Antara Aku dan Kakak Kelas
Setia, ya setia, itulah kata untuk mengawali kisah ini. Setia akan penantianku, kisah yang memilukan dimulai awal Juli lalu. Dimana aku menemukan sosok dia, dia yang saat itu diposisi sebagai kakak kelasku. Aku memimpikan hal ini sejak lama, sejak masa yang tak pernah terhitung sampai akhirnya aku mengenali sosoknya. Sosok kakak kelas yang kuketahui dari sebuah nama. Nama yang pernah kucela karena keunikannya.
Setelah sekian waktu, aku mencoba mengenalinya. Mengetahui semua yang tak pernah ia ketahui. Karena saat ini aku lah yang selama ini menunggunya. Menunggu untuk sebuah awal kisah yang akan aku tuliskan antara aku dan kakak kelas.
Cinta ini bersemi, seiring berjalannya waktu setelah kukenali sosok dibalik nama itu. Wajah tampan bak pangeran yang selalu menghiasi mimpiku setiap malam. Begitulah ungkapku saat kupandang dia. Wajah nan sejuk, itu lah yang kutahu.
Sempat tak percaya, kenapa rasa ini bisa muncul. Rasa antara suka dan terlena karenanya, itulah perasaan yang kurasakan sejak pertemuan singkat sewaktu kegiatan sekolah siang itu. Aku terus memandanginya kala itu, bahagia bisa jumpa meski sesaat dan mungkin awal yang baik aku rasakan.
Sejak pertemuan itu, aku sadar aku benar-benar telah masuk dalam kedalaman cinta, yang menutup celah hati untuk tak merelakan oarng lain menyinggahinya kecuali dia. Dia ialah kakak kelas itu.
Kuceritakan kisah ini, dan mulai kutuliskan begitu indah. Setelah dan sejak aku menceritakannya kepada sahabatku, Veni.
“Ven, hari ini aku bahagia banget.” Ucapku pada Veni.
“Kenapa memang? Jangan bilang kalo dia lagi.”
“Tau deh, bener kata kamu. Aku udah tau banyak satu hal yang pasti.” Lanjutku penuh bahagia.
Veni hanya tersenyum, ia sangat mengerti sekali akan hal ini. Aku merahasiakannya hanya dengan sahabatku, dan untuk kesekian kali aku merasa bahagia akan rahasia ini. Merahasiakan mimpi dibalik kenyataan.
Satu semester di sekolah berjalan indah, aku yang hanyut dalam mimpi-mimpiku terus melaju mengejar mimpiku itu. Mimpi untuk menggapai hatinya, meski tak pernah tahu kapan itu akan berhasil. Semangat ini terus membara. Bahagia akan kehadirannya, sepi bila tak jumpa, gundah saat sendiri. Ini lah yang kurasa diantara semangat itu.
Aku berharap lebih, dan selalu kuberharap akan keberhasilanku untuk meraih hatinya. Meraih dia yang terlalu jauh untuk kugapi. Kuiringi langkah ini dengan kata semoga, semoga yang berarti banyak untuk bisa kumaknai.
Hari terus berganti, kesempatan untuk lebih dekat dengannya kini memihakku. Aku sering berjumpa dengannya, dengan sosok kakak kelas yang kutunggu diawal pagi di sekolah kami. Menunggu hal luar biasa yang akan terjadi, yang mungkin luar biasa hanya untukku, bukan untuk dia yang belum menyadarinya.
Banyak hal yang kini telah kuketahui dari dirinya, semakin kutahu, semakin dalam cinta ini bersemi. Seolah hanya dia satu-satunya yang bisa membuatku terus bermimpi. Menghiasi hari, disetiap kesempatan yang kulalui. Walau jarak memisahkan aku dan kakak kelas itu.
Namun satu hal yang belum bisa kujalani, dan saharusnya ini kulakukan sejak lama. Sejak pertama kulihat dia, tapi keberanianku telah membeku bersama rasa yang membuatku merasa canggung untuk menyapanya. Walau ini sederhana, tapi bagiku ini hal yang sangat sulit dan tak mudah untuk kulakukan. Tak seperti biasa sapaan yang kuberiakan pada kakak kelas yang lain. Beda itu wajar, ini mungkin rasanya. Karena rasa itu berbeda saat kujumpai pria manapun selain dia, kakak kelas itu. Aku sadar akan perasaan itu, dan aku mengetahinya jikalah aku telah jatuh cinta pada sosok kakak kelas itu. Tak bisa kupungkiri lagi, ini telah berlangsung lama. Hampir setahun, namun tertunda.
Kini kisah cinta ini berbeda kurasakan, setelah aku mengetahui sosok wanita yang sedang dekat dengannya. Wanita yang istimewa di matanya, wanita yang ia kagumi. Ya itu lah yang terjadi, dan wanita itu bukan aku. Karena aku bukanlah wanita yang ia kagumi, dan juga wanita yang tidak terlihat istimewa di mata kakak kelas itu. Hampa dan kosong, saat rasa cinta ini meleleh. Karena harapan semoga itu saat ini telah salah, salah karena kakak kelas itu sama sekali tak menyadari keberadaanku di sekelilingnya. Keberadaanku dimana saat dia berada, disitulah aku berdiri menantinya.
Kecewa, benar itulah yang aku rasakan. Kenapa dia tak memberi kesempatan untukku mendekatinya. Seolah aku hanya datang, terdiam, dan berlalu di hadapannya. Mungkin ini salah, karena aku lah yang tak berani untuk memulainya sehingga ia tak pernah pula menayadarinya. Tapi kenapa dia tak memulainya dulu? Kenapa harus aku? Perasaan ini terus bergulir. Semakin kurasakan, semakin kumenyadari. Ternyata selama ini aku telah tenggelam kedalam cinta palsu. Kedalam harapan palsu yang ia berikan. Rasa itu terus menguat, bahwa aku salah menilai perasaan dia padaku akan sama.
Tak berlangsung lama, setelah ku mengetahui kedekatannya dengan wanita itu. Wanita yang ia kagumi, dan wanita yang istimewa di matanya. Cinta telah bersemi diantara mereka, tak lama setelah satu bulan aku mengetahui hal ini. Selama itu pula, aku tak kuasa akan kepedihan ini. Cinta yang sama sekali tak memihakku, dan hanya membuatku bisa terdiam begitu saja tanpa mampu bertindak lebih untuk memenangkan perasaanku. Aku sadar, dan aku mengetahui tak sepantasnya aku maju kembali. Mereka kini telah menjadi sepasang kekasih. Terlihat begitu jelas dari sikap dia berbeda dari yang semula kukenal.
Hancur, lemas dan tak berdaya yang kurasakan saat aku harus menerima kenyataan ini. Karena semua harapanku dan mimpiku telah sirna karenanya. Harapan untuk bisa bersama dan menggenggam tangannya seperti wanita yang telah bersamanya itu, dan mimpi yang memudar karena mimpi untuk meraih hatinya tak bisa lagi kuteruskan.
“Saras, kamu yang sabar ya. Jangan sedih terus seperti ini. Masih ada banyak cowok yang bisa mengerti kamu selain dia.” Ucap sahabatku, Veni.
“Iya Ven, aku tahu. Tapi dia beda Ven, aku tak bisa semudah itu melupakannya.” Ucapku, penuh kepasrahan.
“Yang sabar yaa.” Ucap Veni, sembari mengelus bahuku.
Sejak Kejadian itu, aku sadar. Sadar jika dia, kakak kelasku, telah bersama wanita itu. Tak sepantasnya aku mencampuri urusan mereka dengan masalah pribadiku, dengan masalah perasaanku karena telah mencintainya terlalu dalam.
Kuputuskan untuk menyimpannya, menyimpan kenangan semasa aku dan kakak kelas itu bisa dekat. Saat beberapa kesempatan bisa dekat dengannya, saat dimana aku bisa merasakan bahagia akan kehadiraannya meski cinta tak saling bicara. Aku ukir kisah ini begitu indah saat pertama kali, meski kini ukiran itu telah berubah jauh dari yang kuharapkan. Karena nyatanya aku dan dia tak bisa bersama dalam sebuah hubungan yang lebih istimewa, lebih dari hanya sekedar mengenal dan dekat. Tapi apalah daya, karena cintanya bukan untukku, cintanya hanya untuk wanita yang istimewa di matanya itu, wanita yang menjadi kekasihnya.
Tak sedikitpun niat untuk merusak hubangannya dengan wanita itu. Karena aku hanya ingin melihat dia bisa bahagia bersama orang yang ia sayangi dan cintai. Meski aku kecewa, tapi rasa kecewa itu seakan sirna. Meski harapan untuk bisa bersamanya telah hilang, namun harapan itu tersimpan rapi dalam kenanganku bersamanya, bersama rasa yang mengubur kenangan bahagia meski pun rasa bahagia itu hanya untukku, karena ia tak pernah menyadarinya, sampai saat ini. Karena kini, kisah ini hanyalah sebatas antara aku dan kakak kelas.