pa,"
"Papa kecewa sama kamu Raiza! Papa kira kamu ngetiin Papa, ternyata cuman kebohongan? Papa enggak ngerti dalam pikiran kamu, Rina itu saudara kamu, adik kamu, kamu benar-benar manusia enggak punya etika Raiza!" ucapnya.
Ucapan terakhirnya sangat terasa di hati dan terngiang di telinga.
"Aku yang harusnya kecewa sama Papa! Bu___"
Plak!
Ucapanku terpotong dengan tamparan yang kedua kalinya, hati ini seakan terhenti sejenak, aku menarik nafas pelan dan membuangnya pelan pula, aku memejamkan mataku membiarkan air mata ini jatuh menyusuri pipiku yang mungkin sudah memerah.
"Besok Papa akan kirim kamu ke kota besar, renungi nasibmu di sana dan jangan pernah kembali jika kamu tidak mengakui kesalahanmu, pergi dari hadapan Papa sekarang," ucapnya dingin.
Aku melangkah gontai menuju pintu roftoop rumah sakit tetapi seketika langkahku terhenti ketika mendengar ucapannya.
"Kemasi barang-barang mu dan jam tiga besok kamu sudah berangkat," ucapnya.
Aku hanya mengangguk dan meneruskan langkahku.
*****
Aku sudah membersihkan diri dan mengambil ponselku membuka aplikasi berwarna hijau berlogo telepon rumah. Aku mencari nama Irene.
Pesan WhatsApp on
Irene bitch💙✨
Me : Re gue mau pindah besok, lo jaga diri baik-baik bitch.
Irene bitch💙✨ online
Irene bitch💙✨: Kok tiba-tiba Ra? tega banget lo ninggalin gue🤧
Me : Gue enggak bisa jelasin sekarang, suatu saat nanti lo bakalan tau sendiri nanti, jangan benci gue kalo rumornya nuduh gue:)
Irene bitch💙✨: Iyah gue ngerti kok, gue udah tau tadi di sekolah pas latihan volli, gue minta maaf enggak bisa bantu lo, gue juga percaya sama lo, yang pastinya kalo nanti udah tammat sekolah gue pasti bakalan nyusul lo di sana, jaga diri baik-baik dan jangan los kontak ama gue. Awas kalo lo enggak ngabarin gue, gue bejek-bejek lo kalo ketemu😙
Me : Maunya sih ganti nomor tapi tenang aja gue kabarin lo kok, yaudah gue of mau beres-beres dulu💙
Irene bitch💙✨: Pay pay bitch gue sayang, tunggu gue yah, jangan lupain gue😭 sumpah gue nangis loh Ra😭 janji yah jangan los kontak ama gue😭
Me : Iya lebay amat lu, cuman di kota besar kok Re
Irene bitch💙✨: Cuman pala lu peyang🖕 lu kira kota besar itu deket Ra? Nyebrang pulau lima kali Ra seribu kota yang di lalui taik!😙
Me : Doain gue biar sukses di sana njing😙
Irene bitch💙✨: Yaudah, ingat tunggu gue😙✨🤸💙
Pesan WhatsApp Of
"Makasih Ren, lu udah jadi sahabat terbaik gue, gue enggak pernah ngelepasin kebahagiaan gue satu-satunya, gue tetep tunggu lo di sana I love you my friend Irene dilapidated,"
*****
Singkat cerita, di sinilah aku sekarang berada di kota orang yang sangat asing bagiku aku menitih karirku di sini.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti tahun, aku sudah tamat SMA tidak terasa aku sudah hampir tiga tahun di sini yah aku sudah berumur 20 tahun.
Dan hari ini aku berhasil mendirikan bisnisku sendiri dari hasil novel yang aku buat, karya-karya ku telah lulus kontrak dan penghasilan yang aku dapat dari sana bukan main-main, ratusan bahkan hampir miliaran.
Aku bertemu dengan sahabatku di sini, di umurku di dua puluh tahun ini aku merayakannya hanya berdua saja dia sudah seperti saudara kandungku sendiri, aku memblokir semua kontak orang tuaku, biarlah mereka memilih kehidupan mereka dan aku sudah bahagia di sini dan aku akan mendoakan mereka dari sini.
Hari ini aku berhasil bekerja sama dengan CEO perusaan NEAN yang terkenal sangat kaya di kota ini, dua bulan berlalu aku bekerja sama dengannya dia mengungkapkan perasaannya kepadaku, jujur aku sangat mencintainya, dia sangat tampan walaupun dingin kepada orang-orang tetapi sangat lembut dan manja ketika bersamaku.
"Naneun dangsin-eul olaesdong-an salanghaessseubnida, dangsin-eun nae pyeongsaeng-ui pateuneogadoego sipseubnikka?"
(Aku sudah lama mencintaimu, apakah kamu ingin menjadi pendamping hidupku untuk selama-lamanya?)
"Ya," jawabku sambil tersenyum.
Dia memasangkan cincin di jari manis ku dan keluarganya pun keluar dari persembunyiannya di ikuti dengan Irene yang membawa kotak kalung.
"Selamat yah bitch," ucap Irene sambil memelukku.
"Makasih bitch, lo udah nemenin gue sampai sekarang," ucapku terhurai eh ralat terharu.
Adrian menarik tanganku dan menciumnya lembut dan di lanjut di keningku dan terakhir di bibirku.
Tepukan meriahpun memenuhi ruangan itu.
TAMAT
Pesan MinMut hanya satu : Kesuksesan dan kepedihanmu hanya tuhanlah yang tahu, jangan mengekuh di setiap langkah kaki kalian, ingat di setiap langkah kalian ada dorongan dari yang di atas tidak terlihat namun terasa:)
See you al👋😙