Kalian boleh percaya atau tidak. Tetapi itulah yang pernah terjadi pada hidupku.
Dibesarkan di tanah jawa, membuatku sedikit mengerti tentang beberapa hal yang di percaya oleh orang jawa. Aku belum melakukan penelitian tentang ini. Tetapi tak ada salahnya aku membagikan kisahku di sini. Sedikit berbagi pengalaman yang lumayan seram.
Aku tinggal di perbukitan menoreh. Tidak ada yang aneh dalam keseharianku. Aku hanya anak dusun yang suka bermain, bersekolah dan mengaji seperti kebanyakan anak lainnya. Aku pun tidak begitu menonjol di bandingkan kawan kawanku yang punya seribu pengalaman hebatnya.
Kejadian ini terjadi saat aku kelas 2 SMK. Entah memang sudah sering terjadi sebelumnya dan aku tidak begitu peduli, atau memang ini adalah awal dari sebuah misteri yang sampai detik ini tak bisa ku pecahkan.
Tek tek tek.. jarum jam berdetak dengan sangat keras. Aku terbangun. Langsung melihat ke arah jam dinding yang memang di pasang di kamarku.
01.30. Akupun ingin memejamkan mataku. Tapi terlalu sulit. Akhirnya aku berhasil tertidur meskipun bermimpi tentang keadaanku besok paginya.
Tek tek tek. Kembali aku tersentak, terjaga dari mimpi dengan sangat kuat. 02.45. Aku hanya tertidur satu jam lebih lima belas menit. Aku pun sudah tidak tidur lagi takut kesiangan ke sekolah.
Aku bermimpi besok pagi akan terlambat pergi ke sekolah. Mengejar bus dengan berlari.
Dan bisa kalian bayangkan. Mimpi itu menjadi kenyataan.
Setelah hari itu setiap hari hampir aku bermimpi tentang kenyataan yang akan terjadi esok harinya.
Ketakutanku masih belum seberapa. Sampai akhirnya suatu hari aku melihat mayat tetanggaku di "bandoso" mengerling kepadaku.
Aku tidak percaya dengan mimpi itu. Tetapi ternyata siangnya tetanggaku benar benar meninggal. Aku benar benar seperti terkena kutukan. Aku tidak pernah bisa tidur dengan pulas. Kerlingan itu seperti membayang terus di manapun aku berada.
Sejak saat itu aku mempunyai gangguan tidur. Aku benci tidur jam 1 sampai jam 3 pagi. Jadi aku tidur jam 7 malam dan meminta bapak membangunkanku jam 12. Aku akan begadang sampai subuh. Entahlah aku benci bermimpi. Ketakutan akan mimpi yang berubah menjadi kenyataan benar berpengaruh pada kesehatan jiwaku.
Hingga akhirnya keadaan itu berlangsung sampai tahun 2012. Bayangkan saja 2006 sampai 2012, enam tahun aku bermasalah dengan tidurku. Jika aku lupa tertidur jam satu malam maka jam 2. 45 pagi aku pasti terbangun. Dan itu benar benar menyiksa. Tahun 2012 aku bertemu seorang teman yang sedikit mengetahui tentang pembagian waktu mimpi itu. Ketika aku menceritakan kisahku dia bilang bahwa waktu aku bermimpi antara jam 1 dini hari sampai jam 2. 45 pagi itu termasuk waktu puspa tajem. Di mana mimpi yang aku impikan bisa jadi sebuah firasat akan sebuah kejadian atau malah memang gambaran kenyataan yang akan terjadi.
Bulan Maret tahun 2012 aku yang merantau di ibu kota terlupa tidur pada jam 1 dini hari. Waktu itu aku bermimpi tentang kerabatku yang ada di kampung.
Dia sedang terkena masalah besar . Di dalam mimpi itu ada seorang kakek tua yang menyuruhku untuk menyelamatkan sebuah telur.
Dan seperti biasa aku terbangun tepat jam 2 lebih empat puluh lima menit. Aku langsung menelpon kerabatku yang berada dalam mimpiku. Dan sungguh tak dapat aku percaya ketika aku mendesaknya dengan keras, dia mengaku sedang kebingungan. Setelah ku desak terus dia mengaku sedang mencari dukun untuk mengaborsi anak yang dikandung sang kekasih. Kekasihnya tidak mau mempunyai anak dan ingin menggugurkan bayinya. Tanpa banyak kata beberapa hari setelahnya aku pulang dan menjelaskan semua kepada keluarganya. Hingga bayi itu selamat. Tentunya sebelum aku pulang, aku meminta saudaraku untuk memantau kerabatku dan kekasihnya itu.
Sejak saat itu aku sadar bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa ku jangkau dengan akal pikiranku. Aku tidak mempercayai mimpiku meskipun selalu saja menjadi kenyataan. Akupun mencoba untuk mengendalikan diriku dengan belajar ilmu agama.
Sampai detik ini terkadang mimpiku masih menjadi kenyataan. Biarlah itu menjadi rahasia Tuhan.
catatan :
Bandoso kalau di dusun saya adalah keranda untuk mengusung mayat.