Malam itu, dingin. Maksudku ini benar benar dingin, kau tau berapa suhunya? Itu 15° Celcius. Ini terdengar lebay, tapi aku biasanya hidup di suhu 28° ke atas, jadi kurasa malam ini sangat dingin. Aku sedang bekerja sekarang, jadi aku tak bisa tidur, walaupun ini sudah jam 2 malam tapi tetap saja, deadline-nya besok. Aku bekerja sebagai Coloring Assistant. Karena hari ini dingin dan sepi, aku memutuskan untuk menghubungi beberapa temanku, tapi sayangnya mereka sudah tidur di jam segini. Aku berpikir sejenak bagaimana cara agar tak terlalu sepi, aku bukanya takut, hanya saja aku butuh temen ngobrol agar tak ngantuk.
Lalu aku ingat seseorang yang bisa dihubungi, dia bukan temanku atau saudaraku, aku tau nomor dia dari sebuah aplikasi anonim. Aku mencoba chat nomornya melalui pesan.
Akmal
'Hey, kau masih bangun?'
Anonim
'Iya, mau order?'
Seperti yang diharapkan, dia masih bangun dan fast respon.
Akmal
'Iya, aku ambil 2 jam'
Anonim
'Oke'
Dia memulai vc. Dan Ini bukan vc biasa, kurasa kalian pernah dengar kata vcs. Ya ini adalah vcs, tapi tenang saja, aku cuma mau jadiin dia temen ngobrol kok.
"Hai." aku memulai obrolan tanpa ragu.
"Hai, jadi, lu mau liat mana dulu."
"Ah, aku bukan mau itu kok, aku cuma mau ajak ngobrol random aja."
"Ngobrol random? Itu maksudnya gimana?"
"Ya cuma cerita hal hal acak aja, kayak kita sekarang, dan selama 2 jam kedepan."
"Oh, oke, btw lu lagi ngapain?" Aku memang mengarahkan kamera hpku ke layar monitor didepanku.
"Aku lagi kerja, makanya aku butuh temen biar gak ngantuk, dijam segini temen temenku udah tidur, jadi aku ngehubungin mbak."
"Kenapa gak dikerjain besok aja?"
"Besok deadline-nya, jadi malam ini harus selesai."
"Oalah, lu kerja jadi apaan?"
"Aku Coloring Assistant, Namaku Akmal, salam kenal hehe."
"Gw Lia, salken juga. Btw lu gak mau nunjukin muka lu?" Aku lupa, dia akan merasa aneh kalau ngomong sama layar monitor.
"Iya, ini kutunjukin." Aku memutar hp ke arah mukaku sambil sedikit tersenyum. "Hai" Sambil melambaikan tangan.
"Hai, wah lu ganteng juga ya"
"Haha, makasih loh. Ngomong ngomong mbak kenapa belum tidur?"
"Gw insomnia, jadi kadang tidur kalau siang atau pagi aja."
"Oalah, pasti berat ya, Haha."
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan, kami masih belum menemukan topik untuk berbicara, aku juga masih sibuk dengan pekerjaanku.
"Lu seriusan gak mau ke arah yang lebih cabul?" Dia memulai pertanyaan yang membuatku berpikir 'ambil dosa gak diambil sayang'.
"Nggak usah mbak, saya juga gak butuh video seksi mbaknya, saya cuma mau ngobrol aja hehe." Tanpa jawaban. Jadi aku memberanikan diri bertanya. "Mbak udah lama kerja gini?"
"Baru 3 bulan sih"
"Wah lumayan, udah berapa orang yang mbak kasih video Seksi mbak sambil vcs mbak?"
"Tujuh orang kayaknya sih, lu harusnya ke delapan, tapi lu gak mau, jadi tetep tujuh."
"Mbak kalau seandainya video seksi mbak dipake buat ngancam mbak pas udah punya suami, mbak lapor suami atau nurut aja?"
"Ngancem gimana nih?"
"Kayak ngelakuin seks gitu, atau hal hal lain yang mesum lah."
"Lapor suami sih, lagipula kalau nurut gw goblok banget."
"Syukurlah, kukira mbak bakalan nurut."
"Emang kenapa kalau nurut?"
"Kayak yang saya bilang tadi, saya kerja jadi Coloring Assistant atau tukang mewarnai lah, dan ini bukan ngewarnain komik biasa, tapi komik 18+."
"Terus hubungannya apa?"
"Di komik 18+ yang pernah kuwarnai, aku pernah baca cerita tentang blackmail dan mind break, mbak tau apa ini?"
"Nggak"
"Blackmail, itu mbak diancam make video video seksi mbak, biasanya pelaku bakalan nyebarin video itu kalau mbak gak nurutin kemauan pelaku. Dan mind break, karena mbak udah sering nurutin kemauan pelaku, yaitu seks, mbak mulai ketagihan dan lebih suka sama pelaku daripada suami mbak sendiri. Cerita itu lumayan ngerusak hati sih, jadi aku takut kalau mbak malah nurut ke pelaku dan bukan lapor ke suami."
"Wah, jadi gitu ya. Tapi kalau diancam bakalan disebarin sih gw gak takut, soalnya gw juga kerja gini terang terangan."
"Haha, tapi semoga itu gak terjadi di hidup mbak ya, kasihan suaminya kalau beneran."
"Tenang aja, gw nyari suami yang nerima gw walaupun tau gw kerja kayak gini."
"Mau nyoba sama aku, mbak? Asal mbak berhenti kerja gini, aku jomblo lho." Entah apa yang kupikirkan saat itu, aku melihat wajah cantiknya dan aku melihat kebaikan dalam dirinya. Kurasa dia bukan wanita yang buruk, aku ingin bersamanya.
"Bercandaanya gak lucu, Akmal goblok"
"Ini beneran mbak, nanti saya samperin kerumah mbak dan bicara sama orang tua mbak. Saya janji bakalan nerima mbak dan ngerubah,mbak."
Dia hanya diam sambil menutupi wajahnya dengan bantal, itu cukup lama sampai pekerjaanku selesai. Karena dia terus seperti itu aku memutuskan untuk mematikan video call-nya dan mengirimi dia pesan
Akmal
'mbak, saya gak bercanda. Kalau mbak mau, mbak bisa share lokasi mbak. Dan kalau dekat dalam waktu dekat juga saya akan kesana.
Hanya dibaca. Apa dia marah? Kurasa dia sedikit terkejut, lagipula siapa pria gila yang tiba tiba mengajak kencan wanita yang hanya dikenal beberapa menit. Jadi aku memutuskan untuk mengirim hasil kerjaku dan segera tidur.
08.00 Am, Handphone ku bergetar dan aku melihat sebuah chat yang menunjukan harapan.
Mbak Lia
'Ini tempatku sekarang, Akmal, kalau akmal beneran, nanti Dateng kerumah mbak. Mbak udah bilang bapak.'
Aku melihat lokasi itu, dan ternyata kami masih 1 provinsi. Hanya beda kota saja, Hal keren apakah ini?.