Malam hari ini terasa lebih dingin dari hari-hari sebelumnya. Membuat dua gadis jadi berlindung dari dingin dengan memakai satu selimut yang sama. Mereka duduk disatu sofa yang sama pula. Masing-masing ditangan mereka membawa secangkir coklat panas.
“Hei Eiren, dimalam dingin seperti aku tiba-tiba jadi teringat waktu kita pertama kali bertemu dulu. Kamu ingat kan.” Ucap Vanny setelah selesai meminum coklat panasnya seteguk.
“Apa? ah, tentang perkataanmu yang konyol ditengah-tengah hutan dulu kan. Gimana aku bisa lupa dengan bocah kecil kotor yang saat kutemukan tiba-tiba bilang selamat malam padaku waktu itu.” Jawab Eiren dengan nada mengejek.
“Ah.. waktu itu kan aku belum mengerti apa-apa”
Wajah Vanny jadi merah padam akibat malu dan reflek menyikut perut Eiren lumayan keras. Bukan hanya tubuh Eiren yang bergerak karena dorongan Vanny, tapi secagkir coklat panas milik Eiren jadi ikut tumpah, walau hanya sedikit.
“Nah loh, jadi tumpah nih coklat panasku.” Eiren langsung berdiri karena sebagian tangannya terkena tumpahan coklat panas. Sebetulnya bukan sepenuhnya coklat panas karena tangan Eiren tidak sampai melepuh ataupun meluap kepanasan.
“Heheh maaf Eiren.” Vanny malah terkekeh, tapi tetap tidak membiarkan temannya terkena tumpahan, Vanny segera mengambil tisu dimeja dekatnya lalu langsung mengelap sisa tumpahan ditangan Eiren.
“Yah.. jadi tinggal setengah. Sini punyamu! Ini namanya pertanggung jawaban.” Eiren merebut paksa cangkir milik Vanny. Vanny tidak merebutnya kembali karena tahu maksud pertanggung jawaban yang dimaksud Eiren.
Setelah selesai dengan permasalahan coklat panas, mereka kembali duduk disofa, diposisi awal mereka. Tentu saja kembali berbagi satu selimut yang sama. Lenggang sejenak tanpa suatu percakapan antara mereka, kemudian tiba-tiba mereka tertawa bersama.
“Kamu terfikirkan hal sama denganku?” Tanya Vanny yang tawanya lebih dulu selesai.
“Sepertinya begitu deh.” Jawab Eiren.
Dan sekali lagi mereka tertawa bersama, terlarut dalam fikiran mereka masing-masing, mereka saling bersender.
Bersama, menikmati dinginnya malam. Dengan berbalut satu selimut yang sama.
Waktu itu, dihari pertama mereka bertemu. Ditengah-tengah hutan saat malam hari yang dingin.
“Eiren.. jangan terlalu jauh dari ibu nak, ibu jadi kurang bisa melihat jalan nih.” Ucap ibu Eiren, yang tergopoh-gopoh karena membawa banyak kayu dipunggungnya. Tapi tetap berusaha mengimbangi langkah kaki anaknya.
Eiren kecil yang sedang membawa obor, seolah tidak memperdulikan ucapan ibunya, eiren kecil terus berjalan cepat sembari melompat-lompat bak kelinci imut.
“Ibu, disana ada mayat.” Eiren kecil mendadak berhenti, lalu mengacungkan jari tenjuknya kearah seberang.
Ibu Eiren yang paham, mempercepat langkahnya, menuju kearah tersebut, Eiren kecil menyusul dibelakang.
“He.. Masih hidup ternyata. Tapi tubuhnya dingin sekali” Eiren kecil tanpa ragu menyetuh perut dari tubuh terkapar itu dengan ujung jarinya beberapa kali.
“Bangun. Kamu tidak apa-apa kan?” Eiren malah bertanya.
Tubuh yang terkapar itu tiba tiba bergerak, berusaha duduk. Baru terlihat rupanya, ternyata dia gadis kecil yang masih seumuran dengan Eiren.
“Halo.. Ah, selamat malam,” Ucap gadis kecil itu setelah selesai melihat sekelilingnya, hanya ada hutan yang gelap.
Gadis kecil itu hanya terdiam. Tanpa ekspresi dan terlihat santai. Membuat Eiren kecil dan ibunya jadi heran.
“Nak.. kenapa kamu bisa ada disini sendirian?” Tanya ibu Eiren, terlihat prihatin dengan gadis kecil itu. Tapi si gadis kecil hanya menggelang dan tetap diam.
“Kamu tahu namamu?” Ibu Eiren bertanya sekali lagi.
“Aku.. vanny?” Jawab gadis itu, entah itu jawaban atau bukan, karena dari nadanya malah seperti bertanya kembali.
“Sepertinya tetangga kita tidak ada yang punya anak bernama vanny.” Ibu Eiren bergumam.
Eiren kecil yang beberapa waktu tadi terdiam, sekarang tiba-tiba meletakkan kedua telapak tangannya ke pipi Vanny kecil. Kedua bocah polos itu saling bertatapan.
“Kamu.. benar tidak apa-apa? pipimu juga dingin loh,” Eiren kecil bertanya kembali, dengan pertanyaan yang sama. Sorot mata Eiren kecil menulusuri tubuh Vanny kecil.
“Telingamu.. itu tidak seperti telingaku. punyamu kok bisa runcing begitu. ibu, sepertinya dia bukan manusia deh.”
Kini tangan Eiren kecil giliran menelusuri telinga milik Vanny kecil. Vanny kecil yang merasa terganggu, merengek dan mencoba melepaskan tangan Eiren kecil dari telinganya.
“Seperti telinga elf dari cerita yang sering ibu bacakan untukku saat malam hari.” Ucap Eiren kecil, yang kali ini terlihat antusias. Tapi tidak dengan Vanny kecil. Dia masih terlihat kebingungan. Bingung dengan dirinya sendiri.
“Nak.. apa kamu hanya ingat namamu saja. Rumahmu dimana, keluargamu siapa, kamu tidak tau?” Vanny lagi-lagi menggeleng. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa.
Sepersekian detik ibu Eiren dibuat terdiam kerena terlarut dalam pikirannya sendiri. Memikirkan mau diapakan makhluk kecil aneh bernama Vanny ini. Ibu Eiren menatap Vanny kecil yang terlihat kebingungan, lalu sudah memantapkan keputusannya.
“Ibu, kita bawa saja dia kerumah” Eiren kecil menatap ibunya sebentar kemudian kembali menatap Vanny kecil.
“Selamat malam katamu tadi. hahah lucu deh, kenapa tidak kalimat lain, malah kalimat sapaan yang kamu ucapkan. Aneh,”
“Selamat malam. Kamu adalah temanku sekarang!”
"Selamat malam. aku akan menunjukkan rumahku, mulai sekarang kamu akan tinggal disana, bersama ku. Ayo pergi!"
Padahal ibu Eiren belum menyetujuinya, tapi Eiren kecil langsung menggadeng Vanny kecil. Mereka berdua berlari bersama, mulai menempuh perjalan pulang.
Memang itu sudah keputusan ibu Eiren juga untuk membawa Vanny pulang kerumahnya. Merawat Vanny kecil agar tumbuh bersama dengan anaknya, Eiren.
Sampai dihari ini, mereka masih bersama. Walau berbeda ras, tetap tidak membuat mereka terpisah.
Tapi karena telinga runcing Vanny. Vanny hanya bisa terus hidup dalam persembunyian, tanpa boleh diketahui oleh satupun manusia lain. Takutnya akan membahayakan hidup Vanny. Misalnya manusia lain akan membawanya ke musium sebagai penelitian bertema-kan keajaiban dunia.
Dan, sampai dimalam ini pun asal-usul Vanny masih belum jelas.
.
.
.
Tq u for Reading~
(*´꒳`*)