Di tengah masa pandemi, aku beberapa kali telah mendengar kabar kematian anggota keluargaku. Entah itu karena virus Covid-19 atau sebab lain seperti kecelakaan, penyakit, bahkan dibunuh. Kabar kematian itulah yang membuat aku sedikit cemas dan bertanya tanya, bagaimana jika aku nanti mati ? Masih banyak yang harus aku lakukan, dan aku yakin jika seratus tahun pun tidak cukup untukku untuk menjalankan tiap daftar hal yang aku ingin lakukan di dunia. Aku butuh lebih dari itu !
Di daftar pertama, hal yang ingin aku lakukan adalah menikah. Itu mustahil di usiaku yang masih enam belas tahun. Apalagi menikah bukan hanya sekadar kata-kata belaka, tapi juga komitmen dan tentunya disertai dengan cinta. Pertanyaannya, siapa yang aku cintai ?
Ibuku ? Pastinya, tapi aku tidak mau menikahinya. Lagipula kalau hal itu ku lakukan, ayah pasti akan langsung mencoret namaku dari kartu keluarga. Aku tak mau menjadi bocah gelandangan yang mengemis di lampu merah. Aku masih ingin menikmati masa remajaku dengan berfoya-foya penuh kesenangan.
" Tiara.. " Aku mengetik nama tersebut di kolom pencarian kontak WhatsApp. Sudah lama aku tidak mengirimkannya chat, dan ku yakin bila kontaknya telah jauh tenggelam diantara ratusan kontak milikku.
Sekilas tentang Tiara, dia ini adalah siswi yang sekelas denganku. Bahkan sudah sejak dua tahun ini. Sebenarnya, aku menyukainya. Namun aku tidak pernah cukup berani untuk bisa jujur kepadanya. Saat ini pun, aku juga tak memiliki keberanian itu.
" Selamat tahun baru, ya.. " Itulah kata kata yang pertama kali aku tulis kepada dirinya. Harapanku, dia bisa membalas chatku seperti Amerika membalas rudal nuklir dari Soviet. Secepat kilat, itulah yang aku inginkan.
Tapi, nyatanya chat ku tak kunjung ada balasannya. Aku gelisah, mulai mondar mandir di kamarku. " Berpikirlah positif.. Berpikirlah positif.. " Mungkin, Tiara lagi ada di alun-alun kota. Merayakan tahun baru bersama teman temannya dan... juga pacarnya ? " Argh ! " Aku kesal sekali dengan pikiranku yang selalu negatif.
Ping !
" Masih 2021.. " Aku terbelalak ketika membacanya. Dia pasti tidak suka aku mengechatnya, makanya dia membalas chatku seperti itu. Seharusnya aku bisa tahu kapan waktu chat yang baik.
" Lagi apa ? " Ada pesan lanjutan dari Tiara, membuat aku harus menjawab chatnya sekaligus berharap aku punya kesempatan untuk jujur kepadanya.
" Tidur.. ? Eh, nggak.. " Aku menghapus lagi jawaban itu. Coba memikirkan hal lain untuk aku gunakan jawaban bagi pertanyaan Tiara itu. " Lagi bakar bakaran di depan rumah. " Ini merupakan salah satu dari daftar keinginan juga, tapi aku tak pernah bisa melakukannya. Karena mama punya fobia api yang disebabkan saat dia kecil, ia melihat secara langsung bagaimana rumahnya kebakaran.
" Seru, dong.. " Satu chat darinya. Aku menganggap ini sekadar basa basi saja. Dia takkan serius menganggap hal ini seru karena aku tahu kalau dia sudah sering melakukannya. Tapi saat chat yang berikutnya masuk, aku merasa ngeri membacanya. " Aku gabung ke sana, ya. "
Sial ! Aku langsung melihat ke arah jam dinding, yang menunjuk ke garis yang ada di antara angka dua belas dan sebelas. " Huh.. Untung aja. Masih bisa siap - siap.. "
Tanpa menunggu lama, aku langsung menyiapkan apapun yang bisa aku jadikan alat untuk bakar-bakaran. Bensin, korek api, dan puntung rokok. Sial, bukan itu ! Tapi, kompor, gas, dan juga meja kecil. Semua barang itu aku pindahkan ke luar untuk membuktikan bahwa aku tidak bohong pada Tiara.
Sebagai tambahan, aku menggunakan stok nugget yang ada di kulkas sebagai bahan bakaran. Tapi bila dipikir-pikir, sangat jarang bahkan hampir tidak ada orang yang membakar nugget di malam tahun baru. Nugget biasanya digoreng, karena hal tersebut dianggap jauh lebih praktis daripada dibakar.
" Hei.. ! Bakar apa, nih ? " Suara Tiara yang tiba tiba, membuat aku terkejut. Secepat kilat, aku mengipas ngipaskan nugget itu sambil menyapa balik Tiara, yang mulai berjalan mendekatiku. " Ah, Tiara ! Kau beneran datang, ya. Habis dari mana aja, nih ? "
" Uhm, dari alun alun, sih. " Wajahnya tampak kurang bergairah. " Aku bosan disana. Makanya aku kesini. Tapi kok sepi, ya ? " Matanya melirik ke kanan dan kiri, mencari dimana keramaian yang tentu sudah ia ekspetasikan.
" Tadi.. ramai, kok. " Tanganku terus bergerak mengipas-ngipaskan, menatap mata cokelat Tiara yang entah mengapa begitu menghipnotisku. Bahkan ketika tangannya menyentuh pundakku, aku serasa melayang sampai ke laut paling dalam. Begitu hiperbolanya emosiku saat ini ketika dia ada di dekatku.
" Eh, itu nuggetnya kebakar.. " Secepat cahaya, aku segera melirik ke kompor, menyadari bahwa tusuk yang diisi oleh nugget tersebut telah lepas dari genggamanku. Kepanikan langsung melanda diriku, yang tidak tahu hendak melakukan apa.
" Huh.. huh.. " Aku meniup api kompor berharap agar api tersebut bisa padam, namun hal tersebut tak kunjung terjadi. Malahan, Tiara tertawa terbahak bahak melihatku.
Klak .. !
Bodoh ! Aku memang manusia bodoh. Kenapa aku tidak terpikir dari tadi, ya ? " Sorry.. " Itu bukan kalimat lengkapnya. Sebenarnya adalah, " Sorry, aku bodoh banget. " Gara-gara mama yang fobia api, kompor hanya jadi tempelan saja. Tidak pernah digunakan, bahkan isi ulang gas pun hanya jadi formalitas belaka. Biar orang orang saat melihat dapur, tidak menganggap kami sebagai keluarga yang aneh atau sebagainya.
" Kau ga bener bener bakar-bakaran, kan ? " Acungan telunjuk Tiara yang langsung mengarah padaku, membuat kepanikan dalam diriku meningkat dua kali lipat. Satu-satunya cara untuk bisa menghilangkan kepanikan ini adalah menjawabnya. Tapi, apa yang harus ku jawab ? Jujur atau bohong ?
" Iya, ini bohong. " Aku memejamkan mata. Berharap agar Tiara mau untuk memaafkanku. Tapi, apa mungkin dia mau ? Ah, hal itu cuma ada di dalam novel atau film aja. Di kenyataan, tak akan mungkin. Tapi, kan..
" Oh, jadi selama ini kau bohong. " Tiara berkacak pinggang. Sebenarnya aku masih bingung, apa setengah jam itu termasuk lama bagi Tiara ? Jika bukan, kenapa memakai kata selama ? " Ada lagi yang kau sembunyikan dariku ? "
Karena aku sudah terlanjur jujur, maka tidak ada pilihan lain selain melakukan kejujuran lagi. Dan juga, jujur adalah sikap seseorang yang gentleman. " Iya ada. Aku menyukaimu, Tiara. " Agak aneh caraku mengucapkannya. Datar bahkan tak ada perasaan.
" Ha ? Terus ? " Tiara mengerenyit dahi. Dia pasti ingin segera pergi dari sini. " Maksudmu apa ? Suka yang gimana ? " tanya Tiara yang membuatku yakin bahwa itu hanya modus belaka.
" Aku suka.. ya suka. " Sulit menjelaskan apa yang dimaksud dengan perasaan suka. Intinya, suka adalah saat seorang manusia merasa nyaman dan tertarik dengan apa yang dimiliki oleh manusia lainnya, dalam hal ini yang dimaksud adalah lawan jenis.
" Terus, aku harus gimana, nih ? " Tiara mengangkat bahu. Dia seperti sedang mempermainkan diriku dengan kata katanya yang pura pura tidak tahu.
" Ya.. suka sukamu. " Aku menggeleng. Sudah tak tahu lagi bagaimana caranya melanjutkan percakapan ini. " Aku ke dalam, ya.. " Tanpa berlama lama, aku langsung bersiap hendak membereskan barang-barang yang diatas meja itu. Tak ada gunanya juga.
" Eh.. jangan dong ! " Tiara menyentuh tanganku lagi, tapi kali ini rasanya tak sama lagi. Biasa saja. " Aku mau bicara samamu. "
" Oke. " Aku menunggunya menarik nafas. Cukup lama, sekitar tiga kali tarikan sampai akhirnya ia mulai berbicara. " Mungkin ini bukanlah jawaban yang kau inginkan. Aku tahu, dan pernah bertemu dengan orang sepertimu. Yang asal suka, tapi ga tahu pasti apa yang disukainya. " Tidak bisa aku pungkiri, aku merasa tersinggung disaat ini. Bagaimana bisa Tiara begitu meragukan rasa sukaku ?
" Hubungan kita kalau dilanjutkan ke hubungan selanjutnya, aku jamin tak akan jalan. Aku yakin, kau pasti punya cita cita, dan itu prioritasmu. Aku tidak mau jadi penghalang bagi prioritasmu itu. Jadi.. itu jawaban dariku. " Rasanya, aku seperti sedang diceramahi seorang motivator. Agak muak, tapi memang itu kenyataannya.
" Aku paham. " Setidaknya ini adalah proses pendewasaan. Mencoba untuk mengerti orang lain adalah salah satu bentuk dari pendewasaan. Dan itulah yang sedang aku lakukan.
Bam.. ! Bim.. ! Bam.. !
Saat ku lihat langit 1 Januari, senyum kembali terpancar di wajahku. Kami berdua saling berpandangan, merasa bahagia karena bisa memasuki tahun 2022.
" Mau bakar nugget sama sama ? " Tiara mengambil tusuk, menusukkan nugget ke tusuk tersebut. Dia telah bersiap siap untuk menyalakan kompor itu.
" Tunggu ! Aku pasang regulatornya dulu.." Tiara mengangguk, melihat aku yang sedang memasang regulator untuk menghubungkan gas dan kompor. Tapi, tiba tiba aku mencium bau yang sangat menyengat. Bau yang tak enak karena aku yakin ini adalah.. " Sialan.. gasnya bocor ! "
Duarrr.... !
~~~