Ketika Agape dan Pragma bertemu, sebuah cinta tanpa pamrih dan realistis juga praktis. Disatukan dengan kata dasar yang membentuk mereka, yaitu CINTA.
Kisah keduanya yang dituangkan dalam sosok Vidya Maharani dan Verel Ardianata
==============@@@@@==============
Vidya tersenyum menatap Verel yang datang sembari membawa sebuah kantung makanan. Ia pun menggeser tempat duduknya agar pemuda itu bisa mendapat tempat untuk singgah disampingnya.
Hening sejenak, Vidya masih tersenyum walau dalam hatinya ia ingin mengoreksi pemuda yang menjabat sebagai pemegang hatinya saat ini atas keterlambatan yang harusnya membuat Vidya marah dan mengomel saat pemuda itu datang, tapi Vidya malas untuk melakukannya.
Keterlambatan satu setengah jam, apakah itu wajar untuk hal yang tidak darurat dan pasti? Beruntunglah kamu Verel Ardianata karena Vidya adalah orang yang pemalas dalam mencurahkan emosinya.
"Aku benci orang yang terlambat, bisa katakan apa alasannya?" Tanya Vidya kalem setelah Verel duduk disampingnya.
"Karena ini," ucap Verel sambil mengangkat kantung plastik yang dia bawa, pemuda itu tersenyum lebar seolah tidak memiliki dosa.
"Aku ingat kamu suka makan nasi goreng, dan kebetulan aku lihat ada warung nasi goreng yang sialnya ramai, dan bensinku tadi hampir habis," jelas Verel, Vidya tidak menoleh pada Verel, dia hanya mengangguk maklum sambil memainkan tali tas selempang yang ia bawa.
Verel tau kekasihnya ini sedang bete, dan tentu saja ini salahnya. Verel mengusap rambut coklat legam itu dengan perasaan tulusnya.
"Maaf... " ucap Verel, Vidya menatap Verel, mencoba menyelami manik hitam yang selalu memberikan tatapan tajam ketika diluar sana (saat sedang tidak bersama Vidya). Vidya pun tersenyum tipis.
"Kamu bisa berhenti gini gak?" Tanya Vidya, ia pun menatap pemandangan lampu rumah-rumah penduduk dimalam hari, kebetulan tempat mereka kencan hari ini didataran tinggi, sebuah bukit yang memiliki taman-taman bunga dan wahana kecil permainan seperti ayunan dan jungkat-jungkit.
Keduanya tengah duduk dibangku taman yang menunjukkan pemandangan bawah, angin malam sangat terasa saat ini, namun dapat ditepis dengan perlakuan hangat seorang Verel Ardianata, yang entah sejak kapan sudah menautkan tangannya dijemari lentik Vidya.
"Berhenti gimana?" Tanya Verel tak mengerti.
"Bikin aku selalu jatuh cinta sama kamu,"
Pernyataan gadisnya sempat membuat Verel mengerutkan kening. Namun ia kembali biasa mengingat watak gadisnya, Verel menghembuskan nafas,
"Aku gak bisa menahan diri, maaf,"
"Kenapa sebagai cowok kamu gampang banget ucapin kata 'maaf' padahal jujur aja aku susah banget buat ngucapin itu kalo gak salah, Verel kamu gak lagi lakuin kesalahan, jangan buat kamu seolah orang yang sering lakuin kesalahan, aku jadi gak nyaman,"
"Iya sayang,"
"Ayo! Makan nasi gorengnya, nanti dingin," ajak Verel dan diangguki oleh Vidya, sebenarnya dia sudah makan tadi, tapi tak apalah. Verel juga terkadang ceroboh suka lupa, padahal Vidya pernah bilang bahwa jika Verel ingin memberikan Vidya sesuatu harus bertanya dulu padanya, apa yang sedang Vidya inginkan.
Walau Vidya tau, Verel hanya ingin memberikan kejutan kecil.
Setelah beberapa menit selesai makan.
Verel menatap Vidya yang habis membuangkan bungkus nasi goreng mereka, Vidya pun duduk kembali di samping Verel.
"Tunggu!" Intruksi Verel, yang membuat kegiatan Vidya yang akan membuka tutup botol air mineral terhenti. Verel dengan usapan jempolnya, dengan lembut membersihkan minyak disudut bibir Vidya.
Seolah waktu terhenti. Vidya menatap kegiatan Verel yang masih fokus pada sudut bibirnya, Verel pun menatap Vidya lalu tersenyum tipis.
"M.. makasih... " ucap Vidya kaku. Dan sisa waktunya mereka gunakan untuk berbincang mengenai hari-hari mereka saat produktif, dan membahas rencana-rencana untuk kedepannya.
==============@@@@@=============
Ketika Pragama dan Agape bertemu
Akankah mereka bisa bersatu? Dan jika bersatupun akankah mereka dapat bertahan?
Vidya menghembuskan nafas, ia meregangkan otot sejenak, seharian duduk sambil menatap layar monitor itu juga menguras tenaga. Terlebih otaknya ikut bekerja, sangat menguras tenaga.
Bersandar pada kursi, ia melihat bingkai fotonya dengan Verel yang terpajang apik dimeja kerjanya, menopang dagu, menatapnya dengan senyum tipis.
Terkadang, Vidya berpikir untuk mengakhiri saja hubungan ini, mereka sangat berbeda. Bukan karena Verel jahat padanya, tapi karena Verel terlalu baik padanya dan itu membuat Vidya merasa bersalah.
Apa yang diberikan Verel pada Vidya sangat besar dan tidak apa-apanya dibanding Vidya.
Dengan Vidya yang realistis membuat ia selalu merasa tidak pantas jika disandingkan dengan Verel yang romantis. Vidya takut dia jatuh terlalu dalam pada perasaannya, walau tak bisa dipungkiri lagi memang begitu kenyataannya, Vidya sudah jatuh.
Hanya saja yang dia takutkan adalah ia jatuh semakin dalam dan jika suatu saat Verel tak berada disisinya lagi, dia tak bisa bangkit lagi... Vidya tidak ingin... Tidak! Karena itu tidak baik juga untuk dirinya.
Pemuda itu... ah...
Verel sudah singgah dihatinya kurang lebih dua tahun lamanya, dan sejak dua tahun itu juga hari Vidya... ehm... biarkan Vidya menggombal sedikit, 'Hari-harinya jadi lebih berwarna,' pemuda itu tak pernah absen barang sehari saja untuk tidak membuatnya tersenyum. Vidya sangat bersyukur, kebahagiaannya ditambah dengan hadirnya Verel.
Tapi apa Verel juga merasakan sebaliknya juga? Mengingat Vidya adalah tipe yang tak suka menunjukkan perasaannya, semua tertutup, sehingga Vidya tampak seolah tak mencintainya, tapi jika ingin, sebenarnya Vidya mau, tapi... itu bukan seorang Vidya Maharani.
Vidya hanya takut jika dia terlalu menunjukkan perasaannya malah membuat hubungannya tidak bertahan lama, Vidya takut membuat seseorang ikut jatuh terlalu dalam juga, dan saat takdir mengatakan bahwa tidak ada kata bersatu untuk selamanya bagi mereka, malah akan memberi luka yang dalam dimasing-masing pihak.
Vidya tidak ingin.
Vidya mengusap bingkai fotonya. Ia tersenyum, kali ini senyum miris.
"I love you..."
==============@@@@@=============
Verel menatap layar monitor didepannya dengan mata tajam setajam elangnya, dahinya sesekali mengkerut, lalu rileks lagi, terkadang dia akan membuka-buka map, lalu mengambil pena untuk menulis sesuatu.
Tit tit tit tit tit tit titititit
Bunyi alarm digital menandakan waktu istirahatnya, Verel menoleh lalu mematikan alarmnya, ia pun menyandarkan punggungnya sambil memijat pangkal hidungnya sejenak. Dan seakan teringat sesuatu ia pun meraih bingkai foto disamping alarm digitalnya tadi.
Menatap bingkai foto itu dengan senyum lebarnya.
Verel sangat bahagia, katakan dia lebay, tapi jujur saja, hanya dengan menatap gadis didalam foto itu membuat dirinya bahagia, setidaknya mampu membuat sudut-sudut bibirnya tertarik.
Kadang Verel bahagia juga sedikit sendu diwaktu yang sama.
Verel bahagia, ia dapat memenangkan hati gadis pujaannya, gadis kaku yang tak tersentuh dapat luluh padanya. Namun kadang Verel takut, jika gadis itu terpaksa dengannya, walau tidak juga, dia terlalu berlebihan. Ditepisnya langsung pikiran-pikiran buruk yang melintas dalam otaknya.
Segera Verel mengingat bahwa memang begitulah gadisnya, tapi satu kali saja Verel ingin melihat Vidya terlihat mencintainya. Verel hanya bisa melihat tatapan Vidya, tidak ada kata cinta, namun ada tatapan ketulusan. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini Verel merasa tatapan Vidya berbeda.
Tapi jikapun Vidya ingin mengakhiri hubungan ini, maka tak apa, sejak awal sudah Verel katakan bahwa tak ada paksaan dalam perasaannya. Hanya ketulusan, dan cinta.
Cinta tanpa pamrih...
===============@@@@@=============
Verel duduk dikursi restoran bintang lima, hari ini ada pertemuan antar kolega dan sekertaris, hanya acara makan malam biasa untuk formalitas dan mengakrabkan diri.
Verel sudah biasa dengan acara seperti ini,
Tuan Gunawan adalah salah satu yang akrab dengan Verel, namun, keakraban itu hari ini membuat Verel menjadi sosok yang dingin, dan malah menjadi geram sendiri. Pasalnya Tuan Gunawan mengajak putrinya untuk menemani makan malam ini, memang sudah biasa, semua pengusaha bebas mengajak siapapun, entah sekertaris, istri, kekasih maupun anak.
Vidya tidak pernah suka dengan acara seperti ini, dan Verel mengerti.
"Selamat malam tuan Ardianata, apa kabar?" Sapa Tuan Gunawan sambil menjabat tangan Verel, Verel dengan ramah membalasnya.
"Selamat malam juga, kabar saya, syukur baik," jawab Verel, Verel sebelumnya tidak menyadari akan sosok gadis mengenakan dress berwarna pink lembut, rambut panjang yang bergelombang, dan bertubuh kecil disamping belakang Tuan Gunawan sampai akhirnya...
"Verel, perkenalkan ini putri saya, Ratika," ucap Tuan Gunawan sedikit memberikan ruang untuk putrinya agar bisa berhadapan dengan Verel. Verel pun menatap lalu tersenyum formal.
"Oh, benarkah, saya Verel," ucap Verel memperkenalkan diri terlebih dulu, Tuan Gunawan yang melihatnya tersenyum lebar. Dengan malu-malu gadis itu menjabat tangan Verel.
"Ratika, senang berkenalan dengan anda," ucap Ratika sedikit salah tingkah, pipinya memerah membuat Verel sedikit mengernyit bingung. Jika saja Verel tau, bahwa ekspresi gadis ketika salah tingkah pada orang yang dia suka, atau sedang merasakan malu itu ketika wajah atau telinganya memerah, mungkin Verel bisa memahami, dan mengambil langkah yang tepat untuk menghadapi hal seperti ini.
Sayangnya Vidya tidak pernah bertingkah aneh seperti itu, membuat Verel tidak tau.
"Ratika ini baru lulus kuliah di London, dan akan bekerja disini, jika saja bisa saya ingin Ratika berkerja di perusahaan anda, untuk pengalamannya," jelas Tuan Gunawan.
"Oh, begitu, kenapa tidak bekerja ditempat anda saja?" Tanya Verel sedikit heran.
"Dia tidak ingin dibilang bergantung dan manja dengan bekerja di perusahaan bawah pimpinan saya, padahal dia memang anak yang manja," goda Tuan Gunawan.
"Papaaa... " Rengek Ratika merajuk karena digoda, sembari mendorong pelan lengan Tuan Gunawan, Ratika sangat salah tingkah. Verel mengangguk mengerti dan tersenyum.
"Begitu, tapi sayang saya tidak tau harus menempatkan putri anda dimana karena diperusahaan saya tidak memiliki tempat lagi, mungkin diperusahaan cabang saya di kota lain," ucap Verel mulai serius untuk perihal ini, memang Verel tidak pernah bermain-main jika membahas tentang pekerjaan. Padahal Tuan Gunawan santai dan sebenarnya memiliki maksud lain.
"Oh, begitu, tidak papa, anda tidak perlu terpikirkan... " ucap Tuan Gunawan terkekeh kecil.
"Benar tidak masalah? Maaf sekali," balas Verel lugu.
"Tidak... ah, tidak perlu meminta maaf, anda terlalu serius," ucap Tuan Gunawan.
"Ratika juga masih sendiri, dia perlu orang untuk menjaga dan membimbingnya, ehm... "
Verel mengernyit, kali ini mencoba berfikir dan mencari tau apa maksud dari ucapan rekan bisnisnya ini, maksudnya, untuk apa memberi tau status putrinya padanya? Secara tidak langsung begitu bukan?
Dan Verel tidak bodoh untuk memahami kalimat tersirat itu. Segera dia sudah memikirkan tindakan yang pas untuk hal semacam ini. Verel terkadang juga kesal, banyak yang menyangka dia pria single, membuat orang-orang gemar menjodohkan dirinya atau sekadar ingin memperkenalkan gadis-gadis padanya, padahal dia sudah punya Vidya,
Jika berkenalan sebagai teman tidak papa, tapi tujuan mereka sudah lebih, tentu Verel lebih baik dingin dan bersikap cuek untuk masalah seperti itu. Pun, dia juga jarang mengumbar hubungan romansanya pada publik, menurut Verel hal semacam ini (Hubungan romansanya) cukup orang-orang yang perlu tau saja, lainnya? Terserah, Verel tidak peduli.
Dan untuk masalah mengumbar hubungan romansa seperti ini, Vidya sejalan dengannya, gadis itu juga tidak suka. Hanya orang-orang terdekat mereka saja, seperti keluarga mereka, saudara pun hanya tau jika mereka punya hubungan. Sudah itu saja, tidak sampai, pacaran sama siapa, orangnya asal mana, orangnya seperti apa. Tidak! Tidak sampai yang seperti itu.
"Mr. Gunawan, ada yang ingin bertemu dengan anda," sekertaris Tuan Gunawan datang ditengah-tengah perbincangan Verel.
"Oh, Verel, saya titip Ratika dulu ya, ajak dia ngobrol, dia masih sungkan berbaur dengan yang lain," pinta Tuan Gunawan, Verel hanya mengangguk kaku.
Dan sekarang disinilah dia, berdua dengan Ratika, belum membicarakan sesuatu sama sekali, dan Verel sudah malas menanggapi.
"Euhmm... " tampak Ratika ingin bicara namun tidak jadi, Verel hanya menaikkan sebelah alisnya, situasi malah menjadi canggung, dan Verel sedikit tidak enak.
"Jadi, kira-kira kamu ingin mendapat profesi apa?" Tanya Verel akhirnya, dia hanya ingin melepas keheningan, walau dia tau disekitarnya ramai.
"A-aku ingin menjadi sekertaris saja, sebenarnya papa ingin menjadikan ku pemimpin, tapi tidak, itu tidak wajar diperusahaan... "
Verel mengernyit tak setuju, sejak kapan pemimpin memandang gender? Yang dibutuhkan pemimpin adalah tanggung jawab, kegigihan, dan pantang menyerah, punya jiwa kewirausahaan bagi perusahaannya dan apapun tetekbengeknya.
Tapi Verel tidak ingin membahas ini lebih lanjut, sepertinya Ratika adalah gadis yang terkena standar masyarakat, apakah bisa diajak membahas budaya patriarki dan sejenisnya? Oh ayolah, bukankah dia lulusan dari London, dan itu tidak bisa menjamin.
Ratika adalah gadis umum lainnya, dimana harus punya penampilan menarik, cerdas, dan anggun, agar bisa dilirik dan mendapat pujian. Menjadi bahan rebutan, sepertinya gadis itu suka. Gadis seperti Ratika tidak akan pernah peduli dengan hidup orang lain, yang terpenting bagaimana caranya dirinya bisa menjadi yang paling.
"Huuuft... " Verel menghembuskan nafas pelan,
"Aku hanya ingin menawarkan, menganai pekerjaan untukmu, mungkin perusahaan tempat kekasih ku bekerja punya tempat untuk gadis berpendidikan tinggi sepertimu, jika kamu berminat kamu bisa hubungi aku, ini kartu namaku,"
Ratika tampak terkejut, dia seolah terpaku menjadi patung. Tidak ada lagi senyum malu-malu dibibirnya, seolah sesuatu telah direnggut darinya. Ratika dengan kaku menerima kartu nama Verel. Dan setelahnya Verel izin berpamitan pergi, untuk menemui rekan yang lain.
Ratika bersumpah, kartu nama Verel yang tertera nomor ponselnya bukan nomor pribadi pria itu. Ratika merasa terluka, hingga akhirnya dia memilih pergi saja.
==============@@@@@==============
Vidya menatap perkumpulan orang-orang penting itu agak sedikit khawatir. Sumpah demi Tuhan, diantara sekian cabang restoran bintang lima yang ayahnya miliki kenapa ayahnya harus memintanya bertemu di pusat restoran?!
Vidya tidak tau jika pertemuan Verel berada disini, gadis itu berusaha menutupi diri dengan buku, poni panjangnya ia sampirkan sedikit kedepan guna menutupi sebagian wajahnya. Vidya tidak pernah memberikan identitas lengkap pada orang-orang mengenai hal pribadi seperti keluarganya seperti apa, bahkan pada Verel sekalipun, yang Verel tau ayah dan ibu Vidya dirumah dan mengandalkan Vidya untuk mencari uang.
Yang orang-orang tau, Vidya hanyalah anak kos yang bekerja disalah satu perusahaan cabang di kota tempatnya tinggal. Menjabat sebagai manajer disebuah perusahaan. Dan dia adalah cewek biasa yang nampak seperti orang yang mengadu nasib di negeri orang. Memang semalang itu penilaian orang terhadap Vidya. Tapi bukan Vidya namanya jika tidak peduli dengan hal itu.
Tidak tau saja bahwa Vidya Maharani ini memiliki nama belakang yang membuat orang-orang akan tercengang jika mengetahuinya.
Siapa yang tidak mengenal Maheswara
Keluarga yang dikenal dengan hotel, restoran dan sejenisnya dengan point bintang limanya, yang sudah memiliki berbagai cabang diseluruh kota-kota terkenal di negaranya. Yaa, kecuali jika kalian bukan kalangan kaum elit, yang jarang pergi ke luar kota, atau pulau dan menginap dihotel berbintang, dan makan direstoran juga.
"Ayah mana sih?" Gumam Vidya, ia sesekali mencuri pandang ke arah Verel. Harusnya Vidya santai saja, mengingat disini ia tidak sendirian. Tapi bangku untuk pertemuan Verel sudah disewa khusus, hingga memberi ruang tersendiri bagi pelanggan yang lain. Dan kebetulan bangku itu dekat dengan kantor ayahnya, arah menuju jalan ke kantor.
Vidya disuruh menunggu dikursi yang disediakan khusus, membuat dirinya seperti penampakan saja, seorang gadis, dipojokan duduk sendiri. Ugh! Menyebalkan! Ayahnya sungguh lama, entah apa yang ayahnya lakukan, padahal Vidya sudah menghabiskan makan malamnya juga.
Bisa Vidya tangkap Verel tengah berbincang dengan gadis lain, gadis cantik dengan balutan dress berwarna pink lembut, rambutnya tergerai indah ia nampak anggun. Jika dilihat Verel sangat cocok dalam hal fisik untuk bersanding dengan gadis itu.
Inilah yang Vidya renungkan.
Kenapa pula Verel memilih gadis biasa sepertinya disaat banyak gadis cantik mengantri dibelakang. Kenapa dari sekian gadis yang bisa memberikan perhatian setimpal pada Verel malah ditolak dan memilih dirinya yang notabene cewek kaku, tidak peduli dengan hal-hal berbau chessy dan manis-manis?
Sebenarnya Vidya bisa saja, tapi trauma akan masa lalu membuat Vidya berubah menjadi seperti ini.
Dulu dirinya yang sering dibodohi, dan dimanfaatkan. Hingga puncaknya dia yang ditinggal pergi. Diberikan luka yang bahkan menghilangkan bekasnya saja susah.
Butuh bertahun-tahun baginya untuk bangkit lagi. Hingga terbentuklah Vidya yang sekarang. Lebih kaku, dingin, dan penutup. Vidya ingin menguji seberapa kuat dan ikhlasnya seseorang dalam menerima dirinya apa adanya.
Vidya ingin dicintai karena dirinya, karena dia Vidya, tidak ada yang lain. Bukan karena, Vidya adalah seorang Maheswara, bukan karena Vidya pewaris sah keluarganya, bukan karena Vidya ini, Vidya itu!
Dan datanglah Verel yang mengaku bahwa... Dia tidak butuh apa-apa dalam diri Vidya, karena Verel mencintainya karena dia cinta, sudah itu, Verel juga tidak tau alasan apa yang membuat pria itu mencintai gadis seperti Vidya.
Berharap Verel bisa menyembuhkan luka lamanya, dan berjalanlah hubungan mereka dua tahun.
Namun akhir-akhir ini Vidya justru di buat resah. Entah seperti ada perasaan takut dan mengganjal. Dan Vidya belum menemukan alasan pastinya.
Vidya tersenyum, lagi-lagi senyum miris. Prinsipnya, jika sesuatu itu kamu sukai, dan membuat mu bahagia, dan sesuatu itu bisa kamu dapat kenapa tidak?
Dan jika Verel memang suka dengan gadis lain dari pada dirinya, menemukan gadis lain yang bisa membuatnya lebih bahagia, dan bisa didapat kenapa tidak? Jika dipikir lagi, Vidya hanya menjalin hubungan istimewa yang tidak menjamin keseriusannya, maka dari itu Vidya sebisa mungkin menahan perasaannya.
Vidya tidak boleh egois menyuruh Verel untuk menutup hatinya pada yang lain, toh, Vidya bukanlah kepastian.
Tapi entah kenapa, sesak saja melihat itu, Vidya tidak butuh kata-kata, dia butuh perwujudan. Maka dari itu, tak pernah ada kata cinta yang keluar dari mulutnya. Dan Vidya harus bisa dan lebih pandai lagi mengolah perasaanya.
Dan melihat Verel dengan gadis cantik itu membuat Vidya segera ingin menemui ayahnya dan pergi untuk pulang!
===============@@@@@=============
Hari ini jadwal ngedate mereka hanya dirumah saja, tidak keluar-keluar seperti biasanya. Vidya tersenyum tipis menatap Verel yang didepan pintu gerbang kosnya. Mempersilahkan Verel masuk. Mobil Verel berada dihalaman khusus parkiran.
"Mau duduk dimana?" Tanya Vidya setelah mereka masuk ke lobi.
"Ditaman belakang aja," seolah sudah hafal betul. Vidya menyuruh Verel untuk kesana duluan, sedangkan dia ingin melanjutkan menggoreng kentang sejenak sebagai camilan.
Setelah kegiatan goreng menggorengnya selesai, Vidya pun membawa mangkuk dan botol sausnya menuju taman belakang. Tampak Verel duduk di gazebo taman, karena tempat duduk taman yang berdekatan dengan kolam koi sudah ditempati oleh orang berpacaran juga. Sudah biasa.
Verel sibuk dengan ponselnya. Setelah Vidya datang Verel pun memasukan ponselnya kedalam kantong celana jeansnya.
"Mau?" Tawar Vidya, Verel hanya mengangguk dan mencomot satu kentang, Vidya menggeleng kecil lalu membuka botol saus yang dibawanya mulai mengemil. Sesekali menatap Verel. Keduanya belum berbicara, hingga akhirnya...
"Ini, minum air putih dulu," ucap Vidya sambil menyerahkan botol berwarna ungu pada Verel. Lagi-lagi Verel menurut saja, Vidya pun mengangkat kakinya dan duduk bersila dihadapan Verel, setelah Verel selesai minum Vidya menyentuh sudut mata Verel.
"Kamu kurang istirahat ya?" Tanya Vidya. Verel tersenyum simpul.
"Akhir-akhir ini agak sibuk," jawab Verel kalem. Vidya menghembuskan nafas.
"Sebelumnya makasih buat dateng hari ini, luangin waktu buat aku. Tapi kalau ini nyita waktu kamu istirahat, mending gak usah ngedate dulu gakpapa Verel," ucap Vidya lalu mengelus rambut Verel. Verel tersenyum.
"Boleh tiduran dipaha kamu?" Tanya Verel meminta izin, Vidya pun menepuk pahanya mempersilahkan Verel tiduran disana. Dan Verel pun dengan senyum lebar mulai tiduran dengan paha Vidya sebagai bantalannya. Suatu keuntungan mereka di gazebo.
"Tapi kan ini udah jadwal ngedate kita," ucap Verel sambil memejamkan mata menikmati usapan tangan Vidya dirambutnya.
"Tapi jadwalnya gak harus dilaksanain," balas Vidya, Verel tersenyum, lalu semakin lebar, matanya masih setia memejam.
"Aku kangen kamu, jujur aja,"
Vidya mendengus geli mendengar pernyataan Verel. Lalu dicubitnya dengan cubitan lembut hidung mancung Verel.
"Akunya nggak,"
Verel tampak mengernyit kecewa.
"Lihat foto kamu tiap hari udah cukup buat obatin rindu aku yang setiap hari dateng,"
Verel mengerjap.
"Ulangin please... "
"Gamaaauuuu," goda Vidya. Entah apakah Verel barusan halusinasi akibat efek lelahnya? Ini barusan Vidya kan? Kekasih hatinya yang sudah ia pacarin kurang lebih dua tahun.
"Aku kayaknya salah apel tempat kosan deh," ucap Verel lalu duduk. Vidya sedikit kaget, lalu berkacak pinggang sambil memajukan bibir bawahnya kesal. Imutnyaaa, bathin Verel bergejolak.
Vidya pun meraih mangkuk berisi kentangnya,
"Tau ah," jawab Vidya merajuk.
"Hey, kamu kenapa?" Tanya Verel kini mendekat dan merapatkan duduknya dengan Vidya.
"Gapapa,"
"Kamu beda... " ucap Verel.
"Yaudah nggak lagi,"
"Aku gak suruh kamu berhenti..." gemas Verel lalu menarik kepala Vidya untuk dikecupnya pucuk kepala itu.
"Aku suka," ucap Verel, Vidya mendongak, lalu tersenyum. Manis banget sih, bathin Verel lagi.
Vidya pun menyenderkan kepalanya pada pundak Verel, lalu menautkan jarinya dengan tangan kekar Verel. Vidya merasa diselimuti tangannya dan itu hangat, tangan Verel lebih besar dari tangannya.
Vidya lebih menyukai bergandeng tangan dari pada berpelukan. Sekedar info saja sih.
"Jangan lupa buat jaga diri Verel, jangan sampai sakit," ucap Vidya, tanganya bergerak-gerak kecil dalam genggaman Verel.
"Iya,"
"Verel... "
"Hm?"
"Kalau aku bukan mate kamu gimana?" Tanya Vidya, entah tapi bibirnya tiba-tiba saja melengkung kebawah. Dia jadi sesak dan gelisah, sedih juga.
"...."
Belum ada jawaban, karena Verel pun tak bisa membayangkan dirinya kelak tak bisa bersanding dengan gadis ini. Terlalu menyakitkan jika boleh berkata. Verel sudah jatuh terlalu dalam, walau dia ikhlas mencintai Vidya tanpa perempuan itu membalas. Tapi Verel bisa menjamin cintanya sudah cukup untuk mereka berdua.
"Aku... aku gak mau menyesal, karena kita gak tau akan berakhir gimana, sebelumnya aku ingin terimakasih sama kamu buat segalanya, aku... aku seneng banget untuk dua tahun yang udah kita jalani selama ini. Jika suatu saat kita berakhir dengan tidak baik-baik dan aku mungkin gak sudi buat ngucapin terimakasih sama kamu, setidaknya kamu bisa ingat hari ini... " ucap Vidya pelan agak sendu.
Vidya meremas genggamannya yang dibalas genggaman erat juga oleh Verel.
"Dan maaf buat segalanya, maaf aku gabisa buat kamu setidaknya seneng seperti kamu bikin seneng ke aku, maaf Verel... "
Verel memejamkan mata, disisi lain Verel bahagia Vidya berkata banyak dan tulus seperti ini padanya, dan disisi lain dia sedih dan tak suka dengan kondisi ini.
"Tentang kalau kamu bukan mate aku," Verel mengulangi pertanyaan Vidya tadi.
"Kalau kamu bukan mate aku, aku tetep seneng, itu artinya kamu bisa nemuin orang yang lebih baik lagi dari pada aku yang bisa bikin kamu sepenuhnya cinta dan menaruh hati padanya,"
Vidya berdegup kencang mendengar penuturan Verel. Ia meremas lagi genggamannya, dan Verel balas lagi dengan genggaman erat.
"Tapi aku pengen mate kamu nanti terimakasih sama aku karena udah jagain mate nya yang nyebelin ini, setidaknya udah pernah bikin kamu seneng," ucap Verel gemas lalu berakhir terkekeh.
Cukup!
Kenapa disaat Vidya ingin menahan perasaannya, Verel justru membuat perasaannya meledak-ledak?!
Ia sudah jatuh terlalu dalam kali ini, Vidya sedikit terharu.
"Nyebelin! Kamu curang! Kamu gak bisa giniin aku Verel,"
Mendengar gadisnya berucap ambigu membuat Verel yakin akan spekulasi yang sempat muncul diotaknya bahwa ada yang tidak beres dengan gadisnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Verel, Vidya malah memeluk lengan kekar Verel, menyembunyikan wajahnya. Andai saja Verel menarik diri. Maka akan dilihatnya muka merah Vidya yang benar-benar polos asli tanpa polesan make up.
===============@@@@@=============
Vidya juga tidak mengerti dia terlalu bawa perasaan saat bersama Verel kala itu. Tentu saja, saat malam minggu bukannya senang, tapi kamar kos Vidya dihebohkan dengan tangisan Shinta, teman kos Vidya yang menempati kamar nomor lima.
Karena sudah cukup lama tinggal bersama, penghuni kos disitu sudah seakan menjadi saudara. Dan Vidya kala itu ikut bergabung menenangkan teman kosnya itu.
"Shin... yang tenang dong, jangan gini," Panik Lestari melihat Shinta yang masih meraung.
Di putus pacar, Shinta diputus pacarnya karena ada pihak ketiga. Dan pacarnya akan menikahi pihak ketiga itu. Jika dibandingkan dengan hubungannya dengan Verel, Shinta adalah yang paling lama, lima tahun berpacaran dan harus berakhir hanya karena pihak ketiga yang bahkan belum lama hadir.
"Hiksss hiksss hiksss... Aku mau mati aja!"
Oh My...
Vidya memang pernah diposisi Shinta, sampai akhirnya menelantarkan kuliahnya, sebab dia belum pandai mengolah perasaannya. Dan letak kebodohan Vidya memang disitu, Vidya tidak ingin mengulang hal yang sama, dan jika bisa jangan ada orang lain merasakan apa yang ia rasakan juga.
"Shin, cowok gak cuma Bayu aja Shin... Jangan gini, susah emang buat lupain moment kebersamaan kalian yang gak lama, tapi ikhlas Shin... ikhlas," peringat Andini pada Shinta yang masih menangis menutup wajahnya dengan bantal.
"Sakit Din, sakit, aku gak terima! Hikss... "
Vidya yang kala itu juga resah hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Pasalnya, ia waktu itu juga melihat Verel dengan gadis lain saat pertemuan para pengusaha di restoran ayahnya. Maka dari itu kencannya dengan Verel kala itu, Vidya gunakan untuk benar-benar memberikan perhatian penuh pada pemuda itu. Barusan dia takut kehilangan?
Memang nyatanya iya, Vidya sudah jatuh dalam perangkap Verel. Dan takut kehilangan...
===============@@@@@============
"Dia cuma menejer doang astaga! Apa sih yang Verel liat dari dia?!" Rutuk Ratika kesal. Ia menatap profil kerja Vidya.
"Papa... " panggil Ratika, yah, saat ini dirinya sedang berada diruangan ayahnya, membahas masalah pekerjaan. Ratika sudah jatuh cinta dengan pesona Verel. Ia tidak ingin melepaskan Verel.
"Papa aku ingin bekerja menjadi sekertaris Verel Paa... "
Tuan Gunawan mengernyit.
"Kamu tidak lupa kan jika Verel tidak ada tempat untuk karyawan baru lagi?"
"Bagaimanapun caranya Pa... Ratika mohon, buat sekertaris Verel dipecat atau bagaimanalah, ini permintaan terakhir Ratika... " pinta gadis itu sambil memeluk lengan Tuan Gunawan.
"Huufftt... "
"Baiklah...,"
"Yeeayyy sayang Papa, muach!" Ratika pun mengecup pipi papanya, dan memeluknya. Tuan Gunawan membalasnya, apa sih yang tidak untuk putri semata wayangnya ini, hanya Ratika lah yang Tuan Gunawan punya. Mengingat istrinya sudah tiada.
"Baiklah Pa, aku ada janji bertemu dengan teman-temanku, sampai jumpa!"
Brak,
Dan pintu pun tertutup.
Tuan Gunawan pun menelepon seseorang.
"Halo? Carikan tempat untuk karyawan dengan gaji dua kali lipat dari sekertaris PresDir, ya, dan rekrut sekertaris dari perusahaan pusat Ardianata, aku ingin mengambilnya,"
"Baik... "
===============@@@@@=============
"Jadi kamu ingin mengundurkan diri?"
"Iya Pak, maaf sebelumnya, tapi saya sangat senang bekerja disini, terimakasih atas kerjasamanya,"
"Ah, tidak, akulah yang berterimakasih, baiklah, jika itu maumu, aku tidak memaksa,"
"Terimakasih Pak Verel, terimakasih banyak,"
Dan Arumi, sekertaris Verel pun berpamitan untuk pergi. Nah, sekarang siapa yang akan menjadi sekertarisnya?
Verel memijit pangkal hidungnya, pekerjaannya akan bertambah setelah ini. Verel pun meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Verel : Sekertaris ku mengundurkan diri, :(
Vidya : Kenapa?
Verel : Mau cari tempat yang lebih dekat aja katanya,
Vidya : Udah cari pengganti?
Verel : Belum..., aku malas menyeleksi sekertaris lagi, kamu tau aku gak main-main
Vidya : Semangat, jangan malas :3
Verel : Kamu aja gimana? ^^
Vidya : Gak mau... 😅😇🙏
Verel : :'(
Vidya : Kita udah bicarain ini Verel,
Verel : Iya iyaaa, sayang..
Vidya : Semangat!!! Jangan lupa istirahat 💓🤗
Verel : Iya, nanti kita makan siang bareng mau?
Vidya : Mau,
Verel : Makasih 😚
Vidya : Sama-sama 😚
Vidya tertawa melihat percakapannya dengan Verel, Ya Tuhan kekasih nya ini, sudah Vidya katakan pemuda itu tidak akan pernah absen membuatnya tersenyum maupun tertawa. Vidya sangat geli membaca pesannya. Tapi hal yang kita tulis dalam pesan untuk seseorang adalah hal yang tidak bisa kita ucapkan secara langsung pada seseorang itu, dan itu fakta bagi Vidya.
Sementara Verel masih terus memandang emot cium yang Vidya kirim, andai saja mereka bisa melakukannya secara nyata dan langsung, tapi mereka punya prinsip untuk saling melindungi, terlebih Verel, dia benar-benar ingin melindungi Vidya dan tidak ingin merusak gadisnya. Verel teramat menyayangi gadis itu. Biarlah waktu yang menentukan.
Jangan pernah ada penyesalan...
===============@@@@@=============
Verel menghembuskan nafas berat. Ratika, gadis itu... kenapa pas sekali sih datang disaat dia butuh. Verel ingin menolak tapi Verel harus profesional untuk pekerjaannya. Masalah pribadi tidak boleh diungkit dengan masalah pekerjaan.
Yah, oke baiklah, gadis itu lolos seleksi darinya, setidaknya memenuhi semua standarnya lah...
Dan sudah terhitung tiga hari gadis itu bekerja dengannya. Dan Verel bersyukur ini bisa berjalan dengan lancar.
Tok tok tok
"Masuk,"
Ratika masuk dengan memeluk beberapa map, lalu berjalan menuju meja Verel.
"Ada laporan yang harus anda tanda tangani pak, dan ini ada berkas-berkas yang perlu anda cek, jika ada perubahan atau yang lainnya segera katakan saja,"
Verel hanya mengangguk dan menerima map-map itu. Ratika masih setia berdiri untuk menunggu.
"Pak,"
"Hm?"
"Siang nanti saya boleh mengajak bapak makan siang bersama?" Tanya Ratika takut-takut namun harapan yang ia pupuk berhasil menutupi ketakutannya. Verel berhenti sejenak. Tampak memikirkan sesuatu.
Dan...
"Boleh,"
Ratika tidak bisa untuk tidak tersenyum, dia sangat bahagia karena tidak ditolak, walau hanya makan siang biasa, tapi dia harus bersabar.
Sementara Verel, anggap saja ini sebagai formalitas, apresiasi Verel atas kinerja Ratika diawalnya sebagai karyawan baru. Anggap saja sebagai ajang untuk berdiskusi mengenai pencapaian-pencapaian dan hal-hal yang perlu di tingkatkan atau diperbaiki.
===============@@@@@=============
Vidya memangku kucing kelebihan berat badan itu dipahanya, sambil mengelus dan menggosok-gosok kecil kepala berbulu itu, dan sesekali kucing itu mendengkur keenakan. Vidya terkekeh kecil.
"Bubu udah makan?"
Meoww....
"Aku gak paham Bubu, tapi aku anggap iya, soalnya perut kamu udah gendut banget,"
Verel yang melihatnya mendengus jengah. Majikan dan piarannya lebih beruntung piaran sepertinya. Lihatlah bagaimana muka Bubu yang seolah mengejek Verel karena bisa menempel dan bermanja dengan Vidya. Untuk saat ini rasanya Verel ingin mengurung kucing obesitas itu di kandangnya.
Padahal jika dengannya Bubu tidak pernah bersikap sejinak itu. Kucing gak ada akhlak. Tuannya siapa coba disini?!
"Bubu bisa keenakan, biarin aja udah!" Ucap Verel agak kesal. Vidya terkekeh, namun tidak memperdulikan ucapan Verel. Hari ini, Vidya ke apartemen Verel, biasa, untuk menghabiskan waktu bersama.
"Bubu... " itu Vidya, dengan lembug Vidya memanggil kucing besar itu gemas.
Meow,
"Bubu!" itu Verel dengan tegas memanggilnya.
Nggrauww!!!
"Sialan!" Umpat Verel. Vidya tertawa, Verel pun duduk disamping gadis itu sambil membawa beberapa camilan di toples, ia juga membawa dua minuman kaleng.
"Mau nonton TV?" Tanya Verel, dan dibalas anggukan oleh Vidya.
"Biasanya acara minggu bagus-bagus," gumam Verel lalu menyalakan TV 42 inch itu.
Setelah menyala, Verel mengambil mangkuk dan mengisinya dengan makanan kucing,
"Bubu, ini makanmu, jika mau makan dibelakang sana!" Ucap Verel pada kucing gendut itu sambil menunjukkan mangkuk yang sudah berisi makanan. Bubu segera meloncat seolah melupakan keberadaan Vidya. Verel pun menuntun kucing itu agar menjauh, yang penting tidak muncul dihadapannya.
Beberapa menit kemudian Verel kembali lalu menghempaskan badannya ke sofa.
"Perasaan kamu bilang tadi Bubu udah makan?"
"Iya, tapi mana pernah sih dia nolak makanan,"
"Ih, pantesan gendut gituuu," gemas Vidya, Verel mengendikkan bahu tak peduli, lalu membuka toples untuk memakan camilan.
"Sekertaris kamu gimana?"
"Udah dapet sih, yaa baguslah, aku gak jadi kerja ekstra," jawab Verel matanya menatap layar LCD didepannya. Vidya mengangguk.
"Baguslah, pokoknya kamu gak boleh sampe kecapekan dan sakit, harus atur istirahat pokoknya,"
"Iyaa... "
Dan mereka berdua pun menonton TV bersama, sederhana tapi nyaman, dan inilah yang mereka suka, menghabiskan waktu benar-benar berdua saja. Vidya memeluk lengan Verel dan menyandarkan kepalanya dibahu pemuda itu.
"Kamu tau gak," Verel bertanya pada Vidya namun matanya masih menatap layar TV, Vidya mendongak untuk menatap wajah Verel.
"Hm?"
"Seandainya kamu gak bisa bertemu mate kamu, kamu bisa kok bentuk mate kamu," ucap Verel lalu menatap Vidya. Vidya pun memberikan atensi penuh pada pemuda itu.
"Membentuk mate?" Tanya Vidya sedikit tak mengerti. Verel mengangguk.
"Iya, kamu mungkin menemukan pasangan yang bagi kamu gak sesuai sama kriteria kamu, gak cocok disini, atau disitu, tapi kamu udah terlanjur komitmen sama dia, kamu bisa bangun mate kamu dalam dirinya, begitupun sebaliknya,"
"Dibutuhin kerjasama yang sungguh-sungguh sih," jelas Verel akhirnya.
"Ehm... Mengerti, semisal kita kerjasama untuk saling melengkapi gitu, perbaikin yang kurang didiri masing-masing," balas Vidya.
"Ya, itu juga,"
Hening...
Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"Kamu merasa gak sih kalau... kita ini beda, maksudnya kita sebenarnya gak cocok seandainya bersatu gitu, kamu dengan kepribadian dan kemauan kamu, aku dengan kepribadian dan kemauan aku sendiri juga,"
Vidya mengerjap, lalu menatap penuh memberikan seluruh atensinya pada pemuda itu. Ternyata Verel merasakan apa yang dia rasakan juga...
Barusan... Verel sedang mengkodenya kah? Kode untuk... tidak-tidak! Vidya tidak ingin hal buruk terjadi. Sebisa mungkin Vidya mengatur degup jantung dan perasaannya.
"Tapi... apa yang bisa membuat kita sampai sejauh ini? Kita masih bisa bertahan, dan aku harap ini seterusnya,"
Setidaknya oksigen dapat kembali masuk dalam rongga dada Vidya setelah mendengar penuturan Verel.
Verel menautkan tangannya dengan tangan Vidya, menyelimuti tangan kecil itu.
"Karena kerjasama kita, kita berusaha, untuk memenuhi kebutuhan kita, kamu dengan bahasa cinta kamu dan aku dengan bahasa cintaku, kita sama-sama melakukan apa yang kita inginkan, dan selalu melancarkan komunikasi, makasih buat semuanya," ucap Verel sambil tersenyum tulus. Vidya tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk pemuda itu.
Sungguh Vidya tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya, pemuda itu berhasil menguburnya dalam jurang cinta.
Pemuda itu sudah menjadi bagian dari alam semestanya, menjadi bagian yang ikut berotasi disekitar orbitnya, masuk dalam orbit kehidupan Vidya.
Jika sampai pemuda itu pergi, Vidya tidak tau, apa yang akan terjadi pada semestanya nanti. Tuhan, jaga dia untukku...
Larut dalam kehangatan dekapan masing-masing, hingga akhirnya Vidya mendongak menatap Verel.
"Aku lupa, bentar," Vidya merih tas selempangnya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah kalung kucing dengan huruf 'V'
"Aku ada hadiah buat Bubu, Bubu bakal lucu pake ini," ucap Vidya girang dengan polosnya.
Dan Verel gemas rasanya ingin menggigit pipi gadis itu.
"Ya ampun Vidya, setelah aku bikin baper kamu, kamu malah hadiahin Bubu, bukan aku," rengek Verel, dan Vidya tertawa hingga memegang perutnya. Dan Verel akui memang dirinya kalah dengan piarannya.
Vidya pun mengecup pipi Verel lalu memeluk lagi pemuda itu, menyembunyikan wajahnya didada bidangnya. Dan Verel akan menarik kata-kata nya tadi mengenai piaran yang menang dari pada majikannya.
"I love you... "
===============@@@@@=============
Tok tok tok
Seorang pemuda dengan pakaian santai mengetuk pintu apartemen seseorang, dan beberapa saat menunggu, muncul lah gadis dengan dress formal rambut tergerai. Pemuda itu tampak mengernyit. Lalu menatap nomor apartemen.
193
Dia sudah benar kok, apartemen 193 itu milik Tuan Verel Ardianata, tapi kenapa yang muncul malah gadis cantik asing begini. Jika sudah begini tentu berbagai spekulasi bermunculan diotak pemuda itu. Tidak hanya spekulasi, tapi juga prasangka buruk.
"Maaf, siapa ya?" Tanya pemuda itu. Sang gadis mengernyit.
"Harusnya saya yang tanya anda siapa?" Balas gadis itu bertanya juga, pemuda itu agak jengkel.
"Saya teman pemilik apartemen ini, teman Verel, dan kamu bukan kekasih Verel," ucap pemuda itu tak suka.
"Mana Verel?" Tanyanya,
Gadis itu tak menjawab, makin membuat pikiran buruk pemuda tadi berimajinasi jauh.
"Gibran?" Panggil seseorang. Pemuda yang dipanggil Gibran itu menoleh ke belakang. Dan tampaklah Verel dengan dua orang memakai kemeja membawa tas kerja.
"Verel? Lo dari mana?"
"Gue dari bawah nunggu tamu, gue ada diskusi bentar masalah pekerjaan, kenapa?" Tanya Verel bingung, Gibran tampak canggung meringis sedikit sembari melirik Ratika.
"Ohh, begitu,"
Verel yang menangkap lirikan Gibran langsung paham,
"Ini sekertaris baru aku kamu kalau mau bertamu, bisa keruang keluarga ku dulu Bran, aku cuma diskusi sebentar diruang tamu,"
Gibran pun mengangguk, lalu mereka pun masuk.
Beberapa saat hingga kemudian diskusi pun selesai, Verel sudah mengantar tamunya keluar, tinggal Ratika yang masih sibuk dengan laptop diruang tamu, dan Gibran diruang keluarga. Gibran tampak mengganggu kucing Verel hingga kucing itu berlarian. Gibran tertawa terbahak. Tak berselang lama terdengar jeritan.
"Kyaaaaa!!!!"
Buru-buru Gibran keruang tamu dan mendapati kucing Verel yang menjilat mangkuk roti yang sudah jatuh terbalik berantakan dikarpet. Lalu minuman jus yang tumpah mengenai ponsel dan dress gadis yang Gibran tau adalah sekertaris Verel. Dress gadis itu sedikit rusak akibat cakaran, hingga beberapa benangnya terjuntai, benar-benar kacau.
"Astaga... " Gumam Gibran.
Ceklek...
Pintu masuk terbuka...
"Rel, anak lo kurang ajar sumpah!!!"
...
"Gue harus kemana aja?" Tanya Gibran
"Toko ponsel sama dress, itu aja, entar gue pinjemin atm gue,"
"Ntar lo kirim ke alamat yang udah gue kirim, Bubu kamu emang kurang ajar!" Gemas Verel.
"Ckck! Yaudah, gampanglah ini,"
===============@@@@@=============
Baru saja Vidya berusaha untuk bersikap sebaik mungkin, dia berusaha untuk mencoba belajar mengasihi dengan cara yang terbuka. Setidaknya membuat Verel tau bahwa Vidya sebenarnya juga mencintai pemuda itu. Tapi Vidya masih belum berani mengatakannya.
Namun seolah ini tak akan berjalan mulus, malam hari dia mendapat kabar dari temannya mengenai kalung pemberiannya untuk Bubu.
"Vid Vid... ini kalung kucing yang lo beli bareng gue waktu itu bukan sih?" Tanya Lestari sambil menunjukkan gambar kucing dengan kalung huruf 'V' itu. Dan itu memang Bubu kucing Verel, namun ada gadis yang menggendongnya dibelakang.
Di Instagram, sang pemilik akun menuliskan caption yang membuat Vidya mengerutkan kening bertanya-tanya, siapa gerangan gadis itu, karena wajahnya sebagian tertutup dengan tubuh Bubu.
With cute cat... lutunya, gembil banget.... kucingnya Mr. V
Vidya bahkan sangat hafal dengan latar pengambilan foto itu, diruang keluarga Verel. Tapi gadis itu siapa? Verel tidak memiliki saudara perempuan, positif thingking aja, mungkin teman.
"Boleh liat akunnya?" Tanya Vidya pada Lestari.
"Nih,"
"Oke, makasih ya Tar,"
Hari-hari berlalu, Vidya terkadang menstalk akun itu. Hingga sampai pada postingan yang membuat Vidya bergetar, entah karena apa, ia cemas.
Tampak postingan baru, berisi foto kardus ponsel dengan harga belasan juta yang dihiasi pita, ada pula dress dengan merk ternama.
Sebenarnya ponselku gak papa, cuma perlu diservis aja, tapi makasih banyak Mr. V, makasih juga dress nya 💓🤗
Mr. V, Mr. V
Arrrggghhh Vidya jadi galau sendiri, ketakutan perlahan menyelimutinya. Vidya melihat kolom komentar.
Ponsel baru?
Waw! Hadiah dari siapaa? Gue juga mau?! 😭
Gonta ganti HP mulu!
Sultan mah bebas
Putri Gunawan bebas 😩😪😎😎
Dari siapa niih, Mr. V siapa? 😏😏😏
Dah gak jomlo lagi lo?
Wewwww, ada yang diam-diam jadian nihh, dikasihnya udah IP aja dong
Mainnya LV yaaa bajunya itu.. gue juga mau woy!
Mr. V siapaaa, mainnya sekarang rahasia yaaa 😆🤔🙄
Vidya tidak sanggup menscroll lagi, ingin rasanya dia menanyakan ini pada Verel tapi itu semua belum tentu. Tapi, postingan kucing kemarin?
Vidya menutup wajahnya, lalu mencoba untuk menghubungi Verel.
Ponselnya tidak aktif.
Vidya berusaha tenang. Tenang, dia tidak boleh emosi. Biarkan dulu.
==============@@@@@==============
Satu bulan berlalu dan Verel benar-benar susah dihubungi, Vidya pun juga sibuk dengan pekerjaannya. Mengingat dia harus profesional dalam pekerjaan tidak boleh larut dengan perasaan pribadi. Vidya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Dia yang nyaris mempertaruhkan pendidikannya karena susah untuk bangkit dari keterpurukannya. Tidak! Tidak akan terjadi.
Luka itu sudah mendewasakan Vidya.
Jadwal ngedate keduanya yang biasanya sebulan tiga kali itu harus hilang untuk sesaat dalam sebulan kemarin. Dan Vidya merasa sedih dan galau. Disisi lain dirinya juga lelah dengan pekerjaan yang mulai gila-gilaan,
"Hiks... " Vidya menangis, segala beban yang ia tahan sebulan kemarin ia tumpahkan dengan tangisannya. Ia lelah, fisik juga bathinnya. Entah baru kali ini saja dia benar-benar kelelahan karena bekerja. Ditambah hubungannya dengan Verel.
Kepala Vidya berasa ingin pecah saja mengingat belum ada komunikasi sama sekali antar dirinya dan Verel, dan itu menambah bebannya.
Vidya mengusap air matanya, memikirkan tindakan apa yang tepat. Jika memang Verel sama-sama sibuk, maka Vidya akan berusaha mengerti. Tapi jika ada pihak ketiga? Vidya harus bagaimana?
Mengenai pembahasan alam semesta dalam diri Vidya, Vidya bukan pengendali penuh atas Verel. Pemuda itu berhak bahagia dan menemukan yang lain yang lebih baik dari dirinya, tapi jika memang benar begitu adanya Vidya mohon setidaknya Verel bicara padanya dan jangan malah menggantungnya seperti ini.
Vidya tidak ingin hubungannya hancur karena pihak ketiga dan kebohongan, jika mereka memulai dengan baik-baik, maka Vidya ingin mengakhirinya dengan baik-baik juga.
Vidya berfikir untuk membiasakan ini semua, dia tidak boleh bergantung pada Verel, dia juga bisa bahagia dengan atau tanpa adanya Verel. Vidya bukanlah Vidya dulu yang dikenal dengan Vidya Maheswara, Tapi Vidya adalah Vidya yang sudah bangkit dan tidak akan bodoh lagi dalam mengulangi kesalahan.
Memang Vidya sudah masuk dalam jurang terlalu dalam, tapi, Vidya akan membangun dunia barunya dibawah sana tanpa ada campur tangan siapapun. Yah, lebih baik begitu,
Tapi jika boleh saja, Vidya ingin egois kali ini. Ia ingin berada disisi Verel, sekalipun Verel bukan mate nya, tapi Vidya berharap bisa membentuk dirinya menjadi mate yang Verel inginkan. Vidya mohon...
===============@@@@@============
Maaf, aku sibuk, untuk kedepannya aku bakal sibuk banget... maaf ya, I love you...
Satu pesan yang Verel kirim mampu membuat Vidya menegak dari duduknya menghadap layar monitor yang menampakan jendela obrolan.
Baru Vidya ingin membalas, tetapi pemberitahuan Verel sudah tidak lagi aktif membuat Vidya kecewa. Vidya menghembuskan nafas gusar. Namun dia tetap mengetikkan pesan untuk Verel.
Jangan lupa istirahat, aku
Vidya berhenti mengetik, namun dia dengan mantap kembali melanjutkan
Jangan lupa istirahat, aku... I love you too 💓
==============@@@@@==============
Vidya menatap Verel yang tengah duduk makan siang dengan gadis yang waktu itu juga datang dipertemuan restoran ayahnya. Vidya sebenarnya ingin langsung menuju kantor Verel untuk mengajaknya makan siang, namun yang ia dapat, Verel yang baru saja masuk ke kafe, dan duduk berhadapan dengan gadis itu. Terkadang gadis itu sesekali bercanda kecil, lalu menunjukkan tabloid yang ia bawa.
Verel sesekali meminjam tabloid itu. Vidya hanya bisa tersenyum tipis, setidaknya mengetahui pemuda itu baik-baik saja sudah cukup baginya. Namun entah karena apa hatinya menjadi sesak. Vidya pun memilih kembali berjalan menuju perusahaannya saja, pulang tidak jadi makan.
....
Vidya duduk di bangku taman depan kosannya. Kakinya berayun, disampingnya ada secangkir coklat panas dan buku. Yah, itulah kegiatannya akhir-akhir ini saat malam minggu. Minggunya ia gunakan untuk bersih-bersih kamar dan kegiatan yang benar-benar me time.
Bahkan Vidya mulai merawat diri. Lebih sering maskeran, dan hal lain yang berbau kecantikan, hanya itulah yang saat ini menarik hatinya. Bahkan ia banyak menghabiskan membaca buku dan pergi ke toko-toko buku. Vidya senang kegiatan barunya ini sedikit produktif dan bermanfaat baginya, terlepas dari kebersamaannya dengan Verel, Vidya sudah mulai membangun dunianya didasar jurang.
Dunia yang tidak seorang pun bisa mengusiknya.
Tiga bulan...
Tiga bulan berlalu, dan Vidya benar-benar berusaha, tapi Vidya tidak bisa membohongi dirinya lebih lama. Dia sakit, dia hancur memang. Vidya juga benci dengan perasaan tak berdasar nya ini. Vidya benci menebak dan mengira-ngira, Vidya lelah. Sekali lagi, Vidya menangis.
Vidya tidak bisa, Vidya tidak bisa melepas Verel dari semestanya, Vidya tidak bisa. Mau Verel keluar dari orbitnya, tetap Vidya tidak ingin melepasnya.
Biarlah Verel keluar masuk dalam orbitnya tapi jangan sampai tidak kembali lagi jika Vidya boleh berharap.
Mau setangguh apapun Vidya, Vidya tetaplah perempuan normal pada umumnya, rapuh akan perasaan.
Inilah ketakukan Vidya, dia akhir-akhir ini juga sering menunjukkan perasaannya dan itu malah membuatnya jauh dari Verel. Apa salahnya dengan menunjukkan perasaannya, tapi Vidya tidak bisa menahan diri. Vidya terlalu larut.
==============@@@@@==============
Baru saja kemarin malam Vidya menangis, kini seolah gadis itu melupakan kesedihannya. Disini, dihadapan Verel, Vidya mencoba bersikap sebaik mungkin. Pemuda itu agak berbeda sekarang dengan potongan rambut yang lebih pendek dan rapi. Entah perasaannya saja atau bagaimana, tapi Verel terlihat bertambah tampan sekarang.
Kadang Vidya suka dibuat tak habis fikir, kenapa pemuda tampan seperti Verel malah memilihnya yang notabene gadis biasa, gadis yang bahkan tak pandai bermain kuas bedak dan lain-lainnya. Vidya suka tampil apa adanya dan tampak polos bahkan terkesan pucat.
Makanya jangan heran dengan sosok Vidya. Vidya memang seperti penampakan jika dirinya seperti saat direstoran duduk dipojokan. Gadis dengan tubuh ringking, wajah pucat dan rambut tergerai panjang, poni yang menjuntai selalu hampir menutupi sebagian wajahnya. Tinggal ganti saja outfit Vidya menjadi baju putih. Itu berlebihan oke, Vidya hanya terlalu merendah.
Tapi mau bagaimanapun ketampanan Verel bagi Vidya hanya bonus yang ia dapat. Vidya jatuh cinta dengan pemuda itu karena ketulusan hati dan pikirannya. Bagaimana pemuda itu masih sabar dengan sikap Vidya yang terkesan cuek dan kaku, mampu membuat Vidya terpana dengan pemikiran-pemikiran brilian pemuda itu.
Dulu Vidya tersakiti oleh cowok yang bahkan dalam segi paras ketampanan jauh dari Verel. Tapi, dia mampu membuat Vidya terpuruk hingga melalaikan kuliahnya. Karena apa? Karena cowok itu juga membuat Vidya jatuh cinta karena ketulusannya, walau dalam segi pemikiran masih kurang, tapi menemukan seorang yang tulus menerimamu itu sangat susah dan langka, maka dari itu Vidya bisa dibuat sangat terpuruk saat kehilangan.
Dan kini hadir Verel yang kembali membuat Vidya merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya, bukan, pria itu sudah berkali-kali membuatnya jatuh cinta.
Vidya masih tersenyum bahkan sedikit lebar, berusaha memberi senyum terbaik. Saat ia hendak berkata Verel sudah memotongnya.
"Maaf buat tiga bulan ini, aku bener-bener sibuk," ucap Verel lalu meneguk minumnya, Vidya mengangguk mantap tanda dia sudah sangat mengerti dan memaafkan.
"Vidya aku harus pergi—"
Kalimat yang keluar dari mulut Verel mampu membuat Vidya terpaku. Senyumnya perlahan hilang, matanya menatap Verel tak mengerti. Hingga samar jika dilihat dari dekat mata Vidya menampakkan kaca jendela yang jika sekali berkedip saja bisa keluar air mata.
"Kemana... " Lirih Vidya menahan suaranya agar tak begetar.
"Jerman," Verel tampak menghembuskan nafas.
"B-berapa lama?" Kini benar-benar bergetar.
"Sekitar dua sampai tiga... tahun?" Jawab Verel ragu, namun akhirnya ia mengangguk pelan.
"Aku membuka perusahaan disana,"
Vidya menggigit bibirnya.
"Butuh waktu yang lama untuk mengontrol disana mengingat itu baru saja resmi,"
"Maaf ya, mengenai hubungan ini aku ingin... "
"Verel maafin aku," potong Vidya.
Vidya sudah tidak tahan biar lah, biar...
"Ya udah... " ucap Vidya dia tak sanggup berkata-kata lagi.
Vidya menggigit bibir bawahnya kuat, hingga bisa ia rasakan asin dilidahnya karena sesuatu.
Drt drt...
Getar ponsel Verel, Verel melihatnya lalu ia mengangkatnya.
"Sebentar," Verel pamit. Vidya hanya bergeming, hingga saat dirasa Verel sudah jauh Vidya menumpahkan air matanya. bibirnya memerah. Vidya pun menutup wajahnya ia tak sanggup, benar-benar tak sanggup, hingga akhirnya ia memilih pergi dari kafe itu.
Saat ditengah perjalanan, Vidya mendapat pesan dari Verel.
Aku harus pergi sebentar ada perlu penting, kamu pulang dulu tidak papa.
Dan Vidya semakin deras meneteskan air matanya.
===============@@@@@=============
Vidya dengan segenap hati mengetuk pintu apartemen bertuliskan nomor 193 itu. Ia menarik nafas. Biar hari ini hari yang akan diingatnya seumur hidup. Melepaskan Verel,
Vidya bisa mentolerir masalah kesibukan Verel, tapi jika berita yang ia dapat semakin membuat pikiran buruk Vidya makin menjadi. Maka Vidya akan meluruskan ini semua.
Tok tok tok...
Tak ada jawaban...
Tok tok tok...
Ceklek...
Tampaklah gadis yang membukakan pintu membuat Vidya menahan nafas sejenak.
"Siapa ya?" Tanya gadis itu.
"Saya yang harusnya tanya kamu siapa? Kenapa bisa ada disini," ucap Vidya mengerutkan kening.
"Maaf, tapi kalau kamu mau datang berkunjung lain kali saja, kami sedang sibuk, " jawab gadis itu hendak menutup pintu lagi, namun dicegah Vidya.
"Katakan kamu siapa?!" Geram Vidya rasanya ingin marah.
"Siapa?" Tanya suara bariton dari arah belakang pintu.
"Vidya?" Ucap Verel sang gadis pun menoleh pada Verel dan tampak mengerutkan kening.
"Verel aku mau bicara—" Verel tampak menyuruh Vidya berhenti bicara.
Verel pun meraih tangan Vidya agar masuk, gadis yang tak lain Ratika itu sedikit terkejut. Jadi diakah kekasih Verel?
"Verel—"
"Vidya aku sedang ada diskusi sebentar, kamu ke ruang keluarga ya," pinta Verel dan tampaklah diruang tamu dua orang mengenakan kemeja formal. Vidya terkatup, sedikit bersalah dan malu. Pikirannya sudah menuduh yang tidak-tidak pada Verel tadi. Dan Vidya ingin menangis sekarang.
"Boleh dikamar kamu aja?" Tanya Vidya sambil menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Verel mengangguk dan segera mengajak Vidya kekamarnya. Ratika yang sempat mendengar obrolan itu mengerutkan dahi tak suka, tangannya terkepal.
Astaga! Kenapa selera Verel harus gadis kampungan seperti Vidya?! Membuat Ratika menggeram kesal dan kembali duduk ditempatnya. Verel pun kembali bergabung dalam diskusinya.
Hingga dua jam berlalu, pekerjaan mereka pun selesai. Dan Verel sudah mengantar dua tamunya, tersisa Ratika yang masih sibuk dengan laptop seperti biasa.
"Ratika, kamu bisa menyelesaikannya dirumah jika kamu ingin pulang juga,"
"Ah, tidak papa Pak, sedikit lagi selesai,"
"Baiklah terimakasih atas kerjasamanya, saya mau kedalam dulu," ucap Verel dan diangguki Ratika. Dalam hati Ratika sudah merutuk. Tak akan dia biarkan Tuannya berduaan dengan gadis tadi. Ratika akan pulang jika gadis itu pulang.
Sementara Vidya ia duduk dibalkon kamar Verel, ia mengusap pipinya lagi yang sudah berkali-kali terkena aliran air matanya.
"Hei?"
Vidya buru-buru menepis air matanya.
"Kenapa?" Tanya Verel lalu ikut duduk.
"Kamu menangis?" Tanya Verel sedikit terkejut melihat beberapa tisu yang Vidya genggam.
"Nggak, nggak papa," Vidya tidak menatap Verel, Verel menghembuskan nafas. la pun meraih wajah Vidya.
"Katakan sesuatu!" Tegas Verel, Vidya menggigit bibirnya merah.
"A-aku mau bilang... "
"Hm... "
"Masalah hubungan kita,"
"Ya... "
"Udah aku katain dari awal bahwa, aku cuma perempuan biasa yang bahkan gaada yang spesial dari aku, dan aku berharap kamu mengerti itu... kamu mengerti, jadi... gak akan ada hubungan yang berakhir karena pihak ketiga, aku harap begitu..., karena kamu gak akan nyari yang lebih baik lagi dari aku karena kamu udah paham aku dari awal,"
Verel masih mencerna ucapan gadisnya, kira-kira apa yang ingin gadis itu sampaikan. Hanya saja Verel belum menangkap benar.
"Aku akhir-akhir ini dengar kamu jalin hubungan sama orang lain,"
Degh!
Verel terkejut. Benar-benar terkejut, barusan Vidya mengira dia selingkuh, oh Tuhan...
"Aku ngga—"
"Aku tau aku memang perempuan biasa bahkan gak pernah bikin kamu bahagia selama menjalin hubungan sama aku," Vidya mulai bergetar.
"Tapi jika memang kamu udah nemuin mate kamu, kamu... bicarain baik-baik sama aku, jangan.......
menghilang... " Vidya mulai mengusap hidungnya. Verel makin mengerutkan kening.
"Aku seneng kalau memang kamu udah nemuin yang terbaik dari pada aku, tapi... jangan... "
"Tunggu!" Verel memotong ucapan Vidya, Verel menangkup wajah Vidya agar menghadap padanya karena sedari tadi gadis itu bicara dengan menatap pagar balkon, seolah Verel tidak menarik saja dimatanya.
"Sebelumnya kamu dapat berita dari mana kalau aku punya hubungan lain?"
Vidya terkatup, benar juga, dia hanya mendengar desas-desus orang kantor Verel, kenapa Vidya se baper ini sih??!!
"Orang-orang kantor kamu, kamu berhubungan sama sekertaris kamu,"
Rasanya Verel ingin membenturkan kepala didinding saja. Astagaaa...
Vidya meraih tangan Verel dan menangkupnya.
"Aku minta maaf buat segalanya, tapi aku benci kamu! Aku benci!!! Saat aku berusaha buat gak jatuh terlalu dalam sama kamu, kamu bikin aku selalu jatuh cinta dan aku gak bisa mengekspresikannya lagi saking aku udah jatuh terlalu dalam... Aku emang gak seharusnya egois dalam hubungan ini, tapi kalau boleh meminta, jangan tinggalin aku, aku gak mau, aku gak mau... hikss hiksss, aku gak mau kehilangan kamu... aku gak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya, jangan pergi,"
Verel terkejut saat akhirnya Vidya menerjangnya dengan pelukan erat.
Verel dalam hati tersenyum lebar, Vidyanya tetap Vidya gadis biasa yang rapuh dengan perasaan, yang bisa cemburu dan takut kehilangan kapan saja. Tapi demi Tuhan ini imut sekali, Verel balas memeluk Vidya.
"Hei... kamu salah faham... "
"Hiks.. hiks... "
"Aku udah coba hubungin kamu, tiga bulan ini gak pernah ada kabar hikss... aku takut... " isak Vidya dalam pelukan, Verel terkekeh kecil. Sungguh Verel gemas dengan gadis ini, tapi dia juga merasa bersalah sih. Bahasa cinta Vidya adalah ketika mate nya mau meluangkan waktu untuk dirinya, sehingga Vidya bisa merasa dicintai apabila mate nya mau meluangkan waktu walau hanya sekedar ngobrol bersamanya.
Dan tiga bulan Verel tidak hadir dalam kencan sama sekali, tentu saja membuat Vidya takut dan berfikir bahwa dirinya sudah tidak cinta lagi. Imut sekali...
"Maafin aku... hiks... aku egois... aku gak rela kamu bertemu dengan mate mu kelak aku gak rela!" Ucap Vidya benar-benar meraung menangis.
Cukup! Verel benar-benar tidak tahan dengan sikap imut Vidya saat ini, Verel pun meraih kepala Vidya dan mengecup keningnya lama.
"Jangan menangis lagi, karena aku pun juga sama-sama egois, gak rela kamu bertemu dengan mate kamu," ucap Verel lalu mengusap pipi Vidya untuk menghilangkan anakan sungai yang sudah Vidya ciptakan.
"Maafin aku Vidya, karena akhir-akhir ini aku memang sibuk, Oktober nanti aku harus ke Jerman, sampai entah kapan berapa tahun lagi, banyak urusan yang harus diselesaikan dan dibahas,"
"Dan mengenai berita hoax itu, jangan dengarkan, mereka memang suka menyimpulkan yang tidak-tidak, tapi aku gak akan menyalahkan mereka, mereka berhak menyimpulkan tapi tidak berhak menuduh, aku gak ada hubungan apa-apa sama sekertaris ku, memang wajar mengingat kami harus terlibat dalam rapat, diskusi dan lain-lain,"
"Jadi, jangan risaukan, intinya aku minta maaf atas absen ku selama tiga bulan," ucap Verel lalu mengecup pucuk kepala Vidya.
"Pun, kok kamu bisa nerima berita ini dengan gampang? Ini bukan kamu banget hm...?" Tanya Verel yang keheranan dengan sikap Vidya.
"Aku juga gak ngerti... " lirih Vidya
"Ada berbagai alasan yang bikin aku gini, dan entah akhir-akhir ini memang aku jadi sedikit sensitif, gatau kenapa, apalagi yang ada hubungannya sama kamu," lirih Vidya. Verel tersenyum lalu memeluk Vidya lagi.
"Aku suka Vidya yang sensitif, aku suka Vidya yang kaku," ucap Verel makin mengeratkan pelukannya. Vidya menyembunyikan wajahnya didada bidang Verel.
"Jangan tinggalin aku... " lirih Vidya.
"Ngga akan..."
"Oh iya," ucap Verel lalu melepaskan pelukannya perlahan. Vidya mengusap hidungnya lagi, Verel terkekeh kecil lalu mengacak rambut itu,
"Bentar aku mau ambil sesuatu,".
Vidya mengangguk, ugh, memalukan pasti wajahnya berantakan ditambah ingusnya, ya ampuuunn Vidya malu sekali, tapi disisi lain dia juga lega.
Verel datang lagi, dan duduk disamping Vidya. Vidya hanya menatap gerak-gerik Verel.
"Jadi tuh, kemarin waktu di kafe, aku mau kasih kamu ini,"
Vidya mengerjap, ia menutup mulut tak menyangka.
"Gak mungkin kan aku bawa anak orang ke Jerman tanpa status apa-apa, yang ada aku tinggal nama aja nanti, habis sama ayah kamu," kekeh Verel lalu meraih tangan Vidya.
"Kamu mau pake yaa... " pinta Verel menatap sebentar Vidya dengan wajah memelas berharap Vidya luluh, Vidya tertawa lalu menangis lagi, ia mengangguk mempersilahkan Verel menyematkan cincin berlian putih itu dijari manisnya, pas sekaliii...
"Makasih... " ucap Verel sambil mengecup punggung tangan Vidya. Memang tidak ada romantisnya, dibalkon dengan wajah berantakan Vidya habis menangis, dan Verel yang tiba-tiba datang membawa cincin tanpa kotak beludrunya, langsung menyematkan itu dijarinya.
Dan Vidya tidak butuh keromantisan, yang Vidya butuhkan adalah ikatannya. Ikatan resmi dan sahnya. Vidya menangis haru.
"Sekalipun kamu bukan mate aku, tapi aku harap kita bisa bekerja sama membentuk mate yang kita mau didiri kita masing-masing, jadi kamu mau kan lengkapin kekurangan aku dan kekurangan kamu?" Tanya Verel lagi.
"Iya mauuu," balas Vidya sambil menangis.
"Kamu kalo nangis tambah jelek,"
Dan Vidya mencubit gemas pinggang pemuda itu sampai pemuda itu meringis. Vidya tertawa, dia sangat bahagia, bahagia sekali. Dia harap dia bisa melalui ini dengan lancar... semoga Tuhan mengabulkan permintaannya ini
===============@@@@@=============
Sejujurnya hanya orang bodoh yang ingin memisahkan mereka. Dan semoga Ratika bisa keluar dari golongan orang bodoh itu... 🙂🙏😇
===============@@@@@=============
"Vin, Mama kamu kalo nangis jelek, udah jelek cengeng lagi!"
"VEREEELLLL!!!" Dan Vidya hanya bisa mengusap dada sabar melihat tingkah Verel yang tidak pernah puas menggoda nya.
===============@@@@@=============
SEKIAN TERIMAKASIH
JANGAN LUPA LIKE YAAA
FOLLOW AUTHOR JUGA, AUTHOR MASIH BARU DISINI SOALNYA
MAAFKAN KALO CERITANYA GAJE
MASIH AMATIRAN
SEMOGA BERMANFAAT
LOVE U BUAT KAMU YANG UDAH SEMPATIN BACA DAN LIKE 💓💓💓💓💓😇😇😇🙏🙏