Langit malam menunjukan purnamanya yang bersinar sangat terang dengan cincin pelangi di sekitarnya. Malam ku terasa sangat damai di rumah kecil ku di kampung Kampungan. Suara burung hantu dan suara jangkrik yang seakan saling beradu bernyanyi menemani tengah malam ku seusai pulang dari lembur kerja. Rasa lelah dan letih ku seakan sirna saat aku merebahkan badan ku di atas ranjang kesayangan ku. Ranjang yang selalu bergoyang setiap waktu maghrib seperti sedang digunakan untuk berhubungan. Ingin rasanya aku menganti ranjang ku, tapi apalah daya setengah dari gajiku ku gunakan untuk membiayai ibu ku yang kini dirawat di rumah sakit dan setengahnya lagi untuk keperluan sehari-hari dan juga untuk membayar tagihan listrik dan air.
Saat aku merebahkan tubuhku di ranjang tidur ku. Mataku sedikit terlelap. Lama-kelamaan aku tertidur dan menuju ke dunia fantasi bawah sadar ku. Betapa sialnya aku, saat aku sudah bermimpi indah ditemani dua orang perempuan cantik, mimpi itu berakhir dengan mimpi gempa yang absurd. Benar saja, saat aku terbangun, ranjang ku lagi-lagi bergoyang. Sepertinya penunggu rumah ini senang sekali berhubungan intim dikamarku. Aku rasa mereka juga tidak punya malu, berhubungan intim tapi menggunakan tempat tidurku, bahkan saat aku sedang tidur di situ juga. Ahh.. Sudahlah aku segera keluar saja dan tidur di ruang tamu. Kalau tidak aku tidak akan mendapatkan tidur nyenyakku.
"Guk.. Guk.. Guk.. Ay, ay, Ay i'm your little butterfly"
Baru saja aku merebahkan tubuhku yang belum sempat ku mandikan ini ke kursi panjang yang berada di samping meja di ruang tamu rumahku, tiba-tiba galaxy j2 prime ultimate pro max optimus prime plus xx extra big ku berbunyi. Lagu yang ku setel sebagai penanda telpon mengingatkan aku saat pertama kali aku mempunyai hp walaupun hp mainan dan itu membangkitkan kenangan saat ibu ku sedang dalam keadaan yang prima.
"Dengan tuan Andre betul? "
"Iya, ini siapa yah? Dan ada apa menelpon jam segini? "
"Tuan Andre kami mohon anda segera ke rumah sakit sekarang. Ini mengenai ibu anda."
"Baik! Saya akan segera kesana. "
Tiba-tiba rasa kantukku sirna begitu saja usai mendengar suara wanita yang tak asing lagi. Wanita yang selalu berada di rumah sakit dengan baju serba putihnya dan selalu menyambut tamu rumah sakit. Aku pun segera bergegas ke rumah sakit dengan sepeda montor ku yang selalu berbunyi seperti kentut orang yang cipirit.
Trot.. Trot.. Trot.. Tot.. Tot.. Tot..
Sampai ku dibawah pohon kelapa yang bungkuk ke sisi lain jalan. Aku berhenti dan melihat jam di hp android legend ku. Waktu itu waktu menunjukan pukul 02.33. Aku pun melihat ke langit. Niat hati ingin melihat bulan yang bersinar terang waktu itu, tapi aku malah melihat pemandangan yang sangat tidak halal dipandang mata. Terlihat wanita dengan baju putih, tepatnya baju seperti gamis yang tidak perlu menggunakan celana atau rok untuk menutupi kaki. Siapa lagi kalau bukan kuntilanak? Dia dengan santainya terbang dari arah yang sama dengan ku. Nampaknya ia menuju ke kelapa bungkuk itu. Ahh.. Benar saja, dia berdiri di situ. Aku tak tahu apa yang akan dilakukannya. Mungkin sedang nunggu pesanan ojolnya? Tapi yang aku tahu dari apa yang terlihat dari bawah kalau dia tidak memakai cawat atau celana pendek atau sejenisnya. Sungguh pemandangan yang sangat - sangat tidak halal untuk dilihat.
"Ahh sudahlah aku hiraukan saja. Persetan kalau kemaluan kuntilanak itu kemasukan sesuatu. "
Aku segera mematikan android lengend ku ke saku jaket hitam ku dan melanjutkan perjalanan dengan montor yang kentut sepanjang jalan.
Trot.. Trot.. Trot.. Trooootttt....
......
50 meter lagi sudah sampai ke rumah sakit yang berada di pinggir jalan. Waktu itu jalanan terasa sepi. Hanya ada beberapa orang yang mengangkut sayuran menuju ke pasar dekat rumah sakit. Tapi, mengapa dibelakangku terasa dingin? Rasanya seperti ada seseorang dibelakang ku. Aku melihat ke belakang dengan spion yang tertancap di sepeda montor ku. Sial.. Benar saja, kuntilanak tanpa cawat itu bonceng dengan ku. Aku pun menyalakan lampu sein untuk menepi ke sisi jalan.
"Hihihihi.. Mas, masnya tadi kenapa enggak sopan? Pake acara lihat - lihat aurat saya"
Aku pun turun dari sepeda motor ku dan bertatap muka dengan kuntilanak itu. Tapi, aku heran, ini kuntilanak enggak seperti manusia yah, yang sering pamer aurat tanpa rasa malu. Ini setan aja punya rasa malu.
"Salah anda sendiri sih.. aurat itu di tutup bukan dipamerin. Satu lagi, kalau mau auratnya enggak terlihat yah jalan di tanah aja, enggak usah terbang-terbang sok coslplay layangan. Anda masih beruntung bertemu dengan saya kalau saja anda bertemu dengan orang yang suka melakukan pelecehan s*ksual bagaimana hah?! Beranak lah kau dalam kubur sana."
"Hiks.. Khihihihi bagaimana mau jalan di tanah mas? Kaki aku aja elergi ama debu yang ada di tanah. Kaki aku ini mirip silit britis mas, jadi enggak bisa kalau disuruh jalan di tanah. "
Aku menatap dia dengan rasa kasihan dan merasa jijik juga. Bagaimana tidak rambutnya yang menggimbal dan nampak kaku ditambah tingkah dan logatnya yang sok asik menggambarkan kalau dia tidak punya teman dan tujuan hidup. Lah emang masih punya tujuan hidup? Ehh.. Aku lupa, kuntilanak kan udah meninggoy. Tapi, kok masih ada di alam manusia yah? Why?
"Lah setan juga jago menyindir yak? " ucap batinku
"Ahh gini mbak kunti, kalau memang anda ngotot ingin terbang setidaknya pakai cawat, celana dalam, atau sejenisnya. Anda sendiri yang pamer aurat tapi ketika dilihat auratnya malah menyalahkan dan menegur saya dengan seribu satu alasan. Cukup perempuan dunia manusia saja yang begitu, kalian jangan. "
"Hihihihi... Ya mas, maaf. "
Alangkah kagetnya aku. Ternyata selama ini setan yang dijadikan bahan candaan bahkan ada yang dijadikan materi konten bercuan sampai - sampai menghancurkan rumahnya dan mengusik ketenangannya teryata mempunyai bibir yang ringan untuk minta maaf. Beda dengan orang - orang di dunia manusia. Mencuri uang tetangga saja dipolisikan, padahal sudah dikembalikan 100% dan juga sudah minta maaf tapi masih tidak mau memafkannya. Sedangkan yang mencuri uang rakyat di.... Ahh sebenarnya yang berhak di sebut setan siapa sih. Bukan berarti aku memanusiakan setan, walaupun aku memanusiakannya mereka belum tentu mau, tapi ya bagaimana, ya?
"Mbak kunti sebaiknya beli cawat atau sejenisnya di pasar deket rumah sakit sana. Ohh.. Ya, sekalian beli shampo hijab yang biasa dipakai para manusia berlabel bapack - bapack. Dijamin tuh rambut yang mirip rambut kemal*an bakal lurus dan bersih tanpa kotoran seperti jalan hidupnya rafatar yang mulus tanpa hambatan."
Mendengar perkataanku dia tersenyum dan langsung duduk di depan dan Kedua tangannya memegang setir motor ku.
"Mas.. Ayok mas naik. Biar saya yang setirin. Mas nya mau ke rumah sakit deket pasar itu kan? Ayok mas cepet! "
Tanpa pikir panjang aku langsung naik motor ku dan berusaha menyamankan diri senyaman mungkin di belakang sebelum berangkat dengan dibonceng. Jujur ini pertama kalinya aku dibonceng, sebelumnya aku selalu di depan menyetir montor ku sendiri.
"Hiihihii.. Sudah nyaman mas? "
"Iya, sudah. "
Trott... Trot.. Troott... Trototottotottotod... Ngen... Toooooodd...
"Mbak santai aja mbak. Pelan-pelan saja. Pasarnya gk bakal lari kok. Palingan penjual shampo dan cawat juga masih belum ada. "
"Hihihihi.. Santai saja mas! Saya sudah biasa mengendarai montor. Aman kok, tenang saja yah mas. "
Ingin ku percaya semua perkataan yang melompat keluar dari mulutnya itu. Tapi bagaimana caranya agar aku bisa percaya? Sedangkan caranya menyetir sepeda montor saja seperti ingin melakukan balapan liar saja.
Sepanjang perjalanan aku hanya mendengarkan ceritanya. Kuping ku sampai terasa penuh dengan cerita picisannya. Aku hanya diam dan mendengarkan ceritanya sambil menoleh ke samping jalan. Tak sadar ku kalau sudah sampai di depan pasar, tepatnya di tempat parkir depan pasar tersebut.
"Khihihihi.. Mas turun sebentar dong! Saya mau parkirin montor mas nya di situ tuh. " ucap si kuntilanak itu sambil menunjuk ke arah tempat yang gelap dan sepi.
"Kenapa enggak di sini saja. Ini juga parkiran kan? Disini banyak orang yang parkir juga. "
"Khihihihihi.. Mas di jam sekarang kan jarang ada orang lalu lalang. Kalau montor mas diparkir di sini terus dicuri bagaimana? Motor mas kan enggak ada pengamannya. Enggak ada juga yang mau mbantu ngamanin montor mas di sini. Mending di taruh di sana aja mas. Tempatnya gelap dan enggak bakal terlihat mata montor mas ini. Suer dehh.. "
"Iya, serah mbak kunti aja. Maklumin aja montornya enggak ada pengamannya. Toh montor buntut. "
Aku pun turun dari montor ku dan menyampingi si kuntilanak itu. Tapi kok terasa aneh? Gaya berkendara si kuntilanak itu berbeda dari sebelumnya. Dia semakin bergaya layaknya orang mau balapan liar. Badannya yang seketika dicondongkan kedepan. Tangan kanannya yang menarik pegangan stir untuk menjalankan motor terlihat menarik dan melepaskan stir itu, mirip sekali dengan sikap orang yang hedak balapan liar.
Entrot.. Troott.. Trott.. Trottt.. Trot tot tot
Suara yang keluar dari montor ku itu sangat memekakkan telinga ku ini. Seakan suara yang keluar dari montor ku itu terdengar sampai tujuh desa sekitar.
"Hihihihihi.. Mas saya jalan dulu yah mas. " ucap kuntilanak itu yang menghadap ke arah ku yang kemudian tersenyum seperti meremehkan orang bodoh.
"I.. ya.. "
Entrot.. Trott.. Trotot tot tot tot... Ngwengg... "
Alangkah kagetnya aku sampai dibuat mematung di depan pasar itu. Si kuntilanak itu katanya mau markirin montor aku disana tapi malah pergi ke jalan raya dengan montor ku dan tak menghiraukan ku. Jadi ini adegan pembegalan atau gimana? Kalau iya, bakal lucu banget. Masa manusia dibengal setan?
"Yahh kok montor ku dibawa kabur. Katanya mau diparkir di tempat itu? Sialan kuntilanak itu. Ini ceritanya saya diperingatkan oleh begal tentang keamanan montor saya tapi begal itu sendiri yang mencuri montor saya. Singkatnya ini penipuan dan pencurian tapi modal tampang melas. Udah kayak beberapa orang-orang kepercayaan nega... "
Aku sudah tak peduli lagi tentang montor ku yang dicuri. Mau dikejar pun sudah jauh. Mau minta tolong tapi di sini sepi.
"Guk.. Guk.. Guk.. Ay, ay, Ay i'm your little butterfly"
Ahh.. Hp galaxy j2 prime ultimate pro max optimus prime plus xx extra big ku berbunyi. Sepertinya telpon. Aku segera mengambil hp ku dari dalam saku jaket hitam ku. Ternyata ini nomor rumah sakit.
"Mas Andre kenapa belum sampai juga? "
"Ahh iya ini sudah mau sampai. "
Aku langsung mematikan panggilan telpon itu dan memasukan kembali hp ku yang paling legend sejagat raya ke saku jaket hitam ku dan kemudian langsung berlari seribu langkah ke rumah sakit yang sudah sangat dekat sekali dari pasar tempatku berada sekarang.
Setibanya aku di rumah sakit, aku langsung berlari ke ruangan tempat ibu ku berada. Di sana terlihat seorang berbaju putih yang tak lain adalah dokter yang mengurus ibu ku.
"Mas Andre kenapa lama sekali? "
Deg deg.. Mendengar perkataan dokter itu hatiku seketika terasa tak tenteram. Rasanya perkataan dokter itu seperti perkataan seorang dokter yang sudah menyerah merebut paksa nyawa pasiennya dari malaikat pencabut nyawa.
"Ya, maaf dok. Ada sedikit kejadian yang pelik saat saya ke menuju ke rumah sakit. "
"Mas"
"Iya dok? "
Dokter itu memegang pundakku dengan tangan kanannya yang terasa lemas. Aku pun merasa cemas, dokter yang berada tepat di hadapan ku ini kenapa memegang pundakku? Apa dia pelangi? Ahh tidak, bisa - bisanya aku disaat yang terasa sekali ketegangannya memikirkan sesuatu yang sangat tidak halal seperti itu.
"Mas lihat ibu mas. "
Akupun langsung memalingkan pandanganku dari dokter itu dan menoleh ke arah ibuku.
"Iya kenapa dok? Ibu saya kan sedang tidur. "
"Yang sabar yah mas.. "
Seketika badan ku panas dingin mendengar kata "sabar yah" dari seorang dokter. Seakan perkataan itu menusuk dengan sangat menyakitkannya ke hati kecilku ini.
"Kenapa dok? Kenapa dengan ibu saya! "
Seketika nada bicaraku bercampur dengan emosi ku yang membeludak ingin dikeluarkan. Rasanya mata ku ini, mata yang sudah sangat terkontaminasi oleh berbagai pemandangan tak halal ini ingin memuntahkan air yang bersumber dari kesedihan yang paling mendalam dari diriku ini.
"Ibu mas sudah diinvite tuhan. Masnya yang sabar yah. Saya tau itu berat. Ibu dan bapak saya juga sudah diinvite tuhan mas. Tapi ambil sisi positifnya yah mas. Mungkin mereka disana sedang mabar dan sudah mendapatkan savege. "
Mendengar perkataan dokter itu kaki ku terasa lemas, rasanya seperti mati rasa. Sekujur tubuhku makin terasa panas dingin dan kini mata ku sudah memutahkan air yang bersumber dari kesedihanku itu. Suaraku meraung - raung memanggil ibu ku.
"Ibu.. Ibu.. "
Aku hanya menagis di samping ranjang rumah sakit itu. Ranjang yang menjadi tempat terakhirnya. Ranjang yang cukup nyaman tanpa ada gangguan dari makhluk halus mes*m yang terus berhubungan setiap malam.
........
Sepuluh hari setelah ibu ku diinvite oleh tuhan, kehidupanku terasa sangat meyedihkan. Rumah terasa sangat tidak nyaman karena para penunggu rumah ku yang selalu membuat goyang ranjangku ditambah juga tanpa kehadiran seorang ibu. Pikiranku juga kalang kabut memikirkan pekerjaan baru yang cukup dekat dengan rumahku usai montorku hilang dibegal kuntilanak beberapa hari lalu. Lengkap sudah penderitaanku ini. Bagaimana sekarang aku mau banting tulang guna menghidupi diriku ini yang sekarang seperti seorang remaja jaman sekarang yang menjadi beban keluarga?