***
Lea melangkah menyusuri koridor, berbelok ke arah tempat dimana ruangan yang beberapa Minggu lalu di temukan olehnya. Tiba di sana, ia berhenti tepat di depan pintu. Sebelum masuk ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling guna memastikan keadaan aman, setelah yakin semuanya aman; ia bergegas melangkah masuk dan menutup rapat pintu ruangan tersebut.
Lea berjalan menghampiri tombol pembuka jalan rahasia yang ditemukannya. Semenjak menemukan dunia rahasia yang ternyata terhubung dengan ruangan club' tersebut, ia jadi sering ke sana dan bersenang-senang atau hanya sekedar untuk membolos saja.
Pintu terbuka, ia melangkah masuk dan berjalan hingga ujung jalan itu berujung di tempat yang lebih tampak seperti hutan.
Lea tersenyum simpul, entah kenapa setiap kali melangkah masuk dan berdiri di ujung jalannya. Ia selalu bisa merasakan adrenalin nya yang berpacu, ia bisa merasakan sebuah petualangan besar yang luar bisa penuh dengan fantasi dan aksi menyeruak dalam dirinya.
"Here we go," gumamnya pelan saat ia tiba di jalan menuju desa tua yang terkesan klasik itu. Setiap kali berkunjung ke sana, ia merasa seakan pergi ke tahun-tahun sebelum negara menemukan teknologi maju yang luar biasa canggih.
Penampilan orang-orang desa di tambah lagi gaya arsitektur bangunannya benar-benar terkesan kuno, tapi itulah yang membuatnya semakin bersemangat untuk datang dan mengelilingi seisi desa.
Tiba di desa, hal yang pertama kali di rasakan olehnya adalah udara dingin yang begitu menusuk hingga tulangnya. Ia nyaris menggigil saking dinginnya, nafasnya sampai terlihat mengeluarkan kepulan asap setiap kali ia berbicara.
"Ada apa dengan desa ini? Padahal kemarin udaranya tidak sedingin ini," gumamnya seraya terus melangkah dengan keadaan kedua tangan yang memeluk tubuhnya sendiri. Ia benar-benar kedinginan, tapi kakinya terus melangkah.
"Lea!" Serena, gadis berambut kecoklatan dengan ciri khas di kuncir satu itu memanggilnya, membuat atensi Lea beralih padanya.
"Hai!" Sapanya seraya tersenyum.
"Kau baru saja tiba?"
"Iya." Lea menganggukkan kepalanya begitu Serena tiba di hadapannya. "Omong-omong ada apa dengan keadaan di sini? Kenapa begitu dingin?" Tanya Lea seraya mengerutkan keningnya.
Serena menundukkan kepalanya dengan raut wajah murung. "Ada apa?" Tanya Lea yang tidak mengerti dengan raut wajah yang di tunjukkan oleh Serena teman barunya itu.
"Sebenarnya aku tidak terlalu yakin dengan semua ini, tapi tadi pagi aku tidak sengaja mendengar isu mengenai ratu, katanya beliau sakit."
"Lalu… apa hubungannya?" Lea menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya tidak mengerti.
"Perasaan dan kondisi sang ratu mempengaruhi seluruh kehidupan di Imagitopia, mulai dari kesuburan tanah, dan musim. Seluruhnya bertumpu pada sang ratu, semuanya terhubung. Ketika sang ratu merasa sedih atau resah, maka musim akan berganti bisa jadi mendung atau hujan akan datang. Ketika sang ratu sakit, maka udara akan terus menurun hingga hujan salju datang. Aku pikir itu semua masuk akal dengan semua yang terjadi sekarang, udara di sini begitu dingin di tambah lagi aku bisa melihat salju mulai turun di sebagian desa."
"Jika sang ratu sakit, lalu apa susahnya? Bukankah orang-orang kerajaan memiliki tabib untuk mengobati dan merawatnya?"
"Tidak semudah itu, karena sang ratu adalah pemimpin Imagitopia yang memiliki keistimewaan dan terhubung dengan segalanya. Maka tidak sembarangan tabib bisa menyembuhkannya. Dulu hanya ada satu orang saja yang mampu menyembuhkan ratu, dan itu adalah Calgary. Tapi sayangnya… dia meninggal dalam pertempuran yang terjadi beberapa puluh tahun yang lalu. Lalu setelah kematiannya, tidak ada lagi yang bisa menyembuhkan sang ratu ketika ia sakit."
"Tidak mungkin tidak ada cara lain kan? Pasti ada cara lain untuk membuat ratu sembuh."
"Tidak ada…"
"Lalu sampai kapan ini akan berlangsung? Kalau tidak ada yang bisa menyembuhkan sang ratu, bukankah itu artinya kalian akan hidup dalam balutan salju selamanya? Itu akan menjadi doomsday untuk kalian."
"Ya, tapi…"
"KYAAAA!!!!"
Atensi keduanya seketika beralih saat beberapa warga desa berteriak seraya berlarian menuju arah mereka. Dari ujung tempat warga itu berlarian, kepulan asap terlihat menyelimuti sebagian desa, api menjalar dimana-mana dan ledakan demi ledakan terdengar saling menyusul dari sana.
"A-apa itu?" Lea diam membatu di tempatnya, otaknya masih berusaha mencerna setiap kejadian yang di alaminya.
"Serangan! Ayo lari!" Serena menarik tangannya mengikuti warga lain yang mulai berlarian menyelamatkan diri, pergi menuju sisi lain desa. Bola-bola api mulai terlihat bermunculan di udara hingga kemudian jatuh di antara pemukiman warga, bentuknya mirip dengan meteor.
Semua orang berkumpul di satu tempat, tubuh mereka gemetar ketakutan saat mendapati perang yang telah lama damai itu kembali terjadi.
Dari arah gerbang istana mereka melihat sekumpulan prajurit yang keluar, bergegas bergerak menuju tempat mereka berada. Satu prajurit memerintahkan mereka untuk masuk ke dalam istana untuk berlindung. Mereka bergegas pergi, berbondong-bondong masuk ke dalam istana dan berkumpul di aula utama yang luasnya cukup menampung semua orang di desa.
*
"Lalu apa yang bisa kami lakukan? Tidak mungkin kami diam saja sedangkan peperangan terjadi dan sang ratu tidak dalam kondisi baik untuk melindungi kami!" Teriak salah satu warga desa itu pada sang menteri istana yang tengah berusaha menjelaskan keadaan sang ratu pada semua orang.
"Harap tenang, kami dan para tabib istana juga sedang berusaha untuk menyembuhkan ratu dan menyadarkannya."
"Tapi sampai kapan?" Teriaknya lagi dan kali ini berhasil membuat mulut pria itu terdiam seketika. Sakit yang cukup parah membuat sang ratu tidak sadarkan diri, dan hal itu memperburuk keadaan di situasi genting saat ini. Apalagi saat dalam keadaan seperti ini, biasanya hanya ratu yang bisa membuat rakyatnya tenang.
"Apakah benar-benar tidak ada cara lain untuk menyembuhkan sang ratu?" Tanya Lea secara tiba-tiba dengan suara nyaring membuat atensi semua orang tertuju padanya.
"Apa yang kau lakukan!" Serena di sampingnya menatap dengan raut wajah terkejut.
"Siapa kau, dan darimana kau berasal?" Satu menteri istana dengan raut wajah galak itu bertanya dengan tatapan penuh curiga.
"Tidak penting darimana aku berasal, aku hanya ingin ikut membantu. Walaupun aku bukan berasal dari sini, tapi aku sudah merasa nyaman dengan bisa menikmati pemandangan di sini. Dan aku tidak ingin semua yang aku rasakan itu berakhir hanya karena peperangan yang terjadi serta sang ratu yang sakit. Maka dari itu aku bertanya, siapa tahu aku bisa membantu kalian."
"Tahu ap—"
"Ada." Potong menteri istana yang paling tua. Pria dengan wajah galak itu mendelik ke arahnya yang baru saja menyela. "Beberapa ratus tahun yang lalu sebelum Calgary di tunjuk sebagai tabib sang ratu, ada seorang penyihir muda yang memiliki kemampuan luar biasa. Ia di kenal dengan sebutan Binbin sang bintang terang, ia pengembara dari kerajaan dua belas bintang yang memiliki tingkat ilmu sihir yang begitu tinggi sampai-sampai tidak ada yang mampu mengalahkannya. Dan ketika ia datang ke Imagitopia, ratu tengah dalam keadaan seperti saat ini. Kemudian dengan kemampuannya, ia menyembuhkan sang ratu dengan ramuan yang telah di buatnya."
"Sang ratu memintanya untuk tinggal di Imagitopia dan menjadi tabib pribadi sang ratu, tapi dia menolak. Lantas sebelum ia pergi, ia menunjuk satu tabib untuk menjadi muridnya dan mengajarkan kemampuan yang di miliknya pada muridnya yang tak lain adalah Calgary. Calgary akhirnya di percaya sang ratu untuk menjadi tabib pribadinya, dan ia di berikan sebuah buku berisi ramuan yang dapat menyembuhkan sang ratu." Pria itu mengakhiri ceritanya.
"Bagus, itu berarti kita hanya perlu mengikuti petunjuk buku itu!" Kata Lea bersemangat.
"Tidak semudah itu, karena ada bahan istimewa yang sangat sulit untuk di dapatkan."
"Bahan istimewa?"
"Iya. Bahan itu adalah moonlight flower, yang hanya mekar di malam hari ketika bulan purnama muncul. Bunga itu hanya mekar di gunung salju bagian selatan."
"Apa? Itu berarti kita harus menunggu hingga bulan purnama muncul?" Lea melongo.
"Di Imagitopia bulan purnama lebih sering muncul dibandingkan dengan dunia yang kau tempati." Serena memberikan informasi.
"Benarkah?"
"Ng." Serena menganggukkan kepalanya. "Dan kalau memperhitungkan antara bulan purnama sebelumnya dengan yang akan datang, itu berarti sekitar…" Serena terdiam menghitung dulu sebelum menjawab.
"Antara besok atau lusa."
"Bagus, kalau begitu kita bisa pergi dan mengambil bunga itu!"
"Tapi jarak dari Imagitopia dan gunung salju di selatan itu sangat jauh, akan memakan waktu yang lama. Di tambah lagi, udaranya sangat dingin melebihi di Imagitopia saat ini."
"Walaupun begitu, kita tidak mungkin diam saja 'kan?"
"Ya… kau benar." Serena membenarkan.
Lea beralih pandang pada menteri yang tadi di ajaknya bicara.
"Kalau begitu serahkan tugas ini padaku, aku akan berjuang untuk mengambil bunga itu dan membawanya kemari untuk sang ratu. Aku tidak ingin dunia ini hancur!"
"Tapi apakah kau yakin dengan keputusan mu itu? Perjalanan menuju gunung salju di selatan bukanlah hal yang mudah," katanya.
"Aku yakin. Maka dari itu, izinkan aku pergi."
"Tapi kau tidak tahu rute perjalanannya, akan sulit untuk kau bisa menemukan keberadaan gunung itu."
"Aku akan ikut bersamanya. Aku tidak mungkin membiarkan temanku pergi seorang diri begitu saja." Serena angkat bicara, menoleh ke arah Lea. Lea terdiam merekahkan senyumannya.
***