Teh susu? Apakah kamu menyukai minuman itu? Tidak semua menyukai teh tarik ini.
" Satu jeruk panas, satu teh susu dingin." pesan Rika pada pemilik warung kecil yang terletak di pinggiran jalan.
Rika sengaja singgah ke warung itu bersama Tata, ingin makan nasi soto bening ciri khas di kota kecil itu. Rika dan Tata datang dari kota metropolitan naik bus. Mereka hendak ke rumah neneknya. Letak rumah neneknya dari terminal itu masih cukup jauh, sekitar satu jam an dan harus naik bus mini menuju ke kampung tempat nenek Rika tinggal.
Sesaat dua cewek yang masih berstatus mahasiswa itu, menikmati soto dan minuman yang sudah di pesannya tadi. Setelah selesai menikmati hidangan itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah nenek Rika. Tata mengikuti Rika saja karena dirinya memang belum pernah ke
kampung halaman Rika tersebut. Mereka berdua adalah teman se jurusan di kampus yang sama.
Setelah mendapatkan bus sesuai jurusan yang ditujukan, mereka menikmati perjalanan ke kampung dimana nenek Rika tinggal.
" Rika! Aku boleh bertanya sesuatu tidak?" tanya Tata kepada Rika yang duduk di sebelah bangku bus yang sama.
" Kamu mau tanya soal apa?" tanya Rika sambil tersenyum.
" Mungkin ini tidak penting, namun ini membuat aku jadi ingin bertanya. Kenapa setiap kali aku jalan dengan kamu dan kita singgah di warung atau rumah makan, kamu pesan minuman yang sama,Teh susu." kata Tata.
"Kenapa kamu begitu menyukai minuman yang dicampur- campur itu?" tanya Tata iseng bertanya.
" Tidak ada yang spesial sih. Namun, peraduan teh dan susu itu warnanya bikin selera. Aku menyukainya namun tanpa gula pasir lagi. Karena di dalam susu sudah manis." jawab Rika menjelaskan.
" Kenapa kamu tidak mencoba menyukai kopi susu atau susu jahe?" tanya Tata iseng aja.
" Hahaha.. Kamu bertanya soal tidak penting ini lantaran tidak ada topik yang lain lagi yah?" tanya Rika sambil tersenyum.
" Kalau aku tanya mengenai Rangga, apakah kamu akan menjawabnya dengan jujur?" sahut Tata sambil melirik matanya ke Rika.
Rika sesaat terdiam dan tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Tata terakhir itu.
" Kamu kenapa menjadi menjauhi Rangga? Bukankah kalian dulu dekat? Dan dua minggu ini kalian sepertinya berusaha menghindar." tuduh Tata.
Rika kembali belum menjawab. Rika sedih dan raut wajahnya kembali menampakkan hal itu.
" Sebenarnya aku tidak ingin jauh dari Rangga. Namun, Rangga yang membuat aku sadar diri siapa aku sebenarnya. Aku dan Rangga sangat berbeda jauh." cerita Rika.
" Lalu?" tanya Tata.
" Lalu aku menyudahi semua sebelum aku benar-benar jatuh cinta dengannya. Ada seorang wanita yang tiba-tiba datang menjumpai aku di kost waktu itu. Dia bilang kalau dirinya adalah tunangan dari Rangga. Aku sungguh tidak tahu soal itu. Aku kenal Rangga di kampus dan karena kegiatan mahasiswa itu akhirnya kami semakin dekat. Aku juga tidak bermaksud menjadi perusak hubungan mereka. Aku sungguh tidak tahu semua itu kalau Rangga sudah bertunangan." cerita Rika lagi.
" Lalu?" tanya Tata menyelidiki.
" Lalu? Aku hanya berusaha menjauh saja dari Rangga dan tidak ingin berharap lagi. Aku kira Rangga belum punya pacar atau kekasih. Aku selama ini selalu menanggapi perhatian dari Rangga. Aku yang suka teh susu, hampir tiap hari ada kiriman minuman itu ke kost aku. Haha." cerita Rika.
" Perhatian kecil itu membuat aku semakin berharap lebih dari Rangga. Aku memang simpati dengan Rangga karena dia baik dan penuh perhatian ke aku. Walaupun ujung-ujungnya dia memang modus. Tapi kenyataan nya dia sudah bertunangan. Akhirnya aku kecewa deh." cerita Rika menggebu-gebu.
" Lalu?" tanya Tata lagi.
" Lalu aku sementara ini menjauh dulu dari Dia. Namun jujur, aku sudah kepikiran dengan nya. Mungkinkah aku sudah terbiasa dengannya?" cerita Rika.
Tata tersenyum mendengar semua cerita Rika.
" Bukankah mereka belum menikah? Dan masih bertunangan? Kamu masih ada kesempatan, sayang!" goda Tata.
" Tata!" sahut Rika tidak setuju akan ucapan Tata.
" Bagaimana sikap Rangga setelah itu? Apakah dia masih berusaha mengejar kamu dan perhatian ke kamu. Contohnya minuman teh susu itu apa masih sampai ke kost kamu?" tanya Tata menebak sambil tersenyum.
" Masih! Banyak botol minuman itu di kulkas. Hahaha." jawab Rika malah terkekeh.
" Jadi? Ketika kamu minum teh susu, dalam pikiran dan ingatan kamu semakin tertuju kepada Rangga dong!" goda Tata.
" Sedikit!" sahut Rika.
Suara ponsel milik Rika berbunyi. Rika masih belum mengangkatnya.
" Dari siapa?" tanya Tata.
" Dari Rangga!" jawab Rika lalu membuka isi chat dari Rangga.
" Apa katanya?" tanya Tata.
" Dia bertanya, dimana aku saat ini? Rangga lagi di kost aku sekarang." cerita Rika.
" Ya sudah, balas saja!" suruh Tata.
" Tata, Rangga ini super nekat. Di akan mengejar aku sampai di kota kecil ini nanti." kata Rika.
" Itu bagus dong! Itu namanya dia serius sama kamu!" sahut Tata.
" Lalu, bagaimana dengan tunangan nya?" tanya Rika.
" Apakah Rangga tahu, kalau wanita yang mendatangi kamu yang mengaku tunangan nya itu datang ke kost menemui kamu?" tanya Tata penuh selidik.
" Tidak! Aku tidak menceriakan itu semua." sahut Rika.
" Ya sudahlah! Ikuti saja permainan ini jika hati kamu mang sudah terlanjur sayang dengan Rangga. Dan Rangga pun terlihat serius dengan kamu." kata Tata mempengaruhi.
" Aku tidak bisa!" sahut Rika.
" Kamu tidak bisa? Namun kamu tidak bisa menolak semua pemberian Rangga termasuk teh susu itu seperti halnya namun tidak bisa menolak perhatian Rangga kepadamu. Itu artinya kamu masih ngarep banget melanjutkan hubungan dengan Rangga lebih serius lagi." kata Tata.
" Kasih tahu saja kalau kamu pergi dengan ku ke kota ini. Jika Rangga menyusul kamu di kota ini, tanyakan akan status kamu dimatanya. Lalu tanyakan kembali akan kebenarannya apakah dirinya sudah bertunangan. Jadi hubungan yang seperti apa yang akan Rangga tawarkan kepada kamu, jika memang benar-benar dia sudah bertunangan. Ingin berpacaran atau cuma berteman saja. Jadi kamu bisa memutuskan perasaan kamu. Dan jangan lagi berharap banyak jika Rangga hanya mempermainkan kamu saja." pendapat Tata.
" Baiklah! Gara-gara teh susu aku menjadi GR akan perhatian Rangga terhadap aku." sahut Rika lemas.
" Namun, memang kenyataan nya tidak ada sahabat yang benar-benar tulus tanpa modus. Jika itu persahabatan dengan lawan jenis." nilai Tata.
Rika hanya diam dan tersenyum mendengar pendapat dari Tata.