***
"Tetap di posisi masing-masing dan pertahankan formasi. Kita harus menghadang mereka untuk bisa tiba di gerbang utama istana. Bagaimana pun prioritas kita saat ini adalah sang ratu dan seluruh rakyat di dalam. Ratu tidak ada untuk membantu kita, tapi kita harus tetap mempertahankan Imagitopia dan jangan biarkan mereka menguasai negeri kita!" Pria itu berteriak lantang layaknya seorang pimpinan perang yang penuh keberanian. Seluruh prajuritnya berdiri tegak, berjejer di sana berusaha mempertahankan Imagitopia agar tidak kalah dan jatuh ke tangan musuh.
"Bagaimanapun, aku harus mempertahankan Imagitopia hingga mereka kembali membawa moonlight flower untuk ramuan sang ratu," batinnya. Ia mencengkram erat pedang yang tengah di genggamnya.
*
"Udaranya semakin jauh semakin dingin," gumam Lea seraya mengeratkan mantel yang di pinjamkan oleh Serena untuknya. Saat ini mereka tengah mengemban tugas, mencari keberadaan moonlight flower yang di maksud demi bisa menyembuhkan sang ratu yang tengah dalam keadaan kurang baik.
Baru beberapa kilometer mereka beranjak dari Imagitopia, tapi udaranya semakin jauh semakin terasa dingin. Hidung Lea bahkan sampai memerah saking dinginnya.
"Ini masih menjadi kawasan dari Imagitopia, hanya saja kawasan ini adalah wilayah perbatasan antara Imagitopia dengan hutan sihir. Udaranya semakin dingin karena ketika sang ratu jatuh sakit, maka suhu udara yang pertama kali turun adalah di sini lalu akan terus menyebar hingga ke desa. Maka dari itu, udara di sini jauh lebih rendah di bandingkan udara di Imagitopia," jelas Serena.
"Ternyata Imagitopia memiliki wilayah yang sangat luas ya…" Lea menoleh ke arah mereka datang. Udara dingin, hujan salju yang menyelimuti sekeliling, serta kabut membuat desa tempat semula mereka datang itu terlihat samar-samar. Walaupun begitu, mereka masih bisa melihat peperangan yang tengah terjadi. Kobaran api, dan ledakan demi ledakan yang mereka lihat benar-benar membuat mereka semakin memantapkan hati untuk berjuang demi ratu dan rakyat yang lainnya.
"Ayo kita lanjutkan." Lea menoleh ke arah Serena.
"Ng." Serena menganggukkan kepalanya. Dengan menunggang rusa salju, mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka.
*
KABOOMMM!!!
Entah sudah yang ke berapa kalinya suara ledakan itu kembali terdengar, menginterupsi seluruh wilayah Imagitopia dengan suara nyaring yang memekakkan telinga dan cahaya menyilaukan dari kobaran api yang tercipta.
"Serang!" Teriaknya di garis depan. Mereka balas menyerang dengan meriam api yang di tembakkan ke arah musuh, dan ledakan kembali terdengar.
Perlahan derap langkah kaki kuda terdengar dari arah hadapan mereka, kepulan asap dari ledakan itu membuat mereka hanya bisa melihat dengan samar-samar, walaupun begitu mereka dapat mendengar dengan jelas suaranya.
Sang jendral perang tak tinggal diam, bergegas ia memimpin pasukannya untuk balik menyerang musuh. Pertarungan lebih besar terjadi, suara dentingan dua mata pedang yang saling beradu terdengar jelas menghiasi seluruh pertempuran.
"Tetap pertahankan posisi kalian, hadang mereka untuk bisa sampai di gerbang!" Teriaknya lagi pada yang lain.
Kobaran api dimana-mana, membakar hampir sebagian besar desa, kepulan asap dan beberapa prajurit yang terkapar sudah dalam keadaan tak sadarkan diri. Ada yang berhasil tetap hidup, ada yang tewas, dan ada yang terus berusaha menyerang walaupun luka dan darah dari tubuhnya mengucur dimana-mana.
Seperempat desa Imagitopia hancur. Tampaknya inilah doomsday, kehancuran dan kiamat bagi Imagitopia, apalagi mengingat sang ratu yang tidak ada untuk membantu memimpin perang pasukannya dan melindungi rakyatnya. Tanpa sang ratu, mereka ragu akan bisa menang melawan negeri musuh.
*
"Keadaan yang ratu semakin parah, suhu tubuhnya semakin turun," ujar wanita yang menjadi pelayan pribadi sang ratu itu. Di dalamnya, ia tidak sendirian. Ada beberapa tabib istana dan beberapa menteri kerajaan yang tengah cemas menghadapi situasi ratu.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku bahkan bisa merasakan udara di sini semakin menurun," ucapnya lagi.
"Tidak ada pilihan lain, kita masih harus menunggu mereka kembali dengan membawa moonlight flower itu. Karena hanya itu satu-satunya ramuan inti yang mampu menyembuhkan sang ratu," sahut salah satu menteri kerajaan yang paling tua itu, wajahnya penuh dengan kerutan dan wajahnya di hiasi dengan janggut panjang yang mulai memutih.
"Lalu bagaimana kalau suhu udara semakin dingin? Bisa-bisa Imagitopia tenggelam dalam balutan salju tebal."
"Untuk saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah memastikan membuat warga tetap hangat. Kita bagikan selimut pada warga, nyalakan penghangat ruangan dan perapian, serta pastikan seluruh warga berada di dalam istana."
"Baiklah, ayo cepat bekerja!" Salah satu menteri menjawab seraya menganggukkan kepalanya. Bergegas mereka bergerak pergi dari dalam sana dan menjalankan tugas dari yang tertua.
*
Seluruh desa terbakar begitu ledakan kembali bermunculan dari udara. Semua orang berlarian menyelamatkan diri, setelah ledakan itu berhenti mereka kembali menyerang mempertahankan daerah kawasan yang seharusnya mereka lindungi.
Langkah kaki mereka terhenti saat secara tiba-tiba kepulan asap hitam berputar di udara, semakin tinggi sampai-sampai tingginya menyerupai menara utama istana.
Kepulan itu mulai berubah, menampakkan sosok monster mengerikan dengan dua tanduk di kepalanya dan mata serta napas api yang menyala.
Para prajurit melongo, rasa takut dalam sekejap menguasai mereka. Apalagi kala monster itu mulai bergerak dari tempatnya. Mengibaskan tangannya menyapu tanah sampai membuat beberapa prajurit terjatuh, tangan besarnya meraih beberapa prajurit mengangkatnya hingga di udara lantas menelannya hidup-hidup. Mereka menjerit, berteriak seraya berlarian menjauh darinya. Tapi ada beberapa di antaranya yang berusaha melawan walaupun pada akhirnya perlawanan mereka sia-sia karena ukuran dan tekstur monster itu yang notabenenya berasal dari kepulan asap. Itu tidak mempan.
"Dengarkan semuanya! Kita harus tetap pertahankan formasi dan lindungi kerajaan, kuasai diri kalian. Jangan biarkan ketakutan yang menguasai kalian! Kalian harus yakin, kita pasti bisa melawannya!" Pria itu kembali berseru berusaha untuk menguatkan seluruh pasukannya, dan berhasil. Karena pada dasarnya pria itu bukanlah pria biasa, ada alasan tersendiri mengapa sang ratu mengangkatnya menjadi pemimpin pasukan perang kerajaan. Karena setiap kata yang terlontar dari mulutnya selalu berhasil mempengaruhi pasukannya untuk tetap patuh pada perintahnya.
"Serang!!!" Teriaknya lagi sembari menghunuskan pedangnya di udara. Pasukannya berlari menghampiri musuh, melawan monster itu dengan sekuat tenaga, menghindari dan terus melawan serta mempertahankan kerajaan agar tidak dikuasi oleh musuh.
Dengan bersatu akhirnya mereka berhasil mengalahkan monster itu dan mempertahankan kerajaan. Tak banyak yang selamat, hanya tersisa beberapa ratus dari yang semula berjumlah ribuan. Sebagian besar terluka, baju zirah mereka di penuhi dengan darah. Keringat dan luka saling menghiasi tubuh mereka.
Energi mereka hampir habis, tapi mereka harus terus mempertahankan segalanya. Melindungi rakyat, sang ratu dan wilayah kerajaan yang ingin di rebut oleh musuh mereka.
**"