Namanya Lidya, anak bungsu dari ketua klan Cyilion. Cyilion merupakan klan vampir terbesar di negara Deurice. Lidya sebenarnya tidak percaya untuk hal-hal mistis yang berhubungan dengan vampir, seperti kekuatan magis, sihir dan lain-lain.
Mungkin karena Ia tidak terlalu dekat dengan keluarga nya, akibatnya ya dia tidak percaya dengan hal seperti itu.
Ia sendiri hidup rukun dengan manusia, walau seatap dengan vampir, tetapi diluar Ia berteman dengan semua manusia. Bawang?? Lidya tidak takut mencium aroma bawang, tetapi Ia tidak bisa memakan bawang, oleh sebab itu Ia membuat alasan jikalau Ia alergi pada bawang.
Ya, Lidya tidak pernah jujur dengan teman nya. Ia selalu membuat alasan yang logis jika ditanya, dimulai dari tempat tinggal nya, sampai makanan favorit nya, semua hanya kebohongan.
Oh ya, bagaimana dengan orang rumah?? Hah... Tak usah ditanya, dia tidak terkenal. Faktor dia tidak terkenal yaaa karena banyak vampir yang tinggal disitu, dimulai dari kakek, nenek, paman, bibi, ayah dan ibu nya sampaiiii keponakan nya yang masih bayi pun tinggal disitu.
Jangan salah, jumlah mereka tidak sedikit.
Akibat rumah yang besar itulah Ia bisa mendapatkan peluang keluar rumah tanpa sepengetahuan sang orang tua.
-----
"Ibu, besok adalah upacara kedewasaan ku... Aku sudah bisa minum darah manusia, bu!" Ucap sepupu Lidya, Jack, saat sedang makan malam bersama.
"Oh ya? Bagus, Jack. Kau sungguh luar biasa!" Puji Mariam, Ibu Jack.
"Tentu saja!"
Tiba-tiba semua orang melirik Lidya.
"Tidak biasanya mereka melihat ke arah ku, ada apa?" Batin Lidya.
"Ekhem, bagaimana dengan anak mu, Louis?" Tanya Mariam pada adik nya, Louis yang merupakan ayah Lidya.
"Bagaimana apa nya?" Louis bertanya balik.
"Hah... Bagaimana dengan anak bungsu mu?? Kata Jack dia sering bolos saat pelajaran vampir." Mariam menyindir.
"Benar begitukah, Jack?" Tanya Louis memastikan.
"Be-benar, paman. Lidya sering bolos saat pelajaran itu." Jack terbata.
"Apa lagi sekarang?? Aku yang jadi topik pembicaraan?? Ya ampun..." Ucap Lidya dalam hati.
Ia sangat kesal dengan tante nya ini. Tante yang satu ini terlalu kepo untuk nya.
"Bukan manusia saja yang bisa kepo, vampir pun juga bisa. Padahal jika di film manusia, vampir kelihatan sangat elegan, berbeda dengan vampir dunia nyata." Batin Lidya.
"Benarkah kau sering bolos, Lidya?" Kini Louis bertanya pada Lidya.
"Hahhhh, bagaimana ini?? Apa yang harus aku jawab???" Lidya bingung.
"Ti-tidak, ayah. Aku tidak bolos, hanya saja aku duduk di baris paling belakang." Bohong-bohong dan berbohong, lagi-lagi Lidya berbohong.
"Kau dengar itu, Jack? Lidya tidak bolos, mungkin kau saja yang tidak melihat dia." Kata Louis yang berniat ingin memberhentikan pembicaraan.
"Huffffhtttt, aman." Batin Lidya saat melihat wajah Jack dan Mariam memerah karena malu.
------
Keesokan hari nya,
Tok tok tok
Ada yang mengetuk pintu kamar Lidya dari luar.
"Siapa?" Tanya Lidya dari dalam.
"Ini aku, Jack," jawab orang itu dari luar.
"Jack? Kenapa dia datang kemari?" Tanya Lidya dalam hati nya.
Lidya pun akhirnya membuka pintu kamar nya.
"Ada apa kau datang kemari?" Tanya Lidya yang langsung to the point.
"Kau berbohong." Kata Jack yang juga langsung to the point.
"Bo-bohong apanya!"
"Semalam, kau berbohong." Kata Jack.
"Ma-mana ada, kau sendiri yang tidak melihat ku!"
"Tidak, jelas-jelas kau berbohong. Sore tadi, kelas dimulai. Kau tidak datang ke kelas, padahal aku sedang menunggu mu disana." Ucap Jack.
"T-tadi pagi aku sedang sakit." Jawab Lidya dengan mengalihkan pandangan nya.
"Bukan pagi, Lidya. Aku bilang tadi sore. Kau mencurigakan."
Oh tidak, Jack mulai curiga pada Lidya.
"Mana ada vampir yang bangun ketika pagi hari, kau tidak lupa kan?" Tanya Jack memastikan.
"A-ah! I-iya..." Lidya terbata-bata.
Dia tidak ingat, kehidupan vampir berbeda dengan kehidupan manusia. Vampir bekerja di malam hari, sedangkan manusia bekerja di pagi hari, bisa dibilang Lidya adalah terkecuali.
"Hahh, sudahlah. Intinya aku ingin melihat kau besok ada di kelas." Ancam Jack sambil berlalu pergi.
"Hahhhh, sial! Dimana letak kelas nya saja aku tidak tahu," gerutu Lidya dalam hati.
---------
Karena tidak tahu dimana letak kelas yang dikatakan Jack, akhirnya Lidya tidak datang ke kelas dan Jack menganggap Lidya 'bolos' lagi.
Ya, tentu saja Lidya tahu bahwa Ia akan di teror oleh Jack malam nya.
"Ada apa lagi?" Tanya Lidya yang muak melihat Jack.
"Kau bolos lagi." Jawab Jack.
"Ya, aku bolos. Ada masalah dengan mu?" Kata Lidya dengan tatapan tajam seakan tak suka.
"Berikan alasan mu bolos." Ucap Jack.
"Berikan alasan untuk ku mengapa aku harus masuk ke kelas." Tanya balik Lidya.
"Agar kau bisa mengaktifkan kekuatan super mu." Jawab Jack.
"Hanya itu?" Tanya Lidya lagi.
"Mempunyai kekuatan super itu luar biasa, kau tahu? Kita bisa melindungi diri kita sendiri dengan kekuatan itu." Jawab Jack dengan sedikit panjang.
"Apa buktinya?"
Tiba-tiba angin berhembus dari belakang Jack.
"Angin ini adalah kekuatan ku. Ini buktinya." Jawab Jack.
Lidya sedikit terpukau untuk beberapa saat. Tetapi tiba-tiba Ia keluar dari lamunan nya.
"Biasa saja. Itu tidak mungkin bisa melindungi diri sendiri, angin nya tidak sekuat tornado." Ujar Lidya.
"Kekuatan ku masih belum cukup. Baru saja semalam aku mencapai umur legal, masih banyak waktu untuk meningkatkan kekuatan ku."
Lidya tidak tertarik sama sekali.
Ia lebih tertarik dengan bagaimana rasa bawang.
"Keluarlah jika kau sudah selesai bicara." Usir Lidya.
Jack merasa sakit hati dan bertanya, "Apa yang membuat mu seperti ini, Lidya?"
DEG! Apa maksud dari pertanyaan Jack sebenarnya?
Apa dia sudah mengetahui rahasia Lidya?? Atau Ia hanya memancing? Membingungkan.
"A-a-aku tidak mengerti apa yang kau tanya." Ucap Lidya asal.
"Tidak, kau mengerti. Kau pasti mengerti." Tegas Jack.
Lidya terdiam.
"Ya, aku mengerti pertanyaan mu. Aku mengerti semua nya. Dan langsung saja aku tegaskan pada mu, aku muak menjadi vampir."
Jack terdiam.
"Aku ingin menjadi manusia biasa, mereka tak ada larangan makan, mereka bebas berkeliaran jam berapapun, dan satu lagi yang perlu kau tau, MEREKA LEBIH MEMPEDULIKAN KEHADIRAN KU." kalimat terakhir yang diucapkan Jack sungguh membuat Jack tertegun.
"Ini rumah mu, Lidya! Sadarlah!" Tegur Jack.
"TIDAK, JACK! KAU SALAH BESAR JIKA MENGATAKAN BAHWA INI RUMAH KU! INI BUKAN RUMAH KU. AKU DIKUCILKAN DISINI, ORANG TUA KU HANYA FOKUS PADA PARA KAKAK-KAKAK KU. AKU DIKUCILKAN SEJAK UMUR 4 TAHUN, JACK!! EMPAT TAHUN!! DISAAT AKU MASIH KECIL, KECIL SEKALI, AKU TIDUR DI KAMAR INI SENDIRIAN!! TAPI APA KAU PERNAH LIHAT, JACK, KETIGA KAKAK LAKI-LAKI KU TIDUR SATU KAMAR BERSAMA ORANG TUA KU SAMPAI MEREKA BERUMUR SEPULUH TAHUN!! TIDAK KAN? KAU TIDAK PERNAH LIHAT KAN? TENTU SAJA, KAU TAK PERNAH LIHAT, KAU BUKAN SIAPA-SIAPA." Lidya telah mencapai batas kesabaran nya. Akhirnya Ia meluapkan segala nya didepan Jack.
"AH YA, JANGAN LUPA SATU HAL! DIUMUR 14 TAHUN, ORANG TUA KU MEMECAT DAYANG YANG MEREKA PEKERJAKAN UNTUK KU."
Jack tertegun. Ternyata benar, ini bukan rumah untuk Lidya.
Amarah Lidya ternyata telah menghadirkan banyak orang berdatangan, dimulai dari dayang sampai beberapa kerabat pun datang ikut melihat pengakuan Lidya.
"Sempat aku bertanya-tanya, sebenarnya kenapa mereka mengucilkan ku, ku pikir untuk melatih kemandirian ku, tapi kau tau apa alasan mereka, Jack?
'Dia tidak berguna karena dia perempuan, sayang sekali. Andai saja dia adalah anak laki-laki, dia pasti sungguh tampan dan pasti akan bisa mewarisi gelar ku suatu saat.' itu jawaban dari orang yang kau panggil 'paman', Jack." Lidya menampilkan senyum pahit nya.
"LIDYA, OMONG KOSONG APA YANG KAU UCAPKAN SEKARANG?! KAPAN AYAH PERNAH BERKATA SEPERTI ITU?!" Louis datang karena mendapat informasi dari salah seorang dayang.
"04 JANUARI 1568 PADA SAAT KAU DIDALAM RUANG KERJA BERSAMA DENGAN SALAH SATU SELINGKUHAN MU!" Jawab Lidya lantang.
"LEBIH TEPATNYA, TEPAT PADA HARI DISAAT AKU BERUMUR 10 TAHUN." Lanjutnya.
"Apa kau masih ingin membantah?" Tanya Lidya menantang.
"Kau pasti salah, Lidya. Itu hanya imajinasi mu, umur segitu adalah umur yang tepat untuk berimajinasi." Elak Louis.
"TERSERAH KAU MAU BILANG APA, TAPI YANG PASTI, AKU TIDAK AKAN MELUPAKAN KATA-KATA ITU SEUMUR HIDUP KU!" Ucap Lidya dengan lantang sambil menunjuk Louis.
"Cukup, cukup! Ada ribut-ribut apa ini?" Ternyata ketua klan terdahulu juga datang, dia adalah kakek Lidya.
"Lidya, kenapa kau begitu apa ayah mu? Dimana sopan santun mu?!" Protes Lauren, nenek Lidya.
"SOPAN SANTUN?? AHH IYA, AKU LUPA DIMANA SOPAN SANTUN KU. SOPAN SANTUN KU SUDAH HILANG, NENEK KU SAYANG!! BUKAN BEGITUKAH, NEK??" Tanya Lidya sambil mendekat ke arah Lauren.
"Nenek yang cantik ini dulu tidak pernah mengajarkan ku sopan santun dahulu, jadi untuk apa aku juga sopan?? Bukan begitu??" Tanya Lidya sambil mengelilingi nenek nya.
"SEKARANG KAU BERANI MENGHINA NENEK MU?!" Tanya Louis lantang.
"BUKAN MENGHINA! Tapi seperti itulah kenyataan yang terjadi. PADA SAAT AKU BERUMUR ENAM TAHUN, AKU TIDAK SENGAJA MENABRAK NENEK YANG KEBETULAN SEDANG BERADA DI DEPAN KAMAR KU, AKU TAK SENGAJA MEMECAHKAN POT VAS BUNGA NENEK, DAN KAU TAU APA YANG AKAN DILAKUKAN NENEK SAAT ITU, AYAH?? NENEK MEMBUKA BAJU KU KEMUDIAN AKU DICAMBUK! SEKARANG AKU TANYA, DIMANA LETAK SOPAN SANTUN NENEK PADAKU?!"
"JANGAN LUPA JUGA KATA-KATA YANG NENEK LONTARKAN PADA KU SAAT ITU, 'ANAK KACUNG MANA INI?!' HAHAHA!" Lidya tertawa.
"Sekarang kau sudah tau jawaban yang kau inginkan, Jack?" Tanya Lidya pada Jack yang membeku tidak ada suara.
Lidya adalah gadis yang malang.
Di satu sisi, ada seorang pria yang menahan amarah nya pada Lidya. Lidya juga menyadari itu, Louis sedang berapi-api.
"Tidak usah kau keluarkan kata-kata mu, Ayah!!! Tak perlu susah payah mengeluarkan nya!! AKU SENDIRI YANG AKAN PERGI DARI RUMAH BUSUK INI!! AKU TAU DIRI! AKU ADALAH ANAK YANG TAK KAU ANGGAP!! AKU JUGA TIDAK MENGINGINKANNYA!!" Air mata Lidya menetes sudah. Akhirnya kata-kata itu terucapkan juga.
Lidya, bebas dari penjara yang penuh kenangan buruk ini.
-TAMAT-
вσ вαhhh
07 Januari 2022, Jumat