Denise adalah anak perempuan yang ceria dan bahagia. Semua orang disekolah sangat menyukai kepribadian Denise. Gadis pintar, berbakat, baik dan juga cantik.
"Denise, bagaimana kalau hari ini kita pergi ke Mall." Salah satu temannya bergelayut di lengannya.
"Riri, Maaf. Kamu tahu bukan, Aku harus menjenguk Tania yang sedang sakit." Denise sebagai ketua kelas mempunyai kewajiban yang lebih banyak, dibandingkan dengan Siswa yang lain.
"Ah, Aku baru ingat. Kamu akan kesana dengan siapa?"
"Sendiri, banyak yang tidak bisa ikut." Denise menghela nafasnya. "Bagaimana, kalau Kamu ikut Aku." Riri yang tadinya masih bergelayut di lengannya, tiba-tiba melepaskannya.
"Denise, Maaf Aku harus pergi." Riri berlari dan melambaikan tangannya, Denise hanya bisa menghela nafas.
**
Denise sekarang berada di depan rumah Tania, rumah yang cukup terbilang besar. Ada satpam yang berjaga didepan rumahnya.
"Maaf , Nona ingin bertemu siapa?" Sang Satpam menghampiri Denise.
"Saya ingin bertemu Tania, Pak." Sang Satpam melihat Denise dengan tatapan penuh selidik.
"Saya akan bertanya pada Nona Tania." Sang Satpam berjalan menuju posnya dan menelepon seseorang. Tidak lama Ia menghampiri Denise kembali. "Anda boleh masuk." Sang Satpam mempersilakan Denise masuk.
Denise berjalan mengikuti Sang Satpam. Ia memasuki rumah yang luar biasa megah, beberapa asisten rumah tangga berjajar di samping pintu masuk.
"Mohon ikuti Saya Nona." Salah satunya mempersilahkan Denise masuk keruangan selanjutnya, Sang Satpam sudah tidak ada di belakangnya.
Denise terus berjalan memasuki beberpa ruangan. Ada sedikit yang mengganjal di hatinya, hanya saja Ia tidak mau memikirkannya.
"Kamar Tania masih lama?" Denise bertanya tanpa melihat orang yang tadi memandu nya. Denise lebih tertarik melihat sekeliling rumah dan ruang yang dilaluinya. "Apakah masih lama?" Denise segera menatap seseorang yang memandu nya, karena tidak mendapat jawaban. Bukannya dapat jawaban, Denise mendapat kejutan.
Seseorang yang memandu nya tidak ada didepannya, terlebih tidak ada suara apapun yang Ia dengar. Denise mencari ke setiap ruang yang bisa Ia temukan, namun semua percuma. Denise berdiri di ruangan besar tanpa seorang pun didekatnya.
"TANIA , TANIA , TANIA ... !!!!!" Hanya nama itu yang bisa Ia pikirkan. Denise berlari kembali, namun Ia tetap tidak bisa menemukan jalan keluar.
"Denise, ada apa?" Denise melihat asal suara, Ia sangat lega melihatnya.
"Tania, tadi Aku ..."
"Ayo, kita minum dulu." Tania mengajak Denise ke kamarnya. Kamar yang besar dengan meja dan kursi tamu. Denise duduk di kursi tersebut, tidak lama Tania memberikan sebuah gelas berisi air dihadapan Denise. Saat memegang gelasnya, Denise merasakan keanehan. Ia segera meletakan kembali gelas itu. "Kenapa? Kamu ingin yang lain?" Denise menggeleng dan tersenyum.
"Kamu sudah sehat?" Denise mengontrol detak jantungnya yang terus berdetak cepat.
"Sudah, Terimakasih sudah datang." Tania tersenyum, senyum yang membuat seluruh tubuh Denise merinding. "Ada apa? Kamu baik-baik saja?" Tania mendekat, Denise tanpa sadar segera menjauh.
"Ma...Maaf. Kalau begitu, Aku pulang dulu ya." Denise beranjak dari duduknya, Namun tangan dingin segera memegang tangannya. Denise terkejut bukan main, terlebih begitu melihat kondisi Tania. Tania yang pucat seperti mayat, dengan mata yang menonjol.
Denise segera menarik tangannya kuat, namun cengkraman tangan Tania sangat kencang. Ia tidak mampu berteriak atau sekedar mengeluarkan suaranya. Denise benar-benar takut, hingga pinta suaranya seolah tercekik.
Tania segera menarik keras tangan Denise , hingga Denise terjatuh ke lantai. Tania segera menyeretnya kearah bawa meja, Denise dengan sekuat tenaga melepaskan genggaman Tania.
🎶🎶 Cinta ini, bukan ~~~🎶🎶
Dering ponsel Denise terdengar di sakunya. Ia mencoba mengambilnya dengan sekuat tenaga, beberapa goresan mendarat di tangannya.
"Denise ... " Panggilan lemah setengah berbisik memanggil namanya. Denise segera menoleh dan mendapati Tania sedang tertidur dibawah meja. Ia menyeret Denise untuk masuk kebawah meja. Denise dengan sekuat tenaga memegang kaki kursi yang ada didekatnya dan mengabaikan ponselnya yang terus berdering.
"Denise ... " panggilan kembali terdengar. Denise melihat arah Tania yang terus menarik tubuhnya. "Denise ... " Satu tarikan menghentak tubuh Denise, Ia hilang keseimbangan dan pegangannya terlepas.
"TIDAK !!!!!" Kini suara Denise bisa bisa keluar dari tenggorokannya. Namun itu sudah terlambat, Denise tiba-tiba kehilangan kesadaran.
***
"Kepalaku." Denise memegangi keplanya yang sakit. Ia segera membuka matanya, Tapi Ia tidak bis melihat apapun. "Aku dimana?" Denise meraba-raba sekiranya.
"Tenang, Denise." Tangan seseorang memegangi lengan Denise. Denise segera menepis tangan itu.
"JANGAN DEKATI AKU!!!! AKU DIMANA!!!" Air mata mengalir dari matanya.
"Tenang Sayang, ini mamah." Pelukan hangat mendarat di tubuh Denise.
"TIDAK KAMU BUKAN MAMAH!!!" Denise mendorong tubuh seseorang yang memeluknya.
"Sayang ini benar Mamah, semua sudah berakhir." Kini pelukan kembali mendarat di tubuh Denise. Tapi, kini Denise bisa merasakan harum tubuh Mamahnya.
"Mamah ... MAMAH ...." Denise menangis sepuasnya di tubuh hangat Ibunya itu.
"Tenangkan dirimu, Nak." Ibu Denise menepuk-nepuk punggung Denise, menenangkannya.
"Kenapa semua gelap?"
"Ini hanya sementara, semua akan kembali seperti biasa." Ibu Denise menenangkan Anaknya.
***
1 Bulan kemudian
"Disini?" Seorang gadis menunjuk sebuah gambar di ponselnya.
"Riri ... Tania ...." Denise tidak percaya dengan apa yang terjadi. Sahabatnya yang menunjukkan sebuah foto itu mengangguk.
"Riri dan Tania meninggal, dua hari sebelum Kamu datang kerumahnya." Ia menatap Denise kasihan, sebulan pengobatannya kemarin sudah membuat sahabatnya itu menderita. Denise sering berteriak ketakutan dan terdiam tanpa mau bicara. Setelah sebulan pengobatan, Denise sembuh. Ia bisa melihat kembali dan mentalnya sudah seimbang.
"Bagiamana bisa ...."
"Kamu baru masuk setelah sakit seminggu, Kami melihatmu berbicara dengan seseorang pada hari itu." Ia kembali menatap Denise dengan penuh kasihan. "Kamu berbicara sendiri."
Denise kembali mengingat saat dirinya berbicara pada Riri. Ia tidak menyangka Riri saat itu bukan manusia.
"Di hari naas itu, rumah Tania terbakar hebat. Kebetulan Riri sedang bermain bersamanya. Semua terbakar, tapi keduanya tidak ditemukan. Baik itu selamat ataupun hanya tinggal Jenazahnya." Sahabat Denise itu menarik nafasnya. "Secara tidak langsung, Kamu yang menemukan keduanya. Mereka terbakar diruang bawah tanah kamar milik Tania, tempat itu adalah tempat diamana Kamu ditemukan. " Denise tanpa sadar menangis dengan kencang.
Tania dan Riri adalah Sahabatnya juga, Mereka selalu bersama dan ceria. Denise merasa bersalah saat itu tidak mendengarkan Tania. Kedua sahabatnya hanya ingin ditemukan dan dikubur dengan layak.
"TANIA ... UWAAAAA ... RIRI ... MAAFKAN AKU." Denise menangis dengan kencang, sahabatnya itu segera menenangkannya.
"Mereka sudah bahagia."
"Juli , Kamu melihat mereka?" Juli mengangguk, mereka melihat mu dan tersenyum. Denise segera menghentikan tangisnya.
"Kalian beristirahat lah dengan tenang." Denise tersenyum.
"Mereka sudah pergi, hari dimana Kamu ditemukan."
"Bemarkah? Terimakasih Juli." Denise tersenyum dan tiba-tiba menghilang dari hadapan Juli.
"Juli, kenapa masih disini?" Wanita paruh baya mendekati Juli.
"Denise ... Juli harus menjelaskannya." Wanita paruh baya itu tersenyum tegar. "Juli sudah menjelaskan semuanya, Mamah Denise." Juli menatap wanita paruh baya, yang bukan lain Ibu dari Denise itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terimakasih, Juli." Ibu Denise mengusap pundak Juli. "Ayo, kita pergi." Mereka segera meninggalkan kamar yang seminggu lalu ditempati mendiang Denise.
**** END ****