Bagaimana jika seorang nona yang kaya raya jatuh cinta dengan bawahannya?.
Menceritakan nona yang memainkan biola dengan tenang dan handal yang mendapat julukan nona biola.
"Ei,bawa biolanya kesini".titah seorang perempuan pada bawahannya.
"Baik nona".ucapnya lembut.
"Hhh,apa yanh terjadi sebenarnya?".tanyanya memeganggi kepalanya.
"Ini nona".ujarnya menyerahkan biola.
"Ah,iya terimakasih".ujar wanita itu.
"Apakah nona sakit?".tanyanya ragu.
"Tidak Ei hanya bingung sendiri".ujar wanita itu kepada bawahannya bernama Eikeila.
"Kalau begitu nona beristrirahat saja agar nona tidak sakit".ujarnya menawarkan.
"Tidak perlu Ei".ujar wanita itu.
"E...,baik nona Vanda".ujar Eikeila ragu namun sopan.
Vanda memainkan biolanya beberapa waktu,hingga ia selesai,Van meletakan alatnya kemeja.
Dan mendudukan dirinya.
"Nona ingin dibuatkan apa?".tanya Eikeila.
"Teh hangat saja".ujarnya memeganggi kepalanya.
"Nona tidak apa?".tanya Ei cemas.
"Iya".ujarnya lemah.
"Erm...tunggu sebentar nona".ujar Ei yang berlari kearah dapur,dan membuatkan teh serta mengambil obat sakit kepala.
"Ini nona".Ei yang menyerahkan obat dan Teh.
Van tampak menyerngit melihat obat ditangan Ei.
"Untuk apa?".tanyanya.
"Untuk meredakan sakit kepala".ujar Ei .
"Hmmm,terimakasih".ujarnya menerima obat dan teh.
Setelah minum obat dan tehnya Van menyenderkan kepalanya di sofa sambil memegang biola.
Tak lama mata tertutup Ei yang melihatnya pun mengambil biola yang berada dalam dekapan nonanya.
Hari sudah sore matahari menampakan senjanya.Van terbangun dan mengerjapkan matanya mencari ke fokusan matanya.
Ia melihat kesekelilingnya dan menemukan Ei yang tengah tertidur berdiri dengan gaya formal nya serta memegang biola.Tampak lucu pikirnya.Tak sadar ia menggulum senyum melihat tingkah Ei yang menurutnya lucu.
Van berdehem yang membuat Ei terbangun gelagapan.Ia mengambil minuman di depannya berpura pura tak melihat situasinya.
Kemudian Ei berujar"Nona tidak apa?".
"Tidak apa".kata Van mengibaskan tangannya.
"Hhhh,syukurlah".lega Ei yang mengetahui majikannya tak apa.
"Hmmm,siapkan makan malam aku ingin makan dan mandi dulu".kata Van pada Ei.
"Baik nona".katanya sopan.
Van berjalan kearah tangga menuju kamarnya.
Kriek...
Suara pintu terbuka Van berjalan menuju almari untuk mengambil pakaian lalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Beberapa menit berlalu Van sudah selesai mandi dan sedang menuruni tangga,ia melihat Ei menyajikan makanan di atas meja dengan celemek yang masih ada.Beberapa pembantu juga berlalu lalang untuk menyiapkan makanan.
"Ei".kata Van membuat Ei terkejut dan berujar gagap.
"No-nona".katanya gagap sambil menyembunyikan tangannya di belakang ia meremas tangannya kuat-kuat karena ketakutan terkena marah,karena ia yang memasak makanan bukan bibi pelayan.
Para pelayan ketakutan tak berani menatap majikannya.
"Apa yang kau lakukan?".kata Van dingin.
"E-eee itu...".kata Ei bingung.
"Itu apa?".tanya Van
"Astaga kenapa selucu ini?".batin Van melihat Ei ketakutan.
"Me-menyiapkan makanan".kata Ei takut.
"Menyiapkan makanan?".kata Van membuat suasana mencengkam.
"I-iya".kata Ei.
"Untuk apa?,kan ada mereka".kata Van melirik pelayan.
"Dan apa-apa itu?".tanya Van melihat celemek Ei.
"I-ini...saya hanya membantu".kata Ei.
"Membantu?,mengapa membantu kan ada mereka kenapa kau membantu?,lalu apa gunanya mereka?".kata Van memuncak walau dalam hati memuji.
"Ma-maaf nona".ujarnya pelan matanya menghangat ia ingin menanggis rasanya.
Laki-laki boleh nangis kok,masa enggak,kalau enggak tujuan diciptakan kantong air mata selain membasahi mata apa?:)Author.
"Maaf?".kata Van.
Melihat Ei yang ingin menanggis Van menghentikan aksinya dan berkata."Sudahlah".kata Van mengibas-ngibaskan tangan.
Para pelayan merasa takut.
Para pelayan membereskan makanan yang ada di meja tak ingin nonanya marah lagi,dan Ei hanya diam tak bergeming,ia melirik masakannya yang akan dibuang.
Melihat hal yang dilakukan para pelayan dan Ei membuat Van bingung.
"Apa yang kalian lakukan?".tanya Van meninggi.
"Mem-bereskannya".ujar pelayan gemetar.
"Sudahlah kalian pergi saja".ujar Van menyuruh para pelayan pergi.
"Ba-baik nona".katanya gugup,setelah terkejut dengan perkataan Van.
Satu persatu para pelayan pergi dengan kepala menunduk.
Setelah kepergian pelayan Van duduk di kursi.Ia menatap bingung Ei yang berdiam diri saja dan menahan tanggis.
Melihat hal itu ada rasa bersalah di benaknya,ia kemudian memanggil Ei.
"Ei,apa yang kau lakukan kemarilah".kata Van menatap Ei.Ei berbalik perlahan dengan tubuh bergetar dan air mata yang mengalir.
Van menatapnya betapa terkejutnya ia melihat Ei menanggis namun ia sembunyikan hal itu.
Ei berjalan kearah Van sambil menghirup ingusnya kecil.
Setibanya di depan Van,Ei tak berani melihat Van.
Melihat hal itu Van sedikit berdiri dan menarik tengkuk Ei dan...
Cup...
Sebuah kecupan mendarat di bawah kelopak mata Ei.
Melihat hal itu tentu membuat Ei terkejut.
"Jangan menanggis".kata Van mengusap air mata Ei.
Ei terkejut dengan tindakan majikannya.Ia masih bergeming.
Di lain tempat betapa terkejutnya para pelayan melihat adegan itu.Bisik-bisik mulai terdengar...
"Wah...ku tak menyangka".
"Mataku".
"Wa...nona terlalu berani!".
"Wa...baru pertamakali aku melihat perempuan yang melakukannya".bisik pelayan yang mengintip dari balik tembok.
"Iya".
Sedangkan di ruang makan teramat hening.
Ei duduk di bangku dengan perlahan dan menatap manjikannya,ia masih terkejut.
"Ada apa kau menatapku?".tanya Van mulai dingin.
"Ta-tadi no-nona,i-itu cuma dilakukan oleh orang yang sudah menikah".katanya gugup membuat Van menoleh karena mendengar kata'menikah'.
"Jadi,maksudmu aku harus bertanggung jawab gitu?,karena menciumu?".tanya nya dengan nada kembali naik,membuat Ei terkejut.
"Ti-tidak,bukan seperti itu nona".ujar Ei.
"Lalu?,kau akan bertanggung jawab untuk menikahi ku begitu?".tanya Van dengan wajah memerah.
"Bu-bukan".kata Ei gagap.
"Hmph!,sudahlah ayo temani aku makan".kata Van memalingkan sebal.
"Jika aku bertanggung jawab memangnya nona akan menerimaku?".tanya Ei dalam hati.
Makan malam di mulai dengan tenang sesekali Van melirik Ei yang makan kurang tenang.Setelah makan malam usai Van kembali ke kamarnya dan beberapa orang pun membereskan makanan di meja baru mereka akan makan.
🌱Hari berlalu begitu cepat memberikan kesan yang menarik bagi Van baik suka dan tidak suka.
Hari ini Van pergi ke suatu tempat yaitu tentang pertemuannya,ia harus mempersiapkan penampilan yang akan datang.
Namun di saat Van keluar dari gedung itu ia melihat Ei sedang berjongkok di depan gadis dan seorang pria di sampingnya sambil memegang kotak cincin,yang membuat hatinya tak nyaman lantas ia pergi dengan perasaan kacau.
Melihat Van yang berlari membuatnya bingung apa lagi ketika ia melihat nonanya mengusap air matanya.Pikirnya debu masuk:).
"Pacarnya iya mas?".tanya gadis yang ada didepannya.
"Waduh mas,bahaya ini cepat susul mas,nanti salah paham lagi".kata pria di samping gadis itu.
Udah salah paham:)Author.
Belum sampai berbicara Ei sudah terpotong oleh pria tadi,namun dengan perkataan pria itu membuat Ei tersadar dan menuju ke nonanya.
Beberapa kali Ei panggil tapi Van tak mau mengubris.
"Nona!".panggil Ei teriak.
Melihat Ei mengejarya membuat Van mengcegat sebuah taxi agar terhindar dari Ei.Setelah mendapatkan taxi Van langsung naik dan mengarah kerumahnya.
"Nona!".panggil Ei mengejar taxi.
"Maaf mba pacarnya iya yang dibelakang?".tanya pak supir melihat dari kaca,yang menunjukan Ei berlari.
"Bukan pak".katanya dingin,ia melihat kebelakang yang menunjukan Ei tengah berlari mengejarnya tak lama kemudian berhenti dengan nafas ter engah.
"Hmph!,pak lajukan lagi".kata Van melihat Ei ter engah.
Di rumah.
"Terimakasih pak".kata Van yang sampai rumah.Melihat majikannya pulang naik taxi membuat seisi rumah bingung.Pasalnya ia berangkat bersama Eikeila kenapa pulangnya sendiri?pikir mereka.
Seorang satpam pun mencoba memberanikan bertanya.
"Non,pulang sendiri,dimana mas Einya?".kata pria itu melihat keberadaan asistennya.
"Tidak tahu,mungkin ada urusan".ujarnya ketus dan melangkahkan kakinya ke kamar.
Se sampainya di kamar Van mengunci pintunya,dan berbaring di kasur dengan selimut menutupi tubuhnya dan bantal yang menutupi wajahnya.Tak lama kemudian ia menanggis ter isak.
Vroom...
Suara mobil biru metalik memasuki rumah.
"Paman,nona Van di dalam?".kata Ei bertanya.
"Ada,tadi masuk-masuk mukanya ke tekuk kayak baju belum di setrika,emangnya ada?".kata satpam itu dengan sedikit tawa bagian'wajah ke tekuk kayak baju belum di setrika'.
"Saya tidak tahu paman,tadi tiba-tiba nona lari gitu aja,terus ada yang bilang salah paham jadi enggak paham".kata Ei menjelaskan.
"Ya sudah,masnya masuk aja selesaikan baik-baik ama non kalau ada masalah,biar mobilnya yang saya urus".ujar pria itu.
"Baik,terimakasih paman,Ei pamit dulu".ujar Ei.
"Enggeh".katanya sopan.
Ei berjalan masuk ke rumah,dan menuju kamar nonnya.Terlihat pintu itu tertutup,terdengar suara isak tangis didalamnya.Membuat Ei bertanya tanya.
"Non,ini Ei,nona tidak apa-apa?".tanya Ei hati-hati.
Mendengar suara Ei membuatnya tak suka dengan amarh memuncak ia mengambil bantalnya dan membuka pintunya sedikit.
Bisa dilihatnya air mata membasahinya.
"Pergi sana!,dengan kekasihmu itu!".kata Van berteriak sambil melemparkan bantalnya.
Mendengar hal itu membuat beberapa orang terkejut.
"Kekasih?".Ei yang bingung dengan ucapan nonanya.
"Kekasih?".kata pelayan yang mendengarnya bingung.
"Ouh...nona cemburu...".katanya mengganguk kecil.
"Kenapa kalian lihat-lihat?,seperti tidak ada pekerjaan bersikah rumah sana!".kata Van pada pelayan di bawah.
Pelayan itu hanya bisa menunduk.
"Dan kau tidur di luar malam ini!".kata Van pada Ei yang tak bergeming.
"Ta-tapi nona-".ucapnya terpotong melihat pintu itu sudah tertutup.
Ei hanya bisa menghela nafas di depan pintu.
"Mau apa kau?".kata pelayan itu pada rekannya.
"Mau membersihkan rumah!,lagian nona juga ada-ada aja rumah dah sebersih ini suruh bersih in".ujarnya pelayan itu.
"Iya,apa kita bakar aja ini rumah kan biar bersih".kata pelayan yang lainnya.
"Iya,gila masak dibakar?".kata tak suka.
"Kan biar bersih".katanya lagi.
"Sudah-sudah ayo kita beres-beres yang lain".katan pelayan yang lebih tua.
Ei masih terdiam didepan pintu kemudian ia menuruni tangga dengan raut tak bisa diartikan.
Bibi pelayan yang melihatnya memberikan semangat kepadanya agar tidak sedih.
Yang mendapatkan anggukan kecil darinya.
"Makasih bi".ujarnya tersenyum.
Malam tiba.
Van makan dengan tenang para pelayan hanya bisa berdiam menatap nonanya.
"Dimana Ei?".tanya nya tiba-tiba membuat para pelayan menatapnya.
"Ouh itu non-".perkataan pelayan terpotong.
"Ouh iya,pasti dia sedang bersama dengan pacarnya".kata Van ngasal membuat pelayan bingung.
"Aku rasa,dia bahagia dengan pacarnya,dan mungkin-".
"Dia diluar,tadi siang nona menyuruhnya untuk tidur di luar".kata pelayan itu lancar.
Mendengar hal itu membuat Van bingung,sedangkan pelayan tadi menutup mulutnya tersadar dengan perkataannya yang memotong.
"Diluar?".tanya Van yang di jawab 'iya'oleh pelayan.
Van mengingat kejadian di siang tadi yang membuat pipinya memerah menahan malu.
Van berdiri dan berjalan kearah luar di lihatnya Ei sedang berbicara dengan satpam di luar yang menjaga rumahnya.
"Mas Ei,lebih baik istrirahat dulu".kata satpam itu yang memantau dan menyenteri rumah dari pembatas.
"Tidak paman,saya mau bantu paman aja".ujarnya menaruh dagunya di pembatas.
Van melihatnya lamat-lamat.
Kemudian menyuruhnya untuk masuk.
Mendengar hal itu membuat Ei bingung.
"Ayo mas di suruh masuk".kata satpam itu menyenggol bahunya.
"Perasaan tadi siang suruh tidur diluar".katanya pada benaknya.
"Emmm,ada apa nona?".tanya Ei ragu.
"Tidur di dalam saja,jika kau sakit aku nanti yang repot".ujarnya tanpa melihat Ei.
"Huh?,tapi tadi-".
"Tidak ada tapi,tapian".ujar Van memotong pembicaraan.
Van melenggos dan menuju ke kamarnya.
Hari-hari berlalu Van masih tak ingin bicara pada Ei sejak kejadian itu,bahkan ini sudah melewati hari pertunjukannya.
Hari ini adalah hari yang penting,dimana di rumah Van akan diadakan pesta.
Pukul 21:00.Wib.
Kriek...
Suara pintu yang terbuka.
"Eh nona,ada apa?".tanya Ei melihat Van memasuki kamarnya ketika sedang memakai jas.
"Ini,kau pakai ini saja".katanya menyerahkan jas ber merk.
"Tapi,nona".wajahnya terlihat murung.
"Tidak ada,tapi tapian".kata Van.
"Ku tunggu di luar jika sudah,katakan padaku".ujarnya keluar kamar.
"Baik nona".ujarnya sendu.
10 menit berlalu Ei sudah memakai jas dari nonanya.
Melihat hal itu membuat Van menatapnya.
Ei merasa takut melihat tatapannya.
Van berjalan mendekat.
"Apa kau menyukainya?".tanya Van.
"Hum".kata Ei takut.
"Apa kau menyukainya?".tanya Van kembali.Ei hanya bisa mengganguk.
"Sekali lagi apa kau menyukainya?".tanya nya mulai meninggi.
"I-iya".katanya ketakutan.
Van mengangkat alisnya mendengar jawaban Ei.
"Lepas".kata Van.
"Huh?".Ei yang bingung dengan perkataan nonanya.
"Lepaskan ku bilang".kata Van penuh penekanan,karena ia melihat wajah sendu Ei ketika memakai jas pemberian.
"Nona".kata Ei yang ketakutan dengan sikap Vanda.
"No-nona".kata Ei ketakutan dan berjalan kearah belakang.
"Lepaskan!".kata Vanda.
"Jika kau tak menyukainya bilang saja!".kata Vanda berteriak.
"No-nona,bukan seperti itu".kata Ei terpojok.
Van semakin tersulut.
Ia menarik jasnya menyebabkan beberapa manik berserakan.
Van ber ujar di telinganya.
"Jika kau tak ingin katakan saja Ei".katanya membuat Ei terdiam.
Van kemudian ber ujar."Jika kau tak mau kau jangan turun kebawah".ujar yang berlalu pergi.
Mendengar hal itu Ei terduduk memandang langit kamarnya dan meneteskan air matanya.
Diluar kamar.
"Halo,berikan jas baru sekarang juga!,ku tunggu waktu 25 menit".ujarnya melalui telepon.
Sambungan tertutup.
"Pelayan,tunggu di depan nanti akan ada yang memberikan jas,dan berikan pada Ei".ujarnya pada ke dua pelayan.
"Baik,nona".ujar mereka.
"Hhhh,orang kaya se enaknya saja,mereka pikir itu mudah".kata desainer di kantornya.
"Iya,cepat kita harus memberikan jas".kata wanita yang langsung mencari jas keluar terbaru.
25 menit kemudian.
Datang seseorang yang membawa jas,yang diterima oleh pelayan.Pelayan itu kemdian berjalan ke kamar Ei,dan menyerahkan jas.
"Ini pak".ujarnya dari terbukanya pintu itu kecil.
"Terimakasih bi".ujar Ei berterimakasih.
Ei menghela nafasnya melihat jas itu yang hampir sama dengan yang di pakai sebelumnya.
Karena tak ingin mengecewakan Ei mengenakannya dan bercemin memandang dirinya.
Di bawah.
"Hei Van,kau masih jomblo?".kata seorang pria menghampiri Vanda.
"Tidak aku sudah memiliki pacar".ujarnya bohong,karena tak ingin di ganggu.
"Aku permisi dahulu".ujarnya kembali.Membuat pria itu kesal.Kemudian terukir senyum di bibirnya.
"Hai Vanda".ujar teman wanita Van.
"Hai".sapa Van.
Mereka saling bercerita tentang masa lalu mereka dan membahas hal yang akhir-akhir ini terjadi.
Di sisi lain.
Ei mengenakan jas dan masih ragu untuk keluar,karena terlalu banyak orang dibawah.
Setelah beberapa lama berpikir ia memutuskan keluar.Banyak mata yang menatapnya kagum ketika Ei menuruni tangga dengan paras tampannya terutama Van yang terpukau tak berkedip.
"Wah...tampan".ujar teman Van yang membuat Van tak suka.
Van menghampiri Ei yang baru turun.
"Kau nampak lebih tampan".ujar Van membenarkan kerah jas Ei.
"E...iya".kata Ei gugup.
"Ayo".ajak Van ke kerumunan.
Karena tak suka dengan kerumunan Ei lebih memilih diam di pojokan dan bersender di tembok dekat jendela.
Berbeda dengan Van yang berkumpul dengan teman wanitanya.
Di sisi lain ada yang tak suka memandang Ei dan Van,merencanakan rencana.
Di tengah pesta.
"Ok,kita panggil bintang tamu kita untuk ke sini diatas panggung".kata seorang pria di depan mic.
Tepuk tangan bersorak.
Van berjalan ke arah panggung dengan santai ia tak mengetahui ada bahaya mengintainya,ia masih berjalan hingga setibanya di lampu besar tengah ruang.
Krieeek...
Suara lampu yang terdengar seperti berputar ingin jatuh.Van melihat keatas melihat lampu itu menggantung sambil bergoyang.
Ei yang melihatnya segera bergegas menuju Van ketika melihat lampu itu ingin jatuh hingga.
Swisshh...
Bruk.
Lampu itu jatuh mengenai Van.
"Nona!".terika Ei histeris.
Brak.
Ei menyingkirkan lampu itu dari Van,dan mengangkat tubuhnya mambawanya pergi,orang-orang di sana masih nampak terkejut.
Kakinya terkena pecahan lampu namun Ei masih berjalan.Ei memasukan Van kedalam mobil dan melajukan ke rumah sakit terdekat.
Ia takut nonanya kenapa-napa.
Ia beberapa kali menenggok kebelakang.
Sesampainya di rumah sakit.Ia membopong Van ke dalam dan meletakannya di brankar.
"Suster tolong dia".ujarnya khawatir.
Di belakang ada gerombolan orang-orang rumah masuk kedalam rumah sakit mengikuti mobil Ei yang sempat melaju.
Van berada pada ruang operasi saat ini.
Mendengar anaknya ke celaka an membuat orang tuan Vanda buru-buru ke Indonesia.
Setibanya dirumah sakit ayah Van menatap ruang operasi yang masih tertutup.
Di sana ia melihat Ei berdiri di depan pintu dengan penampilan kacau.Jas yang berlumuran darah dan pakaiannya.
🍃🍃🍃
"Maaf tuan,saya tidak bisa menjaga nona dengan baik,anda bisa menampar saya,memukul,ataupun menghukum saya".ujar Ei tak berani melihat majikannya yang terdiam menatapnya.
Plak...
Satu tamparan keras mengenai pipi Ei,membuat bibirnya terluka.
Plak...
Tamparan lagi mengenai pipinya.
Plak...
Tamparan ketiga mengenai pipinya.
"Tamparan saja tuan,atau pukul saya agar tuan merasa lega".ujarnya tertunduk dengan air mata mengalir.
Ayah Vanda hanya menatapnya,sedangkan orang yang melihatnya sudah tidak tahan.
"Ikut aku".kata-kata yang keluar dari ayah Vanda.
Ayah Van melangkah kan kakinya ke sebuah ruangan.
Ei mengikuti langkah ayah Van ke sebuah ruangan.Ruangan gelap hanya beberapa cahaya yang meneranggi ruangan itu.
Klek.
Pintu yang dikunci dari dalam.
Bugh.
"Akh".pekik Ei.
"Sudah kubilang kau harus menjaganya apa kau paham!".kata ayah Vanda memegang balok kayu.
"Ma-maaf tuan".ujar Ei terduduk di lantai dengan tangis.
"Kau bilang maaf?".tanya ayah Van meninggi.
"Hiks,saya benar-benar minta maaf tuan".isak Ei dengan posisi yang sama.
"Kau bilang maaf?,kau harus membayarnya!".teriak ayah Vanda memukulkan kayu pada Ei.
"Pukul saja tuan hingga puas,saya memang pantas karena tidak bisa menjaga nona dengan baik".katanya isak.
Beberapa luka ia dapatkan pada tubuhnya akibat dari ayah Van yang memukulnya.
"Sayang hentikan dia anaknya orang!".teriak ibu Vanda di luar ruangan.
"Hmph!,untuk hal ini kita sampai sini saja,jika putriku kenapa-napa kau akan menerimanya".ujarnya menatap Ei,ia menatap kaki Ei yang penuh luka,'sepertinya kakinya belum di obati' batinnya mentap kaki itu.
Ia kemudian berkata ke pada Ei."Obati lukamu,ku tak ingin jika putriku harus bartanya".
"Baik tuan".ujarnya lemah dan terisak.
Beberapa hari telah berlalu semenjak kejadian itu Van belum tersadarkan diri.Bahkan pelaku sabotase lampu sudah ditemukan hanya saja untuk pelaku utama sangat susah.Berkat rekaman cctv yang mendetail membuat pelaku akhirnya tertangkap.
Saat ini Ei sedang menemani Van yang berbaring lemah dengan selang infus yang menancap.Berapa lama menunggu Van
tersadar.Jari-jarinya bergerak membuat Ei tersadar.
"Ei...".ujar Van tersenyum menatap Ei yang menanggis menatapnya.
"Hum...nona,kau sudah bangun hum,hiks".ujarnya terisak.
"Nona!".ujarnya menanggis.
"Sebentar nona aku panggilkan dokter,dan keluarga nona".kata Ei menekan tombol di dekat Van.
"Hum".angguk Van kecil.
Beberapa orang memasuki ruangan putih itu.
"Van kau sudah bangun".ujar ibu Vanda menatap putrinya air mata yang di angguk ki oleh Van.
"Untuk saat ini anda harus beristrirahat kembali".ujar sang dokter menjelaskan.
"Baiklah".kata ayah Van menimpali.
"Baiklah kami keluar dulu".kata sang dokter.
Orang yang ada di ruangan mengganguk.
Ruangan hanya terdapat beberapa orang.
"Nona tidak apa?".tanya Ei menggengam tangan Van.
"Hum".angguk Van.
"Hhh,syukurlah".syukur Ei.
"Hmmm,untung kau cepat sadar Van,jika tidak itu akan terjadi hal-".kata ayah Van yang terpotong karena istrinya mengatakan untuk beristrirahat dan memulihkan keadaan,ketika menatap momen itu.
Tangan yang semula menggengam perlahan terlepas namun Van menahankan genggaman,yang membuat Ei mengusap jarinya.
"Lebih baik Van istrirahat".ujar ibu Van membuat anaknya bingung.
🌱🌱🌱
Ini adalah hari ke sekiannya Van di rawat dan kondisi sudah membaik.
"Ayah apa maksudmu pada hari itu?".tanya Van yang terbaring di brankar.
"Yang?".kata ayah Van bingung.
"Yang itu,jika aku tidak bangun".kata Van mengingatkan.
"Ouh...,jika kau tidak bangun maka akan ada orang yang akan membayarnya".ujar ayah Van santai membuat ibu Van mencubitnya.
"Hum...apa yang kau katakan!".kata ibu Van penekanan tapi lembut.
"Apa itu benar".ujarnya santai.
Mendengar perkataan ayahnya ia tersadar."Apa ayah yang membuat Ei terluka".ujar Van menatap Ei yang luka.
"Iya tentu saja,dia harus membayarnya".ujarnya santai.
"Ayah!".kesal Van menatap ayahnya.
"Tidak apa nona ini salah saya,seharusnya saya melindungi anda".ujar lembut.
"Hum".mata Van memimcing.
"Ouh iya,apa kau tidak bersama pacarmu".sikapnya kembali acuh.
"Pacar?".kata ayah ibu dan Ei bersamaan.
"Iya,bukannya beberapa hari lalu kau pernah melamarnya?".tanya Van menatap Ei.
"Lamar?".katanya terlihat bingung.
"Humph!".kata Van membalik kan tubuhnya.
"Ouh...".ayah Van yang ber oh ria memahami kondisi.
"Ada apa?".tanya ibu Van.
"Tidak ada apa-apa".ujar ayah Van yang membuat istrinya kesal.
"Iya,gadis kemarin yang kamu lamar waktu aku mengurus penampilan".ujarnya kembali membuat Ei teringat,kemudian ia tersenyum manis membuat orang disana bingung.
Ei berkata."Dia bukan pacar saya tuan,saya hanya membantu mengajarkan seorang pria bagaimana cara melamar".ucapnya tersenyum,membuat Van salah tingkah terlebih mengetahui kebenaran.
"Be-benarkah?".tanyanya gugup.
"Iya,anda bisa bertanya pada mereka,jika nona sudah sembuh".ujarnya kembali.
Van hanya menatapnya.
"Dan setidaknya nona sudah membaik untuk in-".ujar Ei yang terpotong karena tindakan Van yang mencium pipinya tiba-tiba ketika melihat air mata sudah mengumpul di pelupuk mata.
Ei nampak terkejut terlebih lagi ayah dan ibu Van yang menatapnya.
"Emmm,nona e...itu...hanya boleh di lakukan oleh orang menikah".kata Ei kesusahan menjelaskan yang membuat ayah Van dan ibunya tertawa kecil mendengarnya.
Van yang mendengarnya pun memalingkan wajahnya.
"Hahaha,kalau begitu kau harus menikahinya dan bertanggung jawab".kata ayah Van.
"Tidak,kurasa putriku yang harus bertanggung jawab".katanya tertawa.
"Hih!,ayah".ujar Van kesal.
"Hahaha".gelak ayah Van.
"Terlebih lagi apa Ei mau menerimamu?,hahaha".ujar ayah Van.
"Humph!,terserah".Van yang semakin kesal dibuat.
"Hei,kurasa kalian harus menikah untuk bertanggung jawab".kata ayah Van santai.
Membuat Van terkejut begitu pula dengan Ei.
"Van kau harus bertanggung jawab".ujar ayah Van.
"A-ayah apa yang kau katakan!".kata Ei kesal.
"Lagi pula kau suka kan?".kata ayah Van membuat putrinya gugup.
"Ti-tidak".katanya gugup.
"Hum,benarkah,ok kuputus kan kalian akan menikah secepatnya!".kata ayah Van membuat Ei dan Van terkejut.
"Ti-tidak bisa".kata Van menolak.
"Ei apa kau mau?".tanya ibu Van.
"Hum?,apa kah harus?".tanya Ei penasaran.
"Tidak tahu,tapi putriku sepertinya menyukaimu,hihihi".kata ayah Van,membuat putrinya malu.
"Baiklah mimggu depan kalian menikah ok?".kata ayah Van.
"Ayah,apa-apa an kau ini?!".teriak Van.
🍃🍃🍃🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Beberapa tahun telah berlalu sejak kejadian itu Van dan Ei pun menikah.Dan di karunia i anak-anak yang lucu,mewarisi kedua sifat orang tuanya.
Selesai🙏🏻.
Maaf telat🙏🏻