Tahun ini akan segera berakhir, kami akan mengadakan perjalanan ke puncak gunung. Bagiku perjalanan ini sangat penting, karena aku akan menyatakan perasaanku pada gadis pujaanku. Hana.
Menyatakan isi hati di puncak gunung dan di akhir tahun pula, itu sesuatu banget. Aku akan mengukir kenangan yang terindah sepanjang hidupku, bersama dia tentunya, Hana.
Aku sangat bersemangat, semoga Hana menyambut perasaan ku.
"Woi Naga Bonar, lama sekali kau di sana, menunggu apa lagi kau? "
Teriakan ketua kegiatan mendaki gunung itu sangat membuat sakit telinga.
"Ya Ketua, aku menunggu Hana! " jawab Naga Bonar tidak kalah keras.
"Woi, Hana tidak ikut, tidak dapat ijin dari adiknya! "
Teriak ketua lagi membuat kaget Naga Bonar.
"Jangan bercanda kau ketua, adiknya tidak mengijinkan? bukannya yang memberi ijin itu haknya orang tua? " teriak Naga Bonar lagi.
"Kau cari tahu lah sendiri, kami berangkat dulu ya, selamat tinggal Naga Bonar! "
Ketua berangkat dengan teman-teman lainnya. Meninggalkan aku sendiri dengan pikiran yang kacau.
Akhirnya, aku berlari menuju rumah Hana. Rumah yang ditakuti oleh beberapa orang teman-teman ku, katanya ayah Hana galak. Tetapi bagiku, yang galak itu bukan ayahnya tetapi abang dan adiknya.
"Hana, stttt, " aku menimpuk kamar Hana dengan betul kerikil dan memanggil namanya.
"Siapa disitu, nggak sopan! " Hari melongokkan kepalanya dengan batu kerikil di tangannya.
Wah adiknya Hana, sudahlah kepalang basah, mandi sajalah sekalian, semoga ada makanan dan minumannya juga.
"Hai Hari, saya nih Naga Bonar datang berkunjung, " ucapku menampakkan diri dengan senyum lebar tanda hati sedang berbahagia.
"Berkunjung lewat pintu depan kak, bukan lewat jendela dengan kerikil pula! " Teriak Hari dengan wajah sangarnya.
Masih SMP tapi sudah sangat hebat dalam hal membuat ciut hati orang. Luar biasa keluarga Aparat Negara ini yah, benar-benar keren.
"Siap Hari, aku datang, " ucapku berlari memutar menuju pintu depan yang tertutup rapat.
"Kak Naga Bonar, kau masuklah lewat jendela tadi, pintu di kunci Ayah, kunci di bawa Ibu! " teriak Hari dari dalam.
Ya ampun, aku dikerjai calon adik iparku.
"Baiklah, tidak masalah, " ujarku kembali berlari ke arah jendela kamar Hana tadi.
Cukup sulit untuk bisa memanjat jendela itu, karena di bawahnya terdapat kali kecil tempat air mengalir saat hujan.
"Selamat, selamat, " Hari bertepuk tangan senang melihatku sudah berada di kamar kakaknya.
"Mana Hana? " Tanyaku tanpa basa-basi.
"Tuh, " tunjuk Hari dengan dagunya, mataku langsung menuju arah yang ia tunjukkan.
Ukh...
Aku langsung memalingkan wajahku yang memerah. Hana tertidur dan aku tidak bisa membiarkan otakku menjadi liar.
"Ayo kita pergi, " aku mendorong tubuh calon adik iparku keluar dari kamar Hana.
"Hei, kau mau ke mana? " Tanya Hari menatapku heran.
"keluar dari kamar kakakmu. "
"Oke, tapi jangan dorong aku seperti itu, " Hari melepas tanganku yang masih berada di bahunya.
Cukup lama aku menghabiskan waktu yang membosankan dengan Hari. Sampai akhirnya kekasih hatiku bangun dan menatap ku aneh.
"Hai, " aku tersenyum manis mengangkat tanganku tinggi-tinggi.
"Naga Bonar, kau tidak jadi ke puncak gunung? " tanya Hana dengan mata yang masih merah.
"Tidak, tanpa kamu, " jawabku tersenyum.
"Ya, ya, ya, terimakasih, aku pergi, " ucap Hari berlalu dari ruangan tengah ini.
"Hari, kau mau ke mana? " Tanya Hana pada adiknya.
"Ini nonton di ruang tamu saja Kak, tidak asik melihat kalian berdua, " ujar Hari mencari acara yang dia suka.
"Hari, aku lapar, tolong buatkan mie rebus, pakai telur ya, nggak pakai lama, " ujar Hana berlalu menuju kamar mandi.
"Hei, aku laki-laki, sejak kapan laki-laki menjadi koki di rumah ini? " teriak Hari tidak suka.
"Hari, aku mie goreng, pakai cabe rawit, minumnya teh manis pakai es sedikit saja ya, sama GPL, nggak pakai lama, " ucap Naga Bonar tertawa.
Hari merasa terhina, tetapi ia tetap saja berjalan menuju dapur. Karena ia juga merasa lapar.
"Hana, kamu cantik sekali, " puji Naga Bonar saat Hana kembali dengan wajah yang segar.
"Terimakasih, sudah seharusnya aku cantik, karena aku perempuan, " jawab Hana tersenyum.
"Lima menit lagi tahun ini akan berganti, apa harapan mu Hana? " tanya Naga Bonar saat jam menunjukkan tengah malam kurang dari lima menit.
"Banyak, yang jelas aku ingin semua orang yang aku kenal, bisa mendapatkan kebahagiaannya di tahun yang baru, " ujar Hana tersenyum.
"Termasuk aku? " Tanya Naga Bonar memastikan.
"Ya, semoga kamu bahagia Naga, "
"Bagaimana kalau kebahagiaan ku adalah kamu? " ujar Naga menatap Hana.
Hana terdiam mencari makna dari kata-kata Naga Bonar. Di luar suara petasan mulai bersahutan, langit menjadi terang karena hujan petasan.
Akhirnya, jarum jam tepat berada di angka dua belas.
"Selamat Tahun Baru Hana, Aku Menyukaimu, " ucap Naga Bonar dengan sekantong coklat di tangannya.
Hana terdiam, menatap manik mata Naga Bonar.
"Tidak usah dijawab kalau memang berat bagimu, " ujar Naga Bonar lagi menatap Hana yang tertegun lama.
"Maaf Naga, aku bingung mau jawab apa, " ucap Hana pelan merasa bersalah.
"Santai saja Hana, tidak masalah, " ujar Naga Bonar memberikan coklat ke dalam genggaman Hana.
Hari datang dengan makanan serba mie yang mengepulkan asap.
Acara selanjutnya makan bareng.
Tatapan mu, sudah bercerita banyak tentang isi hatimu Hana. Tidak masalah bagiku, cukup kau tahu tentang isi hatiku yang sesungguhnya, aku sudah merasa senang.
Terlalu berat saat cinta bersemi pada seseorang, tetapi hatinya telah berlabuh pada lain hati.
Terimakasih Hana, kau telah hadir dalam hidupku, melengkapi puzzle yang penuh warna.
Selamat Tahun Baru, Aku menyukaimu, Hana.
Tamat.