***
Malam tiba, semakin jauh perjalanan mereka. Semakin tipis pula suhu udara yang menyelimuti mereka, saking tipisnya; Lea bahkan bisa merasakan air keringat yang bermunculan di wajahnya mulai mengkristal menjadi es.
Rusa salju yang di tungganginya itu berhenti, apakah ketika badai salju terus turun menghalangi pandangan mereka di tambah lagi salju yang mereka pijak sudah hampir selutut rusa itu.
"Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi, saljunya terlalu lebat. Kalau terus kita paksakan, kita bisa kehilangan arah dan tersesat."
"Kalau begitu kita beristirahat lebih dulu, lagipula tampaknya rusa kita sudah mulai kelelahan," tutur Lea.
"Ayo cari tempat yang aman agar kita bisa mendirikan tenda dan menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh kita."
Lea menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, mereka lantas kembali melaju mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda dan menyalakan api unggun guna menghangatkan tubuh mereka.
"Sepertinya di sini cocok." Serena beranjak turun dari rusa yang di tungganginya. Saat ini mereka tengah berada di sebuah hutan yang permukaan tanahnya di penuhi dengan daun-daun kering.
"Bukankah ini aneh? Kenapa di bagian sebelah sana di penuhi salju sedangkan di sini tidak?" Lea mengerutkan keningnya, ia lalu turun dari atas rusa.
"Itu karena kita berada di kawasan yang berbeda. Ini adalah kawasan hutan sihir dimana wilayah ini berbeda dengan hutan yang kita lalui tadi. Kalau hutan yang kita lalui itu terhubung secara langsung dengan gunung salju dan Imagitopia, sedangkan di sini berbeda."
"Hutan sihir?"
"Ya. Semoga saja kita aman dari sini. Sekarang ayo bantu aku mendirikan tenda." Serena membuka tas miliknya kemudian mengeluarkan tenda yang di bawanya.
"Aman dari apa?" Lea membantu Serena mendirikan tenda.
"Bukan apa-apa, hanya dari manusia serigala dan vampir," ucapnya santai. Lea melongo mendengarnya.
"Apa? Manusia serigala dan vampir?"
"Iya."
"Mereka benar-benar ada?"
"Tentu saja, dan di sini kami hidup berdampingan satu sama lain. Hutan ini termasuk ke dalam wilayah raja vampir dan di wilayahnya, hidup makhluk-makhluk mengerikan yang mampu membuatmu bergidik setiap kali melihatnya. Tapi selain itu, di kawasan inilah pada penyihir hebat tinggal dan di besarkan."
"Penyihir? Jadi selain manusia serigala dan vampir, di sini juga ada penyihir?"
"Ya. Dan mereka yang terhebat," sahutnya. "Selesai." Serena tersenyum saat ia dan Lea berhasil mendirikan tenda.
"Sekarang kita hanya perlu membuat api." Serena menyapu tanah, mengumpulkan daun-daun kering di tengah-tengah sebagai bahan utama membuat api unggun.
*
"Langit di sini begitu indah ya, rasanya seperti kita berada di luar angkasa dan melihat secara langsung pemandangan indah bintang-bintang di sana." Lea mendongak menatap langit malam berbintang yang begitu indah.
"Ya, memang benar. Semuanya terlihat lebih jelas di sini." Serena menyodorkan makanan yang baru saja dipanggangnya.
"Terimakasih."
"Ng." Serena menganggukkan kepalanya seraya memasukkan makanan di tangannya ke dalam mulut.
"Uh, ini benar-benar enak." Lea melahap makanannya dengan semangat.
"Kelihatannya kau sangat kelaparan."
"Ya… terus berjalan dalam balutan udara dingin membuatku benar-benar kelaparan," sahut Lea, yang kemudian memakan makanannya. Serena hanya mengangguk menanggapi kalimatnya.
Lea berhenti seketika saat secara tiba-tiba ia merasa kalau ada yang tengah mengawasi mereka sejak tadi. Ia menoleh ke sekeliling, memastikan firasatnya itu salah.
"Ada apa?" Tanya Serena begitu menyadari temannya itu bersikap aneh.
"Ssttt… aku merasa bahwa ada yang tengah mengawasi kita." Lea memelankan kalimatnya.
Kedua rusa salju mereka tiba-tiba saja bergerak tidak tenang seakan-akan insting hewan mereka memberikan isyarat bahwa ada yang tengah mengintai mereka dari kegelapan. Hal itu spontan membuat Serena ketakutan.
"Jangan-jangan…" wajah Serena berubah pucat saat otaknya di hampiri pikiran negatif, ia menoleh secara perlahan ke sekeliling. Hutan yang tampak gelap nan sepi membuat keadaan mencekam itu terasa menakutkan, perlahan jantungnya mulai berdetak tak karuan dan tangannya mulai gemetar. Entah kejahatan seperti apa yang tengah menanti mereka di balik kegelapan hutan sihir yang penuh dengan makhluk menyeramkan itu.
"Tetap tenang, dan kuasai dirimu. Atur napas serta detak jantungmu, kalau kau takut dan jantungmu berdetak tak karuan… itu akan semakin memancing mereka untuk keluar." Lea berbisik pelan. Serena menelan saliva-nya susah payah, ia mengangguk secara perlahan dan berusaha mengatur napasnya agar kembali seperti semula.
Rusa mereka tiba-tiba meronta hingga akhirnya lepas dari ikatannya, berlarian menjauh dari tempat mereka berada saat ini.
Lea dan Serena semakin merasa berada dalam bahaya apalagi ketika mereka mulai mendengar deru napas tak beraturan seperti deru napas hewan buas yang sedang mencari mangsa.
Serena yang ketakutan lantas merapatkan tubuhnya ke arah Lea, mencengkram erat mantel yang dikenakannya.
"Kita harus tetap tenang," bisik Lea. Ia terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling berusaha memastikan semuanya aman. Atensi keduanya tersita saat secara tiba-tiba cahaya coklat keemasan menyala di dalam kegelapan. Jumlah awalnya hanya dua, tapi semakin cahaya itu mendekat ke arahnya, cahayanya bertambah bukan hanya dua pasang saja.
Semakin jelas sampai mereka dapat melihat secara utuh sosok serigala yang kini mendekat di dekat api unggun mereka. Serena nyaris saja menjerit ketika mereka melompat keluar dari dalam kegelapan.
Mereka bergerombol, bergerak mengelilingi mereka dengan tatapan memburunya. Suara auman mulai terdengar saling bersahutan satu sama lain.
Serena meremat mantel Lea, tangannya gemetar dan matanya membulat sempurna. Salah satu di antara mereka bisa saja melompat dan menggigit mereka, mengoyak tubuh mereka dengan gigi taring tajamnya. Salah satu dari kawanan itu mulai menatap mereka dengan tatapan tajam, dan tampak siap untuk memangsa mereka. Tapi begitu serigala itu melompat secara tiba-tiba sesuatu yang melayang di udara dengan cepatnya menarik tubuh mereka dan membawanya pergi dari sana, kecepatannya benar-benar hampir sama seperti kecepatan cahaya.
Lea dan Serena bahkan tidak dapat dengan jelas melihat pergerakannya, tapi yang pasti satu hal yang mereka yakini saat ini adalah mereka terbang.
Lea melongo nyaris tak berkedip saat tubuhnya berada dalam ketinggian yang begitu jauh dari permukaan tanah, sementara itu Serena memejamkan matanya mengira ia sudah tamat.
"Kalian aman sekarang." Seorang wanita tiba-tiba membuat keduanya beralih pandang pada yang tengah membawanya terbang, seorang wanita dengan topi besar yang nyaris menutupi seluruh kepalanya, dengan jubah yang membalut tubuhnya, membuat Lea tertegun.
"P-penyihir," gumam Serena saat menyadari yang membawa mereka adalah salah satu penyihir. Detik berikutnya mereka baru sadar kalau mereka terbang dengan menggunakan sapu terbang.
Penyihir itu mempercepat laju terbangnya dan mendarat tepat di sebuah gubuk kecil di ujung hutan, mereka turun dan berdiri menatap si penyihir dengan tatapan penuh tanya.
"Kita sampai," katanya dengan santai.
"Kenapa kau menolong kami?" Hal itulah yang pertama kali terlontar dari mulut Lea begitu mendarat.
"Kalian tidak bisa bermalam di hutan sihir, apalagi berkeliaran sepanjang malam tanpa sparkle flower. Para manusia serigala sangat senang menjadikan manusia seperti kalian sebagai santapan mereka, atau… bisa jadi kalian menjadi tawanan mereka. Aku membantu karena aku tidak suka cara mereka mencari mangsa, itu saja. Dan karena aku kebetulan lewat, jadi aku membantu kalian."
"Apakah kami bisa mempercayaimu? Bagaimana kalau ternyata kau yang justru ingin berbuat jahat terhadap kami?"
"Aku sedikit tersinggung dengan kalimatmu. Tapi asal kau tahu saja, kami penyihir juga manusia dan kami lebih senang melakukan eksperimen pada hewan daripada manusia. Sekarang lebih baik kita masuk, aku akan menyiapkan kamar untuk kalian bermalam." Wanita itu membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
Lea dan Serena melangkah secara perlahan, tiba di dalam mereka mendapati sebuah ruangan yang tampak aneh, tapi tidak terlalu berbeda dengan rumah pada umumnya. Ada ruang tamu, ruang tengah dengan perapian, dan sebagainya.
"Namaku Hilda, dan aku adalah menjaga perbatasan hutan sihir." Hilda memperkenalkan diri.
"Namaku Lea, dan ini Serena."
"Senang berkenalan dengan kalian. Silahkan duduk, dan tunggu sebentar. Akan aku buatkan kalian teh hangat." Hilda beranjak pergi menghampiri dapur, menggunakan kekuatan sihirnya untuk membuat gelas dan beberapa barangnya berterbangan membuat teh tanpa perlu repot-repot menggunakan tangannya. Setelah itu, ia mempersilakan kamar agar Serena dan Lea bisa tidur di sana.
"Omong-omong apa tujuan kalian datang ke hutan sihir?" Tanya Hilda begitu kedua tehnya siap dan di taruh di atas meja di ruang tengah dengan perapian yang menyala.
"Kami datang untuk menjalankan misi," sahut Lea seraya meraih satu gelas dan memberikannya pada Serena. "Tenangkan dirimu," katanya.
Serena meraihnya lalu meneguknya perlahan, setelah meminumnya ia merasa lebih tenang.
"Misi? Misi apa?"
"Kami harus mendapatkan moonlight flower untuk menyembuhkan sang ratu yang tengah sakit."
"Moonlight flower? Bukan hal yang mudah untuk mendapatkan bunga itu, apalagi membutuhkan orang istimewa untuk memetiknya. Karena di setiap kuncup bunga itu memiliki sebuah kristal air ajaib yang mampu membuat orang yang menyentuhnya mengalami gejala mengerikan yang bahkan mampu membuat mereka meninggal."
"Benarkah?" Serena membulatkan kedua matanya.
"Iya. Dan biasanya hanya orang tertentu yang bisa memetik bunga itu, orang yang memiliki izin atas tubuhnya atau orang dengan kebaikan hati murni. Hanya mereka yang bisa memetiknya. Tapi… untuk apa kalian memetik bunga itu? Apakah ratu sakit?"
"Kau kenal dengan ratu?" Tanya Lea.
"Ya, tentu saja. Setiap beberapa tahun sekali beliau selalu berkunjung untuk pertemuan antar dua wilayah. Dan aku sebagai penjaga hutan sihir yang selalu menyambutnya."
"Begitu rupanya…"
"Aku baru tahu soal ini." Serena menggaruk kepalanya.
"Jadi apakah benar, sang ratu sakit?"
"Iya. Belum lagi, kerajaan sedang menghadapi perang."
"Peperangan? Apakah wilayah kerajaan musuh kembali menyerang? Itu berarti, Imagitopia dalam bahaya?"
"Betul sekali, belum lagi udara di Imagitopia terus menurun membuat salju turun di sebagian desa. Maka dari itu kami harus mencari bunganya agar kami bisa menyelamatkan ratu."
"Ini gawat. Kalau begitu kita harus membantu Imagitopia memenangkan pertarungan dan mempertahankan wilayahnya. Karena jika musuh sudah berhasil menguasai Imagitopia, maka bukan hanya rakyat Imagitopia yang akan terusir dari tanah ini. Tapi kerajaan di hutan sihir ini juga akan terancam dalam bahaya. Aku akan meminta raja untuk menolong kerajaan Imagitopia, kalian tidak perlu khawatir."
"Terima kasih. Lalu apa yang kau tahu mengenai moonlight flower?" Tanya Serena.
"Moonlight flower adalah bunga di gunung salju bagian selatan yang sangat istimewa, setiap kuncupnya hanya bermekaran di tengah malam tepat ketik bulan purnama terjadi. Moonlight flower ini memiliki kemampuan magis luar biasa dahsyatnya. Selain itu, bunganya tidak mudah untuk di petik sembarang orang. Ketika orang yang memetiknya adalah orang yang memiliki hati jahat, maka kristal di kuncupnya akan memberikan kutukan berupa penyakit yang bisa membuat mereka mati. Sedangkan kalau yang memetiknya adalah orang dengan hati yang tulus dan baik hati, maka kristal itu akan memberikan berkah berupa kekuatan super yang luar bisa melebihi kami para penyihir."
"Lalu bagaimana kami bisa menemukannya?"
"Akan memakan waktu berhari-hari untuk menemukannya."
"Tapi kami tidak memiliki waktu sebanyak itu. Keadaan benar-benar genting untuk saat ini!"
"Fenomena full moon akan terjadi besok malam dan itu artinya moonlight flower akan mulai bermekaran."
"Lihat? Kita benar-benar tidak memiliki banyak waktu untuk sekarang."
"Kalian tenang saja. Aku akan mengantarkan kalian, aku tahu jalan pintas agar bisa segera sampai di sana. Tapi untuk memetiknya… aku tidak tahu apakah akan berhasil atau tidak."
"Untuk itu, kita pikirkan nanti. Yang terpenting sekarang adalah menemukan lebih dulu bunga itu."
"Aku mengerti. Kalau begitu lebih baik malam ini kalian tidur lebih awal agar kita bisa pergi pagi-pagi sekali besok. Sekarang ikut aku, akan aku tunjukan kamar kalian."
"Terima kasih."
Serena dan Lea melangkah mengikuti Hilda dari arah belakang hingga wanita itu mengantarkan mereka di dalam kamar.
"Selamat malam," tutur Lea begitu mereka tiba di dalam kamar.
"Selamat malam. Kalau begitu tidurlah dan kita pergi besok pagi."
"Iya. Terima kasih karena sudah memberikan kami tempat yang nyaman untuk bermalam."
"Bukan masalah."
***